
Luka Fahri sudah diobati, dia segera menghampiri istrinya yang sedang merintih kesakitan menahan kontraksi akan melahirkan. Bunda Syifa terkejut melihat kondisi menantunya, untung saja Fahri sudah membuka seragam lorengnya yang penuh darah.
"Yaa Allah, Abang! Kenapa begini sih Abang!" Lirih Bunda Syifa.
"Abang gak apa-apa, Bun! Istri Abang masih kesakitan?" tanya Fahri.
"Abang...." lirih Gisya yang ingin berbalik, namun perutnya terasa kencang.
"Iya sayang, Abang disini. Adek butuh apa?" tanya Fahri menggenggam tangan Gisya.
"Ajak Adek ngobrol, Bang. Biar cepet keluar." Lirih Gisya.
Dengan lembut, Fahri mengusap perut istrinya dan mengajak anaknya berbicara.
"Anak Ayah, putri kecil Ayah. Keluar yuk! Ayah udah dateng ini, Adek mau keluar dilihatin sama Ayah kan?" ucap Fahri mengelus perut Gisya.
"Kamu yakin banget Bang keluarnya kue apem bukan pisang!" ucap Bunda Syifa.
"Abang kan yang produksi Bunda!" ucap Fahri penuh percaya diri.
"Aww!!" rintih Gisya saat bayinya menendang.
"Jangan nakal, sayang. Kasian Bunda!" ucap Fahri lalu mencium perut istrinya itu.
"Bang pengen ngeden!" ucap Gisya menahan gelombang cinta yang datang.
Tak lama kemudian, dokter memeriksa Gisya dan ternyata pembukaan sudah lengkap.
"Tarik nafas dari hidung, buang dari mulut ya Bun. Kalo saya bilang ngeden, baru Bunda ngeden ya!" pinta dokter dan Gisya menganggukkan kepalanya.
"Bunda pasti bisa! Ayah kasih tenaga dari sini." bisik Fahri ditelinga istrinya.
"Ayo sekarang kita ngeden ya, Bun. Kepala Adeknya sudah keliatan!" ucap dokter.
Hemmppp... Hemmpppppp...
Dua kali Gisya mengejan, hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring. Fahri mengecup seluruh wajah istrinya itu.
"Selamat ya, Bunda. Anaknya perempuan, berat 2.9kg dan panjang 47cm. Jari tangan dan kakinya lengkap, lubang hidung dan telinga aman, kelamin dan lubang duburnya juga aman ya!" ucap dokter.
"Alhamdulillah, terimakasih sayang! Makasih Bunda udah mau melahirkan dua anak kita sayang." ucap Fahri pada istrinya itu.
"Alhamdulillah Bang, Caca capek Bang. Pengen tidur." lirih Gisya.
Fahri sangat panik mendengar ucapan istrinya itu.
"Sayang, bangun sayang! Jangan tidur dulu! Liat Abang sayang!" ucap Fahri panik.
"Hmm.. Ngantuk Bang!" ucap Gisya dengan suara pelan.
"Dok! Istri saya baik-baik aja kan?" tanya Fahri yang sangat panik.
"Tenang saja Pak, kondisi Ibu stabil. Beliau hanya kelelahan." ucap Dokter.
"Bener kan dok? Gak akan terjadi sesuatu kan sama istri saya?" ucap Fahri lagi.
"Berisik Abang! Adzanin dulu dedek!" ucap Gisya.
"Yaa Allah si Bunda! Orang suami kamu ini snewen!" gemas Fahri pada istrinya.
Selesai dibersihkan, Gisya dipindahkan keruang rawat inap. Fahri masih berada di ruang bayi untuk mengadzani putri kecilnya. Syaina dan Yuliana masuk kedalam ruang rawat Gisya bersama Bu Sarah.
"Bun, apem apa pisang?" tanya Yuliana pada Bunda Syifa.
"Perkiraan si Abang akurat! Keluarnya apem!" jawab Bunda Syifa.
"Apem itu perempuan ya, Bu?" tanya Bu Sarah pada Yuliana.
"Eh iya, Bu Sarah. Maaf ya kami merepotkan Ibu." ucap Yuliana.
"Gak apa-apa Bu, saya senang bisa menemani Bu Danki." ucap Bu Sarah.
Yuliana mengajak Bu Sarah dan Syaina duduk untuk berbincang-bincang.
__ADS_1
"Bu Sarah suaminya Tentara? Yang tadi?" tanya Yuliana.
"Saya istri prajurit Bu, yang tadi itu anggota kami. Suami saya sedang tugas ke luar Pulau." ucap Bu Sarah. Yuliana merasa sedikit heran dengan panggilan Bu Sarah.
"Kok Bu Sarah gak dipanggil dengan nama suami?" heran Yuliana.
"Wong nama suami saya Sarah kok Bu!" ucap Bu Sarah tertawa.
"Haaaa? Gimana gimana Bu maksudnya?" tanya Syaina yang mulai tertarik.
"Nama suami saya itu Sarah Anto Wijaya, kalo nama saya Frans Adelia. Nama kami terbalik ya, Bu." ucap Bu Sarah terkekeh.
"Ooohh begitu toh ceritanya!" ucap Syaina yang ikut tertawa.
Sementara di Klinik, Febri baru saja sadar. Dia mengingat kembali kejadian yang menimpanya tadi. Kemudian dia teringat dengan anak-anak.
"Yaa Allah anak-anak!" teriak Febri yang berusaha bangun.
"Sayang, tenang sayang! Anak-anak baik-baik aja, mereka dibawa Baba kerumah sakit. Bu Danki mau lahiran!" ucap Zaydan menenangkan istrinya.
"Mas, muka Mas kenapa?" tanya Febri yang kembali panik.
"Mas gak apa-apa sayang, ini cuma luka kecil. Udah jangan panik, kasian dedek!" ucap Zaydan mengelus perut Febri yang masih datar.
"Dedek? Aku ha-hamil Mas?" tanya Febri lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang, kamu hamil anak Mas. Cyra udah mau jadi Kakak!" ucap Zaydan memeluk istrinya itu. Sungguh mereka sangat bahagia.
"Mas Andi, Dinda bahagia Mas. Cyra akan punya adik." batin Febri.
Setelah dirasa kondisi tubuhnya membaik, Febri meminta Zaydan untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit. Sementara itu, di Rumah Sakit Elmira terus mendekap tubuh Baba nya. Dia masih sangat ketakutan dengan kejadian yang dialaminya.
"Tenang Kakak! Kakak aman sama Baba, mau liat adek bayi kan?" tanya Jafran.
"Adek bayi udah lahir, Ba? Asyiikk Kakak punya adek lagi!" ucap Elmira bahagia.
"Makanya Kakak jangan takut lagi! Nanti Bunda khawatir ya, sekarang kita tengok adek bayi. Ok?" tanya Jafran dan Quera mengangguk.
Suasana sangat ramai diruang rawat VVIP, demi seluruh keluarganya bisa berkumpul Fahri memilih ruang VVIP ini. Saat Jafran masuk membawa anak-anak, mereka semua histeris melihat kondisi anak-anak.
"Yayaaahhhh!" teriak Husain ketika melihat Fahri.
"Astaghfirulloh Ain! Kenapa ini sayang?" tanya Fahri mengambil Husain dari gendongan Hagum. Husain menangis kencang saat ditanya oleh Ayahnya.
"Dung Ain cakit, Yah! Ni cama ma Yayah!" ucap Husain menunjuk perban yang membalut kepala Ayahnya. Fahri mengusap lembut hidung putranya itu.
Gisya menangis melihat kondisi anak-anaknya, Bunda Syifa terus menenangkannya.
"Yaa Allah anak-anak Caca, Bun!" isak Gisya yang membuat Elmira menghampirinya.
"Jangan nangis Bunda, Kakak sama Ain dan Cyra gak apa-apa." ucap Elmira.
"Sakit sayang tangannya?" lirih Gisya mengusap kepala putrinya itu.
"Sedikit Bun, tadi udah di obatin sama Baba." ucap Elmira tersenyum.
"Bener kata Om Chandra, mata dan senyuman Elmira mampu menenangkan hati siapapun yang melihatnya." ucap Gisya dalam hati.
Tak lama kemudian datanglah Zaydan dan Febri yang duduk diatas kursi roda.
"Udang! Yaa Allah, kamu gak apa-apa kan? Mana yang sakit?" Panik Yuliana.
"Ummiiiii! Itu si Udang suruh masuk dulu! Kamu malah halangin!" kesal Jafran.
"Biw, kamu gak apa-apa?" Lirih Gisya menatap sahabatnya itu.
"Tenang-tenang saudara-saudari! Udang is Ok, dia lagi panen udang rebon!" celetuk Jafran.
"Haaahhh? Udang rebon? Apaan sih Ba!" kesal Yuliana.
"Istriku hamil, Ummi. Baru 4 minggu." ucap Zaydan membuat mereka tertawa bahagia.
Cyra yang sejak tadi tertidur, menangis mendengar suara tawa para orang dewasa itu.
__ADS_1
"Papa, kaki Cyla akit!" rengek Cyra pada Zaydan.
"Sakit ya, sayang? Sabar ya Nak, nanti juga sembuh." ucap Zaydan menggendong Cyra.
"Cyra gak kangen sama Mama?" tanya Febri.
"No! Mama gi akit, Cyla ma Papa ja!" ucap Cyra menatap sang Ibu.
"Cyra yang anteng ya Nak. Cyra mau punya dedek, kaya Ain." ucap Bunda Syifa.
"Cyla adi tata Oma? Taya tata Lala?" tanya Cyra pada Omanya.
"Iya sayang! Jadi kaya Kak Elmira." ucap Bunda Syifa mengusap lembut kepala Cyra.
"Holeeee!! Ain, Cyla adi tataa!!" heboh Cyra yang kegirangan.
Suster masuk kedalam membawa bayi Gisya dan Fahri. Mereka sangat antusias, seperti biasa mereka akan berebutan untuk menggendong bayinya.
"Stooopppp!!" teriak Elmira. "Oma, Baba, Ummi, Ayah, Papa, Mama, Ambu, Onty Farida cuci tangan duluuuu!" kesal Elmira.
"Yaa Allah ni tuyul satu nurun dari emaknya begini!" ucap Jafran.
"Heh tuyul mah anak situ!" kesal Fahri.
"Wah ente bener-bener! Tebakan ente pas banget, lahirnya apem! Coba tebak anak si Udang nanti apem apa pisang." Pinta Jafran.
"Tanyalah sama si Idan! Orang dia yang bibitin!" ucap Fahri melengos.
Mereka terus mengerubungi bayi cantik itu, wajahnya memang benar-benar mirip Fahri.
"Wah kamu kebagian idung sama alisnya doang, Ca! Selebihnya, Emm cetakan si Abang semua." ucap Yuliana sambil menggendong baby I.
"Emang dari dua anak ini, akumah kebagian gendolnya doang 9 bulan." ucap Gisya.
"Namanya siapa? Jangan bilang ini anak dipanggil Gin nantinya!" celetuk Jafran.
"Enak aja! Namanya INDIRA MYESHA KIRANIA SYAFA. Panggilannya Dira aja, awas aja kamu Ba panggil anak aku aneh-aneh!" Ucap Fahri memperingatkan.
"Syuudzon mulu ente! Ni bayik ane panggil Kiran aja ye, siapa tau dah gede dia jadi pemilik perusahaan Kirin!" ucap Jafran nyeleneh.
"Tuhkan si Baba! Orang mah nama anak bagus-bagus, kamu mah gak kreatif Ba! Masa Maul sama Mail!" kesal Yuliana.
Jafran kembali menghela nafasnya, dia selalu menjadi bahan bullyan ketika memberi nama anak-anaknya.
"Nanti anak ketiga Baba panggil si Mual! Puasss!" kesal Jafran yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak kecuali Yuliana.
"Awas aja kalo berani! Tak potong anu mu!" kesal Yuliana.
"Aw! Aduduu! Akumah cari aman aja deh Mi! Zona Bahaya!" ucap Jafran.
"Ngomong-ngomong itu dua tuyul kemana?" tanya Febri.
"Biw! Anak aku jangan disebut tuyul donk! Kalian mah ketularan si Baba!" kesal Yuliana.
"Iyaaa sorry dehh! Mana si kembar? Gak kamu tinggalin karena panik kan?" tanya Febri lagi yang membuat Yuliana semakin kesal.
"Yaa Allah! Ya enggak atuh Udang! Anak-anak aku titip sama Ayu, mereka lagi dijalan mau kesini." ucap Yuliana.
Gisya dan Fahri tersenyum bahagia ketika semuanya berkumpul seperti sekarang ini.
* * * * *
Kasih SARAN di KOLOM KOMENTAR YA!
Kalian setuju gak kalo aku bikin novel ini TAMAT sekarang ?? 😁
Komen yaaa!!!
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤