Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Gambaran Keluarga Bahagia


__ADS_3

Suasana rumah Elmira tampak ramai, pasalnya besok Afifah dan Rian akan menikah. Dan pagi ini akan diadakan acara pengajian untuk mendo'akan pernikahan Rian dan Afifah. Tamu mulai berdatangan, Elmira masih disibukkan dengan memandikan Sweta putri kecilnya. Tak lupa dibantu oleh Afifah dan juga Indira, sebab Sweta sedang dalam masa pertumbuhan. Hal itu membuat Sweta tak bisa berdiam diri, selain itu Sweta sedang tumbuh gigi makanya dia sering rewel dan membuat Elmira kerepotan.


Bunda Gisya mengerenyitkan dahinya, pasalnya sang calon pengantin belum juga turun.


"Yaa Allah, Yaa Robbiii...! Ai kalian malah ngagugulung Sweta, itu tamu udah pada datang! Cepet kebawah Afifah, jangan lupa ganti bajunya!" titah Bunda Gisya.


"Hehe maaf ya, Bun. Abis lucu banget Sweta gak mau diem," ucap Afifah sambil beranjak.


"Kakak mau Bunda bantuin? Biar gak lama," ucap Bunda menawarkan.


"Gak usah Bun! Udah cantik gitu, nanti Bunda malah harus ganti baju lagi kaya Afifah! Lagian dibawah udah banyak tamu kan?" ucap Elmira sambil memakaikan minyak telon pada Sweta yang sibuk merangkak.


"Yaudah kalo gitu Bunda kebawah duluan ya! Cucu Oma jangan rewel dong, Nak!" ucap Bunda Gisya sambil mengelus kepala Sweta.


Kini Afifah, Bunda Gisya dan juga Indira sudah turun untuk menyambut para tamu. Mirda yang baru saja tiba tidak melihat calon istrinya dimanapun. Akhirnya dia menghampiri Bunda Gisya dan bertanya.


"Bun, Elmira dimana?" tanya Mirda sambil mencium tangan Bunda Gisya.


"Itu masih dikamar, Sweta nya rewel. Daritadi mau dipakein baju aja susah banget! Coba Abang susul aja kesana," ucap Bunda Gisya.


"Yaudah Abang keatas dulu ya, Bun," pamit Mirda.


"Bang! Awas khilaf!" ledek Afifah yang mendapatkan cubitan ditangannya.


"Awh! Sakit Bun!" rengek Afifah.


"Makanya mau jadi penganten itu ya yang anggun, kalem gitu, Fifaaah!" ucap Bunda gemas.


Mirda melangkahkan kakinya ke kamar Elmira, rupanya pintu kamarnya terbuka lebar. Bukannya masuk, Mirda malah mematung didepan pintu. Dia melihat Elmira dengan sabar memakaikan baju pada Sweta. Meskipun Sweta bukan anak kandungnya, tapi Elmira benar-benar memperlakukan Sweta dengan baik. Mirda semakin mematung ketika melihatl Elmira tanpa memakai jilbabnya, rambutnya dicepol asal keatas. Tapi dimata Mirda semuanya terlihat sangat mengagumkan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Elmira menoleh, dengan segera dia menyambar jilbab yang tergeletak dilantai saat melihat Mirda yang mengetuk pintu.


"Abang udah lama disitu?" tanya Elmira saat melihat Mirda mulai masuk.


"Lumayan, kenapa ditutupin mukanya?" heran Mirda, karena Elmira menutupi sebagian wajahnya.


"Aku belum mandi, belum siap-siap! Malu lah," ucap Elmira.


"Meskipun kamu gak mandi, cinta Abang sama kamu gak akan pernah luntur!" ucap Mirda sambil membawa Sweta kepangkuannya.


Elmira tersenyum senang saat melihat Mirda mulai memakaikan pampers dan celana Sweta. Tanpa merasa jijik ataupun risih.


"Sweta kalo sama Bubu rewel, giliran sama Om diem!" gemas Elmira mencubit pipi gembul Sweta.


"Jangan panggil Om lagi dong sayang, kan sebentar lagi Abang jadi Ayahnya Sweta juga. Masa sama yang lain panggilnya Papi, Papa!" ketus Mirda kesal.


"Uluh uluh, jangan ngambek dong Baba nya Sweta," ucap Elmira sambil mencubit pipi sang calon suami.


"Jangan cubit, cium dong," goda Mirda sambil menaik turunkan alisnya.


Dengan cepat Elmira menjauhkan diri, wajahnya sudah sangat merah karena malu.


"Mandi dulu sayang, biar Abang yang urus Sweta. Kita harus kebawah, sebentar lagi pasti pengajiannya dimulai," ucap Mirda sambil mencium pipi Sweta.


"Yaudah titip sebentar ya, Bang. Aku mandi sama siap-siap dulu," ucap Elmira lalu membawa keperluannya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Lho kok bawa baju ke kamar mandi?" tanya Mirda sambil tersenyum jahil.


"Iyalah, masa ganti baju disini? Kan ada Abang!" ketus Elmira.


"Boleh dong ngintip dikit!" goda Mirda.


"Ish si Abang! Mesuuuuummmm!" ucap Elmira lalu masuk kedalam kamar mandi.


Sweta sangat nyaman bersama Mirda, semua orang bisa melihat hal itu. Termasuk Faza dan juga dokter Pamela, mereka baru saja menyusul keatas untuk membawa Sweta. Tapi ternyata, mereka melihat jika Sweta sedang bermain sambil tertawa bahagia.


"Aku gak tega harus pisahin mereka, Mas. Tapi aku juga mau mengasuh Sweta sepenuhnya," lirih Pamela dipelukan suaminya.


"Nanti kita bicarakan baik-baik dengan Elmira, bagaimanapun Sweta tanggung jawab aku juga," ucap Faza menenangkan istrinya itu.


Mereka tak jadi masuk kedalam kamar, mereka memutuskan untuk bergabung bersama tamu yang lainnya. Elmira sudah siap, dia sengaja berdandan didalam kamar mandi. Dia memakai gamis berwarna abu yang sama dengan baju yang digunakan oleh Sweta, karena ini kali pertamanya memakai baju couple bersama bayi kecilnya.


Elmira tak menemukan Mirda dan Sweta disana, ternyata Mirda membawa Sweta ke balkon kamarnya. Dia melihat Sweta tersenyum bahagia, melambai-lambaikan tangannya pada paman dan bibinya yang sudah berada dihalaman belakang.


"Bang, ayo kita turun," ajak Elmira sambil membawa jilbab kecil milik Sweta.


"MashaAllah, baru pertamakali Abang lihat ada bidadari keluar dari kamar mandi! Kamu cantik banget, sayang," ucap Mirda lalu mendekati Elmira.


"Udahan gombalnya! Yukk kita kebawah, pakai dulu jilbabnya ya cantiikk," ucap Elmira sambil memasangkan jilbab pada Sweta yang berada dalam gendongan Mirda.


Mereka berjalan beriringan menyusuri tangga, Sweta yang berada dalam gendongan Mirda dan Elmira yang berjalan disampingnya membawa tas keperluan Sweta. Hal itu membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian yang lainnya.


"Yaa Allah gambaran keluarga bahagia banget!" ucap Afifah sambil menatap gemas.


"Iya bener Teh! Cocok banget, apalagi bajunya samaan gitu. Ah lucu banget siii, apalagi itu Sweta nemplok banget sama Bang Mirda," ucap Indira dengan mata yang berbinar.


"Bunda, ini Ayah disebelah loh! Masih puji-puji laki-laki lain!" kesal Ayah Fahri.


"Ish dasar Ayah buciiiiinnnnn!" ucap Afifah dan Indira bersamaan.


Pengajian sudah dimulai, suasana haru sangat terasa. Terlebih ketika Afifah mengingat jika kedua orangtuanya sudah tiada. Bahkan sang Kakak pun tidak hadir sama sekali. Elmira duduk mendampingi bersama Indira dan juga Sweta, sementara Mirda bergabung bersama yang lain dihalaman belakang. Saat pengajian sedang berlangsung, tiba-tiba Sweta menangis. Hal itu membuat Elmira panik, dia membawa Sweta ke halaman belakang yang tak jauh dari sana.


Elmira terus menggendong Sweta mencoba menenangkannya.


"Sssttt... Anak cantik, anak soleha, gerah ya sayang," ucap Elmira sambil membuka jilbab Sweta, namun Sweta malah berontak seolah tak ingin jilbabnya dilepaskan.


"Kenapa sayang?" tanya Mirda menghampiri Elmira dan Sweta.


"Gak tau, Bang! Tiba-tiba nangis kejer gini," jawab Elmira.


"Bbm-babm-babam," gumam Sweta sambil merentangkan tangannya pada Mirda.


"Oh mau digendong Baba sayang, cupcupcup sini Baba gendong. Tapi udahan ya nangisnya sayang," ucap Mirda sambil menghapus airmata Sweta.


Ajaib! Itulah yang tepikir oleh Elmira dan juga mereka yang berada disana.


"Yaa Allah ternyata mau sama Baba nya itu anak!" celetuk Alan.


"Beuh kalo yang panggilan Baba mah, udah pasti anak-anak betah! apet udah!" ucap Baba Jafran membanggakan dirinya. Sedangkan Alan memutar bola matanya malas.


"Kepedean amat kamu, Ba! Cyra aja panggil aku Papa tapi betah-betah aja tuh!" ucap Papa Zaydan menyela ucapan Baba Jafran.


"Ih udah berisik! Perkara panggilan aja pada ribut sih!" ketus Alan yang kesal.

__ADS_1


Acara pengajian sudah selesai, kini mereka semua sedang menikmati santapan prasmanan yang sudah disediakan oleh keluarga Bunda Gisya. Siapa lagi yang memasak jika bukan Mama Febri sang juara masak. Disaat semua orang menikmati makanannya, Mirda dan Elmira masih sibuk menyuapi Sweta yang sepertinya memang lapar.


Semua yang berada disana menatap kagum pada ketiganya, memang gambaran sebuah keluarga kecil yang hidup bahagia.


"Kamu makan dulu aja sayang, nanti biar gantian," ucap Mirda pada Elmira.


"Nanti aja kita makan sama-sama, Bang. Biar Sweta aku titip Bang Ain sama Alana," ucap Elmira menunjuk keduanya yang sedang menikmati hidangan.


"Kenapa gak Kakak suapin aja coba Bang Mirdanya, jadi sepiring berdua gitu," goda Alana.


Belum juga Elmira menjawab, Bunda Gisya datang dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Sambil tersenyum Bunda Gisya memberikan itu pada Elmira.


"Berhubung piringnya habis, kalian makan sepiring berdua ya!" ucap Bunda Gisya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Elmira lalu pergi begitu saja.


"Hmm, ini pasti akal-akalan Bunda!" gumam Elmira.


"Aaaaa, suapin Abang!" ucap Mirda membuat wajah Elmira memerah.


Uhuukk Uhuuukkk!


"Alana, kita pergi yuk! Gak enak jadi nyamuk!" ajak Husain.


"Iyaa gak kuat liat keuwuuuan calon manten!" ucap Alana.


"Makanya kasih kepastian, biar cepet halal!" ketus Elmira.


Sweta menatap kedua orangtuanya, sambil meraih sendok yang berada ditangan Elmira.


"Anak Bubu cemburu yaaa?" goda Elmira sambil mencium pipi Sweta.


"Mana coba Baba liat, gak boleh yaa Bubu suapin Baba, Nak?" tanya Mirda, sedangkan Sweta hanya bergumam sambil memperlihatkan giginya yang baru tumbuh 4 biji.


"Lucu gigi Sweta kaya gigi kelinci ya, Bang," ucap Elmira.


"Sayang, Sweta itu nama panjangnya apa?" tanya Mirda yang penasaran.


"Belum tau, Bang. Kita panggil Sweta itu singkatan dari 'Sweet Angel', lagian aku sama Mas Faza masih gantian buat asuh Sweta," ucap Elmira membuat Mirda kaget.


"Lalu nanti setelah kita nikah, Sweta gimana?" tanya Mirda yang mulai panik.


"Makanya itu, Bang. Setelah kita nikah, aku pengennya hak asuh Sweta sama aku," lirih Elmira sambil menatap Sweta.


Mereka larut dalam pikirannya masing-masing, saat ini mereka sudah terlanjur menyayangi Sweta dan tak ingin kehilangan bayi kecil itu. Hal itupun dirasakan oleh Faza dan juga dokter Pamela. Mereka juga ingin merawat Sweta, lalu siapakah yang akan merawat Sweta kedepannya??


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, para tamu sudah mulai pulang. Semuanya berbincang-bincang dihalaman belakang dengan menggelar tikar dibawah tenda putih. Sweta tertidur lelap dalam gendongan Mirda, tiap kali Elmira akan membawanya pasti Sweta akan terbangun. Tak lama kemudian terdengar suara yang tak asing ditelinga Mirda.


"Hei Anak Nakal!"


* * * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2