Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Aksi Alan


__ADS_3

Hari-hari yang terasa hampa, kini terasa lebih berwarna bagi Elmira. Semua karena keluarganya, mereka semua selalu menemaninya. Elmira menandai setiap tanggal pada kalender, tak terasa sudah hampir 6 bulan suaminya itu pergi bertugas. Itu tandanya, kurang dari sebulan lagi Mirda akan pulang dari tugasnya.


Sejak semalam, Elmira merasakan mulas pada perutnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan dokter Iyam, ternyata itu kemungkinan adalah kontraksi palsu. Saat ini Elmira sedang ditemani oleh Alana dan juga Husain di asrama.


"Kak, perutnya masih mules?" tanya Alana sambil mengusap perut Elmira.


"Sedikit, katanya kontraksi palsu. Mudah-mudahan Adeknya bisa lahir setelah Bang Mirda pulang," ucap Elmira sambil mengelus perutnya.


"Kirain janji doang Kak yang palsu, ternyata sampe kontraksi pun ada yang palsu ya!" sahut Husain yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.


"Iye kayak janji-janji elu, Palsu!" celetuk Alan yang baru saja tiba bersama Cyra.


Pletak


Husain menjitak kepala Alan, karena sahabatnya itu selalu saja membuatnya kesal.


"Sakit kunyuk! Dasar adik ipar durjanah lu," Alan mengusap jidatnya yang sakit.


"Lagian itu mulut lemes banget, udah kayak tante-tante berjakun lu!" kesal Husain.


"Lah, omongan gua bener kan! Janji lu kaya janji pilkada, udah jadi malah lupa!" celetuk Alan yang membuat Husain semakin kesal.


"Heh Alan markolan yang hobi dolan dolan! Gua kan belom pilkada, lu seenaknya aja ngomong janji palsu," Husain menatap Alan dengan tatapan tajamnya.


"Ngerii, tatapan lu setajam omongan tetangga!" Alan bergidik ngeri.


Sedangkan para wanita sudah tertawa mendengar pembicaraan Alan dan Husain.


"Udah, kalian malah berdebat hal yang gak berfaedah," celetuk Alana.


"Heh Mail! Gua lagi meperjuangkan janji dia buat kawinin elu, malah lu bilang kagak faedah!" kesal Alan pada saudara kembarnya itu.


"Kata siapa? Bang Ain udah tepatin janjinya kok! Minggu depan kita nikah," sahut Alana membuat mereka semua menatap kearah Husain.


"What?! Mau kawin lari lu?" tanya Alan seolah tak percaya, sebab kedua orangtua mereka pun tidak ada yang membicarakan tentang pernikahan Alana dan Husain.


"Enak aja! Kawin lari mah capek, mending kawin duduk aja," celetuk Husain.


"Lu bikin otak gua traveling aja!" kesal Alan menoyor kepala Husain.


"Otak lu aja ngeres, mesti piket tiap pagi tuh! Biar otak lu disapu sams dipel, biar bersih! Lagian mana ada kawin lari, emang bisa ijab kabul sambil lari-lari? Gendeng emang lu!" ucap Husain yang tak habis pikir dengan pemikiran Alan.


Elmira merasa terhibur, dengan ditemani adik-adik tercintanya. Tapi perutnya mulai terasa mulas kembali, dan kali ini rasanya sangat menyakitkan.


"Awwhh! Sakit," lirih Elmira membuat mereka semua panik.


"Kak lu kenapa, Kak?" panik Alan sambil memengang tangan sang Kakak.


"Kak mules lagi perutnya? Kita ke rumah sakit ya?! Aku siapin mobil dulu," ucap Husain lalu pergi menyiapkan mobilnya.


"Awwwhhh!! Sakiitt banget," Elmira merasakan perutnya yang sangat sakit hingga dia tanpa sadar menjambak rambut Alan.

__ADS_1


"Aw! Aw! Aw! Sakit Kak, ampuuuunnn!!!" ucap Alan saat rambutnya dijambak Elmira.


Ingin rasanya Cyra dan Alana tertawa, tapi mereka tak melakukan itu. Alana segera menghubungi Ummi dan Bundanya untuk segera menyusul kerumah sakit.


"Si Alan malah aduh-aduhan! Cepet gendong si Kakak!" pinta Cyra.


"Kepala gua copot ini ditarik mulu!" Alan masih mengaduh kesakitan.


"Tahan aja tahan! Daripada brojol disini!" ucap Cyra, sejenak Alan berpikir dan membiarkan saja Elmira menjambak rambutnya.


"Hei, ponakan onta yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung! Jangan dulu brojol disini ya!" ucap Alan sambil menggendong tubuh Elmira.


Sedangkan di Papua, perasaan Mirda kini mulai tak karuan. Ingin rasanya pesawat yang membawa mereka segera pergi dan mendarat di Bandung.


"Tenanglah, kita orang sudah akan kembali. Bersabar lah sedikit lebih banyak," ucap Bang Jeki menenangkan sang sahabat.


"Perasaanku gak enak, Jeki! Aku takut ada sesuatu yang terjadi," lirih Mirda.


"Beta percaya, Tuhan akan memberikan hal terindah untuk kita yang sudah berjuang mempertahankan kedamaian di bumi pertiwi ini. Berdo'alah pada Tuhanmu, beta yakin semua akan baik-baik saja," Jeki terus saja menenangkan Mirda.


Pesawat yang akan mereka tumpangi sudah mulai lepas landas, sepanjang perjalanan Mirda terus saja berdo'a. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri, kepulangannya dipercepat sebab tugas Mirda disana sudah selesai.


"Tunggu Abang sayang, dedek. Baba segera pulang menemui kalian," batin Mirda ketika melihat foto yang terakhir dikirimkan oleh sang istri.


Meskipun Mirda tidak menjawab pesannya, setiap hari Elmira selalu mengirimkan pesan juga foto dan menceritakan setiap hari yang dilewatinya.


Mereka sudah berada didalam mobil, Husain dan Alana duduk dibangku depan dan Cyra juga Alan menemani Elmira ditengah.


"Sabar! Liat ini macet banget, tuh diperempatan tinggal belok! Kayaknya didepan ada yang tabrakan deh!" ucap Husain membuat Alan kesal.


"Itu orang ngapain ribut-ribut ditengah jalan! Sorry Kak, lepasi dulu ya! Jambak aja dulu jilbab si Cyra!" ucap Alan lalu pergi turun keluar mobil.


Alan melihat pertengkaran sepasang suami istri ditengah jalan, yang membuat jalanan menjadi macet. Suara klakson menggema dimana-mana.


"Woyyy! Kalo mau berantem jangan ditengah jalan!" teriak Alan membuat suami istri itu menoleh dan memberikan tatapan kesal.


"Diem! Gak usah ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentak laki-laki itu.


Bugh! Bugh! Bugh!


Alan memukul laki-laki itu hingga tersungkur kejalanan.


"Lu kalo mau ngonten dirumah aja! Lu pikir gua kagak tau, kalo pengen viral tuh dengan cara yang positif bos! Bukan kaya gini, lu liat orang-orang keganggu gara-gara bacotan lu yang gak faedah! Kalo mau beresin urusan rumah tangga itu dirumah! Bukan ditengah jalan begini bego!" geram Alan lalu menghancurkan setiap kamera yang disembunyikan oleh kedua pasangan suami istri itu.


"Anjir! Ditipu kita woy! Jalanan macet begini gara-gara konten dasar belegug! Tangkep tuh! Udah gua laporin polisi," teriak salah satu pengendara mobil.


"Aa!! Kakak udah gak kuat mau lahiran!!" teriak Alana yang menyusul Alan.


"Gara-gara sampah masyarakat macem lu begini ngeribetin banyak orang!" geram Alan lalu berlari menuju mobil.


Karena jalanan sangat macet, dan mobil mereka cukup jauh Alan terpaksa menggendong Elmira hingga ke Rumah Sakit. Daripada menunggu dimobil, dia tak ingin sesuatu terjadi pada ponakannya. Alana dan Cyra mengikutinya dari belakang, sontak aksi Alan tadi menjadi viral di sosial media. Mereka memuji kagum dengan aksinya yang membongkar kebohongan sepasang suami istri demi konten sosial media saja, hingga merugikan banyak orang yang waktunya terbuang ditengah kemacetan.

__ADS_1


Elmira sudah dilarikan ke UGD, ternyata dia sudah pembukaan 6 hanya tinggal menunggu 4 pembukaan lagi. Alan membiarkan Elmira meluapkan rasa sakitnya, meskipun rambutnya kini sudah rontok karena terus dijambak.


"Bang pulang, Bang! Lu harus gantiin biaya perawatan rambut gua!" celetuk Alan.


"Abang, dedek mau lahir Bang! Kamu dimana?" isak Elmira membuat mereka panik.


"Elu sih ogeb! Pake ngingetin si Abang," bisik Alana sambil mencubit Alan.


"Ya sorry! Gua kan kaga sengaja," lirih Alan yang merasa bersalah.


Sedangkan truk yang membawa Mirda kini baru saja sampai di Batalyon, selesai laporan dia bergegas menuju rumahnya.


"Sonia! Apa sa tak salah lihat? Itu sa punya suami apa bukan?" tanya Betrysda pada Sonia.


"Yaa Allah! Kebetulan banget, pas si El mau lahiran pas Mirda pulang!" ucap Sonia.


"Sayaaanggg!" teriak Jeki sambil merentangkan tangannya.


"Ya Tuhan kami, sayang! Ada apa deng kau? Kenapa kakimu?" tanya Betrysda ketika melihat kaki suaminya itu dibalut oleh kasa.


"Beta baik-baik saja, beta rindu kau," ucap Jeki memeluk Betrysda.


Mirda akan melangkahkan kakinya menuju rumah, tapi tiba-tiba mobil milik sang mertua berhenti tepat disampingnya.


"Mirda! Cepat kita kerumah sakit!" teriak Ayah Fahri dari dalam mobil.


"Apa istriku akan melahirkan, Ayah?" tanya Mirda dan Ayah Fahri mengangguk.


Dengan cepat dia mengambil alih kemudi, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ayah Fahri mengusap dadanya, sama seperti dirinya dulu, Mirda terlihat panik.


"Bang! Pelan! Niat Ayah nyusul kamu biar sampe kesana dengan selamat," ucap Ayah Fahri ketika melihat Mirda mulai membunyikan sirine mobilnya.


"Darurat Ayah! Pegangan!" pinta Mirda dan Ayah Fahri mengangguk.


"Liat aja kamu, Bang! Ayah kutuk kamu jadi Kapten!" kesal Ayah Fahri.


Merekapun sudah sampai dirumah sakit, Mirda bisa melihat jika ibu mertuanya itu tengah menangis. Dan yang lainnya tertunduk lesu, terduduk dilantai.


"Bunda! Apa yang terjadi pada istriku?!" tanya Mirda menghampiri sang Bunda.


"Elmira, dia... dia....." ucapan Bunda Gisya terpotong sebab suster memanggil suami pasien.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2