Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Si Alan


__ADS_3

Sebuah mobil Pajero Sport mulai memasuki parkiran kampus Universitas Pasundan, seorang laki-laki berwajah lumayan tampan dengan perawakan yang tinggi membuat setiap mahasiswi disana terpesona. Siapa lagi jika bukan Aidan Alan Putra Maulani, seorang mahasiswa yang sudah mampu mendirikan usahanya sendiri bahkan dia mampu menghandle seluruh usaha yang dimiliki keluarganya. Alan terlihat sempurna dimata semua wanita, hanya satu hal kelemahannya. Gesrek! Begitulah orang menyebutnya, dia adalah laki-laki yang sangat konyol. Bahkan Alan sering menjahili teman-teman hingga dosen di kampusnya.


Alan berjalan dengan gagahnya, dengan kacamata bertengger diatas hidungnya.


Pluk!


Kotoran burung berhasil mendarat dikepala lelaki yang sok tampan itu.


"Aih! Dasar manuk kampungan! Modol mah di WC lain na sirah aing!" kesal Alan memaki burung yang sudah mengotori kepalanya.


"Hahahahaha rasain lu! Makanya kagak usah sok kecakepan dah," sahut Lula.


"Emang gua mah kasep! Tu burung aja kagak diajarin etika, masa iya buang aer dikepala gua! Dikata closet kali!" gerutu Alan sambil berjalan menuju kamar mandi.


Semua orang menertawakan nasib yang menimpa Alan, membuat Alan semakin kesal. Niatnya untuk tebar pesona terpatahkan oleh seekor burung. Seperti mahasiswa lainnya, Alan juga memiliki sahabat dekat dikampus. Namanya Lula Anastasia Putri, dia adalah salah satu teman Alana, Husain dan juga Cyra saat SMA. Namun dia mengenal Alan saat kuliah, karena Alan bersekolah SMA di Singapore. Lula adalah perempuan setengah jadi, begitulah kata Alan. Pasalnya Lula memang tomboy sejak dulu, bukan tanpa alasan tapi karena Lula ingin terlihat dimata sang Ayah.


Lula menunggu Alan didepan kamar mandi laki-laki.


"Lu pasti lagi nungguin sialan," ucap Iwan salah satu teman sekelas mereka.


"Si Alan, bukan sialan! Lu kalo didenger orangnya mampus lu!" ucap Lula.


"Halaah bodo amat! Jadi lu pacaran gak sih sama si Alan? Nempel mulu udah kaya perangko, atau jangan-jangan friendzone ya!" ucap Iwan sambil merangkul Lula.


Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara Alan yang sedang kesal.


"Eh iwan markowan temennya bakwan! Sembarangan maneh kalo ngomong! Gua mana mau sama makhluk kaya si Lula, dia kan setengah jadi!" ucap Alan mengapit kepala Iwan diketiaknya. Lula sedikit meringis mendengar ucapan Alan, tapi dia sudah terbiasa dengan semua itu. Lula mengerti jika dirinya memanglah bukan tipe yang diinginkan Alan.


"Yee siapa juga yang mau sama elu! Udah sok TP, tukang modus, gesrek lagi!" sahut Lula.


"Beuhhh cocok dah udah lu bedua! Yang satu gesrek yang satu gasruk!" celetuk Iwan membuat Alan dan Lula menggetok-getok kepala Iwan.


Mereka memang terbiasa bercanda seperti itu, Alan memang orang yang tidak pernah pandang bulu. Dia selalu bebas berteman dengan siapapun, mau dia kaya atau miskin. Itu  semua tak jadi tolak ukur Alan dalam berteman. Mereka bertiga segera masuk kedalam kelas, karena hari ini mereka ada jam kuliah dengan dosen killer yang bernama bu Ane.


"Selamat pagiii semua... Pagi yang cerah untuk..." ucapan Bu Ane terpotong.


"Jiwa yang sepi! Lagu peterpan bu!" celetuk Alan membuat semuanya tertawa.


"Hey anak muda! Kita bukan lagi tebak lagu! Hari ini kita ULANGAN!" ucap Bu Ane.


"Huuuuuu," sorak para mahasiswa.


Bu Ane tersenyum jahat ketika melihat mereka semua lesu mendengar kata ulangan.


"Bu kenapa sih kalo ulangan itu selalu dadakan kaya tahu bulat? Coba kalo ada persiapan, kaya bikin sambel. Dadakan juga pasti enak bu!" celetuk Alan membuat mereka lagi-lagi tertawa. Bu Ane menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar celetukan Alan.


"Si Alan! Kamu itu tiap ibu ngomong pasti nikung terus!" kesal Bu Ane.


"Bu jangan mengumpat! Pamali tauuu, gak enak kan bu ditikung? Sama saya juga bu, apalagi kalo ditikung sama temen. Beuuhhh sakitnyaa buu, disini!" ucap Alan sambil menunjuk dadanya.


"Kita bukan lagi sesi curhat Alaaaan! Kita mau ulangan!" ucap Bu Ane.


"Yaudah bu, ayolah kita ulangan! Ibu malah ngomel terus daritadi!" jawab Alan.


Sepeti itulah kehidupan Alan dikampus, berbeda ketika dia sedang menjadi seorang pengusaha. Alan sangat serius dalam bekerja, namun sifat gesreknya itu bisa berkurang jika dia sedang bersama dengan clientnya. Selesai kuliah, Alan bergegas untuk ke cafe milik orangtua mereka. Dia harus mengecek laporan setiap bulannya.


Sedikit cerita, hotel yang dimiliki Fahri, Andi dan juga Jafran kini akan dipegang oleh Alan. Karena yang lain tidak mau repot, selain itu Alan memang mampu menangani semuanya. Sedangkan toko kue dan cafe milik Bunda Gisya, Ummi dan Mama Febri kini sudah dibagi menjadi 3 bagian. Milik Cyra, Alana dan Husain, sedangkan Alan menggabungkannya bersama Alana. Tapi tetap saja, kembali lagi semuanya dikelola oleh Alan. Mereka sangat mempercayakan segalanya pada Alan. Meskipun sedikit kerepotan, tapi Alan tidak pernah mengeluh. Dia memang tipe orang yang gila kerja, dibanding harus nongkrong-nongkrong tidak jelas dia lebih memilih untuk bekerja mengecek laporan dari setiap bidang usahanya. Belum lagi Alan harus selalu bolak balik Bandung Bogor, untuk mengecek hotel yang mereka miliki.


Alan sedang duduk dimeja kerjanya sambil melihat setiap laporan yang diterimanya. Dia sedang mengerjakan project terbaru cafe milik Cyra yang akan bekerja sama dengan outlet milik Thoriq yang menjual berbagai macam jenis coffe.

__ADS_1


Tok tok tok


"Permisi Mas Alan, ada Mas Thoriq menunggu di rooftop." ucap salah satu pegawainya.


"Okee! Tengkyuu, bentar lagi saya keatas," jawab Alan tanpa menoleh sedikitpun.


Dia membuka ponselnya dan menghubungi Cyra, dia meminta Cyra untuk datang ke cafe.


💌 to Mermaid


Cyraaaaaaaa! Ke cafe sekarang! Ditunggu 15 menit dari sekarang! Kalo telat, aku  goreng semua ikan-ikan kesayangan kamu dicafe!


Sementara itu disisi lain, Cyra baru saja selesai membereskan pakaiannya. Rencananya dia akan ikut pesantren, dan akan tetap melanjutkan kuliahnya. Awalnya Cyra dan Alana sama-sama satu kampus di Universitas Pendidikan Indonesia, hanya saja dengan jurusan yang berbeda. Alana dengan jurusan Tata Busana dan Cyra dengan jurusan Tata Boga. Tapi kini Cyra ingin melanjutkan pendidikan di pesantren saja, dia ingin memperdalam ilmu agamanya saja. Meskipun Cyra juga masih ragu-ragu.


Cyra membuka pesan yang baru saja masuk pada ponselnya, matanya sungguh terbelalak kaget. Cyra memang sangat menyukai ikan hias, hingga dia mempercantik cafe nya dengan kolam cantik yang menurutnya menenangkan. Tanpa mengganti bajunya, Cyra langsung membawa kunci motor yang sudah lama tidak dipakainya.


"Si Alan! Awas aja kalo kamu berani goreng ikan-ikan cantikku, aku bikin kamu jadi perkedel!" kesal Cyra menggerutu dalam motornya.


"Siapa yang sialan, Neng?" tegur salah satu pengendara motor dilampu merah.


"Eh saya bilangnya si Alan pak, temen saya. Bukan ngomong sialan," ucap Cyra tersenyum canggung.


Setelah lampu berubah menjadi hijau, Cyra segera menggas motornya agar cepat sampai. Tanpa melepas helm dikepalanya, Cyra mencari keberadaan Alan. Setelah menemukannya, Cyra langsung menjambak rambut Alan dengan kencang.


"Dasar kamu ya! Awas aja kalo kamu berani goreng ikan-ikan cantikku! Aku buang kamu ke dasar laut, biar jadi makanan paus!" kesal Cyra sambil menjambak rambut Alan.


"Awwww! Awwww! Sakiitttt! Lepas! Gilaa ya, siapa juga yang mau goreng ikan kamu!" rintih  Alan sambil mencoba melepaskan jambakan Cyra.


"Halah, tadi apaan maksudnya kirim pesen kaya gitu! Kalo mau nyuruh dateng gak usah ancem-ancem gitu deh!" geram Cyra semakin menjambak Alan.


"Yaa Allah Cyra! Lu jambak siapa?" ucap suara laki-laki yang membuat Cyra menoleh.


Deg!


"Dasar cewek gila! Sakit tau!" kesal laki-laki itu.


"Mas Thoriq gak apa-apa?" tanya Alan menghampiri Thoriq dan sebisa mungkin menahan rasa ingin tertawanya saat melihat Thoriq dijambak oleh Cyra.


"Rontok rambut saya kalo dijambak gerandong kayak gitu!" kesal Thoriq yang terus mengusap-ngusap kepalanya yang terasa perih.


"Hahahahaahahahahah," Alan sudah tak kuasa menahan tawanya.


Cyra yang kesal bercampur malu, segera menjambak rambut Alan dan membawanya masuk kedalam kantor yang memang tempat mereka memeriksa laporan.


"Awww... Awwww... Sakit mermaid! Gila ya lu!" rintih Alan.


"Sialan kamu Alan! Bikin aku malu!" kesal Cyra semakin menjambak rambut Alan.


"Yee salah sendiri! Ngapain main jambak-jambakan, mending juga cubit-cubitan biar kaya lagu!" celetuk Alan sambil mengusap kepalanya yang sakit.


"Alaaaaaannnnnnnn!!!" kesal Cyra. "Berasa gak punya muka tau!" Lirih Cyra.


"Itu muka masih nempel! Mana ada orang gak punya muka, kecuali kalo udah jadi setan! Emangnya kamu setan?" Celetuk Alan.


"Kamu yang setan! Ah udah lah kamu  emang gak ngerti bahasa manusia!" Kesal Cyra lalu akan pergi meninggalkan Alan.


"Ehhhh! Tunggu markonah! Meeting dulu diatas sama Mas Thoriq! Sekalian minta maaf noh! Main cabut aja," ucap Alan sambil menarik tangan Cyra.


"Si Alaaaan! Aku maluuuuu! Tau gak MALU!" rengek Cyra pada Alan.

__ADS_1


"Udah tenang aja! Mas Thoriq mah baik," ucap Alan sambil menarik Cyra untuk pergi ke rooftop dimana Thoriq menunggu mereka.


Karena malu bercampur takut, Cyra bersembunyi dibelakang tubuh Alan.


"Ehmm.. Mas Thoriq, maaf ya atas kejadian tadi," ucap Alan pada Thoriq.


"Ya gak apa-apa Mas Alan, bukan anda yang salah. bisa kita mulai meetingnya?" pinta Thoriq tanpa memperdulikan Cyra yang enggan menatapnya.


"Duduk! Kita meeting dulu sekarang!" Bisik Alan pada Cyra.


"Ogah! Masa meeting pake baju tidur! Semua gara-gara kamu!" bisik Cyra kesal.


"Udah duduk aja dulu!" ucap Alan memaksa Cyra untuk duduk.


Alan dan Thoriq terus membahas project mereka, sedangkan Cyra sudah tidak betah duduk disana. Selain malu, Cyra juga masih ketakutan saat bertemu dengan orang baru.


"Kamu setuju kan sama project ini?" tanya Alan pada Cyra.


"Iya aku ikut aja," jawab Cyra asal menjawab.


"Oke berarti kedepannya kamu sama Mas Thoriq akan sering ketemu ya!" Ucap Alan.


"Loh maksudnya gimana? Kan semuanya kamu yang ngurus," heran Cyra.


"Berarti anda tidak menyimak pembahasan kami tadi," ucap Thoriq dingin.


"G-gak gitu! Aku nyimak kok!" elak Cyra gugup.


"Yaudah kalo kamu nyimak berarti setuju ya!" Sahut Alan.


"Aku kan mau berangkat pesantren Alan! Gimana bisa luangin waktu," ucap Cyra.


"Kan Mas Thoriq..." ucapan Alan ditahan oleh Thoriq.


"Jangan menggunakan pesantren sebagai alasan, kamu bisa ijin untuk sekedar meeting. Lagian kamu bukan pelajar, jadi waktu kamu tidak akan sepadat pelajar," ucap Thoriq.


Cyra tidak bisa lagi sekedar menjawab ucapan Thoriq, dia hanya bisa menatap Alan dengan tatapan tajamnya. Tentu saja setelah Thoriq pergi, Cyra seperti seekor singa yang akan menerkam mangsanya. Sedangkan Alan menelan ludahnya kasar.


"Dasar si Maul si Alan!" geram Cyra mengumpat dalam hatinya.


"Bukan salah aku kan?" ucap Alan dengan polosnya dan Cyra mengepalkan tangannya.


"Waduh salah ngomong nih gua, sama aja kayak bangunin Ummi gua, eh singa maksudnya! Gua harus lari, gua harus lari," ucap Alan dalam hatinya.


1


2


3


"Si Alaaaaaaannnnnnnnnnnnnn.......!!!!" teriak Cyra saat melihat Alan kabur.


* * * * *


Maaf ya kalo ceritanya garing 😄✌


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2