
Setiap rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing, kini rumah tangga Alana dan juga Husaik tengah diuji. Ujian yang akan mereka hadapi tak main-main. Sudah 2 hari ini, mereka mendapatkan sebuah paket teror berisi sebuah ancaman. Dan hal itu membuat Alana shock, hingga sementara kini mereka tinggal dirumah Ummi dan Baba. Mereka pikir, jika keduanya tinggal disana maka teror itu akan selesai. Rupanya mereka salah, teror itu berpindah ke kediaman Baba dan Ummi.
Pagi ini Husain mengalami muntah-muntah yang luar biasa menyiksa, ibarat pribahasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sebuah paket berisikan ayam mati yang penuh darah, beserta foto dirinya dan Raka tiba didepan rumah mertuanya.
"Hoeekkk... Hoekkk... Ba! Buangin dong, Abang gak kuat!" titah Husain lalu berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Dasar menantu durjanah! Lagian siapa sih yang teror-teror anak gue, belom tau dia berhadapan dengan siapa!" geram Baba Jafran. "Maauuuuulll...! Buang ayam itu sekarang, kalo enggak si badrun yang Baba buang!" teriak Baba.
"Huft! Sudah kuduga, dari pada Badrun yang dibuang mending tu paket yang dibuang," Alan menutup hidungnya sebelum membuang paket itu.
Badrun adalah kucing jenis Serval yang berasal dari Afrika, bukan tanpa alasan dia membeli kucing mahal itu. Alana merengek agar kembarannya itu mau membelikan kucing Serval. Tapi setelah kucing itu datang, Alana malah meminta Alan untuk merawatnya. Kondisi kesehatan Alana pun kini sedikit menurun, semenjak kejadian teror itu dia selalu merasa was-was. Bahkan saat ini, dia lebih memilih berdiam diri dikamar sang Ibu.
Tanpa sepengetahuan para wanita, Alan, Baba dan juga Husain kini sedang mencoba menyelidiki siapa penerornya selama ini.
"Kamu jadi minta bantuan Om Uqi?" tanya Baba Jafran pada menantunya itu.
"Jadi, Ba! Aku juga minta bantuan Ayah sama Bang Mirda buat menyelidiki dalang dibalik semua ini. Kasian Alana, dia pasti shock," lirih Husain.
"Ck! Baba juga kesel, gara-gara paket sialan itu Baba jadi gak bisa mendaki gunung dan lewati lembah! Si Mail nemplok mulu udah kaya cicak-cicak didinding!" kesal Baba.
"Diam-diam merayap dong Ba! Datanglah seekor nyamuk, hap!" Alan mencela ucapan Baba hingga sang Baba kesal.
"Hap! Lalu dicapluk buaya rawa kamu!" Baba Jafran menjepit kepala Alan dengan keteknya.
* * *
Ayah Fahri dan juga Mirda membantu Husain dalam menyelidiki siapa dalang dibalik semua teror itu. Mereka sudah mulai penyelidikan dari agen paket 'anter banget'.
"Gimana Bang? Apa kata mereka?" tanya Ayah Fahri.
"Katanya itu paket kilat, Ba! Nomor telepon sama alamat yang dicantumkan itu semuanya palsu!" Mirda menjelaskan pada sang mertua.
"Kayaknya mereka temen-temen ayu ting tong! Pake alamat palsu segala!" kesal Ayah Fahri sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ngomong-ngomong ayu ting tong, kayaknya mereka harus kita kasih geboy mujaer Yah! Abang ngerti sekarang," ucap Mirda dengan seringai di wajahnya.
Mirda menemukan sesuatu diantara paket itu, semua paket selalu diantar dari agen 'anter banget' yang sama. Dan Mirda yakin, ada orang dalam yang bekerja sama. Dia memutuskan untuk mengintai mereka, benar saja dugaan Mirda.
"Hap! Kena kalian!" ucap Mirda sambil mengunci tubuh salah satu sang peneror.
"Lepas! Saha maneh!" teriaknya sambil terus berontak.
Bugh!
Mirda melayangkan sebuah tinjuan yang cukup keras hingga membuatnya pingsan.
"Ah, lemah! Penjahat kelas kutir!" Mirda membawa sang penjahat menuju kediaman Ayah Fahri tentu saja bersama pegawai agen 'anter banget' yang akan ikut dilaporkan.
"Ampun Pak! Saya cuman disuruh, kalo saya gak nurut mereka bakalan nyelakain keluarga saya," lirih pegawai bernama Anto itu.
__ADS_1
"Jelaskan semuanya nanti! Sekarang kamu harus ikut kami!" titah Bagja yang ikut mendampingi Mirda.
Dalam politik pasti akan ada kecurangan, siapa yang berbuat curang maka akan dibalas dengan kecurangan. Salah satu pasangan calon kini sedang bergembira, pasangan yang diusung oleh Partai Domba itu berhasil menukarkan hasil pemilihan yang asli. Tentu saja mereka bekerja sama dengan 'orang dalam'.
Kedua pasangan itu adalah pasangan 'CEPAT KLAT', Cecep Ajat dan Kiki Latifah.
"Hahahaha akhirnya kita jadi Bupati, Neng!" bahagia Cecep ketika mendengar kabar itu.
"Iya Aa! Akhirnya kita bisa menguasai semua daerah Kabupaten Bandung Barat ini! Sekarang kita bisa leluasa pergi berdua!" genit Kiki pada Cecep.
Ada banyak alasan mereka mencalonkan diri, keduanya adalah pasangan berselingkuh. Selain tujuan mereka agar bisa bersama tanpa tercyduk, mereka bertujuan untuk melakukan korupsi besar-besaran. Mereka tidak tau, jika saat ini semua paslon Bupati tengah diawasi oleh beberapa anak buah Syauqi. Ada beberapa dari keempat paslon itu yang melakukan kecurangan, tapi tidak sefatal kecurangan yang dilakukan oleh pasangan 'CEPAT KILAT'.
* * *
Hari pengumuman pemenang sudah tiba, dan benar saja pasangan 'CEPAT KILAT' mendapatkan voting hampir 45% dari semua paslon. Mereka menyambut kemenangan dengan euphoria yang luar biasa.
"Terimakasih atas semua dukungan warga Kabupaten Bandung Barat, InshaAllah kami akan memenuhi semua janji kami. Se-CEPAT KILAT, sesuai dengan nama yang kami usung. Semoga kedepannya kami akan lebih baik lagi," ucap Cecep dengan wajah sumringahnya.
Alan menyewa beberapa intel untuk menjadi pendukung tim pasangan itu, dia sudah menyiapkan kado terindah untuk kedua pasangan calon itu.
"Pak, kami adalah tim sukses Anda ti daerah Ngamprah! Kami teh punya hadiah buat bapak, video kami saat melakukan kampanye menyerukan kemenangan Bapak! Semoga bapak suka!" ucapnya sambil memberikan sebuah flashdisk pada panitia.
"Wah wah, saya sangat senang! Silahkan mulai diputarkan saja," titah Cecep.
Video mulai berputar, kedua pasangan itu melototkan matanya ketika video yang diputar adalah video syur keduanya. Belum lagi foto-foto yang menyertakan bukti kejahatan mereka yang lainnya. Termasuk teror kepada calon pasangan Husain dan juga Raka.
"Tidak! Semua itu tidak benar!" histeris Kiki.
Suasana sangat gaduh, yang paling memalukan adalah hal itu disiarkan langsung dalam acara berita TV nasional. Akhirnya pihak TPS memutuskan untuk menghitung kembali data asli yang disembunyikan oleh tim sukses Cecep dan Kiki.
Dua hari kemudian, hasil pemungutan suara telah ditentukan. Dan akhirnya Husain dan Raka menang dalam Pemilihan Bupati kali ini. Mereka berdua melakukan sujud syukur, karena telah terpilih dalam pemilihan kali ini.
"Alhamdulillah, saya bersyukur pada Allah yang sudah memberikan saya dan Raka kesempatan untuk memimpin Kabupaten Bandung Barat ini. Tidak banyak janji yang akan kami berikan, karena kami takut tidak bisa memenuhi semua janjinya. Tapi InshaAllah kami akan melakukan yang terbaik, demi Kabupaten Bandung Barat yang semakin maju. Kami sangat berterimakasih kepada semua warga Kabupaten Bandung Barat yang sudah memilih kami, tak lupa juga kami berterimakasih pada Keluarga besar kami yang selalu mendukung kami. Terutama Bunda saya dan Ibunya Raka, terimakasih atas do'a tulus kalian. InshaAllah kami akan melakukan tugas kami, amanah kami dengan baik,"
* * *
Husain dan Raka kini menyewa salah satu resort di Lembang, mereka akan merayakan kemenangan mereka disana bersama tim sukses.
"Alana, alhamdulillah kita bisa melewati semuanya dengan baik," Asya memeluk Alana dengan erat, setelah banyak sekali teror yang mereka dapatkan.
"Iya Mbak, alhamdulillah. Semoga kita tetap bisa mendampingi suami kita ya, Mbak. Tugas kita tetap berada disisi mereka, menegur jika mereka akan melakukan khilaf. Karena menjadi pemimpin itu akan banyak sekali ujiannya," lirih Alana.
"InshaAllah kita akan menghadapinya bersama, kita harus kuat untuk mereka," ucap Asya.
Kini Husain sedang berkumpul bersama tim bapak-bapak, banyak sekali wejangan yang diterima oleh Husain dan Raka.
"Asik banget ya, udah menang dapet rumah lagi!" goda Ayah Fahri.
"Alhamdulillah rezeki Abang, Ayah!" Husain tersenyum kearah Alan.
__ADS_1
"Ck! Ngapain lu senyam senyum sendiri sampe sinting begitu," Alan kesal pada tatapan Husain, dia tau pasti Husain akan menagih janjinya.
"Lu rese! Kan lu yang janji, gue mah kaga minta," ucap Husain yang tak kalah kesal.
"Itu kan si Baba yang janjiin bukan gue!" Alan dan Husain saling bertatapan tajam.
"Anak durjanah dan menantu lucknut! Kayaknya itu cocok buat judul sinetron di Chanel ikan terbang. Mana ada pengusaha sama bupati yang otaknya kurang seperempat kayak kalian!" celetuk Baba Jafran.
"Semuanya kan karena Baba!" ucap Alan dan Husain bersamaan membuat Baba Jafran mengeluarkan kartu AS miliknya.
"Ummiii... Alan ciu......" mulut Baba Jafran dibekap oleh Alan.
"Laki kok begitu? Dah tuir juga, kaga usah ngadi-ngadi jadi lambe turah! Perkara cium kening dikit mah gak apa-apa, yang penting kaga nyosor kaya soang! Noh si Ain dulu cium-cium bibir si Mail sebelum kewong!" Alan berucap membuka Aib sang adik ipar.
"Apaaa?!!" kaget Baba Jafran dan juga Ayah Fahri.
"Situ yang emberrrrrr....!" geram Husain sambil mengacak-acak wajah Alan.
"Hoeeekkk... Hoeekkk..."
Husain kembali muntah ketika makanan mulai disajikan, tanpa sengaja dia muntah dipangkuan Alan.
"Husain bin Fahri.........!! Ente pikir ana kloset! Umiiii........!! Jijiiiikkkk!!" rengek Alan.
Akhirnya Alana membawa Husain agak menjauh dari tempat makan, mereka duduk diluar untuk mencari udara segar.
"Abang kecapean deh ini pasti!" Alana memijat lembut bahu suaminya.
"Gak tau yank, perut Abang mual banget! Apalagi pas tadi nyium bau ayam bakar, rasanya perut Abang kaya di obok-obok," Husain menyandarkan kepalanya dibahu sang istri.
"Haaah?? Abang kan paling seneng ayam bakar, kita makan ya! Abang mau makan apa?" tanya Alana dengan lembut.
"Abang mau itu aja," tunjuk Husain pada pohon mangga disana.
"Haaaaa???" Alana melongo tak percaya.
"Tapi mau si Maul yang ambilin," lirih Husain.
Dengan terpaksa Alan mau mengambilkan mangga muda itu, setelah Alana mengancam akan menghasut Theresia untuk meninggalkannya lagi.
"Sialan! Gue yakin 200%, kecebong si Ain lagi berevolusi didalem kandang! Dasar kecebong gak tau diri, baru mau nonghol aja udah nyusahin!" gerutu Alan.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤