
Maaf baru UP, Author lagi riweh banget sampe 4 hari kedepan. Ditambah badan lagi kurang Fit. Tunggu next Bab ya Reader ❤ Jangan lupa dukung Author terus ya, Maaf kalo telat Up! 🙏🤗✌🥰
* * * * *
Usia kehamilan Gisya kini memasuki usia 8 bulan, dia sedang menikmati masa-masa trimester akhir kehamilannya. Sudah dua minggu ini, Gisya ditinggal dinas oleh Fahri. Kini mereka sudah menempati rumah impian mereka. Selama Fahri pergi, Yuliana dan Febri menginap dirumah Gisya. Kini si kembar sudah berusia 4 bulan, dan baby Cyra sudah berusia 2 bulan.
"Aduh duhh Mauuul! Kamu kok iseng banget sih nutupin mukanya Cyra!" gemas Gisya.
"Ck! Alan wooy! Duh gemes nih lama-lama sama si bumil satu ini!" kesal Yuliana.
"Ssttt! Kalian ih berisik aja, tuh si Mail jadi bangun kan." gerutu Febri.
"Yaa Allah, kenapa hamba punya sahabat sengklek seperti mereka." ucap Yuliana.
Mereka tertawa dan bermain-main bersama para bayi. Saat para bayi itu sudah lelah, mereka mulai tertidur. Gisya sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini, setelah banyak sekali berbagai cobaan dalam kehidupan rumah tangganya. Saat ini tinggal menunggu pernikahan Febri dan Zaydan sebagai pelengkap kebahagiaan Gisya.
"Jadi kapan kamu sama Mas Zaydan mau akad?" tanya Gisya.
"Aku gimana Mas Zaydan aja, Ca. Gak mau terlalu banyak nanya, mengalir aja. Mungkin dia juga masih menata hatinya." jawab Febri sambil menimang bayinya.
"Kenapa kamu ngilangin nama Ferandiza yang dikasih sama si Mas Zaydan?" tanya Yuliana yang penasaran.
"Gak apa-apa, aku rasa Chayra Shanum Faturachman aja cukup." tutur Febri.
"Tapi di Akta kelahiran ada Ferandizanya loh!" ucap Yuliana terheran.
Febri tidak mau banyak menjelaskan, untungnya kehadiran Jafran mengalihkan pembicaraan mereka. Jafran baru saja pulang dari penerbangannya.
"Assalamu'alaikuum! Anak-anak Baba is coming." teriak Jafran yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa oleh ketiga perempuan itu.
"Dasar kutil! Kalo kasih salam tuh gak usah teriak-teriak Baba. Yaa Salam? Untung sayang, kalo enggak beuhh! Udah Umi bejek-bejek!" kesal Yuliana.
"Heh istri durjanah kamu Mi! Jawab dulu salamnya, lagian suami datang bukannya disambut pelukan atau ciuman." kesal Jafran.
"Mohon maaf bapak merpati! Noh liat anak-anak anda nangis dengerin suara bapaknya yang Naudzubillah merdunya!" ucap Gisya sambil menepok-nepok si kembar.
Suara teriakan Jafran membuat ketiga bayi itu terbangun dari tidurnya. Yuliana yang kesal meminta Jafran mengasuh ketiga bayi itu.
"Karna Baba udah bangunin anak-anak, sekarang Baba jagain si kembar sama Cyra. Ummi sama Febri mau masak dulu buat makan siang." tutur Yuliana yang membuat suaminya itu melayangkan protes keras.
"Eh tunggu Mi! Masa Baba jagain tiga bayi sekaligus, Baba bukan Superman loh Mi! Lagian jangan salahin Baba! salahin tuh kuping anak-anak, denger suara begitu aja pake bangun segala! Lebay!" ucap Jafran asal-asalan.
"Pake nyalahin orok! Mau jagain gak? Kalo enggak Baba puasa ngadon sebulan!" ancam Yuliana. Jafran langsung melotot tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Eh gak ada ya pake puasa-puasa ngadon segala! Yaudah sana giiihhh Baba sama Caca jagain anak-anak!" ucap Jafran lesu.
Gisya dan Jafran duduk bersama di ruang keluarga, tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi. Gisya meminta Jafran untuk membuka pintunya karena Gisya mulai kesulitan berjalan dengan perut yang mulai membesar.
__ADS_1
"Ba! Bukain pintu dong! Eungap ini." ucap Gisya.
"Gak liat apa Ca, ini tangan cuman 2. Si Maul sama si Mail gak mau dilepas ini tangannya." ucap Jafran beralasan.
"Cih! Bilang aja ogah!" kesal Gisya lalu melemparkan popok kewajah Jafran.
"Buset, wadah ompol dilempar ke muka ini! Mending kalo bikin glowing!" kesal Jafran.
Dengan hati-hati, Gisya berjalan untuk membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah suaminya. Fahri bertekuk lutut didepan pintu membawa sebuket mawar merah dan boneka beruang berbaju militer.
"Abang!" teriak Gisya dengan mata yang berkaca-kaca.
Suara teriakan Gisya membuat semua yang berada didalam berhambur keluar. Namun mereka kesal ketika melihat Fahri yang sedang berlutut sambil memegang bunga.
"Emmh! Kirain apaan, ternyata drama dimulai!" celetuk Jafran.
Gisya menarik suaminya untuk masuk kedalam rumah. Dia memeluk suaminya, dia sangat rindu dengan pelukan Fahri. Jafran hanya menggelengkan kepalanya melihat sejoli itu.
"Istri Abang rindu ya? Abang juga rindu sama Bunda sama dedek." ucap Fahri sambil mengelus perut Gisya yang sudah besar.
"Iyalah rindu berat ini Bang! Kok gak ngabarin mau pulang?" tanya Gisya.
"Kan Abang mau kasih kejutan buat istri Abang tersayang!" ucap Fahri mengecup bibir istrinya. Jafran melotot tak percaya, rasa kesalnya memang sudah di ubun-ubun.
"Woy! Ada manusia lain disini, maen sosor aja kayak soang! Sini kamu Ri, bantuin aku jagain tiga krucil ini!" kesal Jafran.
Fahri mengangkat kedua bahunya, dia tidak peduli dengan omelan Jafran. Fahri masuk kedalam kamar untuk mengganti bajunya, sedangkan Gisya kedapur untuk membuatkan segelas kopi untuk suaminya. Selesai mandi, Fahri menemani Jafran untuk mengasuh ketiga bayi itu.
"Tunggu anak kamu lahir, Ri. Maka kamu akan merasakan menjadi bapak yang sesungguhnya." ucap Jafran sambil tertawa sinis.
Yuliana dan Febri berpamitan sebentar untuk membeli beberapa bahan yang kurang di Supermarket. Mereka meninggalkan ketiga bayi itu bersama dua bapak-bapak yang kesal. Sementara Gisya sedang didapur, melanjutkan masakan Febri dan Yuliana.
"Kamu kenapa eek sih Maul! Baba kan belum siap untuk melihat eek kamu." keluh Jafran.
"Udah bersihin dulu! Pake sarung tangan aja biar ga kena eek nya." ucap Fahri.
"Kamu bantuin ya! Kan kita harus kerjasama, mumpung dua gadis itu bobok cantik. Pleasee!" ucap Jafran yang memohon.
Akhirnya Fahri dan Jafran bekerjasama untuk mengganti pampers bayi tampan itu.
"Denger ya Maul! Awas aja kalo keran kamu mancurin air lagi! Baba sunat kamu!" ucap Jafran mengancam bayi berusia 4 bulan itu.
"Yee! Anak sendiri di ancam!" ucap Fahri menggeplak tangan Jafran.
"Dih belum ngerasain kena pancurannya! Niqmat syekali tau!" kesal Jafran.
Mereka membuka pampers dengan menutup hidung mereka.
__ADS_1
"Hueeekk! Hueeekkk! Kenapa eek nya bau banget sih Maul!" keluh Jafran.
"Namanya juga eek bodoh! Udah cepetan lap itu pake waslap." ujar Fahri.
"Kamu bantuin dong! Nih buangin pampers nya!" tutur Jafran sambil memberikan pampers yang berisi poop anaknya.
Sepeninggal Fahri, Jafran membersihkan putranya itu. Namun kejadian yang sama terulang, anaknya itu menyemburkan air kencingnya ke wajah Jafran.
"Aduh Maul! Kamu mah jadi anak durjanah banget sih Nak! Emangnya muka Baba ini closet apa!" kesal Jafran, tapi bayi itu malah tertawa melihat Ayahnya.
Jafran memilih untuk memakaikan pampers terlebih dahulu, karena dia takut anaknya itu akan pipis lagi. Saat Jafran akan memakaikan bedak pada pantatnya, Maul yang sedang senang bergerak itu menendang tempat bedak yang dipegang Babanya. Hingga wajah dan bajunya penuh dengan bedak. Jafran yang kesal lalu memakaikan bedak keseluruh wajah putranya itu. Dia tertawa melihat wajah polos putranya yang memutih.
"Hahahahaha satu sama ya Maul! Kita foto dulu yuk Nak!" ucap Jafran mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Fahri berlari kearah dapur sambil menjinjing pampers bekas baby Maul.
"Abang bawa apaan itu?" tanya Gisya yang terheran.
"Pampers bekas eek nya Maul! Abang minta minum dong Bun." pinta Fahri.
Belum juga Gisya memberikan minumnya, terdengar suara teriakan Yuliana dari dalam.
"Allohuakbar Babaaaa!!" teriak Yuliana.
Fahri dan Gisya segera menghampiri mereka. Gisya dan Fahri tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Ayah dan anak itu. Wajah Jafran dipenuhi oleh bedak bayi, begitupun sebaliknya. Febri yang sedari tadi menahan tawa, tidak kuat lagi menahannya. Mereka tertawa bersama-sama.
"Si Baba mah ampun! Masa ini celana Alan ada dikepala, terus ini apa-apaan muka kalian kaya tuyul begitu." ucap Yuliana sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah menceritakan kejadiannya, Yuliana ikut tertawa terbahak-bahak.
"Dasar istri durjanah! Suami begini malah diketawain." gerutu Jafran.
Cuuuppp 💋💋
"Makasih Baba udah jagain anak-anak." ucap Yuliana mengecup pipi suaminya. "Kok bau pesing sih Ba."
"Bau lah, orang belum Baba lap!" ucap Jafran sambil tertawa.
"Selamat menikmati Ummi dan Baba." celetuk Fahri.
Mereka sangat bersyukur atas kebahagiaan yang saat ini mereka dapat. Berbeda dengan Febri, masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
* * * * *
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤