Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 88. Jogjakarta


__ADS_3

Perjalanan Magelang-Jogjakarta cukup membuat tubuh Gisya dan anak-anak lelah. Sepanjang perjalanan mereka tertidur, sedangkan Febri larut dalam pikirannya sendiri. Zaydan mengerti perasaan calon istrinya itu, dia menggenggam erat tangan Febri.


"Apa kamu masih ragu untuk menikah denganku? Apa kamu belum bisa menerima kehadiranku?" tanya Zaydan membuyarkan lamunan Febri.


Febri menatap dalam calon suaminya itu, dia membalas genggaman Zaydan.


"Semuanya gak mudah buat aku, Mas. Tolong selalu yakinkan aku, kalo aku gak pernah salah udah memilih kamu menjadi pendamping hidupku." ucap Febri.


"Mas akan selalu meyakinkanmu, terimakasih sudah mau menerimaku. Aku mencintaimu Nursyifa Febriani. Dan aku yakin akan hal itu." tegas Zaydan.


"Aku tau Mas, berikan aku waktu untuk membalas kata cinta darimu." ucap Febri dengan senyuman yang mampu meneduhkan hati Zaydan.


Mereka sampai di Jogjakarta, tepatnya di Ruko yang selama ini ditempati oleh Febri. Yuliana membulatkan matanya, ketika melihat Ruko yang ramai oleh pengunjung.


"Waw, its so amazing! Gilak kamu, Biw! Keren banget bisa buka toko sebesar dan seramai ini! Aku bangga, demi apapun aku bangga!" ucap Yuliana mencubit pipi Febri.


"Sakit! Main cubit-cubit aja, udah yuk masuk!" ajak Febri menggandeng tangan Gisya.


"Dih! Si Caca aja di gandeng, aku mah enggak!" ucap Yuliana merajuk.


"Abis kamu nya gandeng, ngomong wae!" kesal Febri.


"Ini teh di Jogja, meni Endonesaan atuu Biw." bisik Yuliana.


Gisya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu. Febri memperkenalkan mereka pada pegawainya satu persatu.


"Ini namanya Ayu, dia dan suaminya yang selama ini bantuin aku buat mengembangkan semua usaha ini. Tanpa dia mungkin aku gak akan maju seperti sekarang." ucap Febri.


"Mbak Ebiw bisa aja, hai semuanya. Saya Ayu, kalo Cyra biasanya memanggil saya auntie Ayu. Semoga betah ya selama disini, kalo perlu apa-apa bisa hubungi Ayu. Selama ada Ayu semua pasti beres." ucap Ayu memperkenalkan dirinya seperti iklan.


Yuliana yang memang notabenenya humoris, sangat antusias untuk memperkenalkan dirinya. Dia merasa jika Ayu memang satu jenis dengannya.


"Terimakasih Ayu, sudah menjaga dan menemani sahabat kami dengan baik. Oh ya, nama saya Yuliana biasa dipanggil Teh Ulil. Saya ibu dari dua bocah kembar ini, namanya mereka Alan dan Alana. Mohon bantuannya untuk menjaga mereka selama kami disini ya, auntie Ayu." ucap Yuliana dengan suara yang dibuat-buat.


"Maaf Teh Ulil, kok saya jadi ingetnya nama produk Teh Pucuk ya." ucap Ayu polos.


"Saya memang Ratunya ulet Ayu!" jawab Yuliana yang membuat mereka tertawa.


Sungguh dalam hatinya, Gisya bersyukur jika sahabatnya ini banyak yang menyayangi. Terlebih ketika Febri jauh dari mereka.


"Kalo Mbak yang cantik dan anggun ini, siapa namanya?" tanya Ayu menunjuk Gisya.


"Ih Ayu! Giliran dia dibilang cantik dan anggun, giliran saya produk minuman!" kesal Yuliana. Ayu tertawa melihat Yuliana yang merajuk.


"Maaf Teh Ulil, saya kira kita satu spesies! Gak ada anggun-anggunnya." jawab Ayu.

__ADS_1


"Hmm iya juga sih! Tapi habitat kita yang berbeda ya, aku mah surabi kamu mah bakpia." ucap Yuliana yang membuat mereka semakin tertawa terbahak-bahak.


"Udah ah! Jadi pengen ngompol nantinya! Haii Ayu, nama saya Gisya biasa dipanggil Caca. Ini dua anak saya, Quera dan Husain. Mohon bantuannya ya Ayu, maaf kalo selama disini kami akan banyak merepotkan Ayu." ucap Gisya dengan lembut.


"MashaAllah, Bunada yang satu ini bicara aja bikin hati adem." tutur Ayu.


"Bunada? Apaan tuh? Bunda kaliii, dia kan dipanggil Bunda." ucap Yuliana.


"Ih, bukan Teh Ulil! Bunada itu Ibu anak dua, berarti cuman Mbak Febri ya yang bunatu. Mudah-mudahan setelah menikah, jadi bunada ya Mbak." ucap Ayu sambil menggandeng tangan atasannya itu.


Febri, Gisya dan Zaydan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar percakapan kedua makhluk yang satu spesies dihadapan mereka ini.


"Bunatu? Ibu anak satu ya maksudnya?" tanya Yuliana pada Ayu.


"Nggih, Teh Ulil. Ngedadak pinter ya kalo gitu." ucap Ayu dengan nada medhoknya.


"Kalo gitu kamu salah, Ayu. Febri itu bunatu, aku bunada, nah si Caca itu bunaga! Orang dia lagi bunting, berarti tuh hasil panen masuk dalam itungan." ujar Yuliana.


"Wow, hebat Teh Caca! Masih muda sudah jadi bunaga, injek kaki Ayu dong Teh. Kata orang zaman dulu, kalo yang belum hamil terus diinjek kakinya sama yang hamil katanya bakalan nular hamilnya." ucap Ayu pada Gisya.


"Hahahaha, Ayu aja-aja ada! Berdo'a Ayu, bukan minta diinjek kaki." Ledek Yuliana.


"Ada-ada aja Teh Ulil! Gitu aja kebolak-bolak." kesal Ayu.


Meskipun itu pertemuan pertama mereka, tapi Ayu memang mudah berbaur dengan sahabat-sahabat atasannya itu. Zaydan sudah kembali ke Rumah dinasnya. Anak-anak tertidur sangat pulas, bahkan mereka belum sempat bermain sama sekali. Mungkin karena perjalanan jauh pertama kali bagi mereka. Suasana Jogja terasa panas, Gisya tidak bisa tidur terlebih suaminya itu tak ada disampingnya. Gisya mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya.


"Assalamualaikum bidadari surga Ayah," ucap Fahri.


"Walaikumsalam, Bunda kangeeeennn banget sama Ayah! Gak bisa bobo nih, Ayah lagi apa disana?" tanya Gisya.


"Kangen bangetlah! Ayah lagi sama Uqi nih, Bun. Sengaja dia bobok disini, soalnya dirumah ada Ina lagi nginep nemenin Bunda." jawab Fahri.


"Eh bulan depan nikah, bilangin jangan banyak ketemu!" ucap Gisya.


"Yeee! Dipingit mah entaran aja bumil, jangan lama-lama di Jogja. Gak ada yang ngurusin keperluan nikahan Uqi nih." ucap Syauqi menyela.


"Gak akan lama, kalo pengajuan nikah Ebiw udah selesai kita pulang." jawab Gisya.


"Lah katanya dua minggu, Bun?" tanya Fahri.


"Itu mah akal-akalan si Ulil aja, Ayah. Kan si Baba bentar lagi Ulangtahun, jadi biar dia ngasih kejutan gitu." jawab Gisya.


"Huh dasar emang pasangan absurd, anak-anak gak rewel Bun?" tanya Fahri.


"Enggak, Yah. Aman mereka mah, apalagi ada aunti Ayu. Dia orangnya asyik, makanya anak-anak sampe betah main sama dia." ucap Gisya.

__ADS_1


"Syukurlah, Bun. Anak-anak memang gak pernah rewel, ya. Hati-hati si kakak, dia belum boleh lari-lari dan cape-cape. Bunda juga, gak boleh kecapean." tegas Fahri.


"Iya Ayah sayang, yaudah Bunda mulai ngantuk nih. Ayah jangan begadang sama si Malik, besok pagi apel kan?" ucap Gisya mengingatkan.


"Iya istriku sayang, mimpi indah ya istriku. Love you more and more." ucap Fahri.


"Love you to, Surgaku." jawab Gisya.


End Call


Niat Gisya untuk tidur dia urungkan, dia menghampiri Febri yang sedang duduk dibalkon. Menatap pemandangan indah di Jogja, semilir angin yang berhembus menambah suasana lebih nyaman. Gisya mengikuti Febri yang sedang menikmati hembusan angin sambil menutup matanya.


"Jogjakarta memang indah, gak salah kamu kabur kesini Biw." ucap Gisya.


"Allahuakbar! Kamu ngagetin aja Ca! Lama-lama kamu ketularan si Ulil!" kesal Febri.


"Hehehe, maaf Udangku!" ucap Gisya merangkul Febri.


Febri menarik nafasnya perlahan, dia mulai menceritakan semuanya pada Gisya.


"Jogjakarta adalah tempat impian aku dan Mas Andi. Kita memang berencana buat hidup disini. Rangkaian impian Mas Andi perlahan sudah mulai aku wujudkan, Ca. Toko oleh-oleh ini salah satu usaha impiannya. Diza adalah gabungan nama kedua orangtua kandung Mas Andi dan kakaknya. Mas Andi, Kak Ardi, Papa Budi dan Mama Zalfa. Aku juga sedang membangun mesjid, yang akan menjadi amal jariyah bagi Mas Andi dan keluarganya." tutur Febri sambil menitikkan airmatanya.


Gisya memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat, sungguh Gisya tidak menyangka jika semua yang dilakukan Febri untuk memenuhi semua impian almarhum suaminya.


"Jodoh, maut dan rezeki itu tidak ada yang tau, Biw. Aku bangga kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu adalah wanita yang kuat, Mas Andi dan keluarganya pasti bahagia di Surga sana. Teruskanlah semua impian kalian, tapi jangan lupakan Mas Zaydan. Biarkan dia mengetahui semua yang kamu lakukan, karena setelah menikah ridho Allah ada pada suamimu." ucap Gisya mengingatkan.


"Apa Mas Zaydan gak akan keberatan, Ca?" tanya Febri.


"Dia mencintaimu bukan? Pasti dia akan menerima setiap keputusan yang akan kamu buat, Biw. Dia akan lebih merasa dihargai kalo kamu mau terbuka sama dia." ucap Gisya.


"Terimakasih, Ca. Aku merasa lebih lega udah ceritain semuanya ke kamu." ucap Febri memeluk Gisya.


"Itulah gunanya sahabat, Biw. Aku dan Ulil akan selalu ada buat kamu, jangan pernah merasa sendiri. Aku masuk duluan ya, ngantuk! Kamu jangan lama-lama diluar, nanti masuk angin." ucap Gisya meninggalkan Febri.


Febri menatap jauh kedepan, dia memeluk dirinya sendiri sambil menikmati angin.


"Di setiap sudut Jogja membawa cerita masing-masing bagi pengunjungnya. Sama seperti aku yang punya cerita impian denganmu Mas Andi. Jogja, izinkanlah aku untuk selalu pulang, menepi sebentar untuk kembali menemukan kebahagiaanku. Jika Candi Prambanan adalah saksi kekuatan cinta yang tak terbalas dari Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang. Maka Jogja adalah saksi bahwa aku masih mencintaimu hingga kini Mas Andi. Akan aku wujudkan semua impian kita disini, di Jogjakarta." batin Febri.


* * * * *


Maaf Author baru Up 🙏


Terimakasih sudah setia menanti cerita Author.


Yang mau kenal Author lebih banyak boleh follow ig author di @rindu.yuliana @nenglia_10

__ADS_1


Dukung Author terus ya ❤🥰


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2