Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Tulang Rusuk


__ADS_3

Mendengar ucapan sang Kakak dan adiknya tempo hari, membuat Husain tak bisa melakukan hal dengan benar. Contohnya saja di minggu pagi ini, Bunda Gisya meminta tolong pada Husain agar membelikan tulang iga dipasar. Tapi dia malah membawa pulang tulang ayam yang biasa diperuntukan untuk penjual seblak, salah satu street food yang terkenal di Bandung.


Bunda Gisya terus saja mengoceh, rasa kesal dan rasa ingin tertawa berbaur menjadi satu.


"Ini Abang bawa tulang taleng segini banyak nyuruh Bunda jualan seblak apa kumaha? Makanya Abang kalo punya kuping teh dipake!" kesal Bunda Gisya menjewer telinganya.


"Aw.. Aw.. Aw... Sakit Bunda!" rengek Husain sambil mengelus telinganya.


"Atuhda kamu mah pagi-pagi udah bikin Bunda darah tinggi Abang!" ucap Bunda Gisya sambil *******-***** daster nya karena kesal.


Suara melengking Bunda Gisya sampai ke halaman belakang, dimana Ayah Fahri dan sang menantu, Rian sedang berbincang-bincang.


"Allahuakbar, Bunda! Eta ngapain daster diangkat-angkat gitu!" ucap Ayah Fahri lalu menghampiri sang istri dan menenangkannya.


"Liat ini kelakuan anak Ayah! Bunda minta tolong beliin tulang iga, malah bawa tulang taleng hayam buat dagang seblak. Kan keseeelll Ayaaaahhh!" ucap Bunda Gisya.


"Hahahahahahahhaaha," Rian tertawa hingga terpingkal-pingkal.


Kali ini tawa Rian yang menggema diseluruh rumah, membuat para perempuan yang sedang me time di ruang keluarga ikut berhambur.


"Ada apa sih, Beb? Ketawa kenceng banget!" ucap Afifah menepuk bahu suaminya.


"Astaghfirullohaladzim, kuntiiiii....!" teriak Rian ketika melihat wajah Afifah yang putih dan rambut yang terurai karena baru selesai keramas.


"Dasar suami laknaaaat! Istri sendiri dibilang kunti!" kesal Afifah membuat mereka tertawa. Wajah Afifah putih, karena dia sedang memakai masker susu bengkoang.


Elmira menghampiri sang Bunda yang terlihat sedang memindahkan tulang-tulang ayam itu kedalam 2 baskom besar.


"Yaa Allah, Bunda mau bikin apa itu?" tanya Elmira membuat Bunda Gisya tersentak kaget.


"Si Kakak, eta muka harejo kitu ngapain sih? Itu juga si Adek mukanya item gitu, meni serem Bunda mah liatnya juga!" ucap Bunda Gisya.


"Ih Bunda! Ini masker, biar mukanya cantik! Sekarang jawab, ngapain Bunda beli tulang ayam segitu banyak?" ucap Elmira sambil menatap heran sang Bunda.


"Tah si Abamg biang keroknya! Masa Bunda nyuruh beli tulang iga malah bawa tulang taleng, mana 3kg Kak! 3kg! Gimana Bunda gak kesel coba," ucap Bunda Gisya menatap tajam Husain.


Kini giliran mereka yang tertawa, bahkan Indira mencebik melek sang Abang.


"Karma itu teh, Bun! Gantungin anak orang, yang berharap jadi tulang rusuknya! Makanya karma nya dia gak dapet tulang rusuk, tapi dapet tulang taleng!" ketus Indira.


"Haaah? Maksudnya gimana sih Dek? Cerita-cerita sama Bunda," ucap Bunda Gisya sambil membawa Indira untuk duduk disampingnya.


Karena takut mendapat omelan dari sang Bunda, Husain bergegas untuk pergi. Tapi sayangnya semua itu terlambat, ketika sang Kakak sudah menariknya untuk duduk. Hingga akhirnya mereka semua berkumpul dimeja makan. Padahal mereka sudah sarapan pagi sejak tadi.


Bunda Gisya meminta Indira untuk menceritakan semua yang terjadi.


"Dek, sekarang ceritain sama Bunda. Maksud kamu itu gimana?" tanya Bunda Gisya.


"Jadi gini, Bun. Kemaren kan Adek temenin Kakak fitting baju pengantin, nah Adek tertarik sama satu baju pengantin tapi disitu tertera tulisan 'DISPLAY ONLY, NOT FOR SALE'. Ya Adek penasaran lah, terus Adek nanya sama Teh Alana. Itu baju pengantin siapa, Teh? Terus Teh Alana jawab, itu baju pengantin buat dia suatu saat nanti. Kalo untuk sekarang, belum ada jodohnya. Gitu katanya, padahal kan si Abang udah sok-sokan romantis sama Teh Alana, Bun. Bikin baper anak orang terus digantung, sama aja DZOLIM gak sih, Bun?" jelas Alana sambil menekankan kata dzolim.


Husain menundukkan kepalanya, ketika semua mata tertuju padanya.


"Abang, perempuan itu butuh kepastian. Kalo Abang bener-bener serius, sebaiknya lebih cepat Abang memperjelas hubungan kalian. Inget, Bang! Ummi sama Baba juga orangtua Abang, jangan sampe mereka kecewa karena Abang bersikap seperti seorang pengecut! Laki-laki itu yang dipegang ucapannya, Bang!" ucap Ayah Fahri menasehati.


"Iya Ayah, Abang tau. Abang kira dengan setiap perbuatan dan sikap yang Abang tunjukkan udah cukup menunjukkan kalo Abang serius sama dia," sahut Husain sambil menunduk.


"Abang..... Perempuan itu gak akan tau, kalo Abang gak pernah mengungkapkan apapun. Lebih baik, Abang ucapkan apa tujuan Abang sebenarnya pada Alana," ucap Bunda Gisya dan Husain mengangguk.


* *

__ADS_1


Jika kisah cinta Alana masih menggantung seperti jemuran yang tak kunjung kering. Berbeda dengan kisah cinta Alan yang sudah mulai menemukan titik terang.


"Ijem, kata dokter lusa kamu udah boleh pulang ke Indonesia. Apa kamu seneng?" tanya Alan sambil mengelus kepala Theresia dengan lembut.


"Iya gue... Emmm, aku seneng A. Makasih banyak ya, udah mau ngerawat gue, em aku dengan baik," ucap Theresia yang masih canggung dengan panggilan barunya.


"Biasain ya, cantik. Apa kamu setuju, kalo setelah kita di Indonesia kita tunangan dulu? Setelah Cyra sama Mas Thoriq nikah," tanya Alan membuat jantung Theresia berdegup dengan kencang hingga Theresia memegang dadanya.


Alan panik, sangat panik! Dia terus menenangkan Theresia.


"Tenang ya, tenang... Aa gak bakalan maksa kok!" ucap Alan memeluk Theresia.


"Gak tau kenapa A, tiap denger kamu bicara manis sama aku itu semua bikin aku deg-degan parah. Dada aku sakit banget, A," lirih Theresia dalam pelukan Alan.


"Lula... Apakah kamu belum bisa menerima, jika aku mencintai Theresia?" batin Alan.


Malam hari di Apartement, Cyra sedang mengemas barang-barang miliknya dan juga Theresia. Sedangkan para laki-laki sedang pergi untuk membeli makanan. Ummi dan Baba menatap Theresia yang sejak tadi menatap langit didepan balkon. Mereka saling tatap, tidak biasanya Theresia terus memegangi dadanya. Karena takut terjadi sesuatu pada Theresia, Ummi menghampirinya.


Theresia jatuh sangat dalam, dalam lamunannya. Hingga dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Ummi disampingnya.


"Re, apa kamu sakit?" tanya Ummi memegang bahu Theresia membuat dia tersentak.


"Eh, Ummi. Nggak kok, Mi. Rere baik-baik aja," jawab Theresia.


"Nak, apa yang kamu pikirkan? Coba ceritakan sama Ummi," pinta Ummi.


"Apa Rere boleh tanya sesuatu, Mi?" tanya Theresia dan Ummi mengangguk pelan.


Dia menghela nafas, lalu memegangi dadanya yang sedari tadi tak nyaman.


"Ummi, siapa yang mendonorkan jantung ini buat Rere?" tanya Theresia membuat Ummi terhenyak, hingga tak sadar mata Ummi berkaca-kaca.


"Setiap A Alan mengucapkan kata cinta, hati Rere sakit, Mi. Itu yang buat Rere gak nyaman, rasanya Rere pengen tanya sama A Alan. Tapi dia gak pernah mau kasih tau Rere, dia cuman bilang kalo orang yang donorin jantung buat Rere itu orang baik," lirih Theresia.


Ummi tak kuasa lagi menahan airmatanya, dia memeluk Theresia dan mereka menangis bersama. Membuat Cyra dan Baba menjadi sangat khawatir.


"Mi, kenapa? Apa Rere sakit?" tanya Baba yang panik.


"Enggak, Ba. Biar Ummi, Rere sama Cyra ke kamar ya! Ada yang harus Ummi bicarain sama mereka. Nanti Ummi ceritain sama Baba," ucap Ummi Ulil dan Baba mengangguk.


Mereka bertiga sudah duduk dengan Theresia yang berada ditengah-tengah.


"Re, Ummi bakalan ceritain siapa yang udah donorin jantungnya buat kamu. Tapi kamu janji, apapun itu jangan pernah marah sama Alan. Karena dia juga sama sekali gak tau tentang hal ini," ucap Ummi Ulil dan Theresia mengangguk.


"Yang mendonorkan jantung buat kamu adalah Lula. Dia sahabat baik Alan di kampus, Lula meninggal karena overdosis obat yang menyebabkan mati otak. Sebelum meninggal dia memberi pesan pada keluarganya, agar mendonorkan jantungnya buat kamu, Re. Karena dia tau, kalo Alan sangat mencintai kamu," tutur Ummi Ulil menjelaskan.


Theresia menangis mendengar ucapan Ummi. Hal yang sama terjadi pada Alan, di Restaurant dia menumpahkan tangisnya pada Thoriq.


"Mas aku gak tau harus ngapain, kalo Rere tau siapa Lula," ucap Alan frustasi.


"Menurut Mas, lebih baik kamu jelaskan. Dan kamu buka surat pemberian dari Lula, bersama-sama dengan Rere. Mas tau Rere itu orang yang seperti apa, sebelum terlambat lebih baik kamu jelaskan," ujar Thoriq memberikan saran.


"Yaudah, kita pulang Mas!" ajak Alan dan Thoriq mengangguk.


Sesampainya di Apartement, Alan segera bergegas ke kamar setelah mendengar suara tangisan Theresia. Alan panik, ketika melihat Theresia memeluk foto Lula.


"Re, kamu kenapa Re?" tanya Alan mendekati Theresia.


"Sebaiknya kamu bicarakan berdua sama dia, jelaskan siapa Lula padanya, Alan. Ummi udah sedikit menceritakan tentang Lula, maaf jika Ummi mendahului. Tapi Ummi gak mau sesuatu terjadi sama calon menantu Ummi," ucap Ummi Ulil memeluk Theresia.

__ADS_1


"Yaudah kita tunggu diluar, kalian bicarakan berdua," ucap Baba dan mereka mengangguk.


Kini hanya tersisa Alan dan Theresia dikamar itu, Alan membawa foto Lula yang berada dihadapannya. Dia mengusap foto itu dan tersenyum getir.


"Dia adalah sahabatku, Lula. Sahabat baikku sejak pertama kuliah, Re. Aku gak pernah nyangka, jika sifat bar-bar nya selama ini demi menutupi luka hatinya. Dia membangun usaha bersamaku dari nol, hanya agar bisa terlihat dimata Papanya yang ternyata bukanlah Papa kandungnya," ucap Alan mengusap foto Lula dan menatap Theresia.


Deg!


Tatapan itu mampu membuat jantung Theresia berdegup kencang.


"Dia mengakhiri hidupnya, Re. Karena dia tau kenyataan pahit itu, dia pergi meninggalkan aku dengan sejuta penyesalan. Sebelum kamu kecelakaan, aku memintanya untuk berpura-pura menjadi pacar aku, Re. Aku yang dengan penuh rasa gengsi, gak mau keliatan lemah dimata kamu, Re. Padahal aku mencintai kamu, sampe akhirnya aku menyakiti Lula. Karena dia mencintai aku," ucap Alan terisak.


Tanpa sadar, Theresia membawa Alan dalam pelukannya. Dengan jelas, Alan dapat mendengar detak jantung Lula yang berada dalam tubuh Theresia.


"Maaf, Re. Mungkin kamu kecewa, tapi aku bener-bener gak tau kalo Lula akan mendonorkan jantungnya buat kamu. Aku dan dia gak akan pernah bisa bersatu, Re. Iman kita berbeda, dan hanya kamu aamiinku yang paling serius. Hanya kamu, Re. Yang selalu kusebut dalam setiap do'aku," ucap Alan semakin terisak.


Perlahan Theresia mengendurkan pelukannya, dia menangkup kedua pipi Alan.


"Aku ngerti sebesar apa cinta kamu buat aku, A. Dan aku juga ngerti sebesar apa cinta dia buat kamu. Jujur aku kaget, karena secara gak langsung aku udah menghancurkan kebahagiaan orang lain. Merenggut hak milik orang lain, tapi aku janji A. Aku bakalan jaga jantung Kak Lula dengan baik, menjaga cintanya buat kamu," ucap Theresia menghapus airmata yang mengalir dipipi Alan.


"Kita baca surat yang Lula kasih sama-sama, Aa belum berani membukanya sampai sekarang," ucap Alan lalu berjalan menuju laci dan membawa sepucuk surat.


Dengan tangan gemetar, Alan dan Theresia membuka surat itu bersama-sama.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Alan sahabatku!


Kamu harus jadi lelaki yang kuat, yang hebat! Jaga Rere dengan baik ya!


Hatiku sakit, Alan. Ketika tau jika Papa bukanlah Papa kandungku. Aku hancur, aku menyerah pada dunia yang penuh tipuan ini. Dan satu hal lagi, aku menyerah mencintaimu. Karena benteng yang kita ciptakan terlalu tinggi, yaitu Tuhan. Dan aku yakin, jika Rere adalah tulang rusuk yang selama ini kamu cari. Jaga dia dan bahagiakan dia selalu. Aku bahagia, bisa mencintaimu walau dalam diam. Terimakasih kebersamaan kita selama ini, do'akan aku bahagia di Surga bersama Bapa..


Dan untuk Theresia..


Aku titipkan jantung ini padamu, jantung yang setiap detik berdetak untuk mencintai Alan. Aku mohon, Re. Cintailah Alan sepenuh hatimu, seperti aku mencintainya..


Karena cinta Alan hanya untukmu, dan cintaku hanya untuk Alan.. Maka aku mohon, jadikanlah cinta Alan hanya untukmu, dan cintamu hanya untuk Alan... Berbahagialah kalian, cukup selalu ingat namaku pernah ada dalam kehidupan kalian berdua.. God Bless You, Alan.. Theresia.. I love you so much ❤❤❤


🌹🌹🌹🌹🌹


Alan dan Theresia saling menatap, kemudian menangis sambil berpelukan.


"Aku janji, akan mencintai kamu sepenuh hatiku, Theresia. Karena aku yakin, kamu adalah tulang rusukku. Karena tulang rusuk dan pemiliknya gak akan pernah tertukar," ucap Alan sambil mengusap lembut kepala Theresia yang berada dalam pelukannya.


"Wanita itu punya sifat unik, A. Dan aku harap Aa bisa bersabar menghadapi sikapku, dan seburuk apapun sifatku, tolong didik aku dengan penuh kelembutan," pinta Theresia dan Alan pun mengangguk.


Jodoh itu kayak 'Alif Lam Mim' ayat pertama surat Al-Baqarah, artinya yaitu hanya Allah yang tahu. Jodoh selalu tahu ke hati mana ia harus melangkah dan berpulang. Sebab itu setiap yang mencari pasti menemukan, setiap yang menanti pasti akan ditemukan. Jodoh kita sudah tertulis di Lauh Mahfudz. Mau diambil dari jalan yang haram ataupun halal dapatnya tetap itu juga. Yang beda itu rasa berkahnya, bukan tentang apa, berapa atau siapa. Tapi bagaimana Allah memberikannya, diulur lembut mesra atau dilempar dengan penuh murka.


* * * * *


Kasih dukungan yang banyak dong buat othoooorrrr ❤❤❤❤


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2