
Malam ini adalah malam pengantin bagi Elmira dan juga Mird. Alan dan Husain mengatakan jika Sweta sedang menangis, hingga membuat Mirda terpaksa meninggalkan sang istri didalam kamarnya.
"Mana Sweta, Bun?" tanya Mirda pada sang mertua.
"Kan dibawa sama Rian sama Afifah ke apartemen, kamu ngapain nyariin?" tanya Bunda Gisya hingga membuat Mirda menoleh kebelakang, ternyata kedua adik jahilnya itu pergi.
"Dikerjain si Alan ya kamu, Bang?" tanya Baba Jafran dan Mirda mengangguk.
"Yaudah sana balik ke kamar! Istri kamu pasti nungguin! Selamat ngadon," bisik Ummi Ulil membuat Mirda menjadi salah tingkah.
Dengan langkah gontai, Mirda berjalan menuju kamarnya sambil menggerutu kesal.
"Awas ya kalian berdua! Besok tak jadiin perkedel kamu Alan, Ain!" gerutu Mirda.
Sebelum masuk kedalam kamarnya, Mirda menghela nafas panjang. Dia sangat gugup, karena ini pertama kalinya mereka akan tidur diranjang yang sama.
Ceklek
Mirda membuka pintu, lalu menguncinya agar tak ada yang bisa mengganggunya. Senyum merekah terlukis diwajah Mirda, perlahan dia berjalan menuju ranjangnya.
"Sayang, kamu udah tidur?" tanya Mirda ketika melihat tubuh Elmira terbalut selimut.
Deg deg deg
Jantung Elmira berdegup kencang, dia belum tidur tapi dia sangat gugup hingga akhirnya dia memutuskan untuk berpura-pura tidur. Mirda berjalan menuju ranjang, dia tersenyum ketika mengetahui jika istrinya itu tengah berpura-pura tidur.
"Yaa ampun sayang, kamu keringetan dibuntel selimut gini," ucap Mirda sambil mencoba untuk membuka selimut Elmira, tapi ternyata Elmira menahannya.
"Aa-aku ke-kedinginan, Bang!" gugup Elmira sambil memegang selimutnya.
"Dingin kok keringetan sayang, gugup ya?" tanya Mirda membuat wajah Elmira bersemu.
Perlahan Mirda melepaskan selimut itu, dan ternyataaaaa....
"Aku malu, Abang! Bunda nyuruh aku pake baju ini," ucap Elmira dengan suara pelan.
"A-abang suka sayang," ucap Mirda lalu duduk disamping Elmira.
"Ish Abang," rengek Elmira lalu menyelundupkan wajahnya didada sang suami.
"Abang deg-degan sayang," ucap Mirda dengan polosnya.
"Sama Abang," ucap Elmira malu-malu.
"Abang suka liat kamu pake baju tidur ini sayang," bisik Mirda membuat tubuh Elmira menegang. "Boleh ya?" tanya Mirda dan Elmira mengangguk.
Mirda mendekatkan wajahnya dan wajah istrinya, perlahan dia mencium sang istri dengan penuh kelembutan. Hingga membuat keduanya melayang, dengan lembut Mirda membuat Elmira merasakan sensasi yang pertama kali dia rasakan. Setelah membacakan do'a, Mirda mulai menjamah tubuh sang istri. Mendaki gunung dan melewati lembah, Elmira hampir saja menjerit saat pertama kali tubuh mereka bersatu. Namun, Mirda menutup mulut Elmira dengan bibirnya. Perlahan mereka berdua hanyut dalam malam pengantin mereka, akhirnya setelah beberapa lama Mirda berhasil menjebol gawang Elmira. Daann....... (SELAMAT TRAVELING READER 🤣🤪)
* * *
Waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi, tapi sang pengantin baru belum juga keluar dari kamarnya. Padahal rencananya hari ini mereka akan berlibur bersama ke Pulau Tidung.
"Coba bangunin geura Bun, si Abang sama si Kakaknya!" kesal Alan.
"Eh atuh maklum kamu teh Maul! Namanya juga pengantin baru, belum ngerasain sih kamu!" ucap Baba Jafran sambil menyeruput kopinya.
"Nyicip dulu sekarang boleh gak, Ba?" celetuk Alan membuat sang Baba menyemburkan kopi ke wajahnya.
"Dasar anak durjanah! Maen nyicip-nyicip aja! Kamu kira makan surabi bisa nyicipin dulu halalin dulu makanya!" kesal Baba Jafran.
"Baba yang durjanah! Anak sendiri disembur, emang Baba dukun apa!" kesal Alan sambil mengelap wajahnya.
Mereka semua tertawa melihat Ayah dan anak yang bertengkar itu. Sedangkan dikamar, Elmira dan Mirda sebenarnya sudah bangun sejak subuh. Tapi mereka masih malu untuk keluar kamar dengan rambut yang basah. Dan akhirnya mereka menunggu rambut mereka kering.
Mirda terus memeluk tubuh sang istri yang tengah duduk disofa.
"Bang, udah kering rambutnya. Ayo kita keluar!" ajak Elmira.
"Sebentar lagi ya sayang, Abang males diledekin sama Baba nih!" rengek Mirda.
"Ulu ulu ulu, suamiku sayang. Namanya juga pengantin baru, Bang," ucap Elmira dengan pipi yang bersemu merah. Mirda mengecup bibir Elmira.
"Yaudah pake jilbabnya, kita kebawah sekarang. Baju-bajunya udah dimasukin kedalem koper kan?" tanya Mirda sambil terus menciumi leher sang istri.
"Ih geli, sayang! Udah kok, semua keperluan kita udah disana," jawab Elmira.
"Baju dinas kamu jangan lupa sayang," bisik Mirda dan Elmira tersenyum.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan perlahan, sebab Mirda tau jika istrinya itu masih merasakan sakit. Sedangkan keluarganya dibawah, tersenyum jahil melihat keduanya. Bahkan dengan terang-terangan menggoda pengantin baru itu.
"Yaa Allah, pantesan semalem ninja hatori menghilang. Rupanya dia habis mendaki gunung lalu melewati lembah," celetuk Baba Jafran.
__ADS_1
"Ummi juga semalem denger orang lagi bikin adonan tau, Ba!" celetuk Ummi Ulil.
"Ehhh, Kakak sama Abang udah turun. Mau sarapan dulu gak? Takutnya kehabisan tenaga nanti dijalan," goda sang Bunda membuat keduanya salah tingkah.
Tak tahan dengan godaan mereka, Elmira mendekati sang Bunda.
"Apaan sih, Bunda! Kakak nanti aja makan dimobil, Bun! Udah ah hayu berangkat, keburu kesiangan nanti," ucap Elmira membuat Alan mencebik kesal.
"Wahai putri dan pangeran, hamba sudah menunggu sedari tadi hingga kering kerontang bagai kulit tak bertulang," celetuk Alan membuat mereka tertawa.
"Maafkan putri dan pangeran, wahai rakyat jelata," ucap Elmira sambil membungkukan tubuhnya.
Jika mereka tengah bercanda gurau dan menggoda Elmira, berbeda dengan Chandra yang tengah menggendong Acel bersama Rian yang menggendong Sweta.
"Kamu sudah menjadi milik Mirda sepenuhnya, Elmiraku..." batin Chandra.
Sebuah bus sudah terparkir tak jauh dari kediaman mereka, Ayah Fahri sengaja menyewa bus untuk keluarga besarnya. Sedang para Kakek dan Nenek menggunakan mobil Hiace. Sepanjang perjalanan, mereka menyanyi bersama-sama. Bunda Gisya, Ummi Ulil dan Mama Febri tersenyum bahagia ketika melihat putra putinya sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Akhirnya, anak-anak kita bisa hidup bahagia. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka, dan mempererat ikatan persahabatan kita," ucap Bunda Gisya.
"Kamu bener, Ca! Gak ada hal yang lain, yang paling membahagiakan bagi seorang ibu selain kebahagiaan anak-anaknya," ucap Ummi Ulil.
Sedangkan Mama Febri hanya memperhatikan Cyra yang tengah bersuap-suap ria dengan sang calon suami, Thoriq.
"Mas Andi, putrimu sudah dewasa. Sebentar lagi dia akan menikah, Mas. Apakah kamu bahagia disana? Aku merindukanmu, Mas Andi," batin Mama Febri.
"Sayang, kenapa kamu nangis?" tanya Papa Zaydan.
"Gak apa-apa, Pa. Mama cuman bahagia liat anak-anak seceria ini," ucap Mama Febri.
"Aku tau kamu merindukannya," batin Papa Zaydan lalu dia memeluk Mama Febri.
Tak terasa kini merka sudah sampai di Marina Ancol, Alan sengaja menyewa sebuah kapal milik rekan bisnisnya. Supaya keluarganya merasa nyaman, sebab mereka membawa para lansia yang sudah dipastikan akan mengomel jika mengantri lama. Perjalanan dari Ancol hingga Pulau Tidung kurang lebih satu jam setengah. Para orangtua tengah menikmati cemilan yang mereka bawa dari rumah dibawah. Sedangkan para anak muda tengah menikmati angin laut yang berhembus.
Mirda terus memeluk tubuh sang istri, begitupun juga dengan Afifah dan Rian yang menunjukan kemesraan mereka. Hingga hal itu membuat Alan kesal.
"Ck! Kalo mau mesra-mesraan dibawah sono!" kesal Alan.
"Syirik aja lu! Makanya halalin dong, biar bisa begini nih!" ucap Rian sambil mencium istrinya. Mereka tertawa melihat ekspresi wajah kesal Alan.
"Apa lu liat-liat!" celetuk Theresia ketika Alan menatapnya.
"Gak ada ya! Gua cemplungin juga lu kelaut, biar dimakan buaya!" kesal Theresia.
"Bhahahahaha! Mana ada buaya dilaut, Re!" ucap Alana sambil tertawa.
Theresia tersipu malu, sebab dia menjawab spontanitas saja.
"Ciee blushing ciee," goda Cyra pada calon adik iparnya itu.
"Ih Teteeehhh," rengek Theresia sambil memeluk lengan sang Kakak ipar.
"Heh heh, sono! Ngapain deket-deket sini, noh ada Aa Alan," ucap Thoriq.
"Sini sini, come to me baby," ucap Alan sambil merentangkan kedua tangannya.
Mereka menikmati perjalanan selama satu jam setengah dengan bercanda tawa dan berbincang-bincang. Sweta dan Acel sangat mengerti, mereka tertidur pulas sepanjang perjalanan menuju Pulau Tidung. Kini mereka sudah sampai di Pulau Tidung. Sebelum menuju penginapan, mereka terlebih dahulu mengunjungi ikon dari Pulau Tidung yaitu Jembatan Cinta. Setiap pasangan berjalan melewati jembatan cinta sambil berpegangan tangan. Sebab ada mitos yang beredar jika kalian bergandengan bersama pasangan diatas jembatan ini, maka dapat membuat hubungan semakin langgeng.
Indira, Carel dan juga Aqeela berjalan dibelakang, sebab mereka tak membawa pasangan.
"Teh! Katanya kalo yang jomblo lewatin jembatan ini bisa dapet jodoh tau," ucap Aqeela sambil berjalan disamping Indira.
"Heh bocil! Jangan sok tau deh, udah ayok jalan aja!" ucap Carel sambil menjepit kepala Aqeela di keteknya. Indira tertawa melihat keduanya seperti itu.
"Cepetan jalannya Teteh!" teriak Aqeela.
"Duluan aja! Aku masih pengen menikmati pemandangan," teriak Indira.
Dia berjalan sendiri, menikmati angin laut yang menerpa tubuhnya. Sesekali dia mengambil foto selfi dirinya sendiri serta pemandangan disana. Indira asyik sendiri, hingga tak menyadari jika didepannya itu ada segerombolan orang.
Bruk!
Indira menabrak tubuh seseorang hingga membuatnya hampir terjatuh, untung saja orang itu menahan tubuh Indira.
"Apa hobby mu itu menabrak orang?" ucap laki-laki itu dengan dinginnya
"Eh, ma-maaf saya gak sengaja," ucap Indira sambil membenarkan posisinya.
"Sudah dua kali, nona. Berhati-hatilah," ucapnya lalu pergi begitu saja bersama teman-temannya yang kini saling berbisik.
Yap! Laki-laki itu adalah Dirga Agung Prayoga, yang tengah menikmati masa cutinya.
__ADS_1
Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Indira berlari melewati laki-laki itu.
"Aqeela, tunggu!" teriak Indira tanpa memperdulikan sekitarnya.
"Dasar perempuan aneh," batin Dirga saat melihat Indira berlari sambil berteriak.
"Lu ngapain lari-lari? Keserimpet baru tau rasa lu," ketus Carel.
"Dikejar beruang kutub!" kesal Indira lalu berjalan cepat menuju sang Bunda.
Setelah puas menikmati pemandangan jembatan cinta, kini mereka sudah berada di Cottage Pulau Tidung. Masing-masing sudah menempati kamar, sementara yang belum menikah mereka disatukan dalam satu kamar. Cyra, Theresia, Alana, Indira serta Aqeela menempati satu kamar. Begitupun dengan Thoriq, Alan, Husain serta Carel.
Indira tengah menyendiri diluar, menikmati senja yang tengah berpamitan untuk berganti malam. Dia menutup matanya, menikmati setiap hembusan angin.
"Dek? Lagi apa sendirian disini?" tanya Elmira membuat Indira tersentak kaget.
"Kakak! Bikin kaget aja deh!" kesal Indira.
"Lagian kamu ngapain coba sendirian disini? Yang lain pada kumpul tuh didalem, gak ikutan?" tanya Elmira dan Indira menggelengkan kepalanya.
Elmira menghampiri Indira dan merangkulnya, mereka bersandar satu sama lain.
"Kakak ngerti kamu ini introvert, tapi mereka keluarga kita. Kamu harus lebih terbuka, supaya tau dunia luar," ucap Elmira sambil mengelus kepala sang adik.
"Aku cuman lagi pengen sendiri aja, Kak," ucap Indira.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Elmira dan Indira menghela nafasnya.
"Athaya, dia ngajakin aku buat ngunjungin pesantren Papanya," ucap Indira.
"Jadi kamu daritadi mikirin hal itu?" heran Elmira sambil terkekeh.
Seolah mengerti, Elmira mengajak Indira untuk duduk bersama.
"Kamu cinta sama Athaya?" tanya Elmira dan Indira menggeleng.
"Aku gak ngerti apa itu cinta, Kak. Aku cuman ngerasa nyaman aja sama sikap Athaya, lagian aku masih mau fokus kuliah. Belum mau mikirin hal kaya gitu," jawab Indira.
"Dira sayang, mungkin Athaya ngajakin kamu kesana karena pengen ngenalin kamu sama orangtuanya. Tandanya, mungkin Athaya itu mau serius sama kamu," ucap Elmira.
"Kak, jujur aku memang nyaman banget sama Athaya. Apalagi waktu dia baca ayat suci Al-qur'an, jantung aku berdegup waktu mendengar semua itu. Tapi aku belum siap untuk menjalin sebuah hubungan, aku maunya ta'aruf langsung nikah," lirih Indira.
"Kamu bicarakan baik-baik sama Athaya, bilang kalo kamu belum bisa pergi kesana. Lagian Ayah juga belum tentu ngijinin, jadi... Jangan ngelamun lagi!" ucap Elmira sambil memeluk sang adik.
"Ekheeemmm...."
Suara deheman membuat keduanya menoleh, dan kembali jantung Indira berdegup kencang. Hingga Elmira yang tengah memeluknya bisa merasakannya.
"Gak peluk Abang aja?" goda Mirda membuat wajah Elmira bersemu merah.
"Ish! Abang gak malu apa itu didenger juniornya," kesal Elmira.
"Mereka oke oke aja tuh!" ucap Mirda lalu mendekati sang istri.
"Aku kedalem dulu ya, Kak!" pamit Indira dan terus berjalan menunduk.
Bruk!
"Sudah tiga kali kamu menabrakku, nona! Kalo jalan lihat kedepan, dan berhati-hatilah," ucap Dirga dengan wajah datar dan dinginnya.
"Saya hanya menundukkan pandangan, mungkin anda yang harus memposisikan diri anda agar tidak menghalangi jalan orang lain!" kesal Indira membuat Dirga terdiam.
"Ada apa dengan diriku?! Kenapa gadis itu selalu membuat jantungku seperti ini," batin Dirga menatap kepergian Indira.
Sesampainya dikamar, Indira berjalan menuju balkon. Dia membutuhkan ketenangan untuk meredakan emosinya. Sambil menatap langit, Indira memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
"Senja tak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meskipun ia berubah menjadi kelabu. Semesta, aku takut jatuh cinta. Karena ketika aku mencoba memahaminya, itu membuatku bingung dan tersesat," batin Indira menatap langit.
* * * * *
MAAF BARU UP 🙏🙏
Othor sangat sibuk sekaliii🥺✌
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1