
Usia kehamilan Gisya kini memasuki bulan ke 6, dia masih memiliki masalah dengan pola makan. Gisya tidak mau sarapan pagi jika bukan dengan lontong sayur favorite mereka. Seperti pagi ini, Gisya sedang menikmati sarapan paginya bersama Fatimah dan Andina. Sementara sang suami sedang lari pagi bersama Danki dan Dzikri. Gisya bisa melihat, jika beberapa perempuan mulai menggoda suami mereka.
"Wah parah tuh ayam-ayam kampus, masa Bang Dzikri di coel-coel! Emang sambel apa maen coel-coel!" geram Andina.
"Rujak bukan sambel!" goda Fatimah.
Dzikri mulai melirik kearah tempat makan sang istri, dia tau jika istrinya itu pasti akan marah. Ditambah ada jagoan kecil mereka yang akan membela ibunya. Dzikri segera menghidari gerombolan gadis-gadis itu dan diikuti oleh Fahri dan Gilang.
"Hmm yang abis digodain gadis-gadis!" ledek Fatimah.
"Iya Mbak seneng banget kayaknya!" Ucap Andina yang kesal.
"Ihh gak ada ya Abang seneng, Dzikri tuh yang seneng!" goda Gilang.
"Idih! Jangan suka ngomporin deehh!" Kesal Dzikri.
Fahri terheran melihat istrinya yang hanya anteng menikmati makanannya.
"Bunda gak cemburu kaya mereka?" Bisik Fahri.
"Gak, ngapain cemburu. Capek tau, makan hati! Mending makan lontong, kenyang!" Jawab Gisya memperlihatkan deretan giginya.
"Istri Abang memang luar biasa!" ucap Fahri mengecup kening Gisya.
"Wah gak setia kawan kamu, Ri." Kesal Dzikri melihat Fahri.
"Gak ikutan ya Bang!" Ucap Fahri sambil tertawa.
Tiba-tiba ada seorang perempuan yang memanggil nama Fahri dan memeluknya.
"Mas Fahri!" Teriak salah seorang gadis sambil memeluk Fahri.
Fahri tersentak kaget, apalagi ada istrinya disampingnya. Dia segera melepaskan pelukannya. Fahri menatap geram kepada gadis yang berada didepannya. Sementara Gisya yang kaget sampai menjatuhkan sendok makannya.
"Jangan kurang ajar ya! Main peluk-peluk aja!" Geram Fahri.
"Maaf, Mas. Aku terlalu bahagia bisa ketemu lagi sama kamu." Lirih gadis itu.
"Calon bibit-bibit pelakor tuh gini!" bisik Fatimah pada Andina.
"Zahra?" ucap Gisya membuat gadis itu menoleh.
"Teh Caca?" kaget Zahra melihat Gisya disamping Fahri.
"Kamu ngapain peluk-peluk suami saya?" kesal Gisya.
"Apa? Mas Fahri suami Teh Caca?" ucap Zahra seolah tidak tau.
"Cih! Gak usah sok gatau kamu! Kakak kamu aja tau!" geram Gisya.
__ADS_1
"Aku emang gak tau Teh Caca! Dan harus Teh Caca tau, Mas Fahri udah janji mau jadi pacar aku! Dia udah bikin aku celaka waktu di Garut! Bahkan kita udah sempet tidur bareng kok!" ucap Zahra santai.
Plaakkkkk!! Plaaaakkkkk!!
Dua tamparan melayang pada pipi Zahra, amarah Gisya sudah berada di ubun-ubun. Dia menatap suaminya yang mencoba meraih tangannya.
"Selesaikan urusan Abang dengan makhluk ini! Jangan pernah menemuiku sebelum urusanmu selesai!" ucap Gisya sambil beranjak pergi.
"Kamu mau kemana sayang? Dengerin penjelasan Abang dulu!" cegah Fahri yang memegangi tangan Gisya.
"Lepass! Selesaikan urusan kamu dengan dia, atau kamu ingin urusan kita yang selesai!" ucap Gisya sambil terus berjalan.
"Bang Gilang, bisa tolong anterin Caca kerumah Bunda." Lirih Gisya.
"Abang yang anter!" kekeh Fahri terus medekati istrinya.
Gisya malah berjalan semakin cepat, dia bahkan tidak memperdulikan perutnya yang mulai sakit karena keram. Namun langkahnya terhenti karena perutnya sangat sakit. Fahri yang khawatir segera menghampiri istrinya.
"Kamu boleh marah sama Abang! Tapi pikirkan anak kita!" ucap Fahri sambil terus mencoba memegang tangan Gisya.
"Ri, gendong saja bawa ke klinik Batalyon! Biar perempuan ini jadi urusan kita!" geram Fatimah sambil mencengkram erat tangan wanita itu.
Fahri dengan sigap menggendong istrinya dan membawanya menuju klinik yang tidak jauh darisana. Sementara Fatimah menghubungi Syauqi, untuk melaporkan tindakan perempuan yang bernama Zahra ini. Syauqi langsung datang kesana, dia melihat orang yang tak asing dimatanya. Zahra adalah adik dari Zayn, itu yang membuat Syauqi semakin geram dengan tingkahnya.
"A Syauqi?!" kaget Zahra ketika melihat Syauqi disana.
"Aku hanya mau minta pertanggung jawaban sama Mas Fahri, aku mau menagih janjinya. Dia akan menjadikan aku kekasihnya, jika aku sudah sembuh. Dan sekarang waktunya aku buat nagih janjinya dia." ucap Zahra.
"Baik! Kita tunggu penjelasan dari yang bersangkutan. Tapi jika terjadi sesuatu hal sama Teh Caca dan bayinya, selamat bertemu dimeja hijau!" ucap Syauqi.
Zahra terkesiap dengan ucapan Syauqi, dia terus berusaha tenang untuk menutupi kegugupannya. Syauqi membawa Zahra ke klinik untuk mendapatkan penjelasan dari Fahri. Dia yakin kakak iparnya itu tidak akan mengkhianati istrinya.
Dokter menjelaskan jika Gisya mengalami shock hingga perutnya terasa keram. Saat ini Gisya sedang mendapatkan perawatan dari Dokter. Fahri terus berada disamping Gisya, dia terus menciumi tangan istrinya itu.
"Maafin Abang, sayang. Maafin Abang." Lirih Fahri.
Zahra, Syauqi, Gilang beserta Dzikri sudah berada di klinik. Sedangkan Andina dan Fatimah memutuskan untuk pulang, karena anak-anak mereka yang rewel. Syauqi mendekati Gisya dan Fahri, dia menatap tajam kearah kakak iparnya itu.
"Apa ada yang bisa Abang jelasin ke Uqi?" tanya Syauqi.
"Maafin Abang, Uqi. Abang terpaksa menjanjikan hal seperti itu, karena dulu dia dalam kondisi kritis. Abang bersalah sudah membuat dia celaka." Lirih Fahri.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Abang!! Mas!!" teriak Gisya dan Zahra berbarengan.
Syauqi memukul wajah Fahri, hingga dia tersungkur. Mereka langsung memisahkan Syauqi dan Fahri. Zahra menghampiri Fahri untuk membantunya, tapi Fahri mendorongnya.
"Ini gara-gara kamu! Sudah saya bilang, saya punya istri! Kamu tidak tau malu!"
__ADS_1
"Aku gak peduli! Yang penting aku bisa sama kamu Mas!" tegas Zahra.
Hati Gisya begitu meringis mendengar ucapan Zahra. Dia menangis tersedu-sedu, membuat Fahri sangat merasa bersalah.
"Maafin Abang sayang! Demi Allah, Abang gak pernah ngelakuin apa-apa sama dia! Abang hanya menemani dia tidur ketika dia terbaring dirumah sakit. Itupun hanya karena rasa bersalah dan rasa kemanusiaan. Abang gak mungkin khianatin kamu!" ucap Fahri.
"Buktiin sama Caca, Bang. Caca butuh bukti!" isak Gisya.
"Abang akan buktiin sama kamu sayang, jangan nangis! Hati Abang sakit ngeliat kamu nangis kaya gini." ucap Fahri memeluk istrinya itu.
Syauqi mulai melunak ketika dia mendengar ucapan Fahri. Syauqi segera menghubungi Bundanya, dia meminta Bundanya datang untuk bisa menenangkan hati Gisya. Sedangkan Zahra, dia tersenyum puas atas tindakannya. Syauqi bisa melihat itu, dia yakin ada yang tidak beres dengan perempuan ini.
Gilang dan Dzikri terus menghubungi pihak dokumentasi tugas mereka ketika di Garut. Mereka yakin jika Fahri tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Bunda Syifa datang tergesa-gesa ditemani oleh Syaina, dia melihat wajah Fahri yang lebam.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Bunda Syifa. Belum sempat ada yang menjawab, Zahra terlebih dahulu menyapa Bunda Syifa.
"Bunda apa kabar?" tanya Zahra sambil mencium tangan Bunda.
"Zahra? Kenapa kamu bisa ada disini?" heran Bunda.
"Zahra pacar Mas Fahri, Bun. Zahra kesini mau meminta pertanggung jawaban dan janji Mas Fahri pada Zahra." ucap Zahra santai.
"Apaa?!!" Bunda Syifa shock dengan ucapan Zahra.
Plaakkkk!!
Satu tamparan mendarat dipipi Fahri, Bunda Syifa segera memeluk putrinya yang sedang menangis tersedu-sedu. Bunda tidak menyangka jika Fahri bisa melakukan hal seperti itu pada putri kesayangannya.
"Caca akan pulang kerumah Bunda!" ucap Bunda Syifa membuat Fahri tersentak.
"Bun, maafin Abang! Demi Allah, Abang gak pernah sama sekali menyentuh perempuan lain selain istri Abang! Jangan pisahin Abang sama Caca, Bun. Abang mohon!" isak Fahri.
"Buktikan sama Bunda kalo semua itu gak bener! Setelah itu kamu bisa bawa pulang istri kamu kembali!" tegas Bunda Syifa.
Fahri menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ketika melihat istrinya digendong oleh Syauqi menuju mobil. Ingin rasanya Fahri mengejar istrinya, tapi dia tau jika dia bersalah. Zahra tertawa puas melihat Gisya dan Fahri seperti itu.
"Tenang Mas, masih ada aku disini." ucap Zahra.
"Pergi kamu dari sini! Saya benar-benar jijik melihat kamu!" geram Fahri.
* * * * *
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤
__ADS_1