
Sudah seminggu ini Fahri bertugas di Garut, membantu mengevakuasi warga yang terkena musibah bencana Longsor. Gisya dan Andina serta ibu-ibu Persit yang lain bergantian menemani Fatimah, karena memang Fatimah dan Gilang sudah tidak memiliki orangtua. Sedangkan kerabat mereka lebih banyak yang tinggal di Ambon.
"Bu Fahri, pulang saja istirahat. Harus diperhatikan juga kehamilannya." ucap Bu Danyon.
"Mohon ijin Bu, jika sudah ada yang menjaga Bu Danki saya mohon pamit undur diri. Saya akan kembali lagi nanti sore." tutur Gisya.
"Tidak usah Bu Fahri, malam nanti saya tugaskan Letda Indra dan istrinya untuk menemani Bu Danki. Kebetulan dia kan seorang perawat, jadi bisa lebih mengawasi. Bu Fahri istirahat saja dirumah, kehamilan Bu Fahri masih sangat rentan." ucap Bu Danyon.
"Ijin Bu, Terimakasih banyak." tutur Gisya.
Gisya pulang berjalan kaki bersama Rian, karena Andina masih memasak dirumah Danki. Rian sangat dekat dengan Gisya, karena memang sikap Gisya yang lembut dan perhatian. Sehingga bocah berusia 3 tahun itu nyaman bersama Gisya. Diperjalanan, dia dihadang oleh Bella. Gisya yang tidak ingin berdebat dengan Bella, memilih untuk pergi. Namun, lagi-lagi Bella menarik tangannya kasar. Dan membuat Rian ketakutan.
Gisya menggendong Rian karena bocah itu sudah menangis.
"Bu Kemal ada masalah apa sih sama saya?" tanya Gisya yang sudah geram.
"Kamu itu orang munafik! Kamu terlalu banyak cari muka dilingkungan ini!" tutur Bella.
"Apakah seperti ini sikap anda sebagai istri seorang prajurit?" sinis Gisya.
"Jangan mengajari saya! Saya senior disini." Teriak Bella.
"Lalu apa mau Mbak Bella?" teriak Gisya.
Semua orang yang ada disekitar sana keluar Rumah, salah satu istri anggota sudah melaporkannya kepada Bu Danyon dan Bu Danki. Andina yang khawatir segera menghampiri Gisya, disusul oleh Bu Danyon.
"Ada apa ini Bu Kemal?" tanya Andina.
"Cih! Kalian berdua memang sama saja! Pintar cari muka!" geram Bella.
"Maksudnya apa? Kami emang gak tau apa kesalahan kami, sampai Bu Bella seperti ini terhadap saya dan Bu Fahri." ucap Andina kesal.
"Mumpung semuanya berkumpul disini, saya akan beritahukan kelakuan bejad suami kalian!" teriak Bella.
Mereka saling berbisik, sungguh mereka menyayangkan sikap Bella yang arogan. Sama sekali tidak mencerminkan istri seorang prajurit. Ibu Danyon memilih untuk melihat kelakuan Bella lebih jauh lagi, setelah itu beliau akan memutuskan untuk menindaklanjuti sikap bawahannya itu.
"Dengar kan ini!!" ucap Bella sambil memutar rekaman suara Dzikri dan Fahri.
* * *
"Gimana soal Quera? Kamu tetep bakalan bawa dia kesini?" tanya Dzikri.
__ADS_1
"Aku bakal bicarain dulu sama istriku, Bang. Bagaimanapun dia sedang mengandung anakku saat ini. Aku gak mau membebankan istriku." Jawab Fahri.
* * *
Gisya tersentak, pikirannya dengan mereka yang ada disana sama. Mereka berpikir jika Quera adalah seorang wanita yang saat ini sedang mengandung anak Fahri. Mereka berspekulasi jika ketika di Kongo, Fahri menghamili perempuan yang bernama Quera itu. Bella tersenyum puas ketika melihat raut wajah Gisya yang sudah memucat.
"Bagaimana? Kalian sudah tau kan kelakuan bejat mereka?!" sinis Bella.
"Apa itu bisa menjadi bukti jika kedua suami mereka melakukan hal bejat?" ucap Ibu Danyon yang tiba-tiba. Bella terpaku, terlihat dia mulai ketakutan.
"Mohon ijin Bu, semuanya bisa Ibu selidiki." ucap Bella yakin.
Andina yang sudah geram, melangkah kearah Bella. Saat akan menamparnya, tangan Andina ditahan oleh Gisya.
"Jangan kotori tangan Bu Dzikri dengan menampar orang seperti Bu Kemal." ucap Gisya.
"Memang seperti apa saya ini?!" geram Bella.
"Ibu bisa lihat sendiri kan? Lihat diri Bu Kemal, begitu menyedihkan. Ibu mengucapkan Aib suami saya didepan mereka semua. Tapi apakah ibu sadar, jika ibu juga membuka Aib ibu sendiri. Kelakuan Ibu yang seperti ini sudah menjadi Aib bagi suami dan keluarga Ibu. Dan satu hal lagi, itu urusan suami saya jika dia memiliki wanita lain diluar sana. Yang terpenting saya disini menjunjung tinggi kehormatan suami, menjaga nama baik suami dan yang paling penting saya tetap menanti suami saya hingga kembali dengan selamat!" ucap Gisya menggebu-gebu lalu pergi dari sana.
Ibu Komandan Batalyon semakin kagum dengan sikap Gisya yang pemberani dan mampu membela suami. Dia membubarkan semua ibu-ibu yang berada disana.
"Ijin Bu, saya mohon pamit menemani Bu Fahri." ucap Andina.
"Silahkan, kasus ini akan saya laporkan pada Komandan Batalyon untuk ditindak lebih lanjut lagi. Jika terbukti benar, maka akan diberikan Sanksi. Tapi jika semua itu hanya Fitnah, maka Bu Kemal akan kami tindaklanjuti." ucap Bu Danyon.
"Ijin Bu, saya merasa bukti itu sudah cukup! Saya pamit." tutur Bella.
Gisya yang baru saja sampai dirumah, mendudukkan dirinya di sofa. Airmatanya sudah tidak bisa lagi dia tahan. Hatinya begitu teriris ketika Fahri mengkhawatirkan perempuan lain. Terlebih lagi hormon kehamilannya semakin mempengaruhi moodnya.
"Yaa Allah Abang, kenapa Abang mengkhianati cinta ini? Bukankah Abang pernah mengalami bagaimana rasanya dikhianati." Lirih Gisya.
"Percayalah pada suamimu, dia tidak akan pernah mengkhianatimu. Suamiku dan aku berani bersaksi untuk Fahri." ucap Andina yang baru saja tiba.
"Ingin rasanya Caca percaya, Mbak. Tapi hati ini begitu pedih."
"Mbak bisa saja menjelaskan sesuatu, tapi itu bukan hak Mbak. Tunggulah kepulangan suamimu, dia akan menjelaskan semuanya padamu." ucap Andina.
Seminggu kemudian, Fahri beserta rombongannya sudah selesai bertugas. Mereka baru saja sampai di Batalyon. Semua istri menyambut kepulangan mereka, tapi Fahri tidak menemukan Gisya disana. Fahri bergegas menuju rumahnya, dia sangat merindukan pelukan istrinya itu. Selama seminggu ini, Gisya murung. Dia tidak pernah menceritakan apapun pada keluarganya. Saat ini Gisya sedang membuat kue untuk acara Syukuran putra pertama Komandan Kompi. Dia dibantu oleh beberapa anggotanya, Gisya mencoba menyibukkan diri agar dia tidak mengingat semua itu.
Melihat Fahri datang, ibu-ibu itu berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Gisya sama sekali tidak bergeming ketika Fahri memeluknya.
__ADS_1
"Apa istri Abang ini tidak merindukan Abang?" ucap Fahri memeluk Gisya dari belakang.
"Abang pasti capek, istirahat dulu. Biar Caca siapkan makan siang buat Abang." ucap Gisya sambil melepaskan pelukan Fahri.
"Adek kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Fahri karena heran melihat sikap istrinya yang begitu dingin terhadapnya.
Sebelum Gisya menjawab, Letda Indra sudah mengetuk pintu.
"Siap! Danton diminta menghadap Danki!" lapor Indra.
"Ada apa Ndra? Tumben Danki panggil saya setelah tugas!" heran Fahri.
"Siap! Ada masalah besar antara Ibu dan Bu Kemal. Sebaiknya Danton segera menghadap, jangan lupa bawa Ibu. Saya akan memanggil Danton I terlebih dahulu." ucap Indra.
"Baik, makasih Indra." ucap Fahri.
Fahri masuk kedalam rumah, dilihatnya Gisya sudah siap untuk pergi. Tatapan istrinya itu begitu kosong. Tidak lama kemudian datanglah anggota Persit yang tadi membantu Gisya membuat kue.
"Maaf saya tinggal ya, Ibu-ibu. Adonannya tinggal dimasukkan kedalam loyang. Setelah itu masukin oven tunggu 45 menit. Mudah-mudahan saya tidak lama disana." ucap Gisya.
"Ijin Bu, baik kami akan melaksanakan sesuai arahan ibu. Yang kuat ya, Bu. Kami yakin semuanya itu tidak benar." ucap Bu Dadang salah satu anggota tertua.
"Do'akan saja yang terbaik ya, Bu." ucap Gisya.
Fahri semakin heran, bahkan ketika di motor istrinya itu tidak mau menyentuhnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi ketika Abang tidak ada disisimu? Kenapa kamu sama sekali tidak mau Abang sentuh?" tanya Fahri.
"Abang bisa mendengar semuanya nanti disana." ucap Gisya.
"Pasti ada sesuatu yang tidak beres, apa ini masalah dengan Bella." batin Fahri.
* * * * *
Maaf yaaa kalo ceritanya bikin bosen ✌
Harap dimaklumi karena ini Karya Pertama Author.
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤
__ADS_1