
Selesai Acara Barbeque, kini tersisa enam orang diruangan ini. Fahri dan Gisya, Febri dan Zaydan juga Jafran dan Yuliana. Mereka sengaja berkumpul secara khusus untuk membicarakan usaha mereka kedepannya. Karena saat ini, Jafran turut dalam pembangunan usaha penginapan milik Andi dan juga Fahri. Hingga penginapan ini bisa memiliki kamar yang cukup banyak.
Fahri mengeluarkan satu persatu berkas yang dia bawa dalam tasnya.
"Ini adalah surat-surat kepemilikan penginapan ini, dari mulai gedung A hingga gedung C. Dan juga surat kepemilikan Cafe Fandi yang berpusat disini. Aku serahkan pada kalian masing-masing." ujar Fahri pada semuanya.
"Aku gak akan terima, lebih baik kamu simpan aja. Lagian aku sama Ulil mau ke Singapore jadi gak mungkin kita bawa-bawa surat itu." tolak Jafran.
"Apalagi aku, Bang. Semuanya aku serahkan aja sama istriku." ucap Zaydan.
Febri memandang wajah suaminya, dia lalu menyerahkan surat itu pada Fahri.
"Bang Fahri aja yang simpen, dan aku mohon surat ini dipindah namakan atas nama Cyra. Karena dia yang berhak memiliki semua ini. Aku dan Mas Andi sudah selesai, kini aku hanya ingin hidup bahagia bersama Mas Zaydan. Aku akan menganggap penginapan ini sebagai harta warisan yang ditinggalkan Mas Andi untuk putrinya." ucap Febri.
"Udah Bang, kami percayakan semuanya padamu. Jangan sungkan gitulah! Kita semua percaya sama kalian." ucap Yuliana menegaskan.
Gisya dan Fahri menghela nafasnya, kedua sahabat mereka memang sangat baik.
"Biar aman nih ya! Semua surat-surat ini akan aku titipkan sama Bunda dan juga Umma. Biar mereka yang simpen semuanya, kan kami juga harus pindah ke Jogja. Gimana? Semuanya setuju kaannn?" tanya Fahri.
"Good! Setuju!" ucap mereka serempak.
Mereka membubarkan diri untuk beristirahat, Febri menikmati angin malam dibalkon penginapannya. Hal yang selalu dia lakukan saat dulu tinggal disana dalam kondisi mengandung Cyra. Febri teringat akan masa-masa pedih itu.
"Maafkan aku, Mas Andi. Aku tidak bermaksud melupakanmu, hanya saja saat ini ada hati yang harus aku jaga. Kamu selamanya akan tersimpan direlung hatiku yang paling dalam. Ijinkan aku memberikan separuh hatiku yang lain untuk suamiku." batin Febri.
Grepp
Zaydan memeluk Febri dari belakang, dan mencium tengkuk leher istrinya itu.
"Terimakasih sudah menerima Mas sepenuh hatimu. Mas sangat mencintaimu, Mas akan selalu berusaha untuk membahagiakan kalian." ucap Zaydan.
"Aku yang berterimakasih, Mas. Terimakasih sudah menyayangi kami setulus hati. Aku juga mencintaimu, Mas Zaydan." ucap Febri sambil menegaskan nama Zaydan.
Seminggu berlalu, Febri sudah berangkat ke Jogja 4 hari yang lalu. Dan Yuliana pun saat ini akan terbang ke Singapore. Gisya beserta Fahri mengantarkan mereka ke Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Sebelum berpisah, Yuliana memeluk erat Gisya.
"Jaga diri ya! Sehat-sehat selalu bumil, kabar-kabari kalo mau lahiran. Aku pasti bakalan kangen sama kamu sama Ebiw." ucap Yuliana terisak.
"Jangan nangis dong! Aku kan jadi ikutan nangis nih, kamu juga jaga diri di negeri orang. Harus bisa ngatur jaga kesehatan, cuaca disini beda sama cuaca disana. Kalo kedinginan gak akan ada yang jual sakoteng panas. Jaga dua tuyulku dengan baik ya!" ucap Gisya.
Fahri pun memeluk Baba Jafran, sang sahabat sekaligus keluarga baginya.
__ADS_1
"Jaga diri Ba, disana banyak yang kinclong-kinclong! Jangan sampe itu mata di colok sama si Ummi. Semoga disana kalian akan panen tuyul ketiga ya, do'a kami selalu menyertai kalian." ucap Fahri memeluk Jafran.
"Ah sumpah! Gak seneng nih Ane kayak begini! Kalo gak demi bahagiain anak istri, ogah deh Ane hidup jauh dari sodara. Titip pasukan Chacha ya! Semoga kalian sehat dan bahagia selalu. Kapan-kapan Ane boyong ente semua ke Singapore. Do'ain rezeki kita selalu mulus, dan satu lagi hati-hati saat bertugas! Ada pasukan yang nunggu ente pulang!" tegas Jafran pada sahabatnya itu.
"Baba juga! Hati-hati pas bawa pesawat, banyak nyawa yang Baba bawa disana. Titip ulet pucukku ya!" ucap Gisya memeluk Jafran.
Mail alias Alana menghampiri Husain dan memberikan tiga buah gelang padanya.
"Ain, ni wat Ain ma tata lala. Ayan ma Ayana uga pake ni. Atu agi wat Cyla, tar dah nde ita temu tama-tama ya! Geyang na angan epas-epas!" ucap Alana pada Husain.
"Macih Maiy, angan akal-akal ya! Angan bantem ma Mauy." pinta Husain.
"Anti main agi ya, Ain! Dadadahh Ain, Mbun, Yayah, Tata." ucap Alan alias Maul.
"Dadaahh Mauy, dadahh Maiy, dadahh Baba, dadaahhh Miii." teriak Husain.
Perpisahan mereka di Bandara membuat Gisya menangis tersedu-sedu.
Setelah kemarin mengantarkan Yuliana dan keluarganya, hari ini Gisya mengundang seluruh Ibu Persit untuk makan-makan di Rumah miliknya. Sebagai tanda ucapan perpisahan. Gisya sibuk mempersiapkan segalanya sendiri, karena kini kedua sahabatnya sudah pergi ketempat mereka masing-masing.
Andina dan Fatimah yang sangat dekat dengan Gisya pun sudah akan pindah. Andina ikut dengan Dzikri yang bertugas di Aceh. Dan Gilang yang sudah dipindah tugaskan ke Ambon. Kini mereka benar-benar harus berpisah. Semuanya sudah berkumpul.
Beberapa dari mereka sudah mulai menitikkan airmatanya.
"Saya mohon maaf, apabila ada kesalahan ya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi jangan khawatir, kita masih satu keluarga besar Persit Kartika Chandra Kirana. Tali silaturahmi masih bisa kita jalin, apalagi dengan sosial media yang ada. Kita masih bisa saling bertukar kabar, tapi ingat kita harus tetap bijak dalam menggunakannya. Mengingat kita semua adalah istri dari seorang abdi negara. Setiap tingkah dan prilaku kita akan menjadi pertanggung jawaban bagi suami." ucap Gisya.
"Kami pasti akan merasa kehilangan sosok Bu Danki dan Bu Danton yang sangat bijak dan ramah. Selamat dengan Jabatan barunya sebagai Bu Danki ya, Bu Fahri dan Bu Dzikri. Dan juga selamat untuk Jabatan barunya sebagai Bu Danyon, Bu Danki. Semoga amanah dan dapat membimbing anggota dengan baik. Dan semoga saja pengganti Bu Danki dan Bu Danton memiliki sifat dan prilaku yang baik seperti Ibu." ucap Bu Dadang.
"Ijin Bu, jangan lupakan kami semua ya Bu." lirih Indri.
Gisya memeluk Indri dan Bu Dadang bergantian. Dia sangat beruntung pernah menjadi bagian dari mereka. Tangis haru sangat dirasakan oleh semua yang hadir.
"InshaAllah pengganti kami nanti, akan jauh lebih baik dari kami. Semoga Allah selalu menjaga kita semua dimanapun kita berada. Menjaga suami kita yang sedang bertugas diluar. Pesan saya hanya satu, do'akan dan setia menanti. Karena mereka pun sedang berjuang untuk kembali dan memenuhi janji pada anak dan istri." ucap Gisya.
Acara makan-makan dengan Ibu-ibu Persit berjalan dengan sangat baik. Mereka melepaskan rasa canggung dan berbaur menjadi satu seperti satu keluarga. Sungguh Gisya merasa sedih, harus berpisah dengan mereka semua. Tapi itulah konsekuensi yang harus dia terima ketika menikah dengan seorang abdi negara.
Setelah perpisahan dengan karyawan dan Ibu-ibu Persit, maka hari ini adalah hari perpisahan dengan keluarganya. Gisya sengaja menginap dirumah Bundanya, karena besok pagi dia akan berangkat ke Jogjakarta. Gisya ingin tidur bersama Bundanya.
"Si Abang gak apa-apa Teteh bobok sama Bunda?" tanya Bunda Syifa.
"Enggak Bun, malahan Abang yang nyuruh kok! Bunda harus sehat ya, Bun. Maafin Caca harus pergi ikut sama Abang." lirih Gisya dalam pelukan Bundanya.
__ADS_1
Bunda Syifa mengusap lembut kepala putrinya itu.
"Teteh sayang, tugas seorang istri itu harus mengikuti kemanapun suaminya pergi. Sekalipun itu ke lubang semut, InshaAllah Bunda akan sehat-sehat selalu. Apalagi sekarang Bunda punya menantu yang mengurus Bunda dengan baik. Yang penting saat ini, Teteh harus sehat dan jangan stres. Kasian si utun!" ucap Bunda Syifa.
"Bunda bakalan temenin Teteh lahiran kan? Teteh pengen Bunda ada disamping Teteh saat lahiran nanti." ucap Gisya terisak.
"InshaAllah geulis, Bunda akan temenin Teteh. Bunda akan terbang dari Bandung ke Jogjakarta demi anak, cucu dan menantu Bunda." tutur Bunda Syifa menenangkan.
Sementara itu, Syauqi terus menempel pada kakak iparnya itu. Dia sangat berat untuk berpisah dengan mereka. Tapi Syauqi mengerti jika kewajiban tugas itu yang paling utama. Karena dia pun seorang Abdi Negara.
"Bang, titip Teteh dan ponakan-ponakan Uqi ya! Jaga mereka dengan baik, kalo ada apa-apa segera hubungi Uqi, Bang!" ucap Syauqi sambil memeluk Fahri.
"Uqi! Lepasin ih! Abang jadi horor! Kamu gak belok kan?" ucap Fahri merinding.
"Amit-amit si Abang! Uqi masih doyan surabi dan goa! Enak aja Uqi dibilang belok!" kesal Syauqi pada kakak iparnya itu.
"Abisnya kamu peluk-peluk Abang, kan geli sendiri. Hiiihhhh.." ucap Fahri.
Lalu Fahri menepuk pundak adik iparnya itu.
"Kamu tenang aja, Qi. Mereka adalah anak dan istri Abang, jadi apapun akan Abang lakukan untuk mereka. Termasuk menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan hidup mereka. Selain berjuang untuk Negara, Abang juga berjuang untuk keluarga Abang. Agar janji Abang terpenuhi untuk pulang dalam keadaan selamat." ucap Fahri.
"Besok pagi kita foto studio dulu, Bang! Uqi udah booking jam 8 pagi. Jadi Abang gak akan ketinggalan pesawat." ucap Syauqi.
Malam ini, Bunda Syifa tidur bersama anak perempuan dan menantu perempuannya. Mereka tidur saling berpelukan. Gisya selalu menitipkan Bundanya itu pada Syaina.
"Ina, ingat selalu pesan Teteh ya! Saat ini Ina adalah anak perempuan di keluarga ini. Teteh titipkan Bunda dan adik nakalnya Teteh. Sayangi mereka sepenuhnya ya, Ina. Karena Bunda adalah orangtua Ina juga." ucap Gisya.
"Jangan khawatir Teh, InshaAllah Ina akan selalu menjaga dan menyayangi mereka sepenuh hati. Teteh yang sehat disana, semoga lungsur langsar hingga lahiran nanti." ucap Syaina sambil memeluk kakak iparnya itu.
Sesuai keinginan Syauqi, pagi ini sebelum berangkat mereka melakukan sesi foto di studio. Fahri sangat gagah dengan seragam TNI AD nya, dan Gisya dengan seragam Persit miliknya. Begitupun juga dengan Syauqi, dia terlihat gagah dengan seragam polisinya. Dan sang istri memakai baju pink seragam Bhayangkari nya. Sedangkan Bunda Syifa dan Quera memakai baju kebaya berwarna perpaduan pink dan hijau. Dan si kecil Husain memakai kemeja dengan jas berwarna senada.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1