
Setelah melakukan operasi transplantasi jantung, kini kondisi Theresia sudah mulai membaik. Tak ada reaksi alergi ataupun komplikasi, makanya kini Theresia sudah mulai dipindahkan ke ruang rawat biasanya.
"Kak jadi kapan kita pulang?" tanya Theresia.
"Sabar ya, Dek. Setelah dokter memastikan kondisi kamu, pasti kita bakalan pulang ke Indonesia," jawab Thoriq seraya mengelus kepala Theresia.
"Teh Shanum belum kesini? Rere mau pipis," ucap Theresia sambil menanyakan Cyra.
"Ada diluar, biar Kakak panggilkan," ucap Thoriq.
Karena pekerjaan, Alan harus kembali ke Indonesia. Sedangkan Cyra, memaksa untuk menyusul ke Singapore. Tentu saja bersama Baba dan Ummi Ulil. Mereka menemani Thoriq dan Cyra untuk menjaga Theresia. Sungguh Thoriq merass beruntung, bisa masuk kedalam keluarga ini.
Dengan langkah cepat, Cyra berjalan menuju ranjang Theresia.
"Re, katanya mau pipis? Ayo Teteh bantu!" ucap Cyra sambil mendudukkan adiknya itu.
"Hehehe maaf ya Teh, Rere jadi ngerepotin!" sahut Rere sambil tersenyum.
"Apaan sih! Rere kan adiknya Teteh, jadi gak mungkin ngerepotin," ucap Cyra sambil memapah tubuh Theresia ke kamar mandi.
"Makasih ya, Teh Shanum!" ucap Theresia sambil duduk diatas kloset.
"Teteh tinggal ya! Kalo udah jangan lupa panggil," ucap Cyra dan Theresia mengangguk.
Sudah sebulan ini, Theresia mendapatkan perawatan disana. Tabungan yang dimiliki oleh Thoriq benar-benar terkuras. Untungnya Alan membantu biaya mereka selama di Singapore. Bahkan Alan membayar sebagian biaya rumah sakit Theresia. Karena telah lama terbaring, membuat tubuh Theresia sedikit kaku. Maka dari itu, Theresia selalu melakukan therapy agar dirinya cepat bisa pulih.
Didalam kamar mandi, Theresia termenung menatap kaca. Dia kembali mengingat kata-kata seseorang yang kemarin masuk kedalam ruang rawatnya.
"Hidupmu bukan milikmu, karena kamu telah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidup oranglain. Bahkan kamu juga mengambil cinta miliknya, selamat Theresia. Jaga dirimu baik-baik, jangan biarkan dia merasaka kematian untuk kedua kalinya,"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Theresia.
"Re, kamu baik-baik aja kan?" teriak Cyra dari luar.
"Iya Teh, sebentar ya! Rere mules," jawab Theresia tak ingin membuat Cyra khawatir.
"Yaudah, kalo udah selesai jangan lupa panggil, ya!" pinta Cyra.
"Iya Teh," sahut Theresia.
Deg!
Jantung Theresia tiba-tiba berdegup kencang, ketika dia mendengar suara yang tak asing ditelinganya. Suara seorang laki-laki yang selalu menemaninya, berceloteh dan menemani Theresia dialam bawah sadarnya. Perlahan Theresia tiba-tiba menangis sesegukan, hatinya tiba-tiba terasa sakit.
"Ada apa dengan diriku ini? Kenapa hatiku sakit sekali?" isak Theresia.
Cukup lama Theresia menenangkan diri, dia lalu berteriak memanggil Cyra. Dengan sigap Cyra masuk kedalam kamar mandi, dan memapah tubuh Theresia. Namun ada yang berbeda, Cyra melihat mata Theresia sedikit sembab.
"Kamu nangis, Re?" tanya Cyra saat mereka berada diujung pintu.
"I'm oke, Teh. Nanti aku cerita kalo Kakak udah pada pulang," ucap Theresia.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, membuat Alan menoleh pada Theresia. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada gadis yang sangat dicintainya itu.
"Hai ijem! Gimana kabar kamu?" tanya Alan sambil membantu Cyra memapah Theresia.
"Baik, A! Geli gua denger lu ngomong aku kamu!" ucap Theresia bergidik ngeri.
"Ih! Lu jadi cewek kagak ada romantis-romantisnya sih! Ya namanya sama pacar sendiri, kalo panggilnya jadi aku kamu gak apa-apa kaleee," ucap Alan sambil mengacak rambut Theresia yang dicepol keatas.
Deg!
Kembali jantung Theresia berdegup kencang, dan lagi-lagi hatinya sangat sakit mendengar ucapan Alan. Tanpa sadar, Theresia memegangi dadanya. Sontak hal itu membuat semua orang panik dan menghampiri Theresia.
"Kamu gak apa-apa kan, Re?" tanya Cyra yang khawatir.
"Jem! Kamu kenapa ijem? Dada kamu sakit? Mana lagi yang sakit?" panik Alan.
__ADS_1
"Dek! Kakak panggil dokter, kamu tunggu dulu disini!" ucap Thoriq.
"I'm okey, Kak! Cuman agak deg-degan aja, namanya juga ada pacar!" ucap Theresia sambil tersenyum kearah mereka.
"Yaa Allah, kamu bikin jantung akang ampir copot! Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Re. Aku takut," lirih Alan memeluk Theresia.
Pelukan Alan membuat hati Theresia semakin tak karuan.
"Aku harus mencari tau, siapa yang sudah terjadi pada diriku ini," batin Theresia.
* *
Matahari siang sudah mulai terik, seorang gadis sedang menggerutu kesal karena sang sahabat malah pergi meninggalkannya begitu saja. Dia adalah Indira, putri bungsu Ayah Fahri dan juga Bunda Gisya.
"Dasar Carel gilaaaaaa......!" kesal Indira sambil menendang sebuah kaleng minuman yang ada dihadapannya dengan kencang.
"Awww!" teriak seseorang membuat Indira menghentikan langkahnya.
Dengan gugup, Indira berbalik arah dan berjalan dengan cukup cepat.
"Ayo, jalan cepet Dira! Jalan cepet Dira!" gumam Indira sambil terus berjalan.
"Heit! Mau kemana lo!" ucap laki-laki itu memegangi tas gendong Indira.
"Apaan sih! Lepasin!" ucap Indira tanpa menoleh.
"Lo kan yang tendang ni kaleng?" tanya laki-laki itu sambil memperlihatkan kaleng ditangannya.
Indira sangat gugup, ini pertama kalinya dia berbicara dengan seorang laki-laki selain sahabatnya, Carel. Indira memang anak yang tertutup, dan menjaga pergaulannya.
"Jawab gue! Lo kan yang nendang ni kaleng?!" bentak laki-laki itu.
"Mmmm.. Ituu, itu... Sorry! Aku gak sengaja," jawab Indira masih enggan berbalik.
"Lo ngomong sama gue? Apa sama angin?" ketus laki-laki itu membuat Indira berbalik.
Deg!
Begitulah tanggapan laki-laki itu ketika pertama kali melihat Indira. Gadis berjilbab, bertubuh mungil dan memikiki mata yang indah.
"Aku kan udah minta maaf, boleh lepasin tas aku?" tanya Indira.
"Lo harus tanggung jawab! Kepala gue benjol ini," ucap laki-laki itu sambil memperlihatkan kepalanya yang benjol karena lemparan kaleng.
"Haaah?? Yaudah ayo ke klinik!" ajak Indira dan laki-laki itu menggeleng.
Indira mengerenyitkan dahinya, dia heran melihat laki-laki dihadapannya itu.
"Gue gak butuh ke klinik, gue cuman mau lo temenin gue selama di kampus! Gue anak baru disini," ucap laki-laki itu.
"What? Sorry, aku gak bisa! Kamu bisa cari temen laki-laki yang bisa nemenin kamu selama di kampus, aku gak terbiasa dengan laki-laki yang bukan mahramku," tolak Indira.
"Gue cuman butuh temen, lagian gue gak akan ngapa-ngapain lo!" ketus laki-laki itu.
Mendengar ucapan laki-laki itu, Indira kemudian mengingat Carel sahabat somplaknya.
"Mm, gini aja! Aku ada sahabat sekaligus sodara, namanya Carel. Biar dia yang bakalan nemenin kamu selama di kampus," ucap Indira membuat laki-laki itu tersenyum.
"Oke gak masalah! Nama gue Athaya Putra Rahadian, nama lo siapa?" tanya laki-laki bernama Athaya itu sambil mengulurkan tangannya.
"Nama aku, Indira. Indira Myesha Kirania Syafa," jawab Indira dengan tangan didada.
"Mmm okey, Kirania. Boleh kan gue panggil lo itu?" tanya Athaya.
"Terserah! Sekarang lepasin tas aku," ketus Indira.
"Oke gue lepas! Besok gue tunggu lo didepan kampus," ucap Athaya dan Indira mengangguk.
Tanpa berpamitan, Indira melenggang pergi sambil mendengus kesal.
"Semuanya gara-gara Careeeeellllll.....!" kesal Indira lalu dia memberhentikan taksi.
__ADS_1
"Ke Ariella Boutique di jalan Riau, Pak," pinta Indira pada sang sopir.
"Siap, Neng!" jawab sopir tersebut.
Hari ini Indira sudah berjanji pada Elmira, bahwa dia akan menemani Elmira untuk fitting baju pengantin. Sebab Mirda sudah berangkat satgas ke Papua, hingga Mirda tak bisa menemani Elmira untuk fitting baju pengantin mereka.
Kring
Suara bel yang ada didepan pintu butik Alana berbunyi, menandakan ada tamu yang masuk. Alana melihat wajah Indira yang memerah, entah kepanasan entah kesal.
"Kamu kenapa, Dek? Wajah kamu merah banget perasaan!" tanya Alana sambil memberikan sebotol air mineral kemasan.
"Si Carel kutu kupret itu kesini gak Teh? Masa dia ninggalin aku! Mana cuaca panas banget lagi! Dan sialnya aku ketemu komodo air yang modus semodus modusnya! Awas aja si Carel, kalo ketemu aku jadiin umpan paus!" geram Indira membuat Alana tertawa.
"Sabar, sabar! Kayaknya si Carel dipanggil Papa, gak tau masalah apalagi yang dia buat. Soalnya tadi Papa nelpon Teteh juga nanyain Carel," ucap Alana mengelus pundak Indira.
Ceklek
Ruang fitiing room terbuka, Elmira tampak cantik dengan gaun pengantin yang pas bagi muslimah. Alana dan Indira bersorak bahagia, karena Elmira tampak malu-malu.
"Ciee mau pengantenan cieeee," goda Indira pada sang Kakak.
"Ish! Bagus gaakkkk?" tanya Elmira sambil memutar tubuhnya.
"Cantik! Bagus! Alana gitulooooh," ucap Alana memuji diri sendiri.
"Asli the best banget kamu, Kak! Gaun pengantin yang itu punya siapa, Kak?" tanya Indira sambil menunjuk sebuah gaun pengantin yang terpajang disana.
Alana menghampiri gaun tersebut, dan menatap dengan tatapan sendu.
"Gaun ini aku bikin buat pernikahanku sendiri, sayangnya sampe sekarang belum ada jodohnya," ucap Alana sambil tertawa hambar. Elmira dan Indira saling menatap.
"Apa Bang Ain belum kasih kamu kepastian, Alana?" tanya Elmira dan Alana menggeleng.
"Mungkin, aku bukan jodohnya Kak. Hati aku aja masih terus bertanya, sebenernya gimana hubungan aku sama dia itu," ucap Alana sambil memandang gaun pernikahan itu.
"Kalian harus bertanya pada hati kalian masing-masing, jangan sampai akhirnya kalian malah melukai diri sendiri. Percayalah Teh, tulang rusuk gak akan ketuker sama tulang taleng yang dijual mamang seblak," ucap Indura membuat mereka tertawa.
Sejak kejadian tadi siang, Indira dan Elmira semakin kesal pada Husain yang masih saja menggantungkan status hubungannya dengan Alana.
"Dasar buaya buntung!" ketus Indira saat melihat Husain yang baru saja pulang kantor.
"Bukan buaya buntung, tapi biawak gendeng!" ketus Elmira menatap Husain.
"Woah, woah, ada apa aya naon? Kenapa tiba-tiba Abang mendapatkan serangan fajar?!" tanya Husain yang bingung dengan Kakak dan adiknya itu.
"Perempuan itu yang dibutuhin kepastian! Teh Alana diembat orang, mampus kamu Bang! Dira yang pertama kali akan bertepuk tangan kalo Teh Alana di lamar orang," ketus Indira.
Sontak Husain memelototkan matanya menatap Indira.
"Heh anak kecil! Maksudnya apaan nih?" kesal Husain.
"Enak aja! Dira bukan anak kecil lagi ya, Bang! Abang tanyain aja sama diri Abang, sama hati Abang sendiri. Digantung dengan status gak jelas itu sakit, Bang! Teh Alana juga butuh kepastian, dia itu siapanya Abang?!" kesal Indira lalu meninggalkan Husain.
"Kakak bisa jelasin?" tanya Husain menatap Elmira.
Perlahan Elmira menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Tadi siang, Dira nanya gaun pengantin yang terpajang disana milik siapa. Dan Alana jawab, itu gaun pernikahan buat dia suatu saat nanti. Karena sampe saat ini belom ada jodoh yang datang untuk Alana. Menurut Kakak, kamu harus kasih kepastian ke dia Bang! Jangan digantungkan seperti itu, kayaknya sebutan anak kecil lebih pantas buat kamu! Bukan buat Dira! Kamu tanya hati kamu deh, Bang!" ucap Elmira lalu meninggalkan Husain yang termenung.
Semoga seseorang yang kau ingini tak lagi datang dan pergi hari ini. Karena apa lagi yang lebih menyakitkan dibanding dibuat nyaman tanpa kepastian. Ada yang rela bersabar demi sebuah kabar, ada juga yang rela berkorban mati-matian demi sebuah kepastian. Sebab itu menunggu tak selalu jadi pilihan tanpa adanya kepastian, menunggu hanyalah harapan semu yang mengikis hati dalam penantian.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1