
Suasana hangat terasa dirumah Gisya, apalagi dengan kehadiran Quera diantara mereka. Pagi ini, Gisya sedang sibuk melakukan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Setelah sholat subuh, dia bergegas untuk memasak sambil menggiling cucian dalam mesin cuci. Selesai masak, dia menjemur pakaian lalu membangunkan suami dan anaknya yang kembali tidur setelah sholat subuh.
"Yah, bangun! Udah jam tujuh, nanti telat apel pagi." ucap Gisya.
"Mm.. Iyaa Bunda." jawab Fahri lalu mencium kening dan bibir istrinya.
Setelah membangunkan suaminya, Gisya membangunkan Quera dan memandikannya. Kemudian dia memandikan Husain dan segera menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Macakan Mbun enak banet." ucap Quera dengan mulut penuh makanan.
"Jangan bicara sambil makan ya, Kak. Nanti keselek sayang." tutur Gisya.
"Bunda juga sambil makan, Ayah udah selesai makannya. Biar jagoan Ayah yang gendong, Bunda sama kakak makan yang banyak ya." ucap Fahri lalu membawa putranya ke halaman rumah untuk berjemur.
Sarapan sudah selesai, Gisya sudah membereskan semua piring bekas sarapannya. Dia lalu bergegas menghampiri suaminya.
"Hati-hati dijalan ya, Ayah." ucap Gisya sambil mencium tangan suaminya.
"Kakak salim dulu, Ayah mau berangkat kerja Nak." pinta Gisya.
Quera pun menghampiri Ayahnya dan memeluknya dengan erat.
"Ati-ati di jalan ya Ayah. Mpet puyang." ucap gadis kecil itu.
"Iya sayang, nanti pulangnya Ayah beliin mainan buat kakak ya." ucap Fahri sambil mengacak rambut putrinya itu.
"Yeey! Macih Ayah!" antusias Quera.
Sepeninggal Fahri, dia menemani kedua anaknya yang sedang bermain. Quera terus mengajak bayi mungil itu berbicara. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ternyata telpon dari adik kesayangannya.
In Call
đź§’ "Assalamu'alaikum, Teh siap-siap sekarang! 5 menit lagi Uqi sampe. Jangan tanya dulu mau kemana, pokoknya ini penting!"
End Call
Gisya merasa heran, karena adiknya itu langsung mematikan telepon sebelum dia menjawabnya. Tapi Gisya segera mengikuti perintah adiknya, tak lupa dia mengirim pesan pada suaminya. Gisya sudah memakai gamis yang berwarna senada dengan baju kedua anaknya. Karena Gisya pikir, mereka akan pergi ke suatu Acara.
Syauqi yang sudah sampai segera menggendong Quera dan mendudukkannya di pangkuan Syaina. Sedangkan Gisya duduk dibelakang bersama Husain. Sepanjang perjalanan, Gisya tidak berani bertanya. Karena melihat raut wajah adiknya yang sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu. Perasaan Gisya semakin tidak karuan ketika mereka masuk kedalam parkiran Rumah Sakit Santosa.
__ADS_1
Syaina membawa Husain dari gendongan Gisya dan membawa kedua anak itu ke Cafetaria. Sementara Syauqi membawa Syaina ke satu ruangan.
"Uqi siapa yang sakit jantung? Kenapa kita masuk kedalam ruang perawatan ini? Jelasin dulu sama Teteh! Jadi Teteh gak bingung." ucap Gisya.
"Teteh akan tau nanti!" ucap Syauqi.
Setelah membuka pintu ruangan, tubuh Gisya lemah tak berdaya. Dilihatnya sang Bunda yang terbaring lemah dengan segala macam alat yang menempel pada tubuhnya.
"Yaa Allah Bunda! Bunda kenapa? Uqi kenapa bisa gini?" ucap Gisya terisak.
"Sebenernya Bunda sakit jantung, Teh. Udah lama malahan, Uqi tau pas Teteh lahiran. Bunda gak mau kita tau, sekarang kondisi Bunda udah lemah. Bunda harus melakukan operasi pemasangan ring pada jantungnya." lirih Syauqi.
"Yaa Allah, kenapa gak langsung operasi aja Uqi!" panik Gisya.
"Bunda yang gak mau, Teh! Bunda bilang, dia mau ketemu sama Ayah." ucap Syauqi hingga tangisnya pecah.Â
Gisya dan Syauqi saling berpelukan untuk saling menguatkan. Tak lama kemudian datanglah Uwak Yusuf bersama Uwak Ais. Mereka sangat terkejut melihat kondisi adik iparnya itu. Syauqi pun menjelaskan penolakan Bundanya itu.
"Jangan ikuti kemauannya, kita bicara pada dokter agar bisa segera dilakukan operasinya." ucap Uwak Yusuf pada Syauqi.
"Bener itu Uqi, sekarang kalian urus administrasinya. Biar Uwak Ais sama Caca jagain disini." ucap Uwak Ais sambil memeluk Gisya.
Bunda Syifa mulai tersadar, dia mengerjap melihat sekelilingnya. Kemudian dia mendengar suara tangisan putri kesayangannya.
"Kenapa Bunda gak bilang sama Caca kalo Bunda sakit? Kenapa Bun?" lirih Gisya.
"Bunda gak apa-apa, Nak. Jangan nangis, nanti cantiknya ilang." tutur Bunda Syifa.
"Caca gak mau tau, Bunda harus dioperasi! Bahkan Bunda harus hidup hingga seribu tahun lagi! Bunda harus jadi saksi, kalo Caca bisa menjadi seorang Ibu yang seperti Bunda. Caca gak mau kehilangan Bunda." ucap Gisya yang menangis dipelukan Bundanya.
Syauqi sudah menyelesaikan administrasinya, dokter mengatakan jika kondisinya cukup baik untuk melakukan operasi besok harinya. Gisya menelepon suaminya, dia mengatakan semua kondisi Bundanya. Selesai dengan tugasnya, Fahri segera menyusul ke rumah sakit. Gisya menangis tersedu-sedu dipelukan suaminya itu.
"Gimana kalo terjadi sesuatu sama Bunda, Bang." lirih Gisya.
"Istighfar sayang, InshaAllah semuanya akan baik-baik aja. Yang terpenting kita harus selalu mendo'akan kesembuhan Bunda." ucap Fahri mengelus punggung istrinya.
Uwak Ais dan Uwak Yusuf menjaga Bunda Syifa malam ini. Sedangkan Syauqi harus pergi bertugas. Gisya dan Fahri juga pulang, karena anak-anak mereka yang sudah lelah. Setelah menidurkan anak-anaknya, Gisya mengambil wudhu dan melakukan sholat malam. Dia mendo'akan kesembuhan bagi Bundanya.
"Yaa Allah, sehatkanlah Bunda. Berikanlah kami kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi setiap ujian darimu. Jaga dan sehatkanlah kembali Bunda kami. Hanya Bunda, orangtua yang kami miliki. Panjangkanlah usianya Yaa Allah." do'a Gisya.
__ADS_1
Pagi harinya, Gisya dan Fahri sudah berada dirumah sakit. Sedangkan anak-anak, mereka titipkan pada Syaina dan Farida. Ternyata disana sudah ada Ibu Mertuanya, Umma Nadia, dan Mama Lia. Sedangkan Mama Rini tidak bisa hadir karena jarak yang jauh.
"Kamu yang kuat dan tegar, Bundamu akan baik-baik saja." ucap Mama Risma.
"Makasih ya Mama. Do'akan Bunda ya, Ma. Bunda pasti akan sehat kembali seperti dulu, benar kan Umma?" tanya Gisya pada Nadia.
"InshaAllah, Nak. Bundamu adalah wanita yang kuat, dia akan sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala." ucap Umma Nadia.
"Syifa adalah kekuatan bagi kita semua Nak. Kita serahkan semuanya sama Allah, berdo'a minta diberikan kesembuhan." imbuh Mama Lia.
Mereka saling mendo'akan, persahabatan mereka yang sudah puluhan tahun itu menjadikan sebuah kekuatan. Tak lama kemudian datanglah Yuliana dan Febri.
"Ca, kamu kuat ya! InshaAllah Bunda akan baik-baik aja." ucap Febri memeluk Gisya.
"Iya Ca, Bunda bakalan sehat lagi. Kita do'akan sama-ama ya!" tutur Yuliana.
"Makasih Biw, Lil. Terimakasih kalian sudah selalu ada untuk kami." lirih Gisya.
Dokter baru saja memeriksa kondisi Bunda Syifa, dan beruntungnya kondisi Bunda Syifa sudah cukup baik untuk melakukan operasi pemasangan Ring.
"Operasinya akan dilakukan 15 menit lagi. Umumnya operasi ini akan memakan waktu 1-3 jam, kami akan melakukan yang terbaik." ucap Dokter.
"Kami percayakan semuanya pada Allah melalui dokter. Lakukan yang terbaik untuk orangtua kami dok." ucap Fahri sebagai anak menantu tertua.
Kini Bunda Syifa sudah akan memasuki ruang operasi. Gisya dan Syauqi terus menerus menggenggam tangan Bundanya itu dan memberikannya kekuatan.
"Bunda harus kuat, cucu-cucu Bunda menunggu Oma nya." lirih Gisya.
"Bener Bun, harus sembuh. Uqi kan mau nikah Bun." lirih Syauqi.
"Do'akan yang terbaik untuk Bunda yaa." lirih Bunda Syifa.
Genggaman tangan mereka terlepas, Bunda Syifa mulai masuk kedalam ruang operasi. Fahri terus memeluk istrinya untuk memberikan ketenangan.
* * * * *
Gimanaaa sukaa gak ceritanya reader?
Maaf ya ngebosenin!
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤