Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Rahasia Alan


__ADS_3

"Woy! Inget umur, inget anak cucu! Maen sosor-sosoran wae kaya soang!"


Alan mencebik kesal ketika melihat kedua insan manusia yang kini usianya tak lagi muda. Tapi dia bersyukur, keluarganya selalu dilimpahkan kebahagiaan. Yang kalian tau, Alan adalah sosok manusia dengan segala kegesrekannya. Tapi percayalah, dia juga hanya manusia biasa yang bisa terluka dan menahan pedihnya hidup.


Aidan Alan Putra Maulana, anak pertama dari pasangan Muhammad Jafran dan Yuliana Puteri Mardiana. Dia anak yang ceria, periang terlebih petakilan. Tapi dibalik semua itu, dia menyimpan sejuta luka dalam hatinya.


Kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu bukanlah hal yang paling berat, ada hal yang jauh lebih berat yang membuat hatinya terluka.


~Flashback On~


Ini adalah tahun pertama Alan memegang kendali penuh atas Hotel milik keluarganya. Dia memiliki seorang sekertaris yang bisa dibilang seumuran dengannya. Dia bisa diandalkan dalam segala hal, terlebih saat itu Alan tengah menempuh pendidikan kuliahnya. Gadis itu bernama, Kimiyuki. Dia blasteran Indonesia Jepang, Ibunya adalah korban pemerkosaan saat bekerja disana. Dia bertekad bekerja keras, untuk mencari keberadaan Ayah biologisnya.


Alan dikenal sebagai atasan yang kejam, dingin dan juga jenius. Memang otak Alan cukup jenius dalam segala bidang usaha, hingga semua usaha milik keluarganya itu bisa maju dengan pesat ditangannya. Siang itu, Alan akan mengadakan meeting dengan beberapa perusahaan untuk memenuhi pelayanan hotelnya. Dimulai dari perusahaan penyuplai air mineral dan bahan baku makanan.


"Permisi, Pak! Rapat akan dimulai 15 menit lagi, ruangan sudah disiapkan dengan baik. Dan ini ada beberapa berkas yang bapak bisa pelajari sebelum meeting," ucap Yuki sambil memberikan berkas itu.


Alan menganggukkan kepalanya, "Hm, baiklah! Terimakasih, Yuki! Kamu bisa kembali ke tempatmu" ucapnya datar.


"Baik Pak, saya permisi!" pamit Yuki.


Lima belas menit kemudian, Alan berjalan dengan gagahnya didampingi oleh Yuki menuju ruang rapat. Semua orang sangat menghormati Alan, meskipun usianya masih sangat muda. Tapi Alan memiliki pemikiran yang jenius dan dewasa, hingga tak mudah dikelabui orang lain.


Rapat berjalan dengan lancar, tak ada kesalahan sedikitpun dalam rapat itu. Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang, maka Alan dan rekanan bisnisnya menyempatkan untuk makan siang bersama.


"Terimakasih Pak Aidan, sudah mempercayakan perusahaan kami untuk bekerjasama dengan hotel Bapak. Kami sangat senang bisa menjalin kerjasama ini, terlebih dengan Bapak yang sangat memiliki berbagai macam ide yang brilian," ucap salah satu Direktur Perusahaan disana.


'Cih, penjilat!' batin Alan.


"Sama-sama Pak, saya juga senang dengan kerjasama ini. Saya masih jauh dari kata jenius, ide-ide itu tercetus begitu saja di kepala saya. Semoga saja kerjasama kita kedepannya selalu dalam keadaan baik, tanpa sesuatu kesalahan apapun! Karena jika ada kesalahan, bisa dipastikan apa yang akan saya lakukan bukan?" ucap Alan dengan nada tegasnya.


Terlihat beberapa dari mereka kesulita menelan ludahnya sendiri, 'Gue dah kaya CEO yang kejam di novel-novel itu gak ya?' batin Alan cekikikan sendiri.


Setelah makan siang, Alan hendak kembali ke ruangannya. Namun ponselnya berdering, Alan terpaksa harus menerima panggilan itu. Dia memilih untuk pergi ke taman hotel untuk menerima telepon. Siapa sangka, tenyata dia mendapatkan laporan jika Alana terluka karena menyelamatkan Cyra yang akan dilecehkan oleh teman kuliahnya.


Hatinya sungguh terluka, sangat terluka. Dua orang yang paling berarti dalam hidupnya, kini berada dalam bahaya. Alan bergegas menuju ruangannya, namun langkahnya terhenti ketika mendengar sekertarisnya itu sedang berbicara dengan seseorang didekat tangga darurat.

__ADS_1


"Kerjamu bagus! Kita akan segera berangkat ke Jepang, perusahaan Pamanku juga sudah bekerjasama dengan hotel ini. Setelahnya kita akan bisa mendapatkan banyak uang, 28 juta itu tidak akan cukup untuk kebutuhan kita berdua sayang! Biarlah dia masuk rumah sakit jiwa, kita akan ancam keluarganya untuk diperas! Hahahahaha."


Alan mengepalkan tangannya, untung saja dia cukup cerdas dengan merekam semua percakapan itu. Setelah itu dia bergegas untuk pergi ke Bandung, hatinya sangat terluka. Terlebih saat sampai disana dia melihat sang kembaran tengah meringis, sebab kakinya terluka hingga harus mendapat 15 jahitan.


Hatinya lebih sakit, ketika kedatangan Husain yang menyebut Alana tidak bisa menjaga Cyra dengan baik. Bukan hanya Husain, tapi batin Alan juga terluka. Sejak kecil Alan sudah sangat menyukai Cyra, hanya saja dia terlalu minder untuk mendekati Cyra. Sebab sejak dulu, Cyra dan Husain seperti tidak terpisahkan.


Melihat Cyra meraung-raung ketakutan, ingin rasanya saat itu Alan berhambur memeluk gadis itu. Tapi lagi-lagi Husain menjadi tameng untuk memeluk erat tubuh Cyra. Dia bisa melihat hati Alana yang terluka, "Are you okay?" tanya Alan pada Alana.


"I'm okay twins," jawab Alana yang berjalan menghampiri Husain dan juga Cyra.


"Pinter banget nyembunyiin perasaan!" gumam Alan yang mengikuti langkah Alana. 'Kita emang satu bali, Alana. Begitupun gue yang terus menyembunyikan perasaan ini untuk Cyra.' batin Alan.


Tanpa ada yang mengetahui, Alan menjebloskan pelakunya kedalam penjara. Tak hanya itu, dia juga menjebloskan sang sekertaris dan memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahan-perusahaan licik itu. Itu hanya pengorbanan kecil Alan, pengorbanan terbesarnya adalah merelakan Thoriq untuk menikah dengan Cyra. Sebab dia bisa melihat tatapan cinta dimata keduanya.


~Flashback Off~


Hingga saat ini, tak ada satupun orang yang mengetahui tentang perasaanya. Kecuali..................... Oma Syifa.


Itulah mengapa Alan sangat terluka, bahkan mencintai Theresia hingga dia mengorbankan nyawa sama sekali belum membuat hati kecilnya melupakan cintanya pada Cyra. Setiap hatinya terluka, dia akan datang pada Oma Syifa dan menangis pada sang nenek. Seperti saat ini, ketika melihat status sosial media Cyra yang mengupload kebersamaan mereka bersama Sweta, bagai keluarga yang bahagia.


"Are you okay, Boy?!"


Baba Jafran membuyarkan lamunan Alan, "Astaghfirulloh! Heran deh, punya emak sama bapak hobi banget bikin anaknya jantungan! Kan kaga lucu kalo Aa mati dalam keadaan bujangan!" kesal Alan.


"Bhahahahaha, Kacian amat anak Baba! Tenang boy, beberapa minggu lagi kamu pasti bisa merasakan kelegitan yang hakiki," ucap Baba Jafran sambil senyum-senyum sendiri.


"Amit-amit, Yaa Allah! Jangan buat Baba hamba jadi gila, Yaa Allah........"


Plakk!


Baba Jafran menabok lengan Alan, "Dasar anak durjanah lu, gini nih kalo lahirnya bersin!" kesal Baba Jafran.


"Hahahahahahaha! Kalo gitu, Alan korong ya Ba! Pas Ummi bersin 'hatcih', Alan langsung oekk oekk... Hahahahaha gak kebayang duh," Alan tertawa memegangi perutnya.


Percayalah, tertawanya orang humoris adalah untuk menutupi semua luka hatinya. Tak dipungkiri, cintanya untuk Theresia cukup besar. Tapi tak sebesar cintanya untuk Cyra, hingga dia tak mampu menampungnya. Hingga dia memutuskan untuk tetap menjadi perisai bagi Cyra, walaupun tak pernah terlihat oleh siapapun. Sebab dia memang meyakini, jika cinta tulus itu tak harus memiliki. Itulah keikhlasan hati seorang Aidan Alan Putra Maulana.

__ADS_1


Singapore adalah tempat yang penuh kenangan bagi Alan, terutama balkon apartement yang sejak dulu ditempati oleh keluarganya. Hanya disana, Alan mengungkapkan seluruh kesedihannya pada bulan dan bintang. Seperti saat ini, saat kerinduannya pada sosok sang Oma yang telah tiada.


"Oma, dulu Oma selalu bilang. Kalo Alan butuh cerita, maka Alan harus ceritakan pada Oma. Sekarang Alan ceritakan semuanya pada bulan dan bintang, sebab Oma seperti mereka. Selalu menerangi Alan dikala hidup Alan terasa gelap gulita. Alan rapuh, Oma. Alan bukanlah laki-laki yang kuat seperti yang mereka katakan, Alan rapuh dengan cinta yang menyiksa ini, Oma."


"Cinta Alan untuk Cyra terlampau besar, hingga Alan pun tak bisa menampungnya. Apaka Alan salah memendam cinta pada perempuan yang kini sudah menjadi istri oranglain?"


Tangisan mulai keluar dari pelupuk mata Alan, dia bebas menangis sebab kedua orangtuanya sedang ada di Rumah Sakit. Mereka bergantian menjaga Ibam.


"Alan pengecut, Oma. Persis seperti yang Oma katakan sebelum pergi meninggalkan Alan! Keutuhan keluarga ini, itu yang akan selalu Alan jaga Oma. Seperti permintaan Oma beserta para bidadari sesepuh, Alan butuh pelukan yang menenangkan, Oma. Alan rapuh! Alan tak sanggup tapi harus sanggup menanggung semua beban ini. Alan butuh pelukan, Oma!"


Grep!


Seseorang memeluk Alan, "Menangislah, jangan ditahan! Laki-laki juga manusia, menangislah agar hatimu tenang! Agar bahumu mampu untuk menopang kembali seluruh bebanmu!"


Mirda dan Elmira berniat untuk mengambil selimut di Apartement Alan, sebab Ummi dan Baba ngotot untuk menunggu Ibam bersama kedua mertuanya. Mereka bisa bebas masuk, sebab sudah mengetahui sandi pintu Apartment itu. Namun siapa sangka, mereka berdua malah mendengar ungkapan hati Alan.


"Ba-bang Mirda, Kak Ra-ra," lirih Alan.


"Menangislah adik kecilku, bebanmu begitu besar. Terimakasih untuk semua pengorbananmu pada keluarga ini," ucap Elmira yang ikut memeluk Alan.


Ketiganya berpelukan, sama sekali tidak terpikir bagi mereka jika Alan mampu menyimpan semua rahasia hati yang begitu besar.


"Berjanjilah, kalian akan menjaga rahasia ini. Seperti Oma, yang menjaga semuanya hingga kematian," pinta Alan sambil menangis terisak.


Mirda dan Elmira mengangguk, "Kamu pun harus berjanji, jangan pernah menyimpan semua bebanmu sendiri. Abang dan Kakakmu akan selalu ada untukmu," ucap Mirda.


Orang humoris belum tentu bahagia. Banyak orang yang menampilkan sisi humoris itu sebagai mekanisme pertahanan diri dari suatu hal yang tidak ingin mereka tunjukan. Seperti Alan, dia orang yang humoris untuk menutupi kesedihan dan rasa sakitnya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2