Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 52. Zaydan Faturachman


__ADS_3

Acara pertunangan Syauqi dan Syaina digelar secara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu Acara ini diawasi oleh beberapa anggota kepolisian yang merupakan sahabat Syauqi dan beberapa anggota TNI yang merupakan anak buah Gilang dan Fahri. Setelah resmi menjadi anak angkat Uwak Yusuf, Gilang ingin yang terbaik bagi keluarganya.


"Lettu Zaydan, saya ingin memberikan kamu tugas diluar tugas pokok. Apakah kamu bersedia?" tanya Gilang.


"Siap! Saya akan melaksanakan setiap tugas yang diberikan Danki!" tegas Zaydan.


Saat Zaydan sedang mengawasi halaman belakang Restoran, dia melihat Febri sedang duduk disamping kolam ikan dan berbicara sendiri.


"Mas Andi, mereka sedang berbahagia didalam. Dinda bukannya gak ikut bahagia Mas, tapi Dinda merindukan Mas Andi. Andaikan Mas Andi masih ada didunia ini, Dinda gak akan serindu ini." lirih Febri sambil mengelus perut buncitnya.


"Dunia terkadang terasa tidak adil." Ucap Zaydan mengagetkan Febri.


"Astaghfirulloh, Mas Zaydan! Bikin kaget aja." ucap Febri mengelus dadanya.


"Hehe maaf Mbak, saya juga refleks menjawab ucapan Mbak Febri."


Keduanya terdiam menatap kearah kolam ikan, terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga Zaydan menceritakan kisah hidupnya.


"Saya sama seperti Mbak Febri, kami dipisahkan dengan alam yang berbeda. Saya pindah tugas ke Bandung karena lari dari kenyataan pahit. Satu tahun yang lalu, saya menikah dengan gadis pujaan hati saya. Kami sudah saling mengenal selama 5 tahun, kami saling menjaga hati. Bahkan pertemuan kami sangat singkat, tapi saya sudah yakin dengan pilihan hati saya." ucap Zaydan.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Febri.


Zaydan menghela nafasnya.


"Setelah pengajuan nikah sudah disetujui, kami melangsungkan pernikahan. Selama 120 hari usia pernikahan kami, dia mengandung anak pertama kami. Tapi Allah berkehendak lain, istri saya menderita kanker rahim. Dia meninggal karena mempertahankan kandungannya. Saya ikhlas akan kepergiannya, tapi setiap kenangan yang kami lewati tidak bisa begitu saja saya lupakan." ucap Zaydan.


"Saya tidak menyangka nasib kita sama, ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Tapi saya kira Mas Zaydan masih beruntung, saya ditinggalkan ketika 2 minggu lagi kami akan menikah. Mas Andi tertimbun tanah longsor ketika dia bertugas. Mas Zaydan pasti bertanya-tanya kenapa saya bisa hamil." ucap Febri.


Zaydan tidak menjawabnya, dia hanya menunggu Febri berbicara kembali.


"Saya dan Mas Andi menikah siri setelah Acara lamaran, kami hampir saja melakukan sebuah dosa besar. Mas Andi tidak ingin melakukannya tanpa ikatan jelas, akhirnya kami memutuskan menikah siri secara diam-diam. Jujur saja, mungkin semua itu hal yang salah. Tapi saya tidak menyesal, apalagi saat ini saya sedang mengandung buah cinta kami berdua." ucap Febri.


Mereka terus berbincang-bincang, tanpa mereka sadari kini mereka saling terbuka dan menceritakan kisah kehidupan masing-masing.


"Kita sudah lama berbincang, Mas Zaydan juga sudah pernah menolong saya. Tapi kita belum berkenalan secara resmi. Nama saya Nursyifa Febriani, usia saya 26 Tahun. Saya biasa dipanggil Ebiw atau Febri juga boleh." ucap Febri mengulurkan tangannya.


"Nama saya Lettu Zaydan Faturachman, usia saya 30 tahun. Saya mungkin seumuran dengan Lettu Fahri. Kalo panggilan, silahkan bebas saja. Mau Zaydan, Zay, Idan atau mungkin nanti bisa panggil sayang." ucap Zaydan bercanda.


"Hahahah Mas Zaydan bisa aja! Nama Mas Zaydan hampir sama dengan nama Almarhum suami saya. Suami saya namanya Andi Faturachman. Kalo gitu jangan panggil saya Mbak ya! Panggil aja Febri atau Ebiw juga boleh. Asal jangan Mbak!" tutur Febri tertawa.


Sejenak Zaydan menikmati senyuman indah diwajah Febri. Dia kembali teringat pada Almarhumah istrinya. Tanpa mereka sadari, sekarang mereka berdua menjadi pusat perhatian ketiga orang yang sedang mengintip.


"Tuhkan bener itu si Ebiw! MashaAllah aku happy banget liat dia bisa ketawa lagi. Mas Zaydan emang bener-bener luar biasa." ucap Gisya.


"Sayang! Aku dong yang luar biasa, masa kamu muji si Idan didepan suami kamu sendiri!" kesal Fahri mendengar ucapan istrinya itu.


"Idih, dasar tentara buciinn!!" celetuk Yuliana.


Mereka sedang asyik mengintip Febri dan Zaydan, namun mereka dikagetkan dengan kehadiran Jafran yang tiba-tiba.


"Kalian ngintipin siapa sih?" bisik Jafran ditelinga istrinya.


"Astaghfirulloh! Buaya buntung! Babaaaaa!! Kamu mau jantung istri kamu balik kanan bubar jalan!!" kesal Yuliana.


"Yaa Allah Jafran! Untung istriku gak kenapa-kenapa! Kamu itu kalo datang ucap salam dong?" kesal Fahri pada Jafran.


"Jahat banget kalian! Aku belain dari Jakarta langsung kemari, malah di omelin! Mana dikatain buaya buntung lagi sama istri! Lagian kalian ngintipin siapa sih!" kesal Jafran.


"Maafin Ummi yaa Baba, makanya jangan berisik! Itu kita lagi ngintip si Ebiw sama lakik Ba, untung aja jarak kita agak jauh! Jadi gak ketauan ngintip." ucap Yuliana.

__ADS_1


Ternyata Febri dan Zaydan sudah berada dibelakang mereka.


"Kata siapa gak ketauan?" ucap Febri.


"Astaghfirullohaladzim!!" ucap mereka berempat.


"Kurang ajar kutu kupret! Beneran ini jantung Ummi bisa bubar jalan Ba!" ucap Yuliana sambil berpegangan pada suaminya karena kaget.


"Aduh anak aku dalem bisa-bisa snewen ini mah!" ucap Gisya memeluk Fahri.


"Sabar yaa anak-anak!" ucap Jafran sambil mengelus perut Yuliana.


Febri dan Zaydan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan keempatnya.


"Lagian kalian gak ada kerjaan banget ngintipin orang!" ucap Febri.


"Ish! Bukan ngintip tau, cuman gak sengaja liat!" elak Yuliana.


"Heleh, aku tuh kenal kamu bukan setaon dua taon Ulet pucuk!" kesal Febri.


"Eh udang cilik! Emang beneran gak sengaja liat kok!" kekeh yuliana.


"Apa kabar Capt Jafran?" tanya Zaydan sambil mengulurkan tangannya.


"Baik Lettu Zaydan, dinas disini sekarang? Sudah lama kita gak ketemu." ucap Jafran.


"Iya Capt, saya pindah tugas ke Bandung sekarang. Cari suasana baru." ucap Zaydan.


"Kalian saling kenal?" tanya Fahri.


"Capt Jafran ini rekan Almarhumah istri saya, dulu istri saya seorang pramugari. Setelah menikah, dia berhenti dari pekerjaannya." ucap Zaydan.


"Ternyata kamu masih ingat saya Lettu Zaydan." ucap Jafran tertawa.


Mereka memutuskan untuk duduk bersama-sama dan berbincang-bincang.


"Emang yang suami saya kasih buat kalian apa?" tanya Yuliana.


"Idih jiwa keponya mulai meronta-ronta!" ledek Febri.


"Capt Jafran memberikan kami hadiah sekotak besar Tisue kering dan Tisue basah, tapi ternyata didalamnya ada kunci kamar hotel untuk kami honeymoon." ucap Zaydan.


"Hahahahaha, dia nyuruh kamu jualan itumah Idan. Tapi kok kamu gak kasih aku hadiah waktu nikahan?" Tanya Fahri.


"Enak aja! Kamu pikir yang beliin baju tipis-tipis itu siapa!" kesal Yuliana.


"Ohh jadi itu dari kalian, makasih banyak yaa Ulja!" ucap Fahri senyam senyum.


"Ulja? Apaan tuh?" heran Febri.


"Ulil Jafran Ebiiiw! Ampun dehh gitu aja gak paham." Ucap Yuliana.


"Mohon maaf nih ya, yang absurd kan bahasa kalian. Akumah normal!" ucap Febri sambil tertawa.


Gisya dan Yuliana sangat bahagia bisa melihat tawa Febri kembali. Mereka sangat bersyukur dengan kehadiran Zaydan disana.


"Ca! Jiwa mak comblang ku meronta-ronta!" bisik Yuliana.


"Coba aja kita deketin pelan-pelan, siapa tau emang jodohnya." bisik Gisya.

__ADS_1


"Heh! Kebiasaan bisik-bisik tetangga ya kalian!" kesal Yuliana.


"Elvi suka esih dong!" celetuk Jafran.


"Heh! Sukaesih bukan suka esih!" ucap Yuliana.


"Ish sama suami hah heh hah heh! Gak dapet jatah bulanan baru tau rasa!" Kesal Jafran.


"Ih ancamannya! Yaudah jatah ngadon juga kamu gak dapet!" sinis Yuliana.


Mereka menggelengkan kepala dan tertawa mendengar percakapan kedua suami istri itu. Zaydan bahkan sudah bisa berbaur dengan mereka tanpa rasa kaku lagi.


"Udah Capt nyerah aja! Daripada gak dikasih jatah ngadon! Itumah lebih serem lagi daripada gak dikasih jatah belanja bulanan." celetuk Zaydan.


"Iya juga yak! Bisa pusing tujuh keliling ini, udah mah jarang! Sekalinya pulang diperboden, beneran bahaya!" ucap Jafran.


"Ish kalian ngomongin apaan sih!" kesal Febri.


"Udah jangan di tanggepin bapack-bapack mah! Makan kuy! Laper!" ajak Yuliana.


Akhirnya ketiga perempuan hamil itu lebih memilih untuk menyatroni satu per satu stand makanan yang berada disana.


"Menurut kamu Mas Zaydan itu gimana?" tanya Yuliana pada Febri.


"Mmm.. Baik kok! Mungkin karena punya kisah yang sama jadinya ya kita nyambung aja gitu." jawab Febri.


"Kamu gak akan buka hati kamu buat yang lain, Biw?" tanya Yuliana.


"Saat ini aku cuman fokus buat ngebesarin anak aku." jawab Febri.


Gisya terdiam sejenak, dia bahkan masih memikirkan cara untuk bisa menjaga Febri.


"Gini Biw, maafin ya. Bukannya aku mau mengatur kamu atau memaksa kamu. Tapi sebagai seorang sahabat, aku menyarankan kamu untuk buka hati kamu. Baby butuh sosok seorang Ayah loh, Biw. Meskipun Bang Fahri dan Jafran menjadi Ayahnya tapi dia butuh Ayah yang selalu mendampinginya." ucap Gisya.


Febri terdiam sejenak, memang benar apa yang dikatakan oleh Gisya. Tapi hatinya belum bisa untuk membuka hati untuk yang lain.


Gisya merasa bersalah telah mengatakan hal itu pada Febri.


"Maafin aku ya, Biw. Aku gak bermaksud buat nyinggung kamu." lirih Gisya.


"Ih apaan sih Ca. Aku gak kesinggung kok! Aku tau kalian mau yang terbaik buat aku, do'ain aja yaa semoga kehidupan aku kedepannya semakin baik." ucap Febri lalu memeluk kedua sahabatnya.


"Aduh pelukan gini eungap! Baby kedempet!" celetuk Yuliana.


Merekapun tertawa bersama-sama. Keluarga mereka sangat bahagia melihat ketiga putrinya itu bahagia.


"Alhamdulillah, anakku bisa tertawa kembali." lirih Mama Rini.


* * * * *


Gimana nih Readerrr??


Cocok gak Zaydan sama Febri???


AUTHOR UP 5 BAB DEMI READER ❤❤❤❤❤


Maaf yaaa kalo ceritanya bikin bosen ✌


Harap dimaklumi karena ini Karya Pertama Author.

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2