Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | KABAR BAHAGIA


__ADS_3

Seperti janjinya, sepulang apel pagi Mirda dan Elmira berangkat menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak. Mereka akan memeriksakan kehamilan Elmira, tak lupa Sweta yang tengah duduk manis di carseatnya. Sepanjang perjalanan, Sweta tampak senang.


"Sweta seneng ya sayang! Sweta mau jadi Kakak," Mirda berucap sambil menoleh pada putri kecilnya yang berusia dua tahun itu.


"Bubu, mamam," gumam Sweta sambil mencoba meraih snack disampingnya.


"Sweta mau kue? Bentar, Bubu bukain dulu, ya! Duduk yang tenang, Nak," pinta Elmira.


Sweta adalah anak yang penurut, dan hal itu menjadi kebanggan tersendiri bagi keduanya. Kini mereka sudah sampai di Lobby Rumah Sakit, Elmira dan Sweta menunggu didepan Poliklinik Kandungan. Sedangkan Mirda sedang mendaftarkan sang istri.


"Mirda?! Lagi apa disini?" tanya Faza yang juga berada disana.


"Lho, Mas Faza juga ngapain disini? Aku lagi daftarin Elmira," jawab Mirda.


"Poliklinik Kandungan?" tanya Faza seolah tak percaya.


"Iya Mas, terus Mas Faza ngapain disini?" Mirda balik bertanya pada Faza.


"Fix! Sweta bakalan punya adik banyak," antusias Faza dan memeluk Mirda.


"Mas, malu diliatin orang!" ucap Mirda membuat Faza salah tingkah.


Sementara itu, Sweta melihat sang Mama duduk diantara ibu-ibu hamil lainnya.


"Mama, mama!" panggil Sweta pada Pamela.


"Lho! Sweta? Bubu?" ucap Pamela ketika pandangan mereka beradu.


"Mama ngapain disini?" tanya Elmira memeluk Pamela.


"Nih, perut buncit masuk angin!" celetuk Pamela sambil memperlihatkan perutnya.


"Waw, its so amazing!" ucap Elmira saling memeluk.


Mirda dan Faza berjalan beriringan, terlihat kebahagiaan terpancar dari raut wajah keduanya. Sweta melihat sang Baba dan Papa berjalan bersama.


"Papa! Baba!" panggil Sweta berlari kearah keduanya.


"Wauu! Hap! Kakak Sweta udah gede aja nih," ucap Faza menciumi seluruh wajah Sweta.


"Papa au," celetuk Sweta menutup hidungnya dan merentangkan tangannya pada Mirda.


"What? Papa wangi sayang, masa bau," rengek Faza seperti anak kecil.


"Mas, malu!" ucap Mirda sambil menoel bahu Faza.


Kandungan Pamela sudah berusia 6 bulan, kali ini giliran Elmira yang akan diperiksa. Sweta sedang duduk bersama Mirda didepan meja dokter.


"Ini sudah terlihat kantung kehamilan dan janin nya ya, dokter El. Usia kandungannya saat ini sudah menginjak 13 minggu," ucap Dokter Iyam.


"Dok, saya kan pasien sekarang! Jangan panggil dokter dong," pinta Elmira.


"Kamu ini, El. Kandungan kamu udah 3 bulan, masa gak ngerasa," ucap Dokter Iyam.


"Hehehe, mana kutahu dok! Kan bukan dokter kandungan," elak Elmira.


"Kamu ini! Yasudah ini resep vitamin nya diambil diapotek ya," ucap dokter Iyam.


"Makasih ya, Dok!" ucap Elmira lalu keluar bersama Mirda sambil menatap foto USG ditangan mereka.


"Dia udah cukup besar ya, sayang. Kok bisa sih, telat tapi kita gak ngeuh," ucap Mirda.


"Abis Abang doyan sih!" celetuk Elmira membuat Mirda tersenyum puas.

__ADS_1


* * *


Minggu ini, Elmira meminta seluruh keluarganya untuk berkumpul dirumah sang Ayah. Tanpa memberitahukan terlebih dahulu mengenai niatnya mengumpulkan mereka semua.


"Ada apa ini teh? Kenapa tiba-tiba kita diminta kesini?" tanya Mama Febri.


"Iya aya naon sih? Meni sampe kaget kita rusuh kesini, untung merpatiku bisa membawa kuda besi dengan cepat," celetuk Ummi Ulil.


"Jangankan kalian, orang kita aja Emak sama Bapaknya gak dikasih tau!" kesal Bunda Gisya.


Tak lama kemudian, datanglah para anak muda yang baru saja menyelesaikan olahraga paginya. Mereka juga diberitahu mendadak oleh Elmira.


"Bun, ada apasih? Kok rame banget ini rumah kayak pasar," celetuk Alan.


"Enak aja! Mall kek, meuni pasar banget!" ketus Ummi Ulil pada sang anak.


"Ck! Ada apaan ini? Yang punya acara aja belom dateng, kita udah kumpul disini malahan!" kesal Alan sambil mencomot gorengan didepannya.


"Cuci tangan dulu, Maul! Jorok banget kamu!" ketus Mama Febri.


"Sehat, Ma! Vitamin Z!" ucap Alan.


Alana, Afifah, Cyra dan Indira sedang menata kue, mereka memang diminta untuk mempersiapkan segala kebutuhan acara Elmira.


"Kak Fifah, apa semua ini acara perpisahan karena Bang Mirda mau tugas?" tanya Alana.


"Hush! Kakak juga gak tau, jangan ngomongin perpisahan ah! Ngeri!" ucap Afifah.


"Makanya si Adek gak mau tuh punya calon yang tentara, milihnya yang kalem kaya Athaya ya Dek!" goda Alana pada Indira.


"Gimana Allah ajalah, Kak! Tapi kalo boleh milih, pengen yang biasa aja," ucap Indira.


Suara mobil berhenti dihalaman, membuat Ayah Fahri dan Baba Jafran bangkit dari duduknya. Elmira turun dengan menggunakan kursi rodanya, sebab beberapa hari lalu dia mengalami flek pada kehamilannya.


"Yaa Allah, Kakak!!" teriak Baba Jafran dan Ayah Fahri.


"Galak banget sih, Kak!" ucap Baba Jafran.


"Abis pada berisik, awas! Kakak mau lewat," ucap Elmira membuat sang Ayah menatap tajam kearah Mirda.


"Kita kedalem yuk, Baba, Ayah!" ajak Mirda tersenyum kaku.


Semua berhambur memeluk Elmira, mereka khawatir dengan kondisi Elmira.


"Yaa Allah si Kakak pinter banget bikin orang snewen! Kenapa duduk di kursi roda kayak emak-emak rempo begitu?" tanya Alan dengan polosnya.


"Si Alaaan! Diem berisik!" ketus Elmira membuat semuanya menatap aneh.


"Sekarang kalian semua berbaris! Bapak-bapak kumpul sebelah kanan, Ibu-ibu sebelah kiri, nah yang muda-muda ditengah-tengah aja!" titah Elmira dan mereka menurut begitu saja.


"Kita kaya kebo yang dicocokin, manut aja gitu!" bisik Alan pada Husain.


"Diem aja! Kita lihat drama apa yang akan dibuat princess," bisik Husain.


Mirda tersenyum kaku, sebenarnya dia juga tak nyaman dengan sikap Elmira. Tapi demi memberikan kejutan, dia rela melakukannya.


"Sekarang, Abang kasihin mereka satu persatu kotaknya!" titah Elmira dan Mirda mengikuti.


"Tuh liat, si Abang aja udah kaya kacung!" bisik Alan lagi membuat Husain menginjak kakinya.


"Aw! Monyet lu Ain, ngapain injek kaki gua!" kesal Alan dan menjadi pusat perhatian.


Alan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ketika melihat semua orang menatapnya aneh. Elmira mulai meminta mereka membuka kotak itu satu persatu.

__ADS_1


"Hallo Opa, Akung, Kakek!" tulisan kotak milik bapak-bapak.


"Hallo Oma, Uti, Nenek!" tulisan kotak milik ibu-ibu.


"Hallo Onty dan Onta!" tulisan kotak milik para anak muda.


Mereka saling tatap dan.....


"Horeeeeee!!! Sweta mau punya adiiikkk!!!" teriak mereka bahagia.


Mereka memeluk Elmira satu persatu, namun wajah para laki-laki muda itu tampak kesal.


"Yang bener aja lu, Kak! Masa kita Om-om ganteng dipanggilnya, Onta!" kesal Alan.


"Kan biar spesial dong, beda dari yang lain!" ucap Elmira menaik turunkan alisnya.


"Ck! Gua mau demo ah! Gak mau gua dipanggil Onta, pengennya dipanggil Uncle," protes Alan sambil melipat kedua tangan didadanya.


"Pokoknya Onta! Awas aja kalo ada yang ganti," ucap Elmira dengan mata berkaca-kaca.


"Udah manut aja kalian, namanya juga orang bunting!" celetuk Baba Jafran dan mereka terpaksa mengangguk.


Ketika semua orang tengah berbahagia, Mirda dengan sembunyi-sembunyi mengajak Ayah Fahri, Bunda Gisya, Indira juga Husain untuk bicara hal yang penting. Mereka kini tengah berada dikamar Ayah Fahri dan Bunda Gisya.


"Ada apa Bang? Kok kita dikumpulin begini?" tanya Husain yang penasaran.


"Begini, minggu depan Abang akan berangkat satgas ke Papua. Abang minta tolong, selama Abang pergi tolong jaga Elmira. Karena kandungannya sedang tidak baik-baik saja," lirih Mirda menunduk.


"Apa maksudnya, Bang?!" tanya Ayah Fahri.


"Kandungan Elmira lemah, Ayah. Terlebih dia memikirkan bagaimana ketika Abang gak ada disampingnya, hal itu memicu flek," lirih Mirda sambil berkaca-kaca.


Husain merangkul Kakak iparnya itu, dan menguatkannya.


"Kita bakalan selalu ada disampingnya, Bang. Abang tenang aja," ucap Husain.


"Abang titip, kalo sesuatu terjadi sama Abang...." ucapan Mirda terpotong.


"Jangan bicara seperti itu! Kembalilah dengan selamat, karena putriku menunggumu pulang! Ingat Mirda, kamu berjuang untuk negara dan pulang untuk keluarga!" tegas Bunda Gisya lalu keluar dari kamar begitu saja.


"Yang kuat, Bang! Kita pasti akan selalu ada buat Kak Rara," ucap Indira.


Mereka kembali berkumpul dengan yang lain, seperti biasa keriweuhan selalu terjadi ketika mereka semua berkumpul bersama.


"Kak, kalo liat si Alan bilang amit-amit ya!" celetuk Mama Febri.


"Hetdah! Enak aja, masa liat Aa bilang amit?! Harusnya mah bilang imut atuh," kesal Alan.


"Enggak atuh Ma, cuman Kakak ngidam pengen liat Onta-onta nyanyi tapi pake daster," lirih Elmira membuat para lelaki itu melotot.


"Noo!!!" teriak mereka bersama.


"Ikutin! Kalo anaknya ileran, Bunda masukin kalian kedalem presto!" ancam Bunda Gisya.


Mau tidak mau Alan, Husain, dan juga Thoriq memakai daster. Hal itu membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Sebab tubuh mereka yang tinggi besar membuat daster itu tampak sempit dibadan mereka. Mirda sangat bahagia melihat istrinya yang tampak ceria. Karena sebelumnya, Elmira selalu tampak murung.


"Jarak bukan untuk para penakut, itu untuk yang berani. Ini untuk mereka yang bersedia menghabiskan banyak waktu sendirian dengan imbalan sedikit waktu dengan yang mereka cintai. Aku yakin, kita akan bisa melewati semuanya, Elmiraku," batin Mirda.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2