Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Hari Pertama


__ADS_3

Maaf telat Up πŸ™


Othornya lagi agak kurang sehat nih,


Semoga sukaa, jangan lupa dukung othor kasih jempolnya yaa ❀


* * * * *


Pagi ini hujan turun dengan derasnya, seolah mengerti dengan perasaan Elmira. Dia membuka pintu yang menuju balkon kamarnya, Elmira menikmati setiap hujan yang menetes ditangannya. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Baginya hujan mampu menenangkan perasaan yang bergejolak dalam batinnya. Tanpa Elmira sadari, sejak tadi Mirda menatapnya dari bawah.


Mirda tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu, hingga suara seseorang membuatnya tersentak.


"Cantik ya, Om?" bisik Husain pada Mirda dan dia mengangguk, kemudian dia tersadar.


"Eh udah ayok nanti kamu kesiangan!" ajak Mirda pada Husain.


"Kemana Om? Ini baru jam setengah 6 pagi. Lagian aku balik asrama nanti siang," jawab Husain membuat Mirda semakin gelagapan. Mirda menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yaudah saya mau mandi dulu," ucap Mirda melenggang pergi. Husain tertawa melihat tingkah manusia dingin itu.


Elmira bergegas bersiap, karena hari ini adalah hari pertamanya menjadi dokter Internship di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung. Memakai baju bermotif bunga dan jilbab dengan warna senada membuat setiap orang yang melihat pasti akan jatuh cinta.


Tok tok tok


"Ra, kamu udah siap kan?" tanya Afifah sambil mengetuk pintu.


"Udah, tunggu sebentar!" sahut Elmira lalu bergegas membawa jas putih kebanggaannya.


"Buseettt, cantik buanget! Kamu beneran mau dines nih?" goda Afifah.


"Fifaaaahhhhh....." rengek Elmira saat tau sahabatnya itu sedang menggodanya.


"Iyee iyeee! Diem dah diem ini," ucap Afifah lalu menggandeng tangan Elmira.


Dimeja makan semua orang sudah berkumpul, termasuk Mirda dan Monik ajudan keluarga mereka. Keluarga Fahri selalu mengajak semuanya untuk makan bersama, tanpa membedakan siapa mereka. Lagi-lagi, Mirda terpesona oleh kecantikan Elmira.


"Om, mingkem!" bisik Husain menggoda Mirda.


"Uhukk.. Uhukk..." Mirda tersedak airputih yang baru saja dia minum.


"Om Mirda, hati-hati minumnya!" ucap Bunda Gisya pada Mirda.


"Siap Bu!" jawab Mirda lalu menatap sinis kearah Husain.


Elmira dan Afifah sudah bergabung dimeja makan, tapi tidak biasanya Elmira terlihat sangat tidak bersemangat. Bunda Gisya mengelus bahu putrinya itu.


"Jangan terlalu dipikirkan, semuanya bukan kesalahan Kakak. Bukan juga kesalahan Om Chandra, karena kita tidak pernah tau kapan, dimana dan pada siapa kita akan jatuh cinta." bisik Bunda Gisya pada Elmira dan dia mengangguk.


"Mirda, kamu antarkan Elmira dan Afifah. Monik akan menemani kamu juga, pastikan keselamatan anak saya," ucap Fahri memberi perintah.


"Siap Komandan!" jawab Mirda dan Monik.


Sarapan sudah selesai, Elmira dan Afifah segera bergegas berpamitan. Sepanjang perjalanan, Elmira hanya melamun. Mirda dapat melihat kesedihan diwajah gadis itu.

__ADS_1


"Kalian pulang aja, gak usah nunggu kita dinas. Nanti aku akan telpon kalo udah jam pulang, eh lupa! Minta nomor Bang Mirda," pinta Elmira sebelum mereka turun.


Mirda tidak menyebutkan nomor teleponnya, dia hanya memberikan ponsel miliknya pada Elmira. Ponsel Mirda memang tak pernah dia kunci, ribet! Begitulah pemikiran Mirda.


"Yaa Allah, ini ponsel apa asrama! Isinya nomor abdi negara semua!" ucap Afifah yang kepo melihat ponsel Mirda. Elmira segera menyimpan nomor Mirda setelah ponselnya terdengar berdering. Mirda meminta Elmira dan Afifah menunggu dimobil.


"Saya harus pastikan nona Elmira dan nona Afifah aman!" ucap Mirda dengan nada dinginnya. Dia lalu keluar dan meminta ijin untuk memeriksa sistem keamanan disana.


Elmira mendengus kesal, pasalnya Direktur Rumah Sakit ini adalah teman baik Bundanya.


"Bang Mirda pulang aja! Gak usah anter saya sampe dalem, malu tau!" kesal Elmira.


"Saya harus pastikan...." ucapan Mirda terpotong oleh Elmira.


"Mbak Monik yang akan temenin aku! Udah sana balik!" geram Elmira meninggalkan Mirda dan salah satu staff keamanan disana.


Monik berjalan dibelakang Afifah dan Elmira, lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian.


"Kenapa sih harus segininya jadi anak Jenderal, padahal kan aku juga bisa kalo buat jagain kamu. Udah sabuk hitam nih!" gerutu Afifah saat mereka menuju ruangan Komite Medik.


"Udah diem! Terima aja, nasibnya begini!" pasrah Elmira lalu menoleh pada Monik.


"Mbak Monik, saya sudah sampai. Gak mungkin Mbak Monik ngikutin saya kedalem kan? Sekarang Mbak Monik balik lagi, bilangin sama manusia es itu saya udah duduk cantik dan sampai dengan aman selamat sehat sentosa!" ucap Elmira dengan perasaan kesal.


"Siap! Saya kembali nona Elmira, nona Afifah. Selamat bekerja," ucap Monik pada keduanya.


Elmira merasa tidak enak, karena dia disambut langsung oleh Direktur Rumah Sakit.


"Selamat pagi semuanya, hari ini kita kedatangan dua dokter Internship baru disini. Saya harap rekan-rekan sejawat disini bisa membimbing mereka dengan baik. Mohon maaf apabila disini rekan-rekan semua merasa risih dengan dokter Elmira. Dia adalah salah satu putri Pangdam Mayjen Fahri," ucap dokter Sarah memperkenalkan Elmira dan semua orang kemudian saling berbisik.


Dokter Sarah, selaku Direktur Rumah Sakit mengajak Elmira berkeliling Rumah Sakit untuk memperkenalkannya ke setiap ruangan. Bahkan sampai mengantarkan Elmira ke Instalasi Gawat Darurat dimana Elmira dan Afifah akan melaksanakan tugasnya.


"Selamat bekerja dokter Elmira dan dokter Afifah," ucap dokter Sarah.


"Terimakasih dokter sudah meluangkan waktunya untuk kami," jawab Elmira.


Elmira dan Afifah disambut baik oleh keluarga besar Instalasi Gawat Darurat disana. Hari pertama mereka bekerja disuguhi oleh pasien Kecelakaan Lalu Lintas. Elmira dan Afifah memeriksa pasien satu persatu, mereka berdua memang seperti satu paket.


"Tolong dokter! Tolong anak saya!" teriak salah satu keluarga pasien yang baru saja datang. Elmira dengan segera menghampiri pasien dan memeriksanya.


"Sudah sejak kapan anak Ibu demam seperti ini?" tanya Elmira.


"3 hari dokter, tapi pagi ini dia muntah-muntah sudah 8x," ucapnya menjelaskan.


"Sepertinya adek mengalami infeksi pada saluran pencernaannya, untuk pemeriksaan selanjutnya kami akan mengambil sampel darah adek untuk diperiksa di Laboratorium," ucap Elmira lalu meminta salah satu suster mengambil sampel darah anaknya.


Ibu tersebut ikut menangis melihat putrinya terus menangis meraung-raung.


"Mungkin begini Bunda saat dulu melihatku terluka," batin Elmira.


"Ibu tenang ya, InshaAllah adek gak apa-apa. Saya akan berikan resep untuk adek minum sekarang, silahkan diambil di Depo IGD yang ada disamping," ucap Elmira.


"Terimakasih dokter," lirih Ibu tersebut.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, tapi Elmira masih berkutat dengan laporan pasien yang hari ini ditangani olehnya.


Dddrrrttt.. Dddrrtt...


Ponsel Elmira begetar, dia melihat pesan yang masuk dan tersenyum.


"Baik sekali manusia es ini," gumam Elmira.


πŸ’Œ Manusia Es


Saya didepan membawakan makan siang.


Elmira dan Afifah bergantian untuk makan siang, dia bergegas keluar parkiran dan mencari keberadaan Mirda. Dia melihat Mirda sedang bersandar dipintu mobil.


"Mana makan siangnya? Aku laper!" pinta Elmira mengagetkan Mirda.


"Ini, kata Ibu dihabiskan! Jangan lupa tupperware nya dibawa lagi, kalo enggak jatah uang jajan dikurangi! Itu yang Ibu bilang pada saya," ucap Mirda dengan wajah datarnya.


"Makasih! Udah balik sana!" ucap Elmira mencebik kesal.


Mirda masuk kedalam mobil sambil menahan senyumannya. Sedangkan Elmira masih saja menggerutu sambil membawa bekal makan siangnya menuju ruangan yang disediakan untuk dokter Internship.


"Pacar dokter El baik banget ya! Sampe dianterin makaan," ucap suster Vania.


"Itu ajudan Ayah saya, sus. Bukan pacar," elak Elmira sambil membuka bekal makanannya.


Tapi note yang tertempel disana membuat bantahan Elmira sia-sia.


'Habiskan makanannya sayang ❀'


Elmira tau, jika ini pasti tulisan Ibunya. Tapi suster Vania dan yang lainnya tidak akan percaya. Elmira hanya menghela nafasnya dan makan dengan lahap. Sementara itu, Ayah Fahri dan Bunda Gisya saat ini baru saja sampai di IPDN. Mereka mengantarkan Husain yang akan melanjutkan pendidikannya. Hanya tersisa dua tahun lagi, maka Husain akan mendapatkan gelar S. IP.


Bunda Gisya memeluk Husain dengan sangat erat, sebenarnya dia merasa sedih jika harus terus berjauhan dengan anak-anaknya. Hanya menunggu Indira, putri bungsunya yang kini baru saja memasuki jenjang SMA. Indira meminta ijin pada Bundanya untuk menjadi seorang Polisi Wanita. Namun Gisya masih memikirkannya.


"Jaga diri kamu baik-baik, Abang. Belajar yang bener, Bunda pengen kamu cepet lulus biar rumah rame lagi," lirih Gisya dalam pelukan anak laki-laki satu-satunya itu.


"Iya Bun, Bunda juga jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran. Jagain Ayah juga biar gak bandel," ucap Husain lalu bergantian memeluk sang Ayah.


"Beuh! Jagoan Ayah udah dewasa ya! Ayah bangga sama kamu, belajar yang rajin dan jaga kesehatan kamu," ucap Fahri sambil mengusap kepala putranya itu.


Sebelum masuk kedalam asrama, Husain mengirim pesan pada Alana terlebih dahulu.


"Aku kembali ke asrama, jaga dirimu baik-baik Alana. Jangan lupa selalu sebut namaku dalam setiap untaian do'amu. Aku meminta itu sama kamu, dan akupun akan melakukan hal yang sama. Biarlah semesta yang bekerja, dan kuatkanlah segalanya dengan do'a,"


Alana yang baru saja selesai mempacking baju, mendengar notif dari ponselnya. Matanya berkaca-kaca setelah membaca pesan itu. Alana masih tidak mengerti dengan semua ini, dia hanya berharap yang terbaik untuk hidupnya.


"Ini adalah hari pertamaku benar-benar mengikhlaskan perasaan ini, aku akan mengikuti apapun yang semesta lakukan untuk aku dan kamu, Bang Ain," lirih Alana.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2