Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 79. Pengorbanan


__ADS_3

Suasana semakin mencekam, Zahra terus menembak kearah para Polisi. Sedangkan para penculik sudah berlari entah kemana. Syauqi dan Aditya terus mencoba untuk menghentikan Zahra. Mereka terus melakukan negosiasi dengannya.


"Hentikan Zahra! Kasihan Mama dan Papa kamu, kalo tau kamu seperti ini!" ucap Syauqi.


"Aku gak peduli! Yang penting kakak tercinta kamu ini harus mati! Hahahahahahaha! Dia sudah membuat keluargaku hancur berantakan!" teriak Zahra membabi buta menginjak-injak tubuh Gisya.


Santi dan Zayn terkulai lemas ketika melihat Zahra melakukan itu semua pada Gisya.


"Cukup Zahraa! Kenapa kamu jadi seperti ini?!" teriak Zayn dan Zahra menoleh.


"Aa Zayn?! Untuk apa Aa disini? Aa sama aja kaya mereka!" geram Zahra.


"Udah Neng, Aa mohon hentikan. Semua ini salah Aa, bukan salah Caca. Tolong hentikan Neng, kamu adik kesayangan Aa satu-satunya." Lirih Zayn sambil mendekati Zahra.


"Aa bilang adik kesayangan? Kalo gitu kenapa Aa biarin mereka ngurung aku ditempat terkutuk itu! Gak ada yang sayang sama aku!" teriak Zahra frustasi.


Zayn sedikit demi sedikit mulai mendekati Zahra, diikuti oleh Syauqi dan Aditya dibelakangnya. Sementara Fahri terus merangkak ingin mendekati istrinya. Belum juga Zayn sampai, Syauqi sudah menembakan pistolnya kearah kaki Zahra.


Dorrrr!! Dorrrr!!


"Zahraaa!!" teriak Zayn dan Santi bersamaan.


Karena merasa ditipu, Zahra menodongkan pistolnya kearah Gisya dan Fahri.


Dorrrrr!!


"Papaaaa!!" teriak Santi ketika melihat Zayn tertembak untuk melindungi Gisya.


Zahra tersentak kaget melihat darah keluar dari perut kakaknya itu. Namun Zahra tidak berhenti menembaki kearah mereka. Hingga terdengar suara rintihan dari Zahra.


"Awwwwhhhh!!" rintih Zahra.


Ternyata Gilang berhasil menacapkan pisau tepat dipunggung kiri Zahra, dan Polisi dengan sigap mengepung Zahra. Tapi ternyata mereka lengah, hingga Zahra berhasil menembak kearah Gisya dan lagi-lagi dihalangi oleh Zayn. Hingga Zayn mendapat dua luka tembakan dan tidak sadarkan diri.


Syauqi dengan sigap menghampiri Zayn dan membawanya kedalam Ambulance, Santi terus menangis meraung-raung melihat kondisi suaminya itu. Baru saja mereka memulai kembali kehidupan rumah tangga mereka. Fahri pun mulai kehabisan banyak darah, begitupun dengan Gisya. Mereka segera dilarikan kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.


Fahri dan Zayn harus melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang dalam tubuh mereka. Sementara Quera, gadis kecil itu saat ini sudah mendapatkan perawatan. Tulang kaki dan tangannya patah, dan badannya lebam juga lecet. Sedangkan Gisya, dia masih belum sadarkan diri. Wajah dan tubuhnya dipenuhi oleh luka dan lebam membiru karena Zahra terus memukulinya.


Syauqi sangat shock dan khawatir dengan kondisi mereka, dia tertunduk lesu didepan ruang operasi. Hingga gadis yang paling dicintainya itu menghampirinya.


"A Uqi, bagaimana kondisi Teh Caca?" tanya Syaina.


"Aa gak bisa menjelaskan, semuanya terasa sangat rumit." ucap Syauqi frustasi.


"Istighfar Aa, InshaAllah semuanya akan baik-baik aja." lirih Syaina lalu mengusap lembut punggung calon suaminya itu.


"Bunda gak tau kabar ini kan, Neng?" tanya Syauqi khawatir.

__ADS_1


"Belum A, tapi cepat atau lambat Bunda pasti akan tau." ucap Syaina.


Disisi lain, Husain masih terus menangis menanyakan Bunda dan Ayahnya.


"Baba, Mbun dinana? Ain mau Mbun." ucap Husain sambil menangis.


"Sabar ya Soleh, Bunda sama Ayah sebentar lagi pasti pulang. Ain main dulu sama Maul sama Mail ya?" bujuk Jafran pada Husain.


"No! Ain mau Mbun. Ain mau tata Lala, Ain mau Ayah." rengek Husain.


"Ain anak Soleh, dengerin Ummi sayang. Ain jangan nangis terus, nanti Ain capek. Kalo Ain capek nanti gak bisa ketemu sama Ayah sama Bunda, sekarang Ain bobo ya sama Ummi. Nanti pas Ain bangun, Bunda sama Ayah udah pulang deh." bujuk Yuliana.


Akhirnya Husain menurut, dia tidur dipangkuan Yuliana. Jafran terus menghubungi Syauqi untuk menanyakan keadaan Fahri, Gisya dan juga Quera. Jafran tertunduk lesu, terlebih ketika mendengar jika dalang penculikan itu adalah Zahra dan Zayn turut menjadi korban. Yuliana terus menangis setelah mengetahui kondisi sahabatnya itu.


Zahra terus mencoba melarikan diri, padahal luka ditubuhnya cukup banyak.


"Lepaskan aku brengsekkk!!" teriak Zahra membabi buta.


Polisi sudah memborgol kedua tangan Zahra, hingga dia tidak akan bisa berkutik. Sementara itu keempat orang penculik yang masih selamat sudah diamankan oleh beberapa anggota TNI dan akan dilaporkan kepada PBB. Mengingat mereka bukanlah Warga Negara Indonesia.


Santi sudah menghubungi mertuanya mengenai kondisi Zayn, dan tidak lupa Santi menceritakan semua yang terjadi. Kedua orangtua Zayn sangat shock, mereka tidak menyangka jika Zahra sudah membunuh banyak orang. Bahkan kakak satu-satunya pun tertembak akibat ulahnya. Mereka segera melakukan penerbangan dari Singapura menuju ke Indonesia.


Pintu ruang operasi sudah terbuka, dilihatnya Fahri sudah berhasil diselamatkan. Selanjutnya Fahri dan juga Gisya berada disatu ruangan yang sama. Sedangkan Quera masih berada diruang PICU. Santi masih dengan harap-harap cemas menunggu suaminya. Bahkan dia sudah tidak memperdulikan penampilannya yang berlumuran darah suaminya.


Aditya menghampiri Santi dan memberikan kaos miliknya untuk Santi.


"Gantilah dulu baju kamu, suamimu akan kaget jika saat sadar nanti melihatmu seperti itu." ucap Aditya. Santi mengangguk dan segera menuju Toilet.


Gisya mulai mengerjapkan matanya, yang dia ingat adalah putrinya.


"Ra-rara." lirih Gisya. Seluruh badannya terasa sakit dan sulit untuk digerakkan.


"Teh Caca udah bangun Teh?" tanya Syaina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Rara dimana Ina?" tanya Gisya yang memaksakan diri untuk bangun.


"Teteh jangan banyak gerak dulu, Rara masih diruang PICU. Bang Fahri juga belum sadarkan diri." ucap Syaina lalu menunjuk kearah Fahri.


Hati Gisya sungguh terasa sakit, melihat suaminya terbaring dengan perban di tangan dan di kakinya. Banyak sekali luka goresan pada wajah suaminya itu. Terlebih ketika dia mendengar jika putrinya sedang berada diruang PICU. Lalu dia teringat pada Husain.


"Dimana Ain? Apa dia baik-baik aja?" tanya Gisya.


"Ain baik-baik aja Teh, dia ada sama Teh Ulil. Kalo Uqi lagi ke Kantor untuk dimintai keterangan. Bunda aman Teh, dia belum tau." ucap Syaina menjelaskan, seolah tau apa yang akan Gisya katakan.


Berita penculikan Gisya dan Quera bertebaran di Media. Dan hal itupun sampai ke telinga Febri. Dia menangis tersedu-sedu ketika melihat berita di TV. Sungguh rasanya dia ingin pulang ke Bandung saat itu juga, namun Egonya terlalu besar.


"Caca, kamu wanita yang kuat! Maafkan aku Ca." lirih Febri.

__ADS_1


Zaydan pun sangat terkejut mendengar berita itu, dia segera menanyakan kondisi Gisya dan Quera pada Gilang. Namun hingga saat ini, Gilang belum ada memberi kabar pada Zaydan. Karena menjelang waktu makan siang, Zaydan memutuskan untuk pergi ke rumah makan Padang yang tidak jauh dari Asrama nya.


Ditengah perjalanan dia melihat gadis kecil berteriak sambil melambaikan tangannya.


"Om! Om! Om Zadan!" teriak Cyra gadis cadel itu.


Zaydan menghentikan motornya tepat didepan Cyra, dan Cyra langsung naik kesana.


"Loh kok Adek naik? Nanti dicariin Mama nya loh!" ucap Zaydan.


"Atu mau beyi es klim agi, Om. Anti Ayu nda ada, Mama agi tepon Om Bayu." ucap Cyra.


"Tetep aja Adek harus bilang dulu sama Mama ya! Ayo Om antar!" ucap Zaydan.


Cyra meminta digendong oleh Zaydan, entah kenapa baru pertemuan kedua tapi Cyra sudah menempel pada Zaydan. Ketika masuk kedalam Toko, langkah Zaydan terhenti ketika melihat perempuan yang sangat dia rindukan. Zaydan menatap Cyra dengan penuh kasih sayang. Tak terasa airmata menetes dipipinya.


"Om kok angis?" tanya Cyra sambil mengusap airmata Zaydan.


Mendengar suara putrinya, Febri menoleh dan matanya membulat tak percaya. Zaydan berdiri tegap disana sambil menggendong putrinya. Febri tertunduk menjatuhkan dirinya di kursi dan Zaydan segera menghampirinya.


"Mas Zaydan." lirih Febri sambil menatap Zaydan.


"Febri, apakah ini Cyra anak kita?" lirih Zaydan sambil menatap Cyra.


"Anakku, Mas. Dia anakku." ucap Febri dengan airmata dipipinya.


"Ferandiza Chayra Shanum Faturachman adalah putri kita." tegas Zaydan.


Cyra memandang kedua orang dewasa itu secara bergantian. Zaydan memeluk erat Cyra dan menciumi seluruh wajahnya.


"Cyra anak Papa, kamu sudah besar, Nak." lirih Zaydan memeluk Cyra.


"Papa? Om Papa Cyla?" tanya gadis mungil itu.


Zaydan lalu mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan foto-fotonya bersama Cyra.


"Lihat ini, Nak. Ini Cyra waktu bayi, kamu selalu nempel sama Papa. Ini foto waktu Cyra baru bisa tengkurep, ini foto waktu Cyra baru selesai mandi." ucap Zaydan.


"Papa, holee Cyla punya Papa." antusias Cyra membuat Febri menangis terisak.


Zaydan membawa Febri kedalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat erat, tanpa sadar menjadi pusat perhatian semua orang disana. Termasuk Bayu.


* * * * *


Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..


Ini hanya imajinasi Author aja πŸ˜ŠπŸ™βœŒ

__ADS_1


Dukung terus Author yaa ❀


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2