
Mentari pagi bersinar dengan cerahnya, secerah hati Husain pagi ini. Sambil bersiul ria, dia berjalan menuruni tangga sambil memainkan kunci motor gede kesayangannya.
"Uhuuy! Bujang seger bener nih pagi-pagi!" goda Bunda Gisya.
"Iya dong! Musti seger, musti ceria! Seindah mentari pagi ini," sahut Husain.
"Mau kemana Bang? Ini hari minggu kan?" tanya Indira yang sedang sarapan.
"Anak kecil kepo!" ucap Husain sambil mengacak jilbab Indira.
"Abang ih! Jilbabnya menyon! Lagian Adek udah kuliah, jangan dibilang anak kecil mulu napa sii!" kesal Indira sambil melahap roti bakar favoritenya.
Husain dan Indira sedang asyik sarapan pagi, Ayah Fahri dan Bunda Gisya sedang melakukan video call bersama Dzikri. Mereka sedang membicarakan rencana pernikahan. Sementara Elmira, dia masih berada dikamarnya. Menunggu Sweta yang saat ini masih tertidur lelap. Elmira kembali mengingat pertemuannya dengan Mirda.
"Kamu gak banyak berubah, Bang. Masih sama dingin seperti dulu," lirih Elmira.
Tepat pukul 8 pagi, Mirda datang kerumah Ayah Fahri atas permintaan atasannya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Mirda saat melihat kedua suami istri itu sedang berada diteras.
"Walaikumsalam, eh Mirda akhirnya dateng juga! Hayu masuk!" ajak Bunda Gisya.
Merekapun masuk kedalam rumah dan duduk diruang keluarga.
"Eh ada Om Mirda! Apa kabar Om?" tanya Husain sambil memeluk Mirda.
"Panggilnya Abang ajalah, Bang Ain," pinta Bunda Gisya dan Husain mengangguk patuh.
"Alhamdulillah saya baik, Husain gimana? Hebat nih katanya udah banyak yang minta kamu mencalonkan diri," puji Mirda pada Husain.
"Hehehe, Abang tau aja sii! Ya do'ain ajalah yang terbaik, Bang. Oh ya, aku pamit duluan ya! Mau jalan sama temen," ucap Husain berpamitan.
"Halah paling juga sama si Mail!" celetuk Ayah Fahri menggoda Husain.
Sepeninggal Husain, kini mereka bertiga duduk bersama untuk berbicara serius.
"Begini Mirda, saya mau meminta bantuan kamu. Apa kamu bisa?" tanya Ayah Fahri.
"Siap! Saya siap komandan!" ucap Mirda dengan tegas.
"Saya meminta bantuan kamu sebagai seorang Ayah, bukan seorang atasan. Saya ingin kamu bantu saya untuk mengurus pernikahan....." ucapan Ayah Fahri terpotong karena mendengar teriakan Elmira dari dalam.
"Bundaaa.....!! Ayaahhh....!!" teriak Elmira yang refleks membuat Mirda berlari kekamarnya.
Braaakkkk
Mirda membuka pintu dengan sangat kencang, membuat Elmira terperanjat kaget.
"Astaghfirulloh, Bang Mirda!" pekik Elmira lalu memakai jilbab instannya.
"Ma-maaf saya tidak bermaksud," gugup Mirda yang terus menatap Elmira.
"Yaa Allah Kakak ada apa sayang?" tanya Bunda Gisya yang melihat Elmira menangis.
"Sweta demam, Bun. Daritadi dia gak mau buka mata, Bun. Dibangunin juga susah!" panik Elmira sambil terus berusaha membangunkan Sweta.
__ADS_1
"Yaa Allah, ayo kita kerumah sakit sekarang!" ucap Bunda Gisya.
"Mirda saya minta tolong bisa bawakan mobil?" pinta Ayah Fahri.
"Siap! Pakai mobil saya saja komandan," ucap Mirda.
Akhirnya mereka berangkat ke Rumah Sakit, Elmira terus menangisi baby Sweta yang masih tidak sadarkan diri. Sambil terus mengecek nadi sang anak, meskipun seorang dokter tetap saja Elmira panik ketika Sweta sakit. Sesampainya disana, Mirda segera menemani Elmira masuk kedalam IGD sedangkan Bunda Gisya dan Ayah Fahri pergi untuk mengurus administrasi Sweta.
Dokter menghampiri Elmira, mereka mengenal Elmira karena dia salah satu dokter disana.
"Dokter El, tenanglah jangan panik! Sekarang Sweta harus dirawat inap, kita harus pindai CT scan agar tau penyebab Sweta tidak sadarkan diri," ucap Dokter Pamela.
"Makasih banyak dok, saya takut kehilangan Sweta," lirih Elmira.
"Kami mengerti, seorang ibu pasti akan merasa ketakutan jika anaknya sakit. Sekarang tenang ya, Sweta will be fine," tutur Dokter Pamela menenangkan Elmira.
Setelah dokter memeriksa, kini Elmira terus berada disamping Sweta. Dia tidak ingin kehilangan bayi mungil berusia 13 bulan itu.
"Sweta anak yang kuat yaa, anak Bubu harus kuat," lirih Elmira mengelus pipi Sweta.
"Dia pasti anak yang tangguh seperti ibunya, dia pasti kuat," ucap Mirda menyemangati.
"Terimakasih, Bang Mirda," ucap Elmira lalu sedikit menoleh.
"Dimana Ayah? Mm, maksudku Om Chandra! Kenapa dia tidak mendampingi kalian?" tanya Mirda yang secara tidak langsung menanyakan siapa Ayah Sweta.
"Sweta gak punya Ayah! Dia hanya punya aku," jawab Elmira tanpa melihat Mirda.
Beribu pertanyaan muncul di benak Mirda, dia terus menatap Elmira dan Sweta bergantian.
Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki yang mungkin usianya tidak jauh dari Elmira. Sepertinya dia orang yang cukup dekat dengan Elmira.
"Rara! Apa yang terjadi sama Sweta?" tanya Faza menghampiri keduanya.
"Sweta belum mau bangun, Mas. Aku takut kehilangan Sweta," lirih Elmira.
"Tenanglah, Ra! Sweta akan baik-baik aja, sejak kapan dia demam?" tanya Faza.
"Semalem dia gak apa-apa Mas, tadi pagi pas mau aku bangunin ternyata dia demam. Pas aku coba bangunin lagi, Sweta gak mau bangun. Aku cek nadi nya ada, tapi lemah," jawab Elmira sambil terisak.
"Udah jangan nangis! Sweta, bangun sayang. Papa dan Mama ada disini, Mama pasti bisa obatin kamu sayang," ucap Faza mengelus pipi Sweta.
Menyaksikan dan mendengar ucapan Faza membuat hati Mirda semakin sakit. Berjuta pertanyaan hinggap dikepalanya. Pernikahan siapa yang akan dilangsungkan? Sweta ini anak siapa? Siapa laki-laki itu? Apa yang terjadi pada Elmira? Jika sudah ada Sweta apakah mungkin itu pernikahan Elmira?
Mirda memutuskan untuk pergi dan menunggu diluar, dia duduk sendiri didepan ruang tunggu. Sepeninggal Mirda, Faza mencoba bertanya pada Elmira.
"Jadi dia laki-laki yang selama ini kamu tunggu?" tanya Faza dan Elmira mengangguk.
"Pantesan! Dia khawatir sama kamu dokter El," sahut Dokter Pamela.
"Sayaaanggg! Bikin kaget aja!" ucap Faza lalu merangkul istrinya itu.
"Please! Gak usah sok-sokan mesra! Sweta lagi sakit!" kesal Elmira.
"Hehehe sorry deh sorry Ra! Abis dia semenjak di IGD jarang banget nemenin aku," rengek Faza memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Heh! Dirumah sakit ini!" kesal Elmira lalu mengusir kedua makhluk itu.
Banyak berlalu lalang di IGD, Mirda duduk dipojok dan tak sengaja mendengar obrolan kedua cleaning service yang sedang mengepel lantai yang penuh darah korban kecelakaan lalu lintas. Mirda yang mendengar mereka menyebut nama 'dokter el' segera menajamkan telinganya, berharap mendapatkan informasi.
"Kasian ya dokter El, selama ini dia ngurus Adek Sweta sendirian. Pasti berat jadi single mother kaya dia," ucap cleaning service itu.
"Iya kamu bener! Aku salut sama dokter El!" ucapnya lalu pergi darisana karena pekerjaan sudah selesai.
Mirda semakin mengacak rambutnya frustasi, dia semakin penasaran dengan kehidupan yang dijalani Elmira. Dan siapakah Sweta? Siapa Ayah Sweta?
"Aku harus cari tau!" gumam Mirda lalu melangkahkan kakinya ke ruang rawat Sweta.
Ayah Fahri dan Bunda Gisya dengan setia menemani putri dan cucunya yang kini terbaring lemah. Sweta sudah sadar, tapi dia sangat rewel dan terus menarik infusan yang terpasang ditangan mungilnya.
Ceklek
Suara pintu terbuka, membuat semuanya menoleh kearah pintu yang terbuka.
"Sweta jangan ditarik, sayang. Maafin Bubu ya," lirih Elmira yang masih terus menenangkan Sweta. Tapi Sweta malah makin kencang menangis.
"Anak cantik, anak baik, jangan nangis yaaa! Udahh cup cup cup," ucap Mirda mengelus pipi gembul berusia 13 bulan itu.
"Bab bab bab bab bm," rengek Sweta merentangkan tangannya pada Mirda.
"Uuhh anak cantik mau di gendong, sini sini sini, udah jangan nangis ya!" ucap Mirda sambil membawa Sweta dalam gendongannya dan terus mengelus punggung bayi kecil itu.
Ayah Fahri, Bunda Gisya dan Elmira saling menatap ketika melihat Sweta tidak lagi menangis dalam gendongan Mirda. Padahal sejak tadi mereka terus mencoba menenangkan Sweta. Sudah satu jam Mirda menggendong Sweta, hingga bayi itu tertidur dengam lelapnya.
"Bang Mirda pasti pegel, biar aku aja yang gendong," ucap Elmira tak enak.
"Gak apa-apa, saya senang bisa menggendong bayi cantik ini. Kamu istirahat aja, pasti capek kan? Lagian kamu belum makan dari pagi, sekarang makan dulu," titah Mirda.
"Nanti aja, aku belum laper," ucap Elmira dengan lesu.
"Sweta akan baik-baik aja! Sekarang makanlah, kalo kamu ikut sakit siapa yang akan menjaga Sweta?!" ucap Mirda tak ingin dibantah.
Akhirnya Elmira menurut, dia makan nasi kotak yang tadi dibawakan oleh Ayah Fahri dan Bunda Gisya sebelum pulang. Mereka pulang untuk membawa keperluan Elmira dan Sweta selama dirumah sakit.
Elmira baru saja selesai makan, dia menoleh kearah kursi dimana Mirda ikut terlelap tidur dengan Sweta yang berada dalam gendongannya.
"Pemandangan indah yang selalu aku impikan selama ini," gumam Elmira lalu membuka ponselnya dan memotret keduanya.
* * * * *
Nahloh.. Nahloh...
Penasaraaaannn gaaakkkkkk??? ππ
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€
__ADS_1