Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | H-1 ELDA


__ADS_3

Suasana rumah Elmira sangat ramai, besok pesta pernikahan Elmira dan Mirda akan berlangsung disebuah gedung Kodiklat TNI AD. Elmira menerima apapun yang diberikan Mirda padanya, sesuai kemampuannya. Bahkan kini, Elmira sudah resign dari pekerjaannya disalah satu Rumah Sakit. Elmira hanya akan fokus pada klinik yang sedang dibangun olehnya, dan tentu saja dibantu oleh sang calon suami.


Indira, Alana, Afifah, Cyra dan juga Theresia hari ini akan menemani Elmira untuk melakukan facial dan luluran dirumah. Tentu saja mereka semua ingin tampil cantik pada saat acara. Sebab Ayah Fahri sudah mengundang salah satu artis yang cukup terkenal. Dia ingin jika pernikahan putri pertamanya itu berlangsung meriah.


Kini mereka sudah berada dikamar Indira, sebab kamar Elmira sudah disulap menjadi kamar pengantin. Elmira mencoba merilekskan dirinya.


"Ra, tegangnya besok aja elah! Sekarang mah kamu mesti luluran, biar kinclong sekinclong kinclongnya!" ucap Afifah membuat mereka tertawa.


"Jangan kinclong-kinclong juga, Kak! Entar Bang Mirda malah silau, terus buta deh! Buta karena cinta," celetuk Alana membuat Elmira tersipu malu.


"Kamu itu ya! Gak tau apa jantung Kakak masih deg-degan gini," ucap Elmira sambil mencubit pelan Alana yang berada disampingnya.


"Aw! Sakit Kakak! Emang aku kue apa pake dicubit-cubit segala? Lagian nih ya, wajar deg-degan! Namanya juga orang idup Kak," ucap Alana santai.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Alana.


"Aduh, baru kali ini saya mah punya kustomer teh yang pikaseurieun kaya gini! Bikin betah, asa nongton si sule lipe!" ucap Teh Atin.


"Ampun Teh Atin! Customer, bukan kustomer. Meni asa dihajatkeun atuh ya Teh Atin teh, pake berasa nonton si sule segala," sahut Alana.


"Eh ai neng Lana, apan Teh Atin mah USA alias Urang Sunda Asli. Ya wajar atuhlah ya ngomongnya teh kawas gini," mereka tertawa mendengar jawaban Teh Atin.


Elmira mulai terlihat rileks, mereka menikmati facial dan lulur itu seharian ini. Begitupun para Ibu-ibu yang juga melakukan perawatan di kamar milik Bunda Gisya.


"Cacaaaa! Bunda minta uang, ini incu kamu pengen naik odong-odong!" teriak Oma Syifa.


"Aduh ampun! Minta aja ke Bubunya, Bun! Nanggung Caca lagi luluran ini," teriak Bunda Gisya membuat sang Ibu berdecak kesal.


Melihat sang Oma mengerucutkan bibirnya, Alan pun berjalan menghampirinya.


"Buset dah, Oma gua! Cantik-cantik bibirnya kerucut amat kayak menara eifel," celetuk Alan membuat sang Oma menatapnya tajam.


"Nih ponakan kamu nangis minta naik odong-odong! Oma kan gak punya duit cash, itu tukang odong-odong mana mau Oma bayarnya gesek," ucap Oma angkuh.


"Beuh! Oma gua emang sultan dah, udah jangan manyun! Perkara duit doang, nih Alan kasih buat Oma dan ponakan Alan yang cuantik!" ucap Alan sambil membuka dompetnya.


"Itu dompet apa jeruk? Kok nipis!" celetuk Oma Syifa.


Alan memelototkan matanya, saat mendengar celetukan sang Oma.


"Allohuakbar! Ini dompet gua tebel dah perasaan, emang dasar udah rabun nih si Oma!" ucap Alan dalam hatinya.


"Gak usah ngehina Oma, mau kualat kamu?! Gini-gini juga Oma masih bisa liat jelas!" ketus Oma Syifa sambil mengambil uang yang ada ditangan Alan. "Kalo liat duit"


"Yaa Allah, emang cenayang si Oma! Yaiyalah, semua orang rabun juga kalo liat duit ma jadi jelas!" gerutu Alan sambil menghampiri para laki-laki yang tengah berkumpul.


* * *


Jika Elmira sedang melakukan perawatan, berbeda dengan Mirda. Pagi ini dia baru saja menyelesaikan apel pagi, dan segera bergegas ke rumah miliknya.


"Siap! Danki apa mau pulang sekarang?" tanya Bagja.


"Iya ini saya mau pulang, ada apa Bagja?" ucap Mirda berbalik tanya.


"Siap! Kata Ibu saya, kalo calon penganten itu wangi. Lebih baik, Danki saya antarkan saja sampai rumah. Biar semuanya aman dan terkendali," ucap Bagja membuat Mirda tersenyum.


"Yaudah kalo kamu gak keberatan, tolong antar saya!" ucap Mirda.


Sepanjang perjalanan, Bagja tersenyum menatap sang Komandan.


"Saya bahagia melihat Abang selalu tersenyum seperti ini," ucap Bagja.


"Emangnya saya segarang itu, ya?" tanya Mirda sambil tertawa.

__ADS_1


"Beuh! Danki kami itu terkenal galak, tegas tapi lugas. Dan kami sangat bangga! Kami turut berbahagia, semoga semuanya dilancarkan oleh Allah," do'a tulus Bagja.


"Terimakasih, Bagja! Jadi kamu kapan nyusul?" goda Mirda membuat Bagja tersenyum.


"Saya menghindari dulu hal itu, Danki. Saya ingin membahagiakan Ibu saya dulu," ucap Bagja membuat Mirda menepuk bahunya.


"Selagi beliau masih ada, maka kewajiban kamu untuk membahagiakannya," ucap Mirda dan Bagja mengangguk patuh.


Mirda sudah sampai dirumahnya, dia tak memiliki sanak saudara. Tapi beberapa anak buahnya dan karyawannya itu sudah cukup menjadi keluarga bagi Mirda. Ditambah kehadiran Ayah Gorila dan Biang Mira yang akan mendampinginya diatas pelaminan. Mirda berjalan masuk dengan wajah sumringah. Dia menghampiri Acel yang sedang bermain diatas karpet bulu-bulu, diruang tengah.


Mirda terus menciumi wajah Acel, hingga membuat bayi itu tertawa.


"Makan dulu, Bang! Baru main sama Acel," pinta Biang Mirda.


"Sebentar lagi, Biang. Abang rindu Sweta. Tak ada Sweta, Acel pun jadi!" ucap Mirda.


"Yasudah, Biang sudah siapkan makanan diatas meja. Kamu tinggal makan aja kalo sudah lapar," ucap Biang Mira sambil memberikan Acel cemilan.


"Ayah dimana, Biang?" tanya Mirda sambil celingak celinguk.


"Dia ada dikamar, katanya sedikit pusing jadi pengen istirahat," ucap Biang Mira.


"Abang liat Ayah dulu, ya!" ucap Mirda lalu meninggalkan Biang Mira dan Acel.


Ceklek


Dengan perlahan, Mirda membuka pintu kamar sang Ayah. Dia menatap wajah sang Ayah yang tampak berkeringat, sepertinya Ayahnya itu sedang bermimpi.


"Aku akan menjagamu, Elmira. Akan selalu menjagamu," ucap Chandra mengingau.


Deg!


Hati Mirda bagai tertusuk sembilu, dia tau jika perasaan sang Ayah masih tersisa untuk calon istrinya itu. Tak ingin berlama-lama disana, Mirda segera keluar dari kamar itu dan segera masuk kedalam kamarnya sendiri.


Setelah puas menangis, Mirda membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi.


"Astaghfirulloh, Ayah! Bikin kaget aja," ucap Mirda saat melihat Chandra duduk disana.


"Pakai bajumu! Ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu, Ayah tunggu dibalkon!" ucap Chandra lalu melangkahkan kakinya menuju balkon.


Mirda menghampiri sang Ayah dan duduk disampingnya. Chandra memberikan sebuah kotak yang cukup besar, hal itu membuat Mirda mengerenyitkan dahinya.


"Apa ini, Ayah?" tanya Mirda sambil melihat-lihat kotaks itu.


"Semua itu adalah pemberian dari Abrafo, Ayah kandung Elmira. Sebelum eksekusi mati, dia memaksa untuk bertemu Fahri. Sayangnya hanya Ayah yang berada disana, dia meminta jika putrinya menikah tolong berikan semua ini padanya. Dan kamu adalah calon suaminya, maka hanya kamu yang berhak memberikannya," ucap Chandra.


Perlahan Mirda membuka kotak itu, matanya terbelalak ketika melihat berlian yang sangat banyak. Dan dapat dipastikan jika berlian itu asli.


"Astaghfirulloh, Ayah! Sebanyak ini?" kaget Mirda dan Chandra mengangguk.


"Simpanlah, dan berikan pada Elmira disaat yang tepat. Apapun keputusannya nanti mengenai semua ini, kita serahkan pada Elmira," ucap Chandra.


"Baik, Ayah," jawab Mirda.


Chandra menepuk bahu sang anak, lalu memeluk Mirda dengan sangat erat.


"Ayah mencintainya, sejak dia kecil. Maka Ayah mohon, maafkanlah Ayahmu ini. Karena tidak mudah melupakan orang yang sudah terlalu lama terkunci dalam hati ini. Satu hal yang harus kamu pahami, mungkin cinta Ayah nantinya akan seperti kasih sayang seorang Ayah pada anaknya dan seorang mertua pada menantunya," ucap Chandra.


"Abang ngerti, Ayah. Terimakasih banyak sudah mau mendampingi Abang," lirih Mirda menangis dipelukan Chandra.


"Ih! Laki kok cengeng! Jangan nangis dong! Malu sama Acel," ucap Chandra ketika melihat sang anak berjalan kearah mereka.


* *

__ADS_1


Malam sudah tiba, Elmira baru saja selesai memakai hena ditangannya. Kini mereka tengah berbincang-bincang santai dikamar Elmira.


"Waahhhh, cantik banget dekorasinya. Jadi pengen!" celetuk Alana.


"Ciee kebelet kawin, Cieeee...." goda mereka semua membuat Alana tersipu malu.


"Apaan sih! Emangnya kalian gak mau nikah apa?" kesal Alana.


"Ya mau lah, tapi kayaknya emang Teh Alana duluan deh," goda Indira.


"Ih siapa tau Cyra dulu! Lagian si Abang lagi fokus pencalonan," ucap Alana.


"Semoga lancar ya semuanya, biar kamu sama si Abang cepet nyusul!" sahut Cyra.


"Aamiinn! Tapi kan kamu dulu yang udah pasti," goda Alana mencoel dagu Cyra.


Suara dering ponsel Elmira mengalihkan perhatian mereka. Dengan sigap, Afifah membawa ponsel Elmira. Ternyata itu panggilan video dari Mirda.


"Woy sabar woy! Besok juga ketemu," ucap Afifah membual Mirda tersentak kaget.


"Yaa Allah, kunti! Bikin kaget aja," kesal Mirda membuat mereka tertawa.


"Enak aja lu kunti, kunti! Mau dipecat jadi adik ipar?!" ancam Afifah.


"Mohon ampun ndoro, boleh gak nyicip liat aja dikit calon istriku," pinta Mirda.


"Wohohohoho, tidak semudah itu ferguso! Lagian kayak beli macaroni basah aja bisa nyicip-nyicip!" celetuk Alana membuat mereka tertawa puas.


"Huff kalian pelit! Yaudah Abang tutup aja," ucap Mirda lalu mematikan panggilannya.


Diatas kasur, Elmira mengerucutkan bibirnya. Sebab dia pun tidak diizinkan untuk melihat sedikitpun wajah calon suaminya.


"Gak usah nyicipin lewat VC, besok aja nyicipinnya pas malam pertama," celetuk Afifah.


"Apaan sih, Afifah!" rengek Elmira yang wajahnya sudah bersemu merah.


"Idih! Pake blushing segala, kamu mau tau gimana rasanya?" bisik Afifah dan tanpa sadar Elmira mengangguk. Afifah membisikkan sesuatu, yang membuat Elmira melotot.


"Sakit! Seminggu kamu jalannya kayak bebek," bisik Afifah.


Tanpa menjawab, Elmira hanya menutup mulutnya. Sedangkan Afifah sudah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Elmira.


"Kalian ngetawain apaan sih!" ketus Alana.


"Iyanih ketawa gak bagi-bagi!" ucap Indira yang kesal.


"Adik-adiku sayang, nanti juga kalian tau! Udah kuy sekarang kita bobok cantik, biar besok gak kesiangan!" ajak Afifah pada mereka semua.


"Si Rara, gelarnya aja dokter! Soal begituan aja kaga paham," batin Afifah ketika melihat Elmira yang termenung.


* * * * *


MAAF OTHOR BARU SEMPET UP πŸ™πŸ™πŸ™


Lagi padet banget jadwal πŸ€’πŸ€’


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2