Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Kecelakaan


__ADS_3

Setelah kejadian tempo hari, Theresia benar-benar menghindari Alan. Sudah seminggu ini Alan kebingungan mencari sang kekasih. Dia merasa hampa, sebab Theresia adalah semangat hidupnya. Alan tertunduk lesu di cafe milik Cyra dan juga Thoriq.


"Nyesel? Ngeyel sih! Sok kecakepan," kesal Cyra.


"Iya gue nyesel, gue bener-bener gak maksud buat nyakitin Rere! Lagian gue juga gak nanggepin yang gimana banget, kok dia gak mau denger penjelasan gue," lirih Alan.


"Denger ya, Lan! Kelemahan cewek tuh cemburu, sekarang gue tanya kalo lu liat si Rere ama cowok lain meskipun sekedar ngobrol, gimana perasaan lu?" tanya Cyra dengan penuh emosi, Alan hanya menundukkan kepala tak berniat menjawabnya.


Bugh! Bugh! Bugh!


Thoriq yang baru saja datang langsung melayangkan tinju kewajah Alan. Dia benar-benar kecewa pada Alan.


"Sayaaanggg!!" teriak Cyra yang panik.


"Brengsek lu, Lan! Lu udah bener-bener nyakitin hati adek gue, satu-satunya keluarga yang gue punya! Mau lu apa sih?!" geram Thoriq.


"Mas, gue bener-bener gak ngerti! Gue minta maaf atas kesalahan gue, gue gak maksud nyakitin Rere!" tegas Alan.


"Halah, bacot lu!" teriak Thoriq sambil melemparkan surat ke wajah Alan.


Alan membuka surat tersebut, dan matanya melotot seolah tak percaya.


"Ini apa maksudnya, Mas?" tanya Alan panik.


"Adek gue udah pergi! Dia cuman ninggalin surat itu doang, gue udah susulin dia ke Bandara tapi dia udah pergi! Dan semuanya gara-gara lu!" teriak Thoriq yang penuh amarah.


"Nggak! Rere gak akan ninggalin gue, gak mungkin, ini gak mungkin!" Alan sungguh panik, dia berlari keluar sesegera mungkin untuk menuju Bandara.


"Alan! Maul! Lu mau kemana?!" teriak Cyra yang panik.


Melihat Alan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Cyra segera menelpon Baba Jafran. Dia sungguh khawatir dengan sahabatnya itu.


"Assalamu'alaikum, Ba! Ba susul Alan ke Bandara sekarang! Dia mau nyusul Rere, tapi percuma! Rere udah pergi, dia bawa mobil ngebut banget Ba!" panik Cyra.


"Apa??!!! Allahuakbar, kamu hubungin Abah Uqi sekarang!" titah Baba Jafran.


"Iya, Ba!" jawab Cyra lalu menghubungi Paman Syauqi.


Alan benar-benar kalut, dia tidak mau kehilangan Theresia. Dia sudah menyadari kebodohannya sendiri. Alan menyesal, sebab dia memang penyebab rasa kecewa yang dirasakan oleh sang kekasih. Setelah membaca surat Rere, Alan kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu.


Flashback On


Siang itu Alan sedang mengadakan pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya, sungguh Alan tidak menyangka jika kolega nya itu akan membawa perempuan penghibur.


"Maaf pak, saya kira pertemuan ini hanya antara kita," Alan cukup kesal dengan rekan bisnisnya yang satu ini.


"Mas Alan ini masih muda, tidak ada salahnya juga jika Mas Alan menghibur diri sendiri," ucapnya tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


Alan sangat risih, sebab sepanjang pertemuan perempuan itu selalu mencoba mendekatinya. Terlebih mereka mengadakan pertemuan di restoran yang cukup terbuka.


"Maaf, bisa menjauh dari saya!" kesal Alan.


"Ma-maaf Mas," gugup perempuan itu lalu beranjak pergi. Entah sengaja atau tidak, dia terjatuh dipangkuan Alan.

__ADS_1


Siapa sangka, Theresia yang berniat untuk meminta maaf atas sikapnya malah melihat seorang perempuan sedang duduk dipangkuan sang kekasih.


"Kamu jahat! Dasar brengsek!" Theresia lebih memilih pergi, hatinya sungguh terluka.


Flashback Off


Alan semakin kencang membawa mobilnya, hingga tidak sadar bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah. Dari arah kanan, sebuah truk tronton sedang berlaju cukup kencang karena memang jalanan tersebut adalah jalur cepat. Daann....


Braaaakkkkkkk.......


Mobil Alan tertabrak hingga terpelanting, kini mobil Alan sangat ringsek dan tak berbentuk. Beberapa mobil pun ikut penyok terkena mobil Alan. Semua orang yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Darah mulai mengucur dari mobil Alan, beberapa saksi sudah menelepon kepolisian dan juga ambulance. Sebab ada beberapa orang terluka, dan mereka mengkhawatirkan Alan. Tapi tiba-tiba, pintu mobil Alan terbuka. Beberapa orang merekam kejadian itu, Alan keluar dari mobilnya dengan kepala yang penuh darah.


"The-theresia," Alan berjalan sempoyongan dan....


Brugh


Tubuh Alan terkapar, darah memenuhi seluruh tubuhnya. Ambulance pun datang bersamaan dengan mobil patroli polisi, yang ternyata teman Paman Syauqi. Dia segera meminta bantuan teman Polisinya yang dinas di Bandung untuk mencari Alan. Karena dia khawatir, sebab Alan memiliki sifat seperti Baba nya jika sedang panik.


Sedangkan dirumah, perasaan Ummi Ulil sudah tak karuan. Saat sedang mengambil minum, tak sengaja Ummi Ulil memecahkan gelas.


"Aww!" ringis Ummi Ulil ketika terkena pecahan beling.


"Ummi, Maul kita kecelakaan," lirih Baba Jafran dengan isakan tangisnya.


"Apaa?!!" Ummi Ulil sangat shock hingga tak sadarkan diri.


Begitupun dengan Alana, dia sedang berada di butik. Saat ini Alana sedang mengerjakan pesanan gaun pengantin milik kliennya. Tubuhnya seperti terhantam sesuatu, hingga dia jatuh. Para karyawan segera menghampiri Alana.


"Mbak Alana! Mbak kenapa, Mbak?" tanya pegawainya.


Belum sempat mereka membawa Alana ke sofa, Husain datang dengan nafas tersenggal-senggal.


"Sayang! Kamu kenapa?!" panik Husain menghampiri sang istri.


"Mbak Alana tiba-tiba jatuh, Mas Husain. Katanya kayak ada yang hantam tubuhnya, Mbak Alana juga mengeluh dadanya sesak," ucap pegawainya menerangkan.


"Yaa Allah sayang, kalian memang satu bali. Apa yang Alan rasakan pasti kamu merasakannya," batin Husain.


"Kita harus pergi sekarang!" ucap Husain tanpa menjelaskan apapun.


"Apa yang terjadi sama Alan, Bang?!" tanya Alana yang terus saja menangis.


"Tapi kamu jangan panik! Oke?!" pinta Husain dan Alana mengangguk.


"Alan kecelakaan, mobilnya terpelanting bertabrakan sama tronton," ucap Husain membuat Alana tak sadarkan diri seketika.


* * * * *


Sementara di Rumah Sakit, Ayah Fahri, Bunda Gisya, Mirda, Cyra dan juga Thoriq sudah berada disana. Thoriq dan Cyra cukup merasa bersalah, sebab mereka yang telah membuat Alan pergi dengan penuh rasa panik. Cyra tak henti-hentinya menangis dipelukan sang calon suami.


"Sudah jangan nangis, kita gak tau bakalan kaya gini!" ucap Thoriq.


"Semuanya salah kamu, Mas! Kenapa kamu harus kasih surat itu ke Alan?! Aku benci kamu, Mas! Aku benci kamu!" teriak Cyra memukuli Thoriq.

__ADS_1


"Cukup! Semuanya sudah terjadi, kita berdo'a saja pada Allah semoga Alan gak apa-apa!" tegas Ayah Fahri yang cukup kesal mendengar alasan Alan kecelakaan.


Satu jam kemudian datanglah Alana, Husain, Ummi Ulil dan juga Baba yang didampingi oleh Paman Syauqi.


"Kenapa Thoriq, kenapa Rere jahat sama anakku?! Pengorbanan Alan selama ini apa kurang cukup untuk Rere?! Dia mengorbankan segalanya untuk Rere, kenapa Thoriq? Kenapa?!" Ummi Ulil menangis sambil memukuli dada Thoriq.


"Maafkan adik saya, Ummi. Maafkan saya," lirih Thoriq.


"Apakah dengan maaf kamu kondisi anakku akan baik-baik saja?!" Baba Jafran sungguh sakit, sangat sakit.


Ruangan Operasi terbuka, dokter meminta keluarga Alan untuk menemuinya di ruangannya. Baba Jafran, Ummi Ulil, Ayah Fahri dan Husain ikut masuk kedalam.


"Begini Pak, Bu. Kondisi tuan Aidan cukup parah, dia mengalami pendarahan dikepalanya. Beruntung kami bisa menghentikan pendarahan itu, hingga tidak mencapai otaknya. Tapi beberapa syarafnya cukup rusak, terlebih lagi matanya terkena pecahan kaca. Dan kemungkinan sudara Alan tidak akan bisa melihat. Selain itu, 3 tulang rusuknya patah, beserta tulang kakinya juga patah. Kami sudah melakukan operasi sesuai prosedur, tapi saat ini kondisi tuan Aidan masih dalam kondisi kritis. Kami akan memindahkan tuan Aidan ke ruang ICU, untuk memantau kondisinya," ucap dokter mejelaskan.


"Yaa Allah, anakku sayang! Anak Ummi sayang!" histeris Ummi Ulil hingga tak sadarkan diri.


Ummi Ulil segera dilarikan ke IGD, begitupun dengan Alana. Mereka sangat rapuh, Baba Jafran menangis sesegukan. Ayah Fahri terus mendampinginya, begitupun juga dengan Papa Zaydan yang langsung terbang dari Jogjakarta.


"Ba! Minum dulu, Abang belikan teh manis buat Baba," ucap Mirda.


"Gimana Baba bisa menelan teh manis ini, Bang! Anak Baba sedang dalam masa kritis, hati Baba terluka! Luka ini terlalu dalam, kalo boleh biarkan aku menggantikan tempat Alan dan terbaring diatas sana! Aku hanya merpati tanpa sayap, mereka adalah sayap yang bisa membuatku terbang selama ini," lirih Baba Jafran membuat mereka menangis.


Thoriq sungguh diselimuti rasa bersalah, dia segera menghubungi Theresia yang memutuskan untuk pergi ke Bali untuk tinggal bersama Tante nya.


"Ada apa kak?" ucap Theresia yang terisak.


"Alan kecelakaan, dan saat ini kondisinya kritis!" ucap Throriq membuat Theresia histeris.


"Bohong! Kakak bohong!!" histeris Theresia.


"Semua ini karena kamu, Re! Sikap kekanak-kanakan kamu yang bikin Alan celaka!" Cyra mengambil alih ponsel Thoriq.


"Kalo ada apa-apa sama Alan, jangan harap aku akan melanjutkan pernikahan kita!" tegas Cyra lalu meninggalkan Thoriq dengan telepon yang masih tersambung pada Theresia.


Disana Theresia menangis histeris, bukan ini yang dia inginkan.


"Nggak! Kamu baik-baik aja, A! Kamu gak boleh kenapa-kenapa!" histeris Theresia.


Dengan segera, Theresia kembali memesan tiket pesawat untuk kembali ke Bandung. Untung saja, saat ini dia masih berada di Bandara.


"Liat ini video lagi viral banget, cowok kecelakaan katanya mau ngejer ceweknya yang salah paham! Gila kasian banget ni cowok, ampe mau matipun masih nama tu cewek yang disebut," ucap salah satu penumpang.


Theresia membuka sosial media miliknya, hatinya sungguh teriris melihat kondisi Alan yang berlumuran darah. Theresia menangis tersedu-sedu, hingga menjadi pusat perhatian di Bandara.


"Maafin aku, A! Aku egois, jangan tingalin aku, A!" batin Theresia menatap foto dirinya dna juga Alan.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2