Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Flashback I


__ADS_3

Dirumah Bunda Gisya, baru saja datang Mama Febri beserta dengan Cyra. Karena Papa Zaydan sedang ada kunjungan kerja ke Bandung.


"Monik, kamu gak kawal Ibu?" tanya Mama Febri pada Monik.


"Ijin Bu, saya diperintahkan untuk menjaga nona Indira," jawab Monik.


"Oh ya udah, saya masuk kedalam ya!" ucap Mama Febri.


Tak lama kemudian datanglah rombongan iring-iringan Bunda Gisya.


"Yaa Allah Ebiiww! Kangeeenn!" ucap Bunda Gisya dan Ummi Ulil bersamaan.


"Ih plis deh, malu dilihat anak-anak!" ucap Mama Febri melihat tingkah kedua sahabatnya.


"Biarin atuh ih ai rindu harus gimana!" ucap Ummi Ulil.


"Mohon maaf ibu-ibu yang terhormat, jangan ngehalangin jalan bilih nongtot jodo!" ucap Alan sambil membuka jalan untuk dirinya sendiri.


"Heh! Teu sopan kamu A! Mau Ummi do'ain biar kamu nongtot..." ucapan Ummi terpotong.


"Pelis atuh lah Ummi, kalo do'ain Aa teh yang baik-baik. Biar cepet ketemu jodohnya gitu!" rengek Alan memeluk Ummi nya.


Alan terus saja merengek seperti anak kecil.


"Assalamu'alaikum," ucap Thoriq dan Theresia yang baru saja datang.


"Walaikumsalam! Alhamdulillah do'a kamu dikabulin A! Itu jodohmu udah datang!" ucap Ummi Ulil sambil menaik turunkan alisnya menggoda Alan.


"MashaAllah, calonnya Alan meuni geulis, cantik! Kamu gak salah pilih Alan," ucap Mama Febri sambil menyambut Theresia, dan Theresia hanya memaksakan senyumnya.


"Belom tau aja Mama mah! Bar-bar nya dia kaya apa!" celetuk Alan.


"Gak apa-apa bar-bar, yang penting mah cantik, 5 jempol!" goda Mama Febri.


Tiba-tiba Alan teringat kejadian dimana Theresia menabrak tubunya di motor, dan hal itu membuat Alan tersenyum membayangkan kejadian itu.


"Heh! Ngelamun jorok ya kamu A!" ucap Bunda Gisya saat melihat Alan senyam senyum.


"Apaan sih Bun! Orang cuman lagi bayangin bisa mendaki gunung lewati lembah!" ucap Alan yang masih belum sadar dari lamunannya.


Pletak Pletak Pletak!


Tiga jitakan sudah mendarat dikening Alan, sontak hal itu membuat Alan kesakitan.


"Awww! Sakit Bunda, Ummi, Mama! Kalian mah maenannya kepala mulu! Untung Aa pinter, kalo Aa bodo udah Aa demo kalian ke komnas HAM!" kesal Alan mengelus keningnya.


"Halalin dulu kalo kamu mau mendaki gunung lewati lembah!" celetuk Baba Jafran.


"Haaaa?? Apaan itu mendaki gunung lewati lembah?" tanya Alan sok polos.


"Halaaaah, sok polos! Kamu itu keturunan Baba, udah paham Baba sama apa yang ada dalam kepalamu wahai anak muda!" ucap Baba Jafran membuat Alan menggaruk kepalanya.


"Buah mah kalo jatoh emang gak pernah jauh dari pohonnya!" ucap Ayah Fahri.


"Sama kaya anak kamu dong, Bang! Malu-malu tapi mau," ledek Mama Febri menyiku Husain.


Saat mereka sedang asyik berbincang, terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Ternyata yang datang adalah Elmira dan juga Mirda yang membawa Sweta digendongannya. Mama Febri menitikkan airmata ketika melihat hal itu.


"Mama jadi inget waktu Cyra bayi, kamu nemplok terus sama Papa kaya Sweta," lirih Mama Febri sambil mengusap airmatanya.


"Jangan sedih lagi dong, Ma. Cyra bahagia punya Papa sebaik Papa Zaydan, dan Cyra juga bahagia punya Papa hebat seperti Papa Andi," ucap Cyra memeluk sang Ibu.


Bunda Gisya mencoba mengambil Sweta dari gendongan Mirda, namun bayi itu menolak.


"Sweta sama Oma ya, Bubu sama Om Mirda biar makan dulu sayang," bujuk Bunda Gisya.


"Kalo gak mau sama Oma, sama Enin ya, atau sama Uti?" ucap Mama Febri mencoba menggendong Sweta, namun Sweta malah menangis dengan kencang.


"Gak apa-apa Bu, biar saya saja," ucap Mirda sambil mengelus punggung Sweta.


"Yaudah kalian bawa Sweta dikamar aja, nanti Bunda bawain kalian makanan," ucap Bunda Gisya dan diangguki oleh Elmira.

__ADS_1


"Ayah, Kakak ijin mau bicara sama Abang di kamar sekalian mau jagain Sweta," ucap Elmira saat melewati sang Ayah.


"Boleh, tapi pintu kamar dibukakan atau ajak Alana dan Husain biar tidak terjadi fitnah. Bagaimanapun kalian belum terikat ikatan," ucap Ayah Fahri.


"Makasih, Ayah," ucap Elmira sambil memeluk sang Ayah.


Elmira berjalan menuju kamarnya bersama Mirda, dia mengajak Alana dan juga Husain. Sedangkan Alan dan Cyra sedang membahas pekerjaan ditaman belakang bersama Thoriq dan juga Theresia.


"Kalian ngobrol aja, biar Sweta main sama Onty ya sayang," ucap Alana membawa Sweta untuk bermain diatas kasur dan disusul oleh Husain.


"Duduk, Bang. Aku ambilin minum dulu, ya!" ucap Elmira lalu beranjak, tapi tangan Mirda segera menahan Elmira.


"Abang gak haus, nanti kalo haus Abang ambil sendiri," ucap Mirda.


Sebelum berbicara serius, Bunda Gisya sudah memaksa keduanya untuk mengisi perut terlebih dahulu. Karena memang sudah waktunya untuk mereka makan. Selesai makan, kini Elmira duduk berhadapan dengan Mirda.


"Jadi harus aku mulai menceritakan darimana, Bang?" tanya Elmira menatap Mirda.


"Apakah waktu itu kamu jadi menikah dengan Ayah? Maksudku, Om Chandra?" tanya Mirda yang sudah tak sabaran untuk bertanya.


Elmira menghela nafasnya, rasanya terlalu sakit jika dia harus mengingat masa-masa yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


Flashback On


Hari itu Elmira mendapat kabar jika detak jantung Chandra berhenti, dengan cepat Elmira pergi ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Chandra. Sesampainya disana, dia melihat Biang Mira yang sedang menangis didepan ruang ICU.


"Biang, apa yang terjadi?" lirih Elmira memeluk Biang Mira.


"Dia pergi, Elmira. Dia pergi meninggalkan kami!" ucap Biang Mira histeris.


"Enggak Biang! Om Chandra akan baik-baik saja!" tegas Elmira mencoba menenangkan Biang Mira.


Ceklek


Pintu ruangan ICU terbuka, Elmira melihat raut wajah dokter dan perasaannya sudah tak menentu. Tanpa mendengarkan penjelasan dokter, Elmira masuk kedalam ruangan.


"Bangun Om! Pengecut! Apa begini caramu mencintaiku, Om?! Dengan membuat aku merasa bersalah seumur hidup?! Bangun Om Chandra!!!" teriak Elmira mengguncangkan tubuh Chandra yang sudah terbujur kaku.


Elmira terus meluapkan rasa sedih dan sakit batinnya saat itu.


"Emh," rintih Chandra lalu memegang kepala Elmira.


"Om Chandra?!!! Dokteeerr!!" teriak Elmira membuat semua dokter berhambur masuk kembali kedalam ruangan.


"Bli! Jangan tinggalkan kami Bli!" ucap Biang Mira memeluk suaminya itu.


"Tolong Ibu tunggu diluar ya, biar kami memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu," ucap dokter tersebut.


Mereka berdua saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain.


"Cintanya padamu begitu besar, Elmira. Maka menikahlah dengannya," ucap Biang Mira.


"Apa yang Biang bicarakan?! Kalian harus hidup bahagia bersama anak kalian, dan akan aku pastikan itu!" ucap Elmira sambil memeluk erat Biang Mira.


"Aku ikhlas, Elmira. Demi kebahagiaannya," ucap Biang Mira.


"Apa Biang tidak memikirkan perasaanku? Aku mencintai orang lain, hanya dia yang mampu mengambil seluruh hatiku," lirih Elmira.


Biang Mira tiba-tiba meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Awwsshh, sakit Elmira," rintih Biang Mira.


"Biang mau melahirkan?! Bang Ogem!! Bantu aku bawa Biang ke IGD!" teriak Elmira.


"Siap non!" ucap Bang Ogem.


Elmira terus menemani Biang Mira dalam masa persalinannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana Biang Mira mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak mereka.


Oeek Oeeekk Oeeekkk


Suara tangisan bayi mulai terdengar menggema diseluruh ruangan. Elmira menitikkan airmatanya ketika mendengar suara tangisan bayi tersebut.

__ADS_1


"Selamat Bu, bayinya laki-laki dengan berat 3,2kg dengan panjang 56cm. Bayinya sehat, semuanya normal dan sempurna," ucap Dokter sambil meletakkan bayi itu didekapan Biang Mira. Bayi itu mencari-cari sumber ASI nya.


"Selamat datang di dunia, anakku," ucap Biang Mira kemudian tak sadarkan diri.


"Dok apa yang terjadi dokter!!" panik Elmira.


"Tolong tunggu diluar Bu!" pinta dokter lalu Elmira keluar mengikuti suster yang membawa bayi laki-laki tersebut.


Elmira menggenggam jari-jari kecil bayi itu, sambil menitikkan airmatanya Elmira membawa bayi itu kedalam ruangan dimana sang Ayah dan Ibunya terbujur kaku. Biang Mira mengalami koma pasca melahirkan, mungkin faktor dari usia juga. Sudah seminggu ini Elmira menjaga bayi mereka. Kini Elmira menyimpan bayi laki-laki itu diantara ranjang Biang Mira dan Om Chandra. Elmira merasa bersalah karena semuanya itu karena dirinya.


Sambil menangis, Elmira berbicara seolah keduanya dapat mendengar keluh kesahnya.


"Apa kalian sudah puas membuatku merasa bersalah seperti ini? Apa kalian tak ingin melihat bayi kalian yang tampan ini?! Aku menyerah Biang, aku menyerah Om Chandra!! Kalo boleh, aku akan menukarkan nyawaku agar kalian bisa bangun!" ucap Elmira.


Tak lama kemudian terdengar suara bayi menangis dengan kencang, namun Elmira tak menggubrisnya. Hingga para suster datang untuk mengambil bayi itu.


"Stop! Biarkan saja dia menangis suster! Bahkan kedua orangtuanya pun tega membiarkannya menangis seperti itu!" ucap Elmira pada suster tersebut.


"Tapi dok, kasian bayi nya," ucap suster itu.


"Sudah saya bilang! Biarkan saja dia menangis! Biar kedua orang tuanya tau, bayi ini membutuhkan mereka!!" teriak Elmira.


Tit tit tit tit....


Terdengar suara bunyi monitor Biang Mira dan juga Chandra.


"Pergilah!! Pergilah!! Kalian berhasil membuat hidupku sengsara dengan rasa bersalah dalam diriku!!" teriak Elmira dan suster itu akan membawa bayi tampan itu.


"Ba-bayiku," rintih Biang Mira membuat dokter langsung memeriksanya.


"Mi-mira, Mi-mira," rintih Chandra mengerjapkan matanya.


"Akhirnya kalian kembali! Kalian harus bangun!" ucap Elmira sambil menangis.


Dokter sudah memeriksa kondisi keduanya, dan saat ini kondisi mereka sudah cukup stabil. Namun masih dalam pantauan dokter. Chandra menatap bayi yang kini menelungkup diatas dadanya.


"Dia anakmu, Om. Kamu harus membesarkannya bersama Biang Mira," ucap Elmira.


"Anakku? Berapa lama aku tertidur?" lirih Chandra.


"10 bulan, Om. Jadi aku mohon, Om. Jangan pernah tidur lama lagi, mereka sangat membutuhkanmu," lirih Elmira.


Chandra cukup tersentak kaget, kemudian dia menoleh pada ranjang yang berada disampingnya. Chandra tersenyum saat melihat sang istri yang berada disana.


"Terimakasih sudah memberiku anugerah terindah," lirih Chandra menatap Biang Mira.


"Tiang yang harus berterimakasih, Bli. Sudah membuat tiang menjadi perempuan yang sempurna dengan hadirnya dia," lirih Biang Mira.


"Kalian belum kasih nama untuk bayi tampan kesayanganku ini," ucap Elmira.


"Miracel Arga Wicaksana, itu namanya," lirih Chandra dan diangguki oleh Biang Mira.


"Nah baby Acel, sekarang kamu harus menuntut kedua orangtuamu biar cepet sehat ya! Biar onty gak khawatir lagi sama baby Acel," ucap Elmira membawa Miracel.


"Terimakasih princes, sudah menjaga adikmu dengan baik," lirih Chandra dan hal itu membuat Elmira berhambur memeluk Chandra.


"Terimakasih Om, selamanya Om adalah superhero dalam hidupku," ucap Elmira lalu dia memeluk mereka bergantian.


"Anak sulungku yang cantik," lirih Biang Mira.


Flashback Off


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2