
Gisya sudah terlelap tidur, malam ini Syauqi akan menjaganya. Dalam mimpinya, Gisya melihat suaminya melambaikan tangan. Suaminya itu terlihat gagah dan sangat bersinar. Saat Gisya menghampiri, bayangan suaminya itu hilang. Lalu tiba-tiba awan menjadi gelap, mendung dan banyak sekali kilat yang menyambar. Gisya bangun dari tidurnya dan berteriak, membuat Syauqi terbangun.
"Abaanggg!!!" teriak Gisya.
"Astaghfirulloh, istighfar Teh! Teteh kenapa?!" tanya Syauqi yang khawatir.
"Bang Fahri, dia baik-baik aja kan Uqi?" isak Gisya.
"InshaAllah Abang baik-baik aja Teh, udah jangan nangis. Kasian ponakan Uqi didalem perut. Minum dulu biar Teteh tenang." ucap Syauqi sambil memberikan air minum.
Suasana di Kongo saat ini sedang kacau. Semua anggota TNI dikerahkan, kini mereka sedang mencari jejak dari 5 orang TNI yang dinyatakan hilang. Termasuk nama Fahri dan Dzikri, mereka mengalami luka tembak dibahu dan kaki. Fahri sempat tidak sadarkan diri saat bahunya tertembak. Sementara Dzikri terus menyeret tubuh Fahri agar bisa berlindung. Ketiga anggota yang masih bersama mereka membantunya. Tapi sayangnya, mereka tertangkap oleh Kelompok Bersenjata itu.
Mereka berlima disekap di sebuah ruangan bawah tanah yang pengap dan berdebu. Dzikri terus merasa kesakitan dengan luka tembak di kakinya, dia berhasil mengeluarkan peluru dari dalam kakinya. Lalu Dzikri menghampiri Fahri yang belum juga sadarkan diri, padahal Dzikri sudah mengeluarkan peluru dari bahunya.
"Bangun bodoh! Ingat istrimu menunggumu dirumah!" ucap Dzikri mencoba menyadarkan Fahri. Dia terus mengecek nadi ditangan Fahri yang mulai melemah. Dzikri mulai panik, dia tidak ingin kehilangan kerabatnya kembali. Dzikri yang mulai terbawa suasana terus membangunkan Fahri, bahkan dia terus memukul dada Fahri.
"Sudah Bang! Tenangkan diri Abang, kita harus kuat bang. Kita harus keluar dari sini." ucap Letda Imron pada Dzikri.
"Dia harus hidup! Bangun bodoh! Kalo kamu gak bangun, Ri. Aku bakalan nikahin istri kamu, biar jadi madunya Andina!" teriak Dzikri.
Uuhuuuukkk!! Uhuuuuukkkkkk!!
Fahri merasakan sakit didadanya, dia membuka matanya. Dan melihat keempat orang yang sedang menangis terisak.
"Sakit Bang, haus." lirih Fahri. Mereka mulai bernafas lega.
"Akhirnya kamu bangun juga bodoh!" ucap Dzikri lalu memeluk Fahri.
"Tentara kok cengeng, Bang!" ledek Fahri.
"Dasar bocah gendeng! Kamu hampir aja mati, tau gak!!" kesal Dzikri.
"Iya Bang, untung Abang bangun. Kalo enggak bisa-bisa nanti istri Abang jadi istri kedua Bang Dzikri." ucap Imron.
"Mau aku gebukin kamu, Bang?!" kesal Fahri.
"Heleh! Sok-sokan mau gebukin! Kita harus cari cara biar bisa keluar dari sini." ucap Dzikri.
__ADS_1
Fahri mulai mengingat kejadian yang menimpanya, dia bersyukur bisa tetap hidup. Karena dia harus menepati janjinya pada sang istri. Sudah hampir sepuluh hari mereka disana, tanpa diberi makan dan minum. Namun pagi ini berbeda, mereka diberi makan dan minum. Karena sudah sangat lapar dan lemas, mereka makan dengan lahapnya. Hingga sebuah suara menghentikan mereka.
"Sepertinya kalian sangat kelaparan." ucap Abrafo.
"Abrafo?!" kaget Fahri dan Dzikri.
Abrafo adalah salah satu sniper terbaik dalam Korps Militernya. Namun, dia dipecat secara tidak terhormat setelah tertangkap menjual belikan senjata secara ilegal. Mereka saling mengenal saat Latihan Gabungan TNI bersama Pasukan Khusus di Pusat Latihan Tempur Baturaja, Sumatera Selatan. Kini Abrafo sedang melakukan transaksi ilegal di Kongo. Dia yang merasa dendam terhadap semua yang berhubungan dengan Militer, terus menyerang setiap Barak Militer yang menjaga perdamaian Kongo.
"Wah kalian masih mengenalku, Apa kabar kawan lama?" tanya Abrafo.
"Kenapa kamu menyandera kami?" tanya Dzikri dengan amarah.
"Tenang kawan! Aku hanya ingin tau, seberapa besar kekuatan Militer PBB saat ini. Lihat, sampai saat ini bahkan tidak ada yang menyelamatkan kalian." ucap Abrafo tertawa sinis.
"Lalu apa untungnya kamu menyandera kami disini!" geram Dzikri.
"Tenanglah Dzikri, aku hanya ingin bernostalgia dengan kalian. Oh, ya. Dimana Andi? Bukankah kalian sejak dulu tidak bisa dipisahkan?" tutur Abrafo.
"Kematian yang memisahkan kami." ucap Fahri yang membuat Abrafo terdiam.
"Kenapa dia bisa mati?" tanya Abrafo dengan wajah datar.
"Kenapa kamu ingin tau? Bukankah kamu sudah tidak peduli dengan dunia kami." ucap Fahri mencoba mempermainkan emosi Abrafo. Dan benar saja, dia mulai emosi.
"Cepat katakan! Apa yang terjadi pada adikku?!" geram Abrafo.
"Dia mati dengan terhormat! Dia mati dengan mengharumkan nama Negara kami!" ucap Dzikri dengan Lantang. Abrafo tertunduk lesu.
"Andi sangat kecewa, ketika mendengarmu melanggar sumpah untuk negaramu. Bahkan dia enggan mendengar namamu." ucap Fahri.
"Cukup!! Diam!! Kalian tidak akan pernah aku lepaskan!" ucap Abrafo lalu meninggalkan mereka. Fahri tau jika Abrafo terluka, Andi memang benar-benar berarti dalam hidup Abrafo. Karena sempat beberapa kali Andi menyelamatkannya ketika itu.
Berita hilangnya 5 anggota TNI sudah menyebarluas di Indonesia. Gisya yang saat itu baru pulang ke Rumah Dinasnya dikagetkan dengan suasana Komplek yang begitu kelam. Gisya dijemput oleh Indra dan Indri, karena Syauqi sedang bertugas dan Bundanya sedang banyak Orderan Kue di Toko. Dikediamannya, Andina menangis tersedu-sedu, ditemani oleh beberapa anggota Persit. Gisya menghampiri kediaman Andina, dilihatnya dia sedang menangis memeluk Rian.
"Mbak Andina kenapa?" tanya Gisya lalu menghampiri Andina.
"Ate ica mama angis, ian akut." ucap bocah kecil itu.
__ADS_1
"Sini Rian sama Tante Caca, udah anak ganteng jangan nangis." ucap Gisya sambil mengelus puncak kepala Rian.
"Cih! Sebentar lagi juga kamu nangis!" ketus Bella yang baru saja datang.
Gisya tidak menghiraukan ucapan Bella, dia hanya memeluk Rian dan Andina.
"Tolong tidak membuat keributan disini Bu Kemal." ucap Bu Danki.
"Mohon ijin Bu, saya hanya heran saja. Suaminya dinyatakan hilang, tapi dia santai-santai saja." ucap Bella santai.
Bagai disambar petir, hati Gisya begitu sakit. Tapi dia harus bisa mengendalikan emosinya, dia tidak ingin kandungannya bermasalah. Gisya terus menerus diam, dia hanya berdo'a dalam hati dan mengeratkan pelukannya pada Andina dan Rian.
"Tuh kalian semua bisa lihat kan?! Istri macam apa yang seperti dia! Andina saja sampai menangis seperti itu, tapi dia santai aja!" ucap Bella.
Plaaakkkkk!! Plaaaakkkkkk!!
Tamparan keras mendarat dipipi Bella. Gisya sudah tidak bisa tinggal diam ketika Bella terus saja mengusiknya. Apalagi dia sampai berbicara yang tidak-tidak.
"Tamparan itu untuk Anda yang hampir saja menghilangkan nyawa Janin yang ada dalam kandungan saya! Dan satu lagi untuk mulut Anda yang tidak bersekolah! Apa sebelum menikah Anda tidak mempelajari adab-adab menjadi seorang Istri Abdi Negara?! Mohon ijin Bu Danki, Saya bisa diam ketika dia memperlakukan saya tidak baik. Saya masih bisa toleransi, tapi kali ini tidak bisa! Bu Kemal yang terhormat ini hampir saja menghilangkan nyawa Bayi yang Saya kandung! Dan satu lagi Bu Kemal! Suami Saya masih dinyatakan hilang, bukan dinyatakan meninggal! Saya sedang berusaha menahan airmata dan kepedihan Saya, karena Saya yakin dia baik-baik saja! Saya akan melaporkan tindakan Bu Kemal terhadap Saya!" ucap Gisya yang membuat Bella terdiam.
Fatimah sebagai istri dari Komandan Kompi menyayangkan sikap Bella yang sudah sangat keterlaluan, dia juga sudah melaporkan Bella kepada Ibu Ketua Persit. Selanjutnya Bella akan diberikan sanksi, berhubung suaminya sedang berada di Lebanon maka sanksi itu akan dijatuhkan ketika suaminya sudah mengetahui permasalahan istri.
Gisya masuk kedalam rumahnya dengan lesu, Indri masih setia menemani Gisya. Saat membuka ponsel, dia melihat banyak sekali pesan dari Grup Persit. Dia membacanya dengan mata yang berkaca-kaca. Saat ini 5 orang TNI yang bertugas di Kongo dinyatakan hilang setelah terjadi penembakan. Hati Gisya kembali meringis, dia mengelus perutnya yang masih rata.
"Ayah akan baik-baik aja. Ayah pasti akan pulang untuk kita. Kuat ya, sayang. Kamu kekuatan Bunda saat ini." lirih Gisya.
"Bang, ingatlah janjimu. Teruslah berjuang untuk hidup, aku dan anakmu menantimu. Kami akan selalu setia menantimu."
Bayi yang dikandungnya, menjadi kekuatan tersendiri bagi Gisya. Dia yakin, suaminya itu akan segera ditemukan dalam keadaan selamat.
* * * * * *
Mohon maaf apabila ada kesalahan, ini hanya imajinasi Author saja 🤗🙏
Dukung terus karya Author yaaa!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1