
Saat Alana berteriak kesal, dia sedang memegangi ponselnya yang berdering. Tanpa sengaja, Alana mengangkat telepon itu bertepatan dengan sebuah kecelakaan yang terjadi didepan Alana. Husain mendengar suara dentuman keras dan klakson yang berbunyi saling bersahutan. Pikirannya menjadi kalut, dia mencoba menghubungi Alana kembali. Tapi sayangnya, ponsel Alana terjatuh didalam mobil. Sedangkan dia segera keluar dari sana untuk membantu para korban.
Sebuah mobil Alphard menabrak sebuah angkot, yang didalamnya penuh dengan penumpang yang rata-rata anak Sekolah Menengah Pertama.
"Pak, itu ada yang kejepit! Ayo kita harus bawa ke rumah sakit sekarang, Pak!" pinta Alana pada salah satu saksi kejadian yang ada disana.
"Sebagian bawa ke mobil saya saja, Pak! Saya sudah melaporkan kejadian ini ke Kantor Kepolisian terdekat, kebetulan saya Polisi," ucap laki-laki seumuran Alana.
"Baiklah, kami akan mengamankan penabrak, takutnya dia kabur!" ucap Bapak itu.
Empat orang sudah masuk kedalam mobil Alana, sepanjang jalan Alana sangat gelisah.
"Adek, kalian gak apa-apa kan?" tanya Alana yang khawatir.
"Enggak Teh, cuman ini sakit," lirih salah satu dari mereka.
Tak lama kemudian ponsel Alana berdering, dia meminta anak yang duduk didepan untuk mengambilkan ponselnya. Disana tertera nama 'Big Boss', Alana segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Maiillll.... Kamu dimana?" pekik Baba membuat Alana menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Belum Alana menjawab, seorang anak berteriak dibelakang.
"Teh cepet, Teh! Pipit muntah darah," teriaknya membuat Alana tersentak.
"Baba! Aku lagi mau ke rumah sakit hasan sadikin, ada kecelakaan," ucap Alana lalu mematikan teleponnya.
Sedangkan disebrang sana sang Baba tersentak kaget, karena yang dia dengar adalah 'aku kecelakaan'. Dia segera menarik tangan sang istri untuk mengikutinya.
"Ba! Mau kemana kita?! Itu si Alan ketinggalan," ucap Ummi Ulil.
"Mauuuuuuulllll.....! Cepetan jalannya, si Mail kecelakaan!" teriak Baba Jafran membuat Ummi Ulil tersentak kaget.
"Apaa?! Anakku!" pekiknya lalu Ummi Ulil tak sadarkan diri.
Alan segera menghampiri Umminya, lalu dia menghubungi Husain.
In Call
"Assalamualaikum! Kamu dimana, Bang? Alana kecelakaan! Barusan Baba habis nelpon dia!" ucap Alan membuat Husain tersentak kaget.
"Allahuakbar! Dimana Alana sekarang!" tanya Husain membentak Alan.
"Ba! Rumah Sakit mana?" tanya Alan pada sang Baba yang berjalan sambil menggendong Umminya.
"Hasan Sadikin!" jawabnya singkat.
"Dirumah......"
Tut tut tut
End Call
Husain mematikan teleponnya begitu saja, hingga Alan sangat kesal.
"Dasar si Ebel! Belum juga ngomong udah dimatiin," kesal Alan.
"Aa yang tenang, A! InshaAllah Teh Alana baik-baik aja," ucap Theresia dan Alan hanya mengangguk lalu kembali berjalan menyusul kedua orang tuanya.
Dengan kecepatan tinggi, Husain membawa mobilnya. Hingga dia sampai didepan Instalasi Gawat Darurat, dia segera berlari kedalam dan membiarkan mobilnya begitu saja. Husain benar-benar sangat panik.
"Suster! Dimana pasien kecelakaan tadi?!" tanya Husain pada salah satu suster.
"Pasien atas nama siapa, Pak?" tanya suster.
"Alana, pasien atas nama Alana," ucap Husain yang sudah tak bisa berpikir.
__ADS_1
"Oh pasien bernama Alana, pasien kecelakaan tadi jenazahnya sudah ada didepan sana, Pak!" ucap suster seketika membuat Husain menengok pada sebuah blankar jenazah disana.
Deg!
Jantungnya berdegup dengan sangat kencang, dia menyesali sudah membentak Alana. Perlahan Husain menghampiri jenazah yang sudah terbaring kaku itu. Sedangkan disana, Alana melihat Husain yang berjalan mendekati sebuah blankar jenazah. Alana baru saja akan bertanya, tapi dia terlanjur mendengarkan ucapan Husain.
Husain menangis tersedu-sedu disana, dia mengungkapkan seluruh perasaannya disana.
"Alana, bangun sayang! Abang sayang sama kamu, Abang sangat menyesal udah membentak kamu tadi. Abang mohon sayang, jangan tinggalin Abang. Demi Allah, Abang sangat mencintai kamu, Alana." Lirih Husain membuat semua orang disana merasa tersentuh. Bahkan ada beberapa yang membuka ponselnya dan merekam semuanya.
"Ariella Alana Putri Maulani, bangunlah! Abang sayang kamu, Alana!" ucap Husain.
"Aku juga sayang sama, Abang!" ucap Alana yang tak sanggup lagi menahan dirinya.
Deg!
Husain menoleh ketika mendengar suara Alana, dia mengusap kasar airmatanya.
"Bapak ngapain didepan jenazah anak saya?" tanya keluarga jenazah yang baru datang.
Tanpa menghiraukan pertanyaan itu, Husain segera bangkit dan berhambur memeluk Alana. Bahkan tanpa sadar dia sudah menciumi seluruh wajah Alana.
"Yaa Allah! Kamu bikin jantung Abang hampir melayang, Alana! Jangan pernah tinggalin Abang, demi Allah Abang sayang kamu," lirih Husain memeluk Alana.
"Aku juga sayang sama Abang, tapi udahan peluknya Bang. Geleuh ih, ingus kamu kena jilbab aku," ucap Alana membuat Husain memberengut kesal.
"Biarin atuh pira ingus, sayang!" kesal Husain membuat Alana tersenyum.
"Si Ebel! Kirain teh beneran pacarnya, gak taunya salah target. Bubar, bubar, drama selesai!" ucap salah satu security disana.
"Huu... Hu... Huuuu...." semua orang menyoraki Alana dan juga Husain.
Alana mengajak Husain untuk duduk dikursi tunggu, didepan ruangan IGD.
"Abang tau darimana kalo aku disini?" tanya Alana.
"Pasti ini mah gara-gara si Baba! Ampun panikannya teh gak ilang-ilang!" kesal Alana.
"Kamu sama aja, pasti kebiasaan kamu matiin telpon gitu aja yang jadi penyebabnya!" ucap Husain membuat Alana tersenyum tanpa dosa.
Tak lama kemudian terdengar kembali suara keributan, dan ternyata yang datang adalah seluruh keluarga besar Ayah Fahri dan Gisya, Syauqi, dan tak lupa sang Baba dan Ummi.
"The Ebel's beraksi!" ucap Alana sambil menepuk jidatnya.
"Lagian kamu sih, udah tau punya keluarga suka riwah riwih!" ucap Husain kesal.
"Stoooppp! Baba! Ummi!" teriak Alana membuat mereka menoleh.
Semuanya berhambur memeluk Alana, apalagi para ibu-ibu yang sangat khawatir.
"Yaa Allah, neng geulis anak Ummi! Kamu gak apa-apa kan?" lirih Ummi Ulil.
"Ummi, Bunda, Ambu... Alana baik-baik aja, nih liat! Alhamdulillah, sehat wal'afiat," ucap Alana sambil memutar-mutar tubuhnya.
"Alhamdulillah, Yaa Allah....! Bunda kaget lagi rapat Persit langsung dateng kesini sama si Ayah!" ucap Bunda Gisya sambil mengusap kepala Alana.
"Jangan bilang, Bunda juga udah ngehubungi Mama Febri," tebak Alana dan Bunda Gisya mengangguk.
Sungguh Alana terharu dengan kepanikan semua orang, tandanya mereka menyayangi Alana dengan sangat tulus.
"Neng, ini apa ni lengket dikepala kamu?" tanya Bunda Gisya.
"Ingus si Abang, tadi dia nangis!" ucap Alana membuat Bunda Gisya buru-buru menarik tangannya dan mengelapnya pada baju Husain.
__ADS_1
"Ihhhhh! Geleuh Abang, jorok! Naha matak naon pake tisu!" kesal Bunda Gisya.
"Eduuunnn, bahasa Sunda Bunda meunii ngedadak lancar kaya jalan tol!" ledek Husain sambil bertepuk tangan.
Ketika semuanya sedang sibuk mengerubungi Alana, sang Baba merasa jika dirinya dalam posisi tak aman. Hingga mengambil ancang-ancang untuk kabur.
"Heeeetttt! Baba mau kemana?" tanya Alan sambil menahan kerah baju sang Ayah.
"Kebelet! Baba pengen pipis," ucap Baba Jafran beralasan.
"Ummiii...! Suamimu yang sangat tampan dan mempesona ini akan segera melarikan diri, maka sebelum dia melakukan itu datanglah kepadanya, Ummi," ucap Alan dengan nada yang dramatis, mambuat semuanya menoleh pada Jafran.
"Hehehehehehe.... Maaf, salah denger!" ucap Baba Jafran lalu secepat kilat berlari.
"Babaaaaaaa........! Si Ebel siah.....!" kesal Ummi Ulil saat melihat sang suami berlari.
Sedangkan mereka sudah tertawa terbahak-bahak membuat security harus meminta mereka untuk keluar, karena sudah mengganggu ketenangan pasien.
"Mohon maaf ibu-ibu, bapak-bapak silahkan menyelesaikan masalahnya diluar!" ucap sang security.
"Maaf atas keributan ini ya, Pak!" ucap Ayah Fahri dan sang security memberi hormat.
"Dasar keluarga Ebel! Jenderal ge ari panik mah ngilu gelooo!" gerutu sang security.
Kejadian tadi, membuat Husain tak mau jauh dari Alana. Dia bahkan seenaknya meminta Alan untuk membawa mobil Alana yang didalamnya penuh darah. Setelah menyelesaikan urusan kecelakaan tadi, kini semuanya berkumpul dirumah Ayah Fahri. Mereka sedang mengintimidasi sang biang kerok.
"Lain kali kalo orang kasih kabar tuh dengerin baik-baik, Babaku sayang. Kan Mail bilang, kalo 'ADA KECELAKAAN'. Itu yang Baba denger apa coba?" tanya Alana.
"Aku kecelakaan," lirih Baba Jafran yang menunduk seperti anak kecil.
"Panikan kamu tuh emang parah, Ba! Sumpah aku sama Febri sampe bayarin tiket orang 2x lipat," kesal Papa Zaydan yang langsung terbang ke Bandung.
"Namanya juga kaget, panik denger anak sendiri celaka," lirih Baba Jafran.
Ummi Ulil sangat gemas dengan tingkah suaminya yang sudah menggemparkan semuanya. Tapi dia merasa sangat beruntung, tandanya Jafran sangat mencintai keluarganya. Ummi Ulil menghampiri Baba Jafran dan memeluknua dari samping.
"Udah, kita semua udah maafin Baba! Jangan sedih," ucap Ummi Ulil.
"Iya udah kita maafin! Tapi ganti uang tiket pesawat!" ketus Mama Febri.
"Minta ganti sama si Alan!" ucap Baba Jafran membuat Alan yang sedang melihat ponselnya melotot seketika.
"Kok Alan?" ucap Alan dengan polosnya.
"Jangan pelit jadi anak! Mau kamu jadi judul sinetron ikan terbang, yang judulnya...."
"Udah Alan transfer ke rekening, Papa. 5 kali lipat!" ucap Alan sambil memperlihatkan bukti transfer mbankingnya.
"Hahahahahahahahaha," semua orang menertawakan Alan yang berwajah masam.
Alana menatap Husain yang sedang tertawa lepas, sungguh Alana sangat bahagia.
"Aku ingin memilikimu, dari setiap bagian yang tak kupunya, hanya itu cara untuk membuatku menjadi lengkap. Dengan memilikmu, aku merasa sangat beruntung karena kamu dapat memahamiku apa adanya. Dan tidak pernah jengkel dengan segala hal buruk yang pernah aku berbuat, terima kasih karena selalu berada di sampingku, Bang Ain," ucap Alana dalam hatinya.
* * * * *
Maaf kalo ceritanya garing! πβ
Othor lagi sakit gigi, alias nyeuri huntu plus darting! π₯΄π₯²
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€