Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Cinta Papa


__ADS_3

OTHOR MASIH SIBUK DI DUNIA NYATA πŸ₯ΊβœŒ


Maaf belum bisa jawab komen kalian πŸ™


Tetap ramaikan yaa.. komentar kalian jadi semangat buat Rindu ❀❀❀


Salam cintha ❀❀


* * *


Seorang Ayah terkadang terlihat cuek dan tidak peduli, tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, kebahagiaan anak dan istri adalah prioritas utamanya. Begitu pun bagi Papa Zaydan, pagi ini dia sudah mendarat di Bandung. Tugas negara memang tujuannya, tapi yang paling utama adalah dia ingin mengunjungi putri tersayang nya.


Walaupun Cyra bukan putri kandungnya, tapi baginya Cyra lebih dari itu. Dia layaknya berlian yang mudah patah dan rapuh, sejak beberapa hari yang lalu dia selalu teringat pada putri kesayangannya itu. "Papa kangen banget sama Cyra, dia baik-baik aja kan, Ma?"


Mama Febri mengelus punggung suaminya itu, "Mama juga kangen banget sama Cyra, besok kita langsung ke rumah Cyra ya, Pa! Acara kunjungan nya sebentar kan?" tanya Mama Febri.


"Iya Ma, besok sekalian mampir kantor si akang bupati! Kan kebetulan deket tuh sama tempat acara," pinta Papa Zaydan dan sang istri hanya mengangguk patuh.


Pagi ini sekitar pukul 10, acara telah usai. Dia niatnya untuk mengunjungi putra sahabatnya itu bukan isapan jempol belaka. "Ma, gaya ya si Abang! Udah banyak ajudan begitu," ledek Papa Zaydan ketika melihat Husain berjalan diikuti oleh para ajudannya.


"Hish! Papa juga sama, nih ajudan Papa juga banyak!" tunjuknya pada para prajurit yang mengawal keduanya.


"Abang!" teriak Mama Febri membuat Husain segera menoleh. "Mama!!" gumam Husain, dia segera berlari menuju sang Mama dan memeluknya dengan erat.


"A-abang kenapa? Kok nangis?" lirih Mama Febri menepuk-nepuk punggung putra sahabatnya itu.


Husain terisak, "Cyra tadi ke RSJ, Ma! Kata dokter kondisi nya sedang tidak baik-baik saja, dia gak sabar, Ma! Dia pergi gitu aja, ini Abang mau kerahin semua ajudan Abang buat cari Cyra!"


Booommmmm!


Sebuah bom seperti meledak dalam hati Papa Zaydan dan Mama Febri, tangan yang sejak tadi mengelus tiba-tiba terlepas dan melemas. Begitu pun Papa Zaydan, tubuh kuat dan gagah nya hampir saja limbung jika tak ada yang menahannya.


"Kerahkan semuanya untuk mencari putriku!!" tegas Papa Zaydan.


"Siap, laksanakan komandan!" jawab ajudannya serempak.


Husain dan Papa Zaydan berpencar untuk mencari keberadaan Cyra, hancur sehancur-hancurnya. Itulah perasaan Papa Zaydan, begitupun juga dengan Mama Febri. Isak tangis istrinya itu terdengar, rasa hatinya kini bagai teriris pisau belati.


Seolah memiliki radar, Papa Zaydan meminta sang ajudan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang tengah di kerumuni orang-orang. Padahal jaraknya cukup jauh dengan Rumah Sakit Jiwa.


"Permisi, apa bapak dan ibu melihat perempuan yang ada di foto ini?" tanya sang ajudan.


"Yaa Allah, itu aya di lebet Pak! Sepertinya kena hipnotis, pas ditepuk punggung ujug-ujug nangis!" ucap salah satu warga.


Mendengar penuturan itu, Papa Zaydan segera bergegas turun. Bahkan dia menjadi pusat perhatian sekitar, sebab pakaian yang digunakannya dengan berbagai lencana yang menempel pada seragamnya.


Hatinya hancur, putrinya kini menangis dipelukan seorang ibu-ibu paruh baya. Perlahan dia berjalan dengan gontai, "Ferandiza!" panggilnya dengan nada yang cukup tinggi.

__ADS_1


Cyra menoleh, "Pa-papa!" jawabnya terbata.


Laki-laki yang usianya tak lagi muda itu segera menghampiri putrinya dan memeluknya dengan erat. "Papa!" lirih Cyra, dia menangis sejadi-jadinya dipelukan Papa nya itu. Sedangkan Mama Febri berdiri dibelakang nya di apit oleh kedua ajudannya.


"Papa disini sayang, Papa akan selalu di samping Cyra. Kita pulang ya, ceritakan semua sama Papa, apa yang Cyra rasakan saat ini. Papa akan menjadi orang pertama yang mendengar semuuuaaa cerita kamu," ucap Papa Zaydan sambil mengelus punggung putrinya itu.


Cyra mengangguk, perasaannya cukup tenang ketika Papa Zaydan memeluknya. Namun tubuhnya kembali bergetar hebat ketika melihat kerumunan banyak orang yang melihatnya. Dia menutup telinga dan menggelengkan kepalanya, "Nggak! Aku gak mau ketemu banyak orang! Aku gak mau, Papa! Bawa aku pergi Papa, aku takut!"


Melihat sang anak histeris, Papa Zaydan meminta agar semuanya sedikit menjauh dan memberikan ruang bagi anak dan orang tua nya itu. "Bu hapunten, boleh sebentar kita minta waktunya. Saya pinjam ruang tamu ibu sebentar," Papa Zaydan izin kepada sang pemilik rumah.


"Mangga, Den! Jangan sungkan, Emak kira tadi neng kena hipnotis, ternyata beliau menyimpan beban berat. Sok silahkan, ngobrol nya di dalam kamar tamu saja. Emak nunggu disini sama aden-aden yang gagah ini," ucapnya.


Papa Zaydan segera membawa sang anak ke kamar yang telah ditunjukan oleh wanita bernama Mak Zubaidah itu. Sedangkan Mama Febri hanya berdiri didepan pintu, tentu saja di dampingi oleh kedua ajudannya. "Kalian duduk aja di drpan, saya mau duduk disini sendiri!"


Mama Febri tak ingin permasalahan putrinya itu menjadi konsumsi publik, dia juga tak lupa untuk menghubungi Husain dan memberikan alamat rumah ini.


Didalam kamar, Papa Zaydan terus mengelus punggung putri nya yang masih terisak. Demi apapun, dia lebih baik terkena beribu tembakan daripada melihat putri kesayangan nya menangis seperti ini. "Kamu tau kenapa Papa kasih nama kamu Ferandiza?"


Cyra mendongak, lalu dia menggelengkan kepalanya. "Ferandiza adalah gabungan dari nama orang tua kamu, sayang. Febri, Andi dan Zaydan! Kamu tau kenapa?" lagi-lagi Cyra menggelengkan kepalanya.


"Karena kamu juga anak Papa, meskipun tak ada hubungan darah, tapi kamu adalah anak Papa. Cinta Papa, hidup Papa, jiwa Papa. Kamu adalah harta pertama Papa yang paling berharga, lebih dari apapun!" ucap Papa Zaydan, tak terasa butiran air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya.


Mama Febri pun sama, dia sangat tak menyangka jika kasih sayang suaminya untuk putri nya itu sangat dalam.


"Papa harap cinta kamu sama Papa juga sama! Papa mau menjadi orang pertama yang tau rahasia hati kamu," perlahan Papa Zaydan ingin membuat Cyra mengungkapkan isi hatinya.


Tak ada yang bersuara, Cyra masih terisak dipelukan sang Papa. Husain, Thoriq dan Alan datang bersamaan. Mereka menghampiri Mama Febri, namun Mama Febri hanya mengangkat tangannya dan memberikan isyarat agar mereka tak banyak bicara.


"Ada miom dalam rahim Cyra, meskipun di operasi kemungkinan Cyra untuk punya anak itu kecil. Cyra bukan perempuan yang sempurna, Pa. Cyra gak bisa memberikan keturunan buat Mas Thoriq," isak tangis kembali menggema.


Cyra mendongak menatap wajah sang Papa, "Kenapa harus Cyra, Pa? Kenapa harus Cyra yang mengalami semua ini? Cyra takut Papa, Cyra sendirian! Gelap, sesak rasanya Pa!"


Sekuat-kuatnya seorang Papa, dia akan lemah jika melihat tatapan sendu putrinya itu. Hatinya teramat sakit mendengar pertanyaan sang anak, "Kamu gak sendirian sayang, Papa, Mama, Carel, Thoriq semuanya anak disamping kamu, Nak!"


Cyra menggelengkan kepalanya, "Terlalu banyak beban yang kalian tanggung, bukankah lebih baik Cyra pergi bersama Papa Andi, Pa?"


Bagai di hantam batu besar, Papa Zaydan menangis sambil mencium pucuk kepala sang anak. "Jangan pernah berpikir seperti itu! Kamu adalah hidup Papa, kalo kamu pergi bagaimana dengan Papa dan Mama?!"


Diluar sana tubuh Thoriq limbung, mendengar ucapan sang istri membuat dirinya merasa menjadi suami yang tak berguna. "Aku bodoh! Aku bukan suami yang berguna!" dia memukul-mukul kepalanya ke tembok.


"Jangan lakukan hal bodoh! Kalo lu lemah, siapa yang bakalan nguatin Cyra!" geram Alan.


Thoriq menangis tersedu-sedu, hatinya teramat sakit ketika mendengar keluh kesah sang istri. Begitu pun dengan Alan, dia tidak menyangka jika berita kehamilan Theresia akan membuat jiwa Cyra kembali terluka.


"Rere hamil, Pa! Cyra seneng, seneng banget malah! Tapi Cyra gak ngerti, Pa. Mata ini selalu tiba-tiba menangis, tiap Cyra kerumah Rere pasti selalu gitu. Tangan Cyra selalu tiba-tiba gemeteran, Cyra aneh ya, Pa?" semua unek-unek dalam hatinya itu dia keluarkan pada Papa Zaydan.


Papa Zaydan menggelengkan kepalanya, "Anak Papa gak aneh, anak Papa ini istimewa!"

__ADS_1


Cyra kembali mendongak, dia mengelus rahang sang Papa yang terkena airmata dan menghapusnya. "Kamu adalah permata hati Papa, kamu anak yang istimewa! Allah memberikan kamu ujian yang begitu hebat, itu karena Allah sangat menyayangi kamu. Allah yakin kalo anak Papa ini anak yang kuat!"


Melihat sang Papa menangis, Cyra pun mencium pipi sang Papa. "Papa jangan nangis, cukup Cyra aja yang sakit. Papa harus sehat, Cyra masih butuh Papa. Cyra sayang sama Papa!"


Karena sudah tak kuat lagi, Mama Febri masuk kedalam kamar itu dan memeluk putrinya dengan erat. "Kamu adalah harta Mama yang paling berharga, kamu adalah perjuangan Mama. Apapun akan Mama lakukan, kamu akan sembuh! Mama dan Papa akan selalu ada disamping kamu, sayang. Jangan pernah menanggung semua bebanmu sendiri, kamu ngerti kan maksud Mama?"


Kini Cyra mengangguk, dia pun memeluk Mama Febri dengan erat. "Makasih ya, Ma. Makasih udah berjuang buat Cyra sejak dulu, maaf kalo Cyra selalu bikin Mama dan Papa kecewa. Maaf kalo......."


"Gak ada yang perlu di maafkan, Nak! Semua ini sudah ketetapan Allah, Mama bangga punya Cyra! Tapi mulai sekarang, Mama minta apapun yang ada dalam hati kamu, tolong ungkapkan semuanya ke Mama ya, Nak!" pinta Mama Febri.


Tanpa sengaja, Cyra menatap kearah pintu. Dia melihat sang suami yang berdiri disana, wajah sendu nya menatap Cyra. "Mas Thoriq," lirih Cyra.


Thoriq menganggukan kepalanya, dia masuk kedalam dan berlutut dihadapan sang istri. "Maafin Mas, sayang! Mas belum bisa jadi suami yang baik, sampe kamu harus menanggung semua beban itu sendiri! Maafin Mas, Cyra!" isak tangis Thoriq di pangkuan istrinya.


"Enggak, Mas! Semuanya salah aku, Mas. Aku yang harusnya minta maaf, aku belum jadi istri yang sempurna buat kamu. Maaf ya, Mas!" Cyra mengusap lembut kepala sang suami.


"Mas...... Ceraikan aku!"


Kedua orang tua nya, juga Thoriq membeku, dia mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Sampai kapan pun, Mas gak akan pernah menceraikan kamu! Mau kita punya anak atau pun enggak, Mas gak peduli! Mas cuman mau hidup bahagia berdua sama kamu!" tegas Thoriq.


Cyra menggelengkan kepalanya. "Mas harus punya generasi penerus, kalo Mas gak mau ceraikan aku....... Mas boleh menikah lagi! Aku siap di madu!"


Boom!!!


Bom waktu yang lama terpendam dalam hati Cyra akhirnya meledak juga, "Kamu minta di madu?" tanya Thoriq.


Cyra menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca, "Kalo gitu, Mas minta sama kamu kasih Mas racun!"


Ucapan Thoriq membuat mereka yang mendengar seakan ingin menjawab, "Mas lebih baik kamu racuni! Jangan pernah berpikir kalo Mas akan menikah lagi, dan satu hal lagi! Sampai mati pun, Mas tidak akan pernah menceraikan kamu! Kecuali.......... Allah mengambil nyawa, Mas! Saat itu juga Mas baru akan putus hubungan denganmu!"


Thoriq tidak peduli perihal anak, dia hanya ingin hidup bahagia bersama sang istri. Papa Zaydan dan Mama Febri saling menggenggam tangan, mereka bangga pada menantunya itu. Dia bisa menjawab semua pertanyaan putrinya yang cukup menyakitkan.


Cyra membawa Thoriq kedalam pelukannya, "Kalo gitu, izinkan aku buat tinggal di Jogja. Aku butuh ketenangan saat ini, Mas!" pinta Cyra.


"Kita akan pindah ke Jogja kalo perlu, Mas akan selalu mendampingi kamu! Kemana pun kamu pergi," lirih Thoriq.


Mereka sudah mengambil sebuah keputusan, sedangkan Alan berdiri mematung disana. Tak menyangka jika secara tidak langsung, kehamilan istrinya menjadi luka bagi Cyra. Tapi Alan tak bisa memungkiri perasaan bahagianya. Dia memutuskan untuk pergi dari sana, hatinya sudah tak sanggup lagi mendengar semuanya. Terlebih..... Cyra akan jauh dari jangkauannya.


Papa Zaydan segera menghubungi salah satu ajudannya di Jogja, dia memintanya untuk mencarikan rumah yang cukup sejuk dan nyaman. Apapun akan Papa Zaydan lakukan untuk putrinya, dia tak peduli akan hal lainnya. Seorang Ayah akan memberikan apapun termasuk seluruh dunia jika untuk putrinya, begitulah cinta Papa pada anaknya.


Maka selagi Papa masih ada, yuuukkkk! Kita ucapkan maaf dan beribu terimakasih, sebab kita tak akan pernah ada di dunia ini jika Papa tidak menabur kecebongnya di rahim Mama.. #Eeehhh.... 🀭 (Othor terkontaminasi Baba Jafran ✌)


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2