
Menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama karena dengan menikah engkau akan menyempurnakan setengah perjalanan agama dan kehidupanmu. Membangun rumah tangga ibarat sebuah perahu kecil yang harus didayung bersama-sama. Jika perahu hanya didayung oleh salah seorang di antara suami istri, maka perahu itu tidak akan mampu berlabuh ke pulau kebahagiaan.
Kini Alan dan Theresia sudah memasuki babak baru dalam kehidupan mereka, keduanya sudah sah terikat dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Setelah acara akad nikah tadi selesai, keduanya kini sudah berada di salah satu kamar hotel untuk beristirahat. Sebab nanti malam, mereka akan mengadakan acara resepsi pernikahan.
Suasana di dalam kamar menjadi canggung, sebab jantung keduanya kini berdegup tak karuan. "Mandi duluu sana, A! Udah itu baru kamu boleh tiduran," ucap Theresia yang berusaha memecahkan keheningan.
"Ciee udah panggil aku kamu aja nih istriku! Mandi bareng mau?" goda Alan.
Blush
Pipi Theresia kini memerah mendengar ucapan suaminya, "Ckck! Gak usah ngegodain gitu deh, Aa! Kaya berani aja nyosor duluan!"
Ucapan Theresia seakan menantang Alan, laki-laki itu berjalan mendekati sang istri yang tengah duduk di tepi ranjang. Theresia mulai merasakan gugup, saat tiba-tiba saja wajah suaminya mendekat.
"Baru aku deketin gini aja kamu udah gugup, ay! Apalagi aku terkam kamu sekarang," bisik Alan membuat tubuh Theresia semakin menegang.
Sebenarnya Alan ingin tertawa saat melihat wajah istrinya yang mulai gugup, hal itu sangat menggemaskan di mata Alan. "Aku gak akan terkam kamu sekarang, ay! Kita masa percobaan aja dulu!"
Perlahan tapi pasti, Alan mendekatkan wajahnya pada wajah Theresia. Bibir keduanya saling bertemu, mengecap rasa cinta yang keduanya salurkan. Tiba-tiba saja, Theresia melingkarkan tangannya di leher sang suami. Keduanya menikmati indahnya saling mengecap dan bertukar saliva, hingga.......
Tok.. Tok.. Tok...
"Aa! Buka pintunya, ini Ummi bawain kalian makanan!" teriak Ummi Ulil, tapi keduanya tidak melepaskan pagutan itu. Mereka malah semakin menikmatinya.
Tok.. Tok.. Tok...
"Mauuull! Buka pintunya! Jangan ngadon tengah hari begini lu! Kalo kaga buka pintunya, gua kutuk lu jadi kaya di sinetron ikan terbang!" ancam Baba Jafran.
Mendengar hal itu, mata Alan langsung melotot. Dia melepaskan pagutan itu, "Ck! Orang tua durhaka, gangguin mulu anaknya yang lagi masa percobaan!" kesal Alan lalu segera membuka pintu.
Ceklek
"Apaan sih, Ummi sama Baba gangguin orang istirahat aja!" kesal Alan, hingga sebuah toyoran mendarat dikepalanya.
"Durhaka lu sama Ummi lu! Dia kemari tereak-tereak mau ngasih anak mantu nya makan, lagian siang bolong begini maen ke goa! Entar malem biar afdol!" omelan sang Baba membuat Theresia malu sendiri.
Dia memutuskan untuk keluar dan menyapa sang mertua, "Ummi, Baba.. Masuk aja kedalem, gak enak masa ngobrol di depan pintu," ajak Theresia.
"Tuh! Mantu kesayangan Ummi mah pengertian, gak kaya ini nih! Ummi kutuk si uler gak bisa bangun baru tau rasa!" kesal Ummi Ulil mendorong tubuh Alan yang menghalangi pintu.
Oh my god!
Alan memelototkan matanya, "Ummi kalo do'ain tuh yang kira-kira dong! Masa uler Aa gak bisa bangun? Lalu gimana cara Aa buat Theresia merem melek? Masa senam lima jari!"
"Astaga, beginikah absurdnya suamiku dan keluarga," batin Theresia, pipinya kini sudah semakin memerah.
Ummi Ulil bisa melihat hal itu, "Heh lu ngomongin yang begituan tengah hari begini! Dasar anak kaga sabaran! Rere, kamu di apain aja sama si Alan sayang?" tanya Ummi Ulil.
Kali ini giliran Baba Jafran yang mencebik, "Mi! Mau menantu kita di ubek-ubek di jungkir balik di apa-apain juga udah boleh! Masa iya dilarang, gak enak tau menahan ganjalan itu, Mi!"
"Haaaaaaaa???" Alan dan Theresia melongo.
"Eh, Rere belum di apa-apain kok, Mi! Tadi Aa bilang kita mau masa percobaan dulu!"
Gubrak!
Baba Jafran yang hendak duduk malah terjatuh, "Hahahaha! Rasain lu, Ba! Gitu tuh akibat mengganggu masa percobaan anaknya!" Alan tertawa terbahak-bahak.
"Bahlul ente! Lagian pake masa percobaan segala, lu kata mantu gua ngelamar kerja! Dasar sembrono! Laki-laki sejati tuh langsung tancap gas, bikin tuh istri lu merem melek kalo bisa sampe jambak-jambakin rambut terus teriak-teriak!" kesal Baba Jafran.
Kini pikiran Alan dan Theresia mulai traveling, keduanya sama-sama bergidik ngeri. "Emang ngapain si Rere suruh jambakin Aa? Itu mah namanya KDRT!" celetuk Alan.
"Aduh! Ummi gak sanggup lagi deh dengerin obrolan absurd kalian! Yuk, Ba! Balik ke kamar, biarin si Aa makan Rere!" cetus Ummi Ulil membuat Alan dan Theresia melotot.
"Makan siang maksudnya! Aduh ni mulut udah kaga bisa di kontrol lagi dah!" gumam Ummi Ulil lalu menarik tangan sang suami.
"Sabar dong, Ummi! Gak sabaran banget sih mau Baba bikin jerit-jerit keenakan!" goda Baba Jafran membuat mereka kini semakin salah tingkah.
Setelah orang tua nya pergi, suasana kini menjadi canggung. "Makan dulu, Aa!"
"Iya ay, Aa mandi dulu! Abis itu makan kamu, eleh eh maksudnya makan siang!" gugup Alan, dia lalu berlari ke kamar mandi dan menepuk-nepuk bibirnya.
Sedangkan Theresia, jantungnya mulai berderbar tak karuan. Otaknya masih berkelana membayangkan malam panjang yang akan mereka lewati. Namun, pikirannya itu ditepikan saat melihat Alan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi si uler melingker diatas pager nya itu.
Dengan cepat Theresia masuk kedalam kamar mandi, dia sudah tak kuasa melihat pemandangan indah didepan matanya. Tubuh Alan memang memiliki enam kotak, sebab Alan rutin berolah raga.
Selesai mandi, keduanya menghabiskan makan siang bersama. "Udah ini kita bobok siang, ya! Biar malem nanti kamu gak kecapean," ucap Alan.
"Uhukk.. Uhukkk...." Theresia tersedak makanannya sendiri.
__ADS_1
"Nih minum, makanya jangan travelling ay pikirannya. Kita kan masa percobaan dulu, bobok siang sambil peyuk-peyuk tium-tium kalo kata Sweta," goda Alan menaik turunkan alisnya.
Bibir Theresia mengerucut, "Siapa juga yang travelling!" kesalnya.
Cup π
Dengan rakus Alan mencium bibir sang istri, "Huh.. Huh.. Huh.. Bibir kamu manis banget, ay!" bisik Alan dengan napas yang ngos-ngosan.
Abis lari? Kok ngos-ngosan π€£β
Acara resepsi sudah tiba, acara dimulai sejak pukul setengah tujuh malam. Alan dan Theresia sudah sama-sama memakai baju resepsi. Keduanya sangat serasi dengan gaun berwarna gold dan tuxedo dengan warna yang senada. Mereka berjalan beriringan dengan saling menggenggam.
Tepat dibelakang mereka, Cyra dan juga Thoriq berjalan sambil bergandengan. Keduanya memakai gaun dan tuxedo berwarna silver. Pancaran kebahagiaan sangat tampak di mata dua pasangan pengantin ini. Papa Zaydan dan Mama Febri pada akhirnya yang mendampingi mereka diatas pelaminan.
Sekitar 2000 tamu yang hadir, dimulai dari teman-teman dan sahabat-sahabat para pengantin. Hingga rekan-rekan dan relasi bisnis mereka.
Seperti biasa, Indira, Mirda dan yang lainnya akan bergantian untuk menyanyi. Suara mereka memang patut diacungi jempol, mengalahkan artis ibu kota yang sudah tenar.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, mereka sudah berganti baju dengan gaun yang kedua. Kebetulan Thoriq sedang menyapa para tamu dan Theresia belum selesai berganti baju. Hingga Alan dan Cyra yang kini berdiri di atas pelaminan.
Mirda naik keatas panggung, dia membawakan lagu 'Cinta Sejati' yang menggambarkan perasaan dua orang yang tengah berdiri di pelaminan.
"Selamat malam semuanya, selamat menempuh hidup baru buat adik-adik Abang! Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Berbahagialah kalian, cinta sejati selalu tersimpan didalam hati."
Manakala hati..
Menggeliat mengusik renungan..
Mengulang kenangan..
Saat cinta menemui cinta..
Suara semalam..
Dan siang seakan berlagu..
Dapat aku dengar..
Rindumu memanggil namaku..
Saat aku tak lagi di sisimu..
Kutunggu kau di keabadian..
Selalu ada di hatimu..
Kau tak pernah jauh..
Selalu ada di dalam hatiku..
Sukmaku berteriak..
Menegaskan kucinta padamu..
Terima kasih pada Mahacinta..
Menyatukan kita..
Saat aku tak lagi di sisimu..
Kutunggu kau di keabadian..
Cinta kita melukiskan sejarah..
Menggelarkan cerita penuh sukacita..
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu..
Cinta kita sejati..
Saat aku tak lagi di sisimu..
Kutunggu kau di keabadian..
Cinta kita melukiskan sejarah..
Menggelarkan cerita penuh sukacita..
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu..
Cinta kita sejati..
__ADS_1
Lembah yang berwarna..
Membentuk melekuk memeluk kita..
Dua jiwa yang melebur jadi satu..
Dalam kesucian cinta..
Cinta kita melukiskan sejarah..
Menggelarkan cerita penuh sukacita..
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu..
Cinta kita sejatii..
Air mata lolos begitu saja, Cyra menangis dalam kebahagiaan. Melihat Thoriq datang, dia merentangkan tangannya. "I love you, Mas!"
"I love you more, sayang!" keduanya saling berpelukan.
Begitu pun dengan Alan, ketika melihat sang istri yang sudah selesai, dia segera mengulurkan tangan dan menyambut Theresia yang kini sudah menjadi ratu dalam kehidupan rumah tangganya. "Aku mencintaimu, ay!"
Theresia mengecup pipi sang suami tanpa ragu, "Aku juga cinta sama kamu, imamku!"
Pukul 10 malam, tamu sudah mulai sepi. Mereka semua kini berkumpul dan menikmati makan malam yang kemalaman itu.
"Kamu mau langsung gas keun, Maul?" tanya Husain.
Alan mengerutkan dahinya, "Gas keun? Kemana?"
Husain menoyor kepala Alan karena kesal, "Mendaki gunung lewati lembah! Masa kaya gitu aja kaga paham, kaga usah pura-pura polos lu!"
"Jiaaaahh..! Kepo amat lu, si amat juga anteng aja kaga kepo!" celetuk Alan menatap sang kembaran.
"Kaga usah rese, lu! Gue emang di unboxing setelah sebulan kawin! Kan gara-gara elu yang bikin gempar!" kesal Alana.
"Hahahaahahaha!"
Mereka semua menertawakan ucapan Alana, "Gue mah santuy, lagi masa percobaan dulu! Iya nggak ay?" tanya Alan sambil menaik turunkan alisnya.
"Ckckck! Apaan tuh masa percobaan? Mending langsung gas poll! Udah ngerasain sorga dunia, beuuhh! Nagih lu!" celetuk Thoriq membuat mereka kembali tertawa.
"Pasti dong, setelah percobaan langsung gas keun! Gak kaya yang onoh nooohhh," ledek Alan pada Husain.
Husain mencebik kesal, "Gue sumpahin lu kebanjiran pabrik fanta!"
Para perempuan sudah enggan mendengarkan pembicaraan para laki-laki, mereka lebih memilih pindah ke meja yang lain.
Terlihat Theresia yang mulai resah gelisah, "Teh, emang kalo pertama 'itu' tuh sakit, ya?"
"Pppfffttt..." Mereka semua mengatupkan bibirnya menahan tawa. "Sakit banget! Sampe susah jalan, makanya kalo sakit kamu jambak aja atau gigit. Mumpung di hotel, kamu juga bisa teriak-teriak sepuasnya, Re!" ucap Alana membuat Theresia bergidik ngeri.
Karena sudah malam, para wanita memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Theresia mondar-mandir di dalam kamar mandi, dia dikerjai oleh keluarganya. Koper yang dia bawa hanya berisikan lingerie-lingerie seksi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ay! Kamu di dalem? Lama banget, lagi ngapain sih?!" Alan mengetuk pintu karena khawatir.
"Iya sebentar Aa!" jawab Theresia.
Alan terpaku ketika melihat sang istri yang hanya memakai kelambu nasi dengan kacamata dan segitiga bermuda yang tercetak jelas. "Mau ganti baju dulu, A?"
Alan menggelengkan kepalanya, hasrat nya sudah berada di ubun-ubun. Ularnya pun tak dapat di kompromi lagi, "Mau makan kamu aja," bisiknya.
Keduanya saling berpagutan, perlahan tapi pasti Alan merebahkan sang istri diatas ranjang. Kelambu yang tipis itu pun sudah dirobeknya, Alan mulai berjalan-jalan menaiki gunung. Cukup lama dia mendaki, hingga akhirnya ular itu siap memasuki lembah. (Selamat traveling π€£π€π)
Namun, gerakannya terhenti.....
"Kenapa A?" gumam Theresia yang sudah berada di puncak awan.
"Belom diterobos kok udah keluar darah?" tanya Alan dengan polos.
Theresia memelototkan matanya, "Yaa ampun! Maaf Aa, tanggal terlarang!"
Gubraaaagghhhhh.......!!!
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€