
"Kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta."
Cyra tengah menikmati udara pagi Kota Bandung dengan sepeda motornya, setelah membeli beberapa bahan makanan dari pasar, kini perempuan berstatus janda itu tengah menyusuri jalanan komplek menuju kediaman Bunda Gisya. Sengaja dia melajukan motor itu dengan lambat, udara pagi ini membuat dirinya merasakan ketenangan.
"Waahh... Gorengan emang terbaik! Bala-bala, pisang, gehu, rarawuan, combro, misro...." satu persatu gorengan di absen oleh Cyra.
Dia menepikan motornya untuk membeli gorengan, kerinduan terhadap kota ini membuat Cyra berniat untuk menikmati makanan yang selalu dirindukannya. Termasuk surabi dan cilok yang dijual disana.
"Ternyata hidup sendiri, tidak seburuk itu!" gumam Cyra.
Sedangkan di kediaman Bunda Gisya, Alan tak bisa tenang. Sejak tadi dia menunggu Cyra, tapi perempuan itu tak juga menampakkan dirinya.
"Bun! Ma! Kayaknya aku mesti nyari dia deh, gimana kalo dia kenapa-kenapa di jalan? Masa iya udah jam 9 gini belom juga sampe? Emang pasarnya di Bagdad?!"
Kedua orang tua itu menahan senyum nya, "Kamu itu gak sabaran banget! Tunggu aja dulu yang anteng, heran deh Ayah! Kamu sama Baba kamu itu sebelas dua belas, lagian ya Cyra itu ke pasar buat belanja. Kayak gak tau aja belanja nya perempuan itu gimana?" celetuk Ayah Fahri.
Mendengar ucapan sang suami, Bunda Gisya mendelik kesal. "Oohhh... Jadi kalo Bunda belanja juga Ayah suka kesel gitu? Gak ridho nemenin Bunda?"
"Eh....." Ayah Fahri menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sedangkan Alan terlihat tertawa penuh kemenangan, "Mampoooosss! Makanya, Ayah tuh udah jelas-jelas bucin! Kaga usah bangunin singa yang lagi bobok!" ledek Alan.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki membuat mata Alan seketika berbinar, dia segera melangkah menuju teras dan berhambur memeluk wanita yang kini membelakangi nya. Sebab dia tengah mengeluarkan beberapa keresek dari mobil.
"Akhirnya kamu dateng juga! Cyra... Aku sayang kamu, pokoknya ada atau pun enggak wasiat Rere, aku akan tetep nikahin kamu! Aku sayang kamu, Cyra. Sejak dulu, sejak pertama kalinya kita tergulung dalam tenda. Aku cinta kamu," lirih Alan yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Jawab Cyra.... Kamu mau kan nikah sama aku?"
Masih tak ada jawaban, hingga...............
"Mauuuulllll? Ngapain kamu peluk-peluk istri Abang?!"
Alan terkesiap, dia menoleh dan tampak disana Bang Rian tengah berkacak pinggang. "Lho, ka-kak Fifah?" kaget Alan membuat Afifah tertawa terbahak-bahak.
"Bhahahahahaha! Aku cinta kamu, Cyra. Aku cinta kamu...!" ledek Afifah membuat Alan memberengut kesal.
Sedangkan para orang tua yang menyaksikan itu pun tak kalah tertawa membahana, "Makanya jangan nyosor mulu kayak soang, mampoooossss tuhh! Hajarr Riaaann!" ucap Ayah Fahri mengompori.
Bang Rian menghampiri Alan dan menjewer telinganya, "Mentang-mentang udah jadi duren sawit kamu, ya! Maen peluk-peluk bini orang!"
Alan meringis sambil tertawa kaku, "Sorry lah Bang! Kan gak sengaja, lagian apaan tuh duren sawit? Kaga konsisten banget, masa duren sama sawit? Emang enak?"
"Halaaah.. Mboh lah, sakarepmu!" kesal Bang Rian menoyor kepala Alan.
Ketika mereka tengah ribut-ribut, motor Cyra datang memasuki halaman rumah. Kini tubuh Alan menegang, tak ada lagi keberanian seperti tadi. Jantung nya berdegup sangat kencang. "Yaa Allah.. Ciptaanmu begitu indah..." gumam Alan.
"Samperin sono! Peluk lagi kek tadi, mumpung kaga punya pawang!" bisik Afifah membuyarkan lamunan Alan.
Cyra mengerenyitkan dahi nya ketika melihat semua orang berada di teras rumah. Dia mengambil beberapa keresek yang menggantung di motornya, Papa Zaydan tentu saja membantu putrinya itu. Sedangkan Alan malah terpaku di tempatnya, tubuhnya terasa kaku untuk melangkah.
__ADS_1
Saat Cyra berjalan melewatinya, dia menahan lengan Cyra. "Aku mau ngobrol empat mata ya sama kamu," ucap Alan.
Cyra tersenyum dan mengangguk, "Lepasin dulu, aku berat bawa belanjaan!"
Alan tersadar, kemudian dia mengambil keresek itu dari tangan Cyra. "Biar aku yang bawain, tunggu disini!" titah Alan.
"Ckck! Dari tadii kaleeeee... Telat luu!" ledek Bang Rian.
Baru saja Alan meletakkan belanjaannya, ponselnya berdering. Rupanya Baba Jafran yang menelepon, dia mengatakan jika Alesia muntah-muntah dan akan di bawa ke RSIA. Alan sangat panik, dia bahkan berlari dan melupakan Cyra.
"Alan! Kamu mau kemana?" teriak Cyra, sebisa mungkin dia menahan Alan.
Alan menoleh, tangan nya bergetar. "Ale masuk Rumah Sakit, aku harus kesana. Nanti kita bicara empat mata!" baru saja dia melangkah, tapi Cyra mencekal tangannya kembali.
"Aku ikut, aku yang nyetir!" Cyra mengambil kunci mobil dari tangan Alan.
Mereka menuju RSIA bersama, sedangkan para orang tua akan menyusul nanti. Sepanjang jalan, Alan hanya terdiam. Perasaan nya sangat gelisah dan tak nyaman, wajah putri kecilnya selalu terbayang. Cyra menggenggam tangan Alan, dia berusaha untuk menenangkannya. Alan menatap tangan mereka yang bertautan, hatinya cukup tenang.
Sesampainya disana, Alan berlari menuju IGD. Sedangkan Cyra memarkirkan mobil milik Alan. Alesia terbaring lemah, dia tengah menunggu suster untuk memberikan infus. Bayi berusia 3 bulan menuju 4 bulan itu masih saja menangis hingga tak bersuara.
"Sssttt... Anak Pipi jangan nangis terus, Ale anak kuat!" lirih Alan disamping putrinya itu.
Cyra menghampiri mereka, dia pun merasa sedih ketika melihat Alesia menangis tanpa suara. "Boleh aku gendong Ale?" tanya Cyra.
Alan mengangguk, begitupun Ummi Ulil dan Baba Jafran yang kini tengah menangis sambil berpelukan. Dengan penuh kasih sayang, Cyra menggendong Alesia. Siapa sangka, Alesia berhenti menangis di gendongan Cyra. Bahkan mata nya yang sayu itu mulai terpejam. Mungkin bayi mungil itu kelelahan setelah menangis.
"Jangan nangis lagi ya, anak cantik. Cepet sembuh ya, jangan lama-lama sakitnya! Kasian Oma sama Opa, apalagi Pipi kamu tuh! Cengeng!" bisik Cyra pada bayi yang kini mulai tertidur itu.
Baba Jafran dan Ummi Ulil pulang terlebih dahulu untuk membawakan keperluan Alesia. Kini tinggalah Alan dan Cyra disana, karena lelah Alan tertidur pulas. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Perut Cyra berbunyi, sebab sejak tadi pagi dia belum makan apapun.
Dia menghampiri Alan dan menyelimuti tubuh laki-laki itu, tapi siapa sangka Alan malah mencekal tangan Cyra dan mambuat Cyra terjatuh diatas tubuhnya.
"Alaaan!!" pekik Cyra yang kaget.
Mata keduanya bertemu, jantung keduanya pun berdegup kencang. "Kamu denger kan? Jantung aku berdegup kencang tiap deket kamu. Ada atau pun enggak surat wasiat itu, aku tetep cinta sama kamu Ferandiza Chayra Shanum Faturachman. Aku cinta kamu sejak dulu, sejak kita berguling dalam tenda. Mungkin jauh sebelum itu pun, aku sudah mencintai kamu..."
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Cyra semakin berdegup kencang, Alan semakin mengeratkan pelukannya. "Jadilah istriku, jadilah ibu untuk Alesia dan anak-anak kita nantinya. Cyra, mau kan kamu nikah sama aku?"
Kruuyyuuukk.. Kruuyuuukkk..
Astaga! Wajah Cyra bersemu merah, 'Dasar cacing-cacing lucknut! Disaat begini malah bunyi!' batin Cyra.
Ingin rasanya dia berlari menuju mars saking malunya. "Aku laper!" ucap Cyra dengan nada sepelan mungkin.
"Kita makan dulu ya!" ajak Alan, dia mengelus kepala Cyra dengan lembut.
Ceklek
"Yaa Allah ni anak dua! Kalian ini berdosa sekali, oh my god oh my eyes!"
__ADS_1
Ucapan Afifah membuat Cyra dengan segera bangun dari atas tubuh Alan. "Eh gak gitu Kak! Tadi gak sengaja jatoh kok!"
"Ckck! Lagian Kakak sama Abang itu kalo mau masuk harusnya ketok dulu, untung tadi cuman adegan gitu, kalo adegan lain gimana?" ucap Alan dengan entengnya.
Cyra membulatkan matanya, lalu mencubit pinggang Alan dengan gemas. "Itu mulut mau di jejelin kaos kaki Ale! Kamu tuh kalo ngomong ya......"
"Suka bener!" ucap Afifah dan Rian berbarengan.
"Eh, gak gitu Kak, Abang!" rengek Cyra membuat mereka terkikik geli.
"Udah-udah, kita udah sama-sama dewasa! Ngerti kok, ngerti. Sekarang kalian makan dulu gih, Kakak bawain masakan Bunda. Mereka nanti nyusul kesini, masih nunggu Elmira yang baru sampe Bandara. Tau sendiri gimana riweuh nya keluarga kita," ucap Afifah terkikik geli, mengingat kehebohan yang selalu mereka buat.
Rian menganggukkan kepalanya, "Abang setuju! Padahal yang sakit bayi kecil, tapi liat ruangan ini? Bisa muat sampe 20 orang dewasa!"
"Hehehehe... Maklum lah, sayang! Sultan mah, bebaaaassssss!" ledek Afifah.
Tak ingin menjadi ledekkan sang Kakak, mereka memutuskan untuk makan siang. Sedangkan Afifah dan Rian tengah mengepok-ngepok Alesia yang terganggu oleh suara nyaring mereka.
"Suapin dong!" rengek Alan. Cyra mencebik kesal, "Yang mesti nya manja itu Alesia, bukan kamu!"
Meskipun berucap demikian, tapi Cyra tetap menyuapi Alan. Keduanya makan dari satu sendok yang sama, hal itu membuat Alan semakin berbunga-bunga. Dia menggenggam tangan Cyra, "Jawab aku, kamu mau kan nikah sama aku?"
Pertanyaan Alan lagi-lagi membuat jantung Cyra berdegup kencang, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Matanya kini berkaca-kaca, begitu pun juga Alan. Dia mendekati Cyra, menghapus air mata nya dan mengecup keningnya. Hingga.......
Pletak!
"Aduh! Awwwwssss! Siape nih maen timpuk-timpuk! Ganggu keromantisan orang aja!" ucap Alan meringis sambil memegangi kepalanya yang tertimpuk sendal.
"Dasar turunan Baba! Nyosorrr mulu kaya soang, emang ya lu, manusia soang!" kesal Ummi Ulil.
Melihat sang Ummi yang berkacak pinggang membuat Alan memaksakan senyumannya. "Hehehe khilaf, Ummi! Besok kawinin Alan deh, biar halalan toyyiban!"
"Ck! Doyan lu bukan khilaf, dasar anak kutil lu! Noh liat, kecebong elu lagi sakit begitu mau kawin lagi! Sabar nape, Mauuulll....!" kesal Baba Jafran.
Alan yang sadar langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Iya deh iya! Sabarr.. Sabaarr... Cepet sembuh ya Ale, biar Pipi cepet kasih kamu Mami baru sama dedek bayik!"
Sontak ucapan Alan membuat mereka tercengang, "Manusia soang!" ucap mereka bersamaan.
"Kasih Mami baru aja dulu! Pake ngomongin adik, masa bayik adiknya bayik! Nyangkul mulu pikiran lu, Mauuuulll..!!" kesal Ummi Ulil.
"Huffftttt....! Nasib.. Nasib.. Salah Baba lah, Alan kan hanya jiplakan Baba!"
Baba Jafran say, "Aku dimana? Aku siapa?"
* * * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤