
Denting waktu terdengar disepanjang malam, hingga saat ini Alana belum bisa memejamkan matanya. Dia beranjak menuju kamar mandi, dan mengambil wudhu. Meskipun saat ini Alana belum menggunakan jilbab, tapi dia adalah gadis yang taat dalam beribadah. Hal yang sama dirasakan oleh Husain dan juga Cyra. Mereka sama-sama tidak bisa terlelap tidur malam itu.
Cyra menatap wajah sang Ibu yang masih terlelap, malam ini Cyra tidur bersama Mama Febri. Sedangkan Papa Zaydan tidur bersama bapak-bapak yang lain diruang tengah. Cyra beranjak dari tempat tidurnya, dia membuka buku harian yang selalu dia bawa. Ditengah malam itu, Cyra menuliskan kegelisahan hatinya.
____________
Dear diary,
Malam ini mataku enggan terpejam.. Masih teringat jelas dalam ingatanku, ketika manusia biadap itu akan merenggut kesucianku.. Hatiku terasa perih, aku malu.. Aku beruntung, Alana menemukanku sebelum manusia itu merenggut kesucianku.. Tapi tetap saja aku merasa kotor.. Aku menyesal, telah mengikuti ego yang begitu besar dalam diriku.. Apakah saat ini aku masih layak untuk dicintai? Aku terlalu banyak merepotkan sahabat-sahabatku, hingga aku tidak menyadari betapa mereka saling mencintai.. Aku bahkan menorehkan luka dalam hati mereka.. Tuhan... Aku ingin hidup dengan baik, aku tidak ingin menjadi beban bagi siapapun..
Papa Andi.. Maafkan Cyra yang tidak bisa menjadi abdi negara sepertimu.. Saat ini, yang Cyra inginkan hanya membahagiakan Mama dan Papa Zaydan..
____________
Cyra tertidur usai menulis dalam diary kesayangannya. Sedangkan Alana, dia masih menangis dalam tangannya yang menengadah. Mengharapkan ketenangan dalam hatinya.
"Yaa Allah, berikanlah ketenangan dalam hatiku.. Ampunkan aku atas segala dosa yamg telah aku perbuat, hilangkanlah rasa cinta ini padanya.. Gantikanlah dengan rasa cintaku pada-Mu yang seharusnya lebih besar.. Berikanlah aku kekuatan untuk menjalani segala takdir kehidupan dari-Mu Yaa Allah..." tangis Alana pecah ketika mengingat semua cinta dalam hatinya.
Adzan subuh membangunkan Elmira, diliriknya kearah samping. Dimana Biang Mira masih terlelap tidur. Semalam, kedua Elmira itu tidur bersama-sama.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat Elmira beranjak dari tempat tidurnya.
"Kak Rara, bangun! Kita sholat subuh jama'ah dibawah," ucap Alana mengetuk pintu.
"Iya dek, tunggu Kakak sebentar! Mau ambil wudhu dulu," sahut Elmira.
Saat Alana menunggu Elmira, Husain juga baru keluar dari kamarnya. Bersamaan dengam Cyra juga yang baru saja keluar dari kamar tamu.
"Ayok! Nanti ketinggalan jama'ahnya!" ajak Cyra pada Alana dan Husain.
"Duluan aja say, lagi nunggu Kak Rara," tolak Alana secara halus.
"Yaudah aku sama Abang duluan ya," ucap Cyra sambil berjalan bersama Husain.
"Kalian emang cocok," lirih Alana menatap Husain dan Cyra yang berjalan beriringan.
Chandra sudah bangun, dia menatap Elmira yang begitu cantik menggunakan mukena putih. Sedetikpun Chandra tidak mengalihkan pandangannya.
"Aku sholat berjama'ah dulu, Yah!" ucap Mirda membuyarkan tatapan Chandra.
"Iya boy! Do'akan Bunda dan Ayahmu," ujar Chandra mengingatkan.
"Andai saja Tuhanku dan Tuhanmu satu, akan aku pastikan kamu menjadi milikku Elmira." ucap Chandra dalam hatinya.
Sholat berjama'ah kali ini sangat khusyuk, Mirda diminta menjadi Imam dalam sholat kali ini. Elmira menitikkan airmata dalam sholatnya, ketika mendengar Mirda melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Begitupun juga dengan Alana dan Cyra, terlebih saat ini hati mereka tengah rapuh. Usai sholat, para ibu-ibu berkutat didapur. Bukan hanya memasak tapi juga sambil berceloteh ria dipagi hari.
Berbeda seperti hari biasanya, Elmira tidak membantu sang Bunda. Karena hari ini dia akan menjemput sahabatnya di Bandara.
"Bun, Ayah kemana? Kakak mau ijin jemput Afifah di Bandara," ucap Elmira.
"Ayah lagi jalan pagi sama bapak-bapak, kamu ditemenin Om Mirda aja ya!" pinta Bunda.
"Mmm, boleh sama Mbak Monik aja gak? Atau Bang Ain deh!" tawar Elmira manja.
"Kamu udah kayak sama mamang sayur, Kak! Pake acara tawar menawar segala," ucap Ummi seraya menertawakan tingkah Elmira.
"Mau Bang Rian anter, Elmira?" sahut Rian yang mengagetkan Elmira.
"Mmmmm.. Gak ngerepotin Bang?" tanya Elmira ragu-ragu.
"Enggak! Yaudah ayok, hari sabtu gini macet loh!" ucap Rian.
Akhirnya Rian yang menemani Elmira ke Bandara. Saat melewati depan komplek, Elmira melihat Ayahnya sedang jalan-jalan pagi bersama Chandra dan yang lainnya. Mereka berhenti untuk berpamitan pada semuanya.
"Ayah, Kakak jemput Afifah dulu ke Bandara, ya!" pamit Elmira mencium tangan Ayahnya.
"Berdua aja?" tanya Fahri menatap Elmira dan Rian bergantian.
"Iya Ayah, lagian sebentar aja kok! Jemput Afifah terus nyari kost, Kakak janji gak pulang terlalu sore Ayah," gugup Elmira saat mengatakan hal itu.
"Mirda! Kamu ikut bersama mereka," tegas Fahri.
"Siap! Komandan!" jawab Mirda.
Mau tidak mau, Elmira harus membawa Mirda bersama mereka. Elmira sangat tau, jika perkataan Ayahnya tidak akan pernah bisa dibantah.
"Biar saya yang menyetir," pinta Mirda pada Rian yang berada didepan kemudi.
"Santai aja, Mir! Biar aku yang nyetir, entar kalo capek kita gantian!" ujar Rian.
Mereka bertiga pun berangkat ke Bandara, Mirda duduk disamping Rian dan Elmira berada dibelakang. Sepanjang jalan, Elmira dan Rian terus berbincang-bincang mengenai kedokteran.
Sedangkan Chandra dan sahabat-sahabatnya sedang menikmati secangkir kopi dan sepiring gorengan buatan para istri-istri mereka.
__ADS_1
"Kayaknya Abang masih posesif banget sama Elmira," ucap Chandra pada Fahri.
"Haruslah! Aku gak mau kejadian di masa lalu terulang lagi, apalagi saat ini usia Elmira sudah memasuki 22 tahun. Mereka pasti akan mengincar Elmira kembali," tutur Fahri menjelaskan alasan dirinya memperlakukan Elmira.
"Apa Elmira sudah tau?" tanya Chandra yang khawatir.
"Dia sudah tau, bahkan penyebab serangan jantungku kemarin adalah ketika Elmira mengatakan bahwa namanya adalah Quera," lirih Fahri dengan kesedihannya.
"Tenanglah, Ri. Semuanya akan baik-baik aja! Kita sebagai sahabat akan selalu ada disamping kamu dan ikut menjaga Elmira," ucap Bang Dzikri menguatkan.
"Aku akan selalu menjadi perisainya Elmira, Bang Fahri," batin Chandra.
Elmira sudah sampai di Bandara, dia menunggu kedatangan Afifah bersama dengan Mirda dan juga Rian. Saat melihat sahabatnya itu, Elmira melambaikan tangannya.
"Fifaaaahhhhhh.......!" teriak Elmira sambil melambaikan tangannya.
"Raraaaaaa........!" teriak Afifah sambil merentangkan tangannya. Merekapun berpelukan.
Mirda dan Rian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena kelakuan kedua gadis itu.
"Laperrrrrr," rengek Afifah pada Elmira.
"Lah emang belom sarapan? Kebiasaan deh!" kesal Elmira.
"Maaf nona-nona manis, kami juga belum sarapan! Bisa kita ngobrolnya sambil sarapan?tanya Rian membuat keduanya terkaget.
"Eh, ayo Bang kita sarapan dulu," ajak Elmira pada Rian dan Mirda.
"Sst! Kamu punya gandengan keren gak akan ngenalin ke aku?" bisik Afifah.
"Entaran aja!" jawab Elmira lalu menarik tangan Afifah.
Saat ini tak ada percakapan dimobil, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Akhirnya mereka memutuskan untuk sarapan Nasi Kuning dipinggir jalan.
"Asli! Bandung juara banget deh soal kuliner, makanannya enak-enak!" antusias Afifah.
"Makanya nanti kalo libur kita kulineran, belom pernah kan kamu nyobain cireng sama cilok? Beuuhh nagih deh!" ucap Elmira yang tak kalah antusias.
"Mir, cewek kalo soal makanan nomor satu ya!" bisik Rian pada Mirda namun masih bisa didengar kedua gadis itu.
"Ra! Laki kok ngomongnya bisik-bisik, udah kaya tetangga depan rumah aku aja!" celetuk Afifah membuat Rian tersedak makanannya.
"Makanya kalo makan jangan sambil ngomong!" ucap Mirda sambil memberikan minum.
Uhuukkk.. Uhuuukkkk...
"Yaa Allah, udah makannya dulu beresin baru ngobrol!" ucap Elmira yang khawatir.
"Aku udah selesai! Mohon maaf nih ya, itukan masalah udah lewat 2 tahun. Kok situ masih inget aja! Lagian kan aku udah minta maaf dan ganti rugi," kesal Afifah pada Rian.
"Jadi cowok abal-abal yang kamu maksud itu, Bang Rian?" tanya Elmira tak percaya.
"What? Cowok abal-abal maksudnya apaan nih?!" geram Rian pada Afifah.
"Iyalah cowok abal-abal! Mobil warna pink, manja lagi kayak anak gadis!" ledek Afifah.
"Itu kan mobil Seina, adikku! Lagian jadi cewek bar-bar banget, berasa jalan milik sendiri yang lain mah numpang!" kesal Rian.
"Stooooopppp! Aduhhh kepala aku malah pusing dengerin kalian ngoceh! Udah yuk balik sekarang!" ucap Elmira tanpa sadar menarik tangan Mirda yang masih minum.
"Rara! Yang kamu tarik bukan aku!" ucap Afifah yang membuat Elmira menoleh.
Baju mirda basah karena tumpahan air minum yang tadi dipegangnya.
"Eh, maaf Bang!" kaget Elmira melepaskan tangan Mirda sedangkan Rian dan Afifah tertawa terbahak-bahak.
Karena kesal ditertawakan, Mirda menarik tangan Elmira untuk berjalan menuju mobil.
"Mau ikut atau saya tinggal!" tegas Mirda membuat Afifah dan Rian segera bergegas.
Saat akan masuk kedalam mobil, Afifah dan Rian masih saja ribut.
"Kalian berdua duduk dibelakang!" tegas Elmira yang membuat Rian dan Afifah terdiam.
"Cocok tuh! Galak-galak," bisik Afifah pada Rian.
"Mir, kata nih cewek kamu cocok sama Elmira," ucap Rian mengadu.
"Dih cowok kok aduan! Dasar anak mamih!" ucap Afifah mencebik kesal.
"Aduh, Bang jalan Bang! Kepala aku pusing," pinta Elmira pada Mirda.
Sepanjang jalan, Rian dan Afifah masih saja berdebat. Sedangkan Mirda dan Elmira sudah kompak untuk mendengarkan musik lewat earphone milik mereka. Kini tibalah mereka di Rumah Elmira, Afifah bahkan tidak menyadarinya.
"Ra! Kan mau cari tempat kost dulu! Kok kesini!" rengek Afifah.
__ADS_1
"Ayah mau ketemu kamu dulu, santai aja! Ayah baik kok!" ucap Elmira.
"Iya tau, Ayah itu baik banget! Aku yang malu," lirih Afifah.
"Tutup muka aja kalo malu! Atau mau ngumpet dibelakang aku?" ledek Rian yang mendapat pukulan dibahunya.
"Aduh! Sakit beo!" kesal Rian.
Keributan dihalaman parkir, membuat para orangtua keluar rumah.
"Masuk dulu! Malu ribut-ribut disitu," teriak Ummi Ulil. Mereka akhirnya masuk kedalam.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka bersamaan.
"Walaikumsalam, Afifah sini Nak! Gimana perjalanan kamu?" tanya Bunda Gisya.
"Alhamdulillah lancar, Bun." jawab Afifah menunduk malu.
"Afifah, kamu akan tinggal disini bersama kami. Jadi kamu gak perlu cari tempat kost." ucap Ayah Fahri membuat Afifah semakin menunduk.
Ayah Fahri perlahan menghampiri Afifah, dia mengusap bahu gadis itu.
"Kamu anak sahabat Ayah, sudah seharusnya Ayah juga merawat kamu! Jadi jangan sungkan lagi, ya!" ucap Fahri pada Afifah.
"Iya Ayah, terimakasih." ucap Afifah mengangkat wajahnya menatap Fahri.
Bulir airmata mulai jatuh dipipi gadis itu.
Mereka bertanya-tanya, siapakah Afifah sebenarnya. Bahkan Mama Febri dan Ummi juga tidak mengetahui siapa Afifah sebenarnya.
"Siapa Afifah? Anak sahabat Bang Fahri yang mana?" tanya Ummi Ulil.
"Afifah ini anak kedua Mbak Bella sama Mas Kemal," jawab Bunda Gisya sambil mengusap lembut kepala Afifah.
"Bella? Yang dulu hampir buat kamu celaka?" kaget Ummi Ulil.
"Udah! Itu cuman masalalu, sekarang beliau sudah bahagia di Syurga. Afifah mulai sekarang anak Bunda juga, jadi jangan sungkan ya Nak. Kami semua adalah sahabat dari almarhum Ibu dan Ayahmu. Sekarang Afifah gak sendirian, kita semua keluarga." ucap Bunda Gisya sambil memeluk Afifah.
Afifah memang anak kedua dari Bella dan Kemal. Kedua orangtuanya mengalami penyerangan saat tinggal di Papua, dan mereka tewas saat Afifah masih berusia 10 Tahun. Saat di Palembang, Afifah tinggal bersama Kakak perempuannya yang kini sudah menikah. Karena tidak ingin terus merepotkan, Afifah memutuskan untuk mengambil Internship di Bandung. Yang merupakan Kota kelahiran Ayahnya.
Bunda Gisya memang berhati lembut, tak salah jika dia memiliki sahabat-sahabat yang selalu setia disampingnya. Disisi lain saat ini, Alan, Alana, Cyra dan juga Husain sedang menikmati suasana indah di Taman Komplek. Disana ada tebing buatan, hingga air yang turun seperti air terjun.
"Apa persahabatan kita bisa seperti persahabatan Oma dan Bunda?" lirih Cyra sambil menatap indahnya air terjun.
"Pastilah! Kita akan terusin persahabatan mereka sampe anak cucu kita nanti!" jawab Alan sambil memeluk bahu Cyra.
"Kita akan tetap bersahabat, Cyra. Sampai kapanpun." ucap Alana tersenyum.
"Tapi kenapa kamu bakalan ikut Grandma?" lirih Cyra yang membuat Husain tersentak.
Alana memeluk Cyra dengan sangat erat, Alana memang sangat menyayangi Cyra.
"Cuman sampe kuliah aku selesai, aku kan pengen sukses kaya Bunda. Aku pengen punya butik sendiri, setelah itu aku balik lagi kesini." ucap Alana yang membuat Alan dan Husain kaget. Pasalnya Alan pun tidak tau mengenai keputusan kembarannya itu.
"Maksud lu ape? Lu bilang cuman nengokin Grandma doang! Gak ada acara lu beresin kuliah disana! Gue disini gimana? Lu ga mikirin gue!" kesal Alan pada Alana.
"Ih! Kan gue bilang cuman sebentar! Gak usah rese, Ummi sama Baba aja udah setuju!" sahut Alana membuat Alan semakin kaget.
"What? Cari perkara nih lu sama gue!" kesal Alan meninggalkan mereka. Cyra mengejar Alan, karena dia tau betul bagaimana Alan ketika marah.
"Apa karena Abang, kamu pergi?" tanya Husain menatap Alana.
"Jangan kepedean Abang! Aku emang cuman pengen beresin kuliah disana, terus pulang kesini buat buka butik sendiri. It's my dream," jawab Alana tersenyum.
"Kamu yakin semua ini bukan gara-gara Abang?" tanya Husain lagi.
"Sampai kapanpun kita akan tetep bersahabat, Bang. Udah aku bilang jangan khawatir.' ucap Alana menepuk bahu Husain lalu berjalan meninggalkan Husain.
Husain mengejarnya, dan memeluk Alana dari belakang.
"Jangan gini, Bang. Jangan sia-siakan usaha aku buat sembuh dan menata hati lagi tanpa kamu. Abang gak akan pernah paham gimana sulit dan rumitnya isi hati dan isi kepala aku saat ini. Aku mohon, biarkan aku pergi. Ijinkan kali ini aku benar-benar hidup tanpa bayang-bayang kamu, Bang." ucap Alana membuat Husain membalikkan tubuh Alana.
Perlahan, Husain mencium lembut kening Alana dan menyatukan kening keduanya.
"Biarkan Allah yang menentukan jalan kita, Alana. Maaf atas luka yang sudah aku torehkan, tapi kali ini aku mohon. Jangan hilangkan namaku dalam hatimu. Ikutilah kata hatimu, jangan pernah memaksakan diri jika tak mampu." ucap Husain.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1