
Malam ini Gisya sangat bahagia, kedatangan suaminya membuat malam ini terasa lebih hangat. Keluarganya sudah membubarkan diri, mereka ingin memberikan waktu luang untuk keduanya. Bahkan Risma dan Hari memutuskan untuk menginap dirumah Syifa. Fahri sedang berbaring diatas ranjang yang sudah sangat dirindukannya, sementara Gisya sedang membersihkan diri dikamar mandi.
Ceklek
Saat Fahri menoleh kearah kamar mandi sungguh matanya tidak bisa berkedip. Dia melihat istrinya menggunakan baju tidur yang tipis, yang menunjukkan setiap lekuk tubuh istrinya. Gisya berjalan menuju suaminya, lalu duduk dipangkuannya.
"Abang gak kangen sama Adek?" bisik Gisya ditelinga Fahri.
Tanpa menghiraukan ucapan istrinya, Fahri mencium istrinya dengan penuh gairah. Akhirnya mereka melepas rindu, setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Fahri memperlakukan istrinya dengan lembut, dia tau jika ada bayi mereka didalam sana.
Setelah melepas kerinduan yang lama terpendam itu, mereka terlelap tidur setelah melakukan mandi wajib. Sebelum waktu subuh, tiba-tiba Fahri merasa mual-mual, dia langsung berlari kedalam kamar mandi. Gisya yang mendengar suara muntah Fahri, segera menyusul suaminya itu.
"Abang kenapa sih? Masuk angin nih pasti." ucap Gisya sambil memijat punggung Fahri.
"Iya kayanya, Dek. Semalem Abang langsung tidur, lupa keringin rambut." jawab Fahri.
"Yaudah Adek bikinin Abang teh manis anget dulu, Abang sekalian wudhu. Adek pengen sholat berjama'ah sama Abang." pinta Gisya.
Fahri masih harus mengikuti apel pagi, tapi Gisya terus merengek agar diizinkan untuk ikut bersama suaminya itu. Fahri terus membujuk Gisya agar mau menunggu dirumah.
"Sayang, Abang cuman apel pagi. Udah itu Abang pulang, masih ada laporan yang harus Abang buat sayang. Setelah beres semuanya, Abang ikutin semuanya apapun yang Adek mau. Boleh yaa Abang berangkat sekarang?" bujuk Fahri.
"Yakin apapun?" tanya Gisya penuh selidik.
"Iya sayang, apapun itu." ucap Fahri meyakinkan.
Setelah membujuk istrinya, Fahri segera pergi ke Aula untuk melaksanakan apel pagi.
"Gimana istrimu, Ri? Nempel terus ya?" goda Dzikri.
"Iya Bang, barusan aja mau aku tinggal dia gak mau. Malah dia mau ikut apel pagi. Mungkin karena efek hormon kehamilan kali ya, Bang." tanya Fahri.
"Bisa jadi, Ri. Semalam istriku bercerita banyak. Gisya bisa tau kehamilannya karena dia didorong sama Bella istrinya Kemal. Cuman gara-gara gerakan senam, untung aja janinnya baik-baik saja. Indri sama Indra yang nemenin istri kamu, bahkan dia harus dirawat hampir seminggu." ucap Dzikri yang membuat Fahri tersulut emosinya.
"Aku gak ngerti, Bang. Maunya apa sih perempuan itu! Istriku bukan tipe orang yang suka cari gara-gara Bang. Aku harus lapor sama Bu Danyon." geram Fahri.
"Sudah dilaporkan oleh Bu Danki, tinggal menunggu keputusan. Kemal kan masih di Lebanon. Gimana soal Quera? Kamu tetep bakalan bawa dia kesini?" tanya Dzikri.
"Aku bakal bicarain dulu sama istriku, Bang. Bagaimanapun dia sedang mengandung anakku saat ini. Aku gak mau membebankan istriku." Jawab Fahri.
Bella tidak sengaja mendengar ucapan Fahri dan Dzikri mengenai Quera. Bella mengira jika Quera adalah perempuan simpanan Fahri. Dia merekam pembicaraan Fahri dengan Dzikri. Entah apa yang dipikirkan oleh Bella, dia begitu sangat tidak menyukai Gisya. Padahal Gisya tidak pernah berbuat hal-hal yang merugikan oranglain.
Apel pagi sudah selesai, Fahri segera pulang ke Rumah. Dia disambut dengan senyuman oleh istrinya. Fahri mendekap erat tubuh Gisya.
"Nih, Abang udah pulang. Sekarang mau kemana?" tanya Fahri.
"Ke Rumah Bu Danki, Bang. Adek pengen tahu cobek buatan Danki. Pengeenn banget Bang. Abang yang bilang ya." ucap Gisya dengan mata yang berkaca-kaca.
Fahri terbelalak, bagaimana bisa dia meminta Danki untuk membuatkan tahu Cobek untuk istrinya. Tapi jika tidak dituruti, Gisya tidak mau dekat-dekat dengannya. Fahri hanya bisa mengangguk lesu, sepanjang perjalanan dia sedang berfikir untuk merangkai kata.
Fahri masih terdiam diatas motornya, jarak dari Rumah mereka menuju Danki terhalang oleh 2 blok. Saat ini mereka sudah sampai didepan gerbang Rumah Danki.
"Abang ih! Malah ngelamun, mau kesambet!" kesal Gisya.
"Yaa Allah sabar sayang, ini Abang lagi mau turun." elak Fahri.
__ADS_1
Fahri mengetuk pintu rumah Komandannya itu.
"Assalamualaikum!" ucap mereka berbarengan.
"Walaikumsalam! Eh kamu,Ri. Ayo silahkan masuk." jawab Gilang lalu membukakan pintu.
"Eh ada Caca, sini duduk Ca!" pinta Fatimah. Lalu Gisya duduk disamping suaminya.
"Ada apa, Ri? Apa ada masalah penting?" tanya Gilang.
"Siap! Saya mau membicarakan permasalahan istri saya dengan istrinya Bang Kemal."
Mereka terus berbincang-bincang, Gisya yang mulai kesal terus menyenggol lengan Fahri.
"Ada yang mau dibicarakan, Ca?" tanya Fatimah.
"Bang Fahri yang mau bilang, Mbak." ucap Gisya membuat Fahri gelagapan.
"Emm gini Bang, Mbak. Emm ituu, emm ituu." ucap Fahri kebingungan.
"Itu itu apa sih, Om? Bilang aja! Bang Gilang mah jinak." celetuk Fatimah.
"Gini Bang, istri saya ngidam. Pengen dibuatkan tahu cobek sama Abang." ucap Fahri.
Fatimah dan Gilang tertawa terbahak-bahak. Gisya tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu mah mau ngomong gitu aja muternya jauh banget, Ri!" ucap Gilang.
"Aku gak enaklah sama Abang, masa aku nyuruh Abang buat bikinin istriku tahu cobek. Ga enak aku, Bang." ucap Fahri.
"Aku sudah biasa, Ri. Hampir setiap hari minggu istrimu dan istriku minta dibuatkan tahu cobek. Tapi yang selalu Gisya inginkan itu bukan tahu cobeknya, tapi ingin melihat kamu memperjuangkan keinginan bayi kalian." ucap Gilang terkekeh.
"Maafin ya Ayah. Ini dedek yang mau, bukan Bunda." ucap Gisya.
"Sudah sudah, kalian ini sudah seperti adik kami. Jangan sungkan begitulah, Ri. Lagian selama kamu bertugas, mereka berdua selalu saling menjaga. Ternyata Gisya adalah keponakan dari orang yang selama ini aku cari." ucap Gilang.
"Maksud Abang, Uwak Ais dan Uwak Yusuf yang selama ini Abang cari? Waktu Abang menjadi saksi, kan Abang bertemu dengan mereka." tanya Fahri.
"Abang gak kenal wajah mereka, dulu saat bertemu wajah mereka penuh dengan darah kedua putri kembarnya." lirih Gilang.
"Udah! Udahan ceritanya. Sekarang cepet bikinin kita tahu cobek!" tutur Fatimah.
Kedua laki-laki berseragam TNI-AD itu sekarang sedang bergelut didapur. Mereka sedang membuatkan istri mereka tahu cobek favoritnya. Kedua perempuan itu terlihat sangat bahagia, berbeda dengan kedua Tentara gagah itu.
"Malu aku, Ri. Kalo kelihatan anak-anak, habis diketawain aku." bisik Gilang.
"Sama Bang! Masa udah gagah gini pake celemek Hello Kitty begini. Berasa cantik tau, Bang." ucap Fahri sambil mengelus kupingnya.
"Ish! Apaan sih! Kamu lebih serem kalo kaya gitu!" ucap Gilang bergidik ngeri.
Setelah bergelut dengan tahu cobek, kini mereka harus menerima keinginan istri mereka untuk memanjat pohon mangga yang ada didepan rumahnya.
"Bang, mangga nya yang muda-mudah ya! Jangan yang mateng!" teriak Gisya.
"Iya sayang, 5 biji cukup kan?" tanya Fahri.
__ADS_1
"Cukup sayang, udah cepet turun! Ngeri liat Abang disana." Ujar Gisya.
Fahri pun turun, karena dia sudah mendapatkan mangga yang diinginkan istrinya.
"Pih! Itu yang sebelah ujung, buah mangga nya gede-gede!" pinta Fatimah.
"Aduh mih! Susah itu, nanti dahannya patah. Yang ini aja ya!" ucap Gilang.
"Pokoknya harus yang gede-gede ya, Pih!"
Setelah mendapatkan mangga yang mereka inginkan, sekarang Fahri sedang membuatkan bumbu rujak untuk Gisya. Fahri benar-benar mengikuti segala keinginan Gisya.
"Nih rujaknya, jangan banyak-banyak! Nanti Bunda sakit perut." ucap Fahri.
"Makasih Ayah!" jawab Gisya dengan suara anak kecil.
Fatimah masuk kedalam rumah dengan wajah yang ditekuk.
"Udah dong sayang ngambeknya! Kan ini udah Papih ambilin mangga nya." bujuk Gilang.
"Jalannya jangan cepet-cepet sayang! Perut kamu sakit nanti,"
Kehamilan Fatimah memang saat ini sudah memasuki bulan ke 9. Tinggal menunggu hari perkiraan, sekitar seminggu lagi. Fatimah merasakan mulas diperutnya, dia terus meringis dan merintih. Gisya mengkhawatirkan Fatimah.
"Bang, kayaknya Mbak mau lahiran. Mending sekarang dibawa kerumah sakit." ucap Gisya.
"Yaa Allah, beneran? Yaudah sebentar, Abang bawa dulu keperluan Fatimah!"
Gilang benar-benar panik, dia memasukkan semua barang-barang persiapan lahiran kedalam mobil. Lalu dia menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit.
"Bang! Komandan! Dankiiiiii!" teriak Fahri ketika melihat mobil Gilang pergi.
"Dasar Papiihh! Istrinya ditinggal ini, emangnya dokter mau meriksa siapa kalo dia kesana sendiriaan. Awas kamu Pih!" kesal Fatimah.
"Sabar Mbak, atur nafasnya." ucap Gisya.
Setelah sampai Pos pemeriksaan, Gilang membuka kaca jendela mobilnya.
"Cepat buka! Istri saya mau lahiran!" pinta Gilang.
"Siap! Maaf Komandan, tapi anda sendirian." ucap salah satu petugas.
"Yaa Allah, Yaa Salam!"
Gilang memutar kembali mobilnya menuju Rumah mereka. Gilang langsung menggendong istrinya, tanpa memperdulikan omelan yang keluar dari mulutnya. Saat Gilang akan masuk kedalam mobil, Fahri mencegahnya.
"Biar aku yang nyetir, Bang. Abang temani aja Mbak Fatimah dibelakang, kalo Abang yang nyetir bukannya ke Rumah Sakit nantinya." ledek Fahri.
"Sialan kamu Ri! Yaudah cepet!"
Akhirnya mereka mengantarkan istri Komandan Kompi itu ke Rumah Sakit.
* * * * *
Maaf yaaa kalo ceritanya bikin bosen ✌
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤