Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | PENGORBANAN IBU


__ADS_3

Percayakah kalian pada do'a seorang IBU?


Ummi Ulil, Bunda Gisya, dan Mama Febri, kini sedang berada di Mushola Rumah Sakit. Sejak dimulainya operasi, hingga kini sudah 10 jam lamanya. Ummi Ulil tidak melepaskan sedikitpun tasbih yang digenggamnya. Dia tidak memperdulikan perutnya yang kelaparan, sebab yang dia inginkan adalah kelancaran operasi putra kesayangannya. Setiap nafas yang dia hembuskan, hanyalah do'a demi keselamatan Alan.


Entah sudah berapa orang membujuknya, tetap saja beliau tidak sedikitpun mengindahkannya.


"Aidan Alan Putra Maulana, Ummi mengandungmu selama sembilan bulan. Ummi juga yang merawatmu hingga dewasa, bukan Ummi tidak ikhlas, Nak. Ummi hanya belum mampu, jika Ummi harus kehilanganmu," batin Ummi Ulil.


Jika Ummi Ulil tengah berdo'a meminta pada yang maha kuasa, lain halnya dengan Thoriq yang kini sedang mempersiapkan makam untuk sang adik. Thoriq sengaja menempatkan makam Theresia tepat disamping makam sang Ayah yang berada dibelakang rumahnya.


"Pa, maafin Thoriq! Aku bukan Kakak yang baik, Pa. Rere meninggalkanku sendirian didunia ini," lirih Thoriq didepan makam sang Papa.


"Kamu gak sendirian, Mas! Aku akan selalu ada disamping kamu," ucap Cyra.


"Pa, lihat kan? Ini istriku, wanita ini sekarang menjadi istriku! Haruskah aku bahagia kini telah menjadikannya milikku?" ucap Thoriq sambil menatap Cyra.


"Mas," lirih Cyra.


Cyra mengerti, Thoriq pasti merasa sangat kehilangan Theresia. Tapi jika Allah sudah memberikan garis takdir, maka siapapun tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah persiapan dirasa cukup, Thoriq dan Cyra kembali ke rumah sakit.


Lampu kamar operasi sudah berubah menjadi hijau, Baba Jafran menghampiri keluarga Alan dan mengatakan jika operasi telah berhasil dilakukan.


"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan sangat lancar. Kita akan melakukan observasi, maka tuan Aidan akan kami tempatkan di ruang ICU pemulihan untuk sementara waktu. Dan hanya satu orang yang bisa mengunjunginya, saya permisi dulu!" ucap sang dokter.


"Alhamdulillah Yaa Allah, terimakasih dok! Terimakasih banyak," lirih Baba Jafran.


Dengan segera, Baba Jafran menghampiri sang istri yang masih setia berdo'a untuk putra kesayangan mereka. Baba Jafran memeluk erat tubuh Ummi Ulil.


"Alhamdulillah sayang, operasi Alan berjalan dengan sangat lancar," lirih Baba Jafran.


"Alhamdulillah Yaa Allah, Yaa Robbi.. Rere, Ummi akan selalu mendo'akan kamu, Nak. Terimakasih atas segala yang telah kamu berikan untuk Ummi," lirih Ummi Ulil.


"Mau bagaimanapun, Rere anak kita juga Ummi. Kita akan selalu mengirimkan do'a untuknya," lirih Baba Jafran.


Jenazah Theresia kini sudah berada di ruang Jenazah, Thoriq terus menangis diatas tubuh sang adik yang sudah tertutupi kain putih. Cyra terus berada disamping Thoriq, untuk menguatkan suaminya itu.


"Malaikatku, pergilah dengan tenang," bisik Thoriq ditelinga Jenazah Theresia.


"Rere, maafin Teteh. Andai saja waktu bisa terulang kembali," lirih Cyra.


Tanpa sengaja, kain penutup jenazah Theresia terbuka. Kedua sejoli itu saling memandang kaget, karena yang mereka lihat bukanlah Theresia.


"Mami?!!!" teriak Thoriq dan juga Cyra bersamaan.


Sambil menangis, Thoriq berlari menuju ruangan dokter yang menangani operasi Alan dan juga Theresia. Sungguh hatinya kini semakin tak karuan, apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa jenazah Mama Thoriq yang ada disana? Kenapa bukan jenazah Theresia? Lalu dimana Theresia? Itulah yang ada dipikiran Thoriq dan juga Cyra.


Braaakk!


Thoriq membuka pintu ruangan dokter begitu saja, hingga membuat sang dokter terperanjat kaget.

__ADS_1


"Dok! Apa yang terjadi dengan adikku?! Kenapa yang aku lihat itu jenazah Ibuku?! Bukan adikku?!!" teriak Thoriq hingga membuat semua orang berdatangan.


"Thoriq! Ada apa ini??" tanya Papa Zaydan yang kebetulan lewat menuju ruang ICU.


"Pa! Jenazah itu bukan Rere, tapi Mami," lirih Thoriq menangis dipelukan sang mertua.


"Sudah tenanglah dulu, kita minta penjelasan pada dokter baik-baik ya," ucap Papa Zaydan.


Cyra menutup pintu ruangan sang dokter, dia duduk mengapit Thoriq dan sang Papa. Dokter itu mulai menjelaskan, kenapa Mama Thoriq yang berada disana.


Flashback On


Mami Rena sedang menjalani hukuman atas laporan putranya sendiri. Siapa sangka, Mami Rena berniat untuk mengakhiri hidupnya. Dia sungguh sangat menyesal telah melakukan kejahatan pada keluarganya sendiri. Bahkan dia telah meninggalkan suami dan anak-anaknya. Mami Rena berniat memotong nadinya sendiri, untung saja pisau itu hanya menggores tangannya hingga penjaga lapas segera membawa Mami Rena pergi ke Rumah Sakit terdekat.


Tanpa sengaja, dia melihat Thoriq yang tengah menangisi kepergian sang adik. Mami Rena merasa sangat bersalah pada kedua anak yang dilahirkannya.


"Pak, tolong bawa saya menemui putri saya," Mami Rena memohon pada penjaga lapas.


"Baiklah, kami akan membawamu kesana," ucap penjaga lapas.


"Tapi jangan biarkan putraku melihatku, dia pasti tidak akan mengizinkanku," lirih Mami Rena.


Akhirnya, Mami Rena dan penjaga lapas meminta izin pada dokter untuk melihat wajah putrinya. Alat monitor ditubuh Theresia belum terlepas, Mami Rena menyentuh wajah putrinya dan menangisi kepergian Theresia.


"Anak Mami, maafkan Mami, Nak. Mami memang bukan ibu yang baik, tapi satu hal yang harus Rere tau. Mami sayang kamu, Nak. Bangunlah sayang, Mami akan lebih rela jika Mami menggantikanmu," histeris Mami Rena.


Tit tit tit


"Dok, bagaimana donornya? Kondisi tuan Aidan sudah sangat kritis," panik suster.


"Saya akan menggantikan Theresia, saya akan mendonorkan semua organ saya demi calon suami anak saya," ucap Mami Rena membuat dokter dan penjaga lapas tercengang.


"Tapi Bu," penjaga lapas mencoba menahannya.


"Pak, saya berdosa terhadap anak-anak saya! Saya ingin menebus kesalahan saya, saya ingin kedua anak saya hidup bahagia! Itu saja," lirih Mami Rena.


Akhirnya sang penjaga lapas menjadi saksi atas pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya. Sungguh dia merasa tidak karuan, tapi keinginan Mami Rena sangatlah mulia.


"Pak saya titip ini untuk kedua anak saya, ya. Tolong bilang sama mereka, kalo saya sangat menyayangi mereka. Dan berharap mereka berdua akan memaafkan semua kesalahan saya," lirih Mami Rena.


"Pengorbanan ibu sangatlah mulia, saya yakin mereka akan memaafkan semua kesalahan ibu. Saya bersaksi, jika ibu adalah orang baik," ucap sang penjaga lapas.


Operasi Mami Rena dan juga Alan sebenarnya berjalan hanya 8 jam, sedangkan 2 jam lainnya digunakan untuk memeriksa seluruh kesehatan Mami Rena. Dan akhirnya operasi pun berjalan lancar, Mami Rena meninggal karena mengalami komplikasi pasca operasi.


Flashback Off


Thoriq kembali menangis sejadi-jadinya, dia merasa sangat bersalah terhadap Maminya. Disisi lain dia bahagia jika Theresia kembali, walaupun dalam kondisi kritis. Disisi lainnya Thoriq merasa sangat bersalah dan kehilangan sang ibu. Walau bagaimanapun, Mami Rena adalah orang yang melahirkannya kedunia ini.


Thoriq berlari keruang jenazah, dia menciumi seluruh wajah sang Mami.

__ADS_1


"Mi! Maafin Kakak ya, Mi. Kakak bersalah sama Mami, terima kasih Mami atas setiap air susu yang mengalir dalam darahku. Tanpa Mami, aku tak akan pernah mampu menghirup udara kehidupan, berteman dengan alam, mengarungi napas dunia bersamamu. Terima kasih karena selalu menyayangiku Mi. Kakak janji akan jaga Rere, pengorbanan Mami terlalu besar untuk kami, Mi. Doaku akan selalu menyertaimu, Mi. Akuu ingin menjadi anak yang berbakti, selalu mengharapkan yang terbaik untuk tempatmu di sana, Mi," isak Thoriq.


Kini liang lahat yang disediakan untuk Theresia, ditempati oleh Mami Rena. Pemakaman telah usai, Thoriq, Cyra dan seluruh keluarga menaburkan bunga mawar dimakam Mami Rena. Thoriq mengusap lembut nisan bertuliskan nama sang Mami.


"Permisi, Pak Thoriq. Saya ingin menyampaikan surat terakhir dari Bu Rena untuk Pak Thoriq dan juga Neng Theresia. Demi Allah, saya menjadi saksi dimana beliau menghembuskan mafas terakhirnya. Saya membawa beliau ke Rumah Sakit, karena beliau berniat untuk mengakhiri hidupnya. Tapi melihat anda menangis, dan mendengar jika putrinya telah tiada membuat dirinya hancur. Bagaimanapun jahatnya beliau, tetap saja beliau adalah seorang ibu. Bahkan karena beliau jantung Neng Theresia bisa berdetak kembali, sungguh semuanya adalah kuasa Allah. Saya mohon, maafkanlah do'akan selalu bu Rena! Hanya itu keinginan terakhir beliau," ucap penjaga lapas.


Thoriq menerima surat itu, dia membacanya diatas makam sang Ibu.


🌺 Anakku Thoriq, Mami mohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan Mami terhadap kamu dan juga Rere. Mami ingin kalian bahagia, Mami tau jika kesalahan Mami mungkin akan sulit untuk dimaafkan. Tapi kali ini Mami mohon, ampunilah Mami dan do'akanlah Mami. Demi Allah, Mami sangat mencintai kalian berdua. Mami merestui hubunganmu dan juga Cyra. Menikahlah, dan berikan Mami cucu-cucu yang senantiasa akan selalu mengirimkan banyak do'a untuk Mami. Anakku, jangan bersedih meski Mami tak bisa memeluk dirimu lagi walau sejenak saja, karena yang perlu kamu tahu, hati Mami memelukmu selamanya.


Setelah membaca surat itu, Thoriq menangis dipelukan sang istri.


"Thoriq udah maafin semua kesalahan Mami, terimakasih atas segala yang sudah Mami korbankan untuk kami. Sayang, ingatkan Mas selalu untuk mendo'akan Mami," lirih Thoriq.


"Tentu saja, Mas! Mami bahkan sudah merestui kita," lirih Cyra.


"Sudah jangan bersedih, kalian istirahatlah dulu. Setelah itu kita balik ke Rumah Sakit buat liat kondisi Rere," ucap Mama Febri.


"Makasih ya, Ma. Makasih banyak, sekarang Mama adalah Mama Thoriq juga," lirih Thoriq memeluk sang mertua.


"Tentu saja sayang, kamu ini anak Mama," lirih Mama Febri.


* * *


Kembali lagi kealam lain, Theresia tengah duduk menatap air danau yang tampak jernih.


"Hei gadis nakal! Pulanglah, kamu harus kembali! Tempatmu bukan disini," ucap seorang laki-laki paruh baya.


"Duuh! Bapak ini ganggu aja sih, tempat aku udah jelas-jelas disini," kesal Theresia.


"Kamu ini benar-benar! Sudah pulanglah, kamu harus menjaga putriku bersama dengan bocah tengil itu!" ucapnya lalu mendorong Theresia kedalam danau.


Theresia tersentak, dia mengerjapkan matanya karena silau melihat cahaya.


"Dokter! Dok dia sudah sadar dok!" teriak suster.


Dokter memeriksa kondisi Theresia, kini gadis itu sudah berhasil melewati masa kritis dalam hidupnya. Dokter sampai menitikkan airmata saat melihat Theresia.


"Nak, pengorbanan ibumu sangatlah besar. Maafkanlah dia, dan berdo'alah untuk dirinya. Hiduplah dengan baik," lirih Dokter.


Ibu adalah lambang kasih sayang, kelembutan, dan cinta. Kasih sayang untuk menyirami kehidupan anak-anaknya, kelembutan yang memeluk anak-anaknya, dan cinta yang menyinari kehidupan anak-anaknya. Hati seorang Ibu itu ibarat sebuah pintu rahasia tempat dimana cinta bersemayam, kasih sayang yang abadi, dan bukan untuk disakiti akan tetapi untuk kebahagiaan sejati. Sekarang othor mengerti, betapa besarnya kasih sayang seorang ibu terhadap anak. Ia rela menghadapi rasa sakit diatas sakit, hanya ingin melihatnya di dunia. πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­


AYO KITA MULAI MEMBIASAKAN DIRI UNTUK MENUNJUKAN KASIH SAYANG KITA TERHADAP IBU πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2