
Sebulan sudah Gisya tinggal di Jogjakarta, dengan jabatan dan tugas yang baru. Kegiatannya kali ini cukup padat, termasuk mengantarkan Quera ke sekolah barunya. Sekolah Dasar Teladan Yogyakarta menjadi pilihan Gisya dan Fahri untuk menyekolahkan putri kesayangannya itu. Meskipun usia Quera kurang dari tujuh tahun, tapi dia sudah lancar membaca dan menulis.
Pagi ini, hari pertama Quera bersekolah. Dia sangat bersemangat, karena akan bertemu teman-temannya yang baru. Seperti biasa mereka akan berdebat dengan hal-hal yang Fahri rasa tidak penting. Sebelum perdebatan itu terjadi, Fahri terlebih dulu mengajak mereka untuk berangkat.
"Bun, Kak! Ayoo nanti kesiangan! Masa hari pertama udah kesiangan." ajak Fahri.
"Huft! Yaudah ayo Kak, mau pake lunch box yang manapun terserah Kakak. Tapi harus dimakan, dan jangan jajan sembarangan!" ucap Gisya mengingatkan.
"Siap Bu Danki!" ucap Quera memberi hormat, membuat Gisya menggelengkan kepalanya.
Husain ikut semangat ketika mengantar kakaknya ke sekolah. Karena sebenarnya Husain sudah merengek pada Gisya untuk bisa bersekolah. Sayangnya, Fahri belum mengizinkannya. Mengingat usia Husain baru akan memasuki 4 tahun.
"Bun, anak pungut itu apa?" tanya Quera dengan polosnya membuat Fahri dan Gisya tersentak kaget. Fahri menepikan mobilnya, dia lalu berbalik menatap putrinya itu.
"Kakak tau kata seperti itu darimana?" ucap Fahri dengan tegas membuat Quera takut.
"Abang!" tegur Gisya. "Kakak tau darimana sayang kata-kata itu?" tanya Gisya dengan penuh kelembutan.
Perlahan Quera mengangkat wajahnya dan menatap kedua orangtuanya.
"Kata Mamanya Nizam, Kakak ini anak pungutnya Bunda sama Ayah." lirih Quera.
"Astaghfirulloh, Bu Amir!" geram Fahri mengepalkan kedua tangannya.
"Abang harus ambil tindakan kali ini! Selama ini Caca diem karena dia cuman mengusik Caca. Tapi kali ini anak-anak, Bang!" kesal Gisya.
Husain dan Quera terlihat ketakutan melihat amarah kedua orangtuanya.
"Sayang, Bunda sama Ayah gak marah sama Kakak. Dan satu hal lagi, Kakak itu bukan anak pungut! Kakak itu anak Bunda sama Ayah, Kakak paham kan sayang? Kalo ada yang bilang seperti itu lagi, Kakak harus bilang sama Bunda. Ok?" ucap Gisya lembut.
"Iya Bun. Kakak kan emang anak Bunda sama Ayah." lirih Quera.
Fahri melajukan mobilnya kembali, karena takut putrinya itu terlambat. Sesampainya di sekolah, Quera sangat antusias bertemu dengan teman-teman barunya.
"Bun, Yah. Kakak masuk sekolah dulu, ya! Do'ain Kakak jadi anak yang cerdas." ucap Quera sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
"Do'a dari Bunda dan Ayah akan selalu menyertai Kakak. Jangan lupa dimakan bekalnya, inget kan pesen Bunda?" tanya Gisya memastikan.
"Siap Komandan!" ucap Quera memberi hormat layaknya prajurit.
Para guru tersenyum melihat sebuah kehangatan dalam keluarga, tak lupa Quera berpamitan kepada Husain sang adik. Pasalnya, Husain akan menangis ketika Quera sebentar saja jauh darinya.
"Abang Ain, jangan rewel! Kakak pulang jam 2 sore, Abang harus jadi anak soleh ya! Main yang anteng sama Cyra ya." ucap Quera layaknya orang dewasa.
"Ciap mandan! Abang nda angis!" ucap Husain dengan polosnya.
Fahri mengusap lembut kepala putrinya itu, dia sangat bangga dengan sikap Quera.
"Sudah cepet masuk, Kak. Kalo ada apa-apa bilang sama Bu Guru, ya. Nanti Ayah jemput sepulang sekolah." ucap Fahri pada Quera.
"Iya Ayah. Assalamu'alaikum Ayah, Bunda, Abang!" ucap Quera.
"Calam calam! Dadaaahh tataaa!" teriak Husain.
Sepulang mengantarkan putrinya, Gisya segera kembali kerumah untuk menyelesaikan laporan kegiatan Persit. Sedangkan Husain diantarkan ke Toko bersama Cyra. Fahri yang masih sangat geram dengan tingkah salah satu istri anggotanya itu segera bertindak.
__ADS_1
"Zaydan! Tolong panggil Danton II kemari, bilang saya memanggil." perintah Fahri.
"Siap! Laksanakan Danki." ucap Zaydan lalu pergi kerumah Pak Amir.
Pak Amir sudah mulai gelisah ketika Zaydan mengatakan jika Danki memanggilnya. Segera dia bersiap untuk menemui Komandannya itu.
"Siap! Danki memanggil saya?" tanya Pak Amir.
"Iya saya memanggil Danton II, tapi bukan sebagai atasan. Tapi sebagai seorang suami dan seorang Ayah." ucap Fahri dengan menekankan setiap kata yang diucapkannya.
"Siap salah! Maksudnya bagaimana Danki? Saya tidak memahaminya." ucap Pak Amir.
Fahri menghela nafasnya, dia mulai memijat keningnya yang terasa pusing. Dia sungguh emosi mengingat perkataan Quera tadi pagi.
"Begini Pak Amir, istri anda berterus terang pada anak saya Quera. Dia mengatakan jika putri saya itu anak pungut! Apakah pantas seorang yang dewasa mengatakan hal seperti itu pada anak sekecil Quera?" geram Fahri. Pak Amir sangat terkejut mendengarnya.
"Siap salah! Saya mohon maaf atas kelakuan istri saya, Danki. Saya memang tidak bisa mendidik istri saya dengan baik." ucap Pak Amir.
"Ini bukan kali pertama istri anda mengusik ketenangan hati saya, jika ini terulang kembali. Saya pastikan kasus ini akan berlanjut!" tegas Fahri.
Setelah mengungkapkan kekesalannya pada Pak Amir, Fahri pun kembali ke kantornya untuk menyelesaikan laporannya. Fahri sedang menyusun rencana kerja, dia berencana akan merenovasi mesjid yang berada dilingkungan Batalyon. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Tapi Fahri tak menghiraukannya.
Ddrrtt.. Ddrrrtt...
Ponselnya terus bergetar, rupanya pesan dari adik iparnya yang meminta dijemput di Bandara. Karena mereka baru saja sampai di Jogja.
✉️ Syauqi Malik.
Bang jemput di Bandara sekarang!
Kasian istriku dan Bunda!
Si Abanggggggg!!!
Fahri hanya menjawab dengan 'OK'. Syauqi yang membacanya sangat kesal.
"Dasar Abang gak ada akhlak! Cumaan jawab OK doang Bun!" kesal Syauqi.
"Masa?" ucap Syaina dan Bunda Syifa berbarengan.
"Ganti deh panggilan kamu, Uqi! Jadi Bunda ikut jawab kan!" kesal Bunda Syifa.
"Emm yaudah deh, Aa panggil Ina Ami aja ya!" ucap Syauqi.
"Serah Aa lah! Bebassss Ina mah!" ucap Syaina dengan ketus.
Saat ini Syaina tengah mengandung 3 bulan, semenjak itu Syaina selalu kesal jika berada didekat Syauqi. Tapi jika Syauqi pergi, dia akan merengek agar Syauqi segera pulang. Fahri sudah sampai di Bandara, dia melihat mertua dan adik iparnya itu menatap dengan tajam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian ke Jogja gak kabarin Abang, jangan salahin dong kalo Abang telat!" ucap Fahri sambil mencium tangan mertuanya itu.
"Iya deh, Abang mah selalu bener!" ucap Syauqi.
Mereka benar-benar memberikan kejutan untuk Gisya, terlebih membawa kabar kehamilan Syaina. Dia berhambur memeluk Bunda dan adik iparnya.
"Bunda kenapa gak bilang kalo mau dateng!" ucap Gisya terisak.
__ADS_1
"Kan namanya juga kejutan atuh, Tehh! Kalo bilang-bilang mah beda judul!" ucap Syauqi.
"Hih! Si Malik makin ngeselin ya, Bun. Padahal udah lama gak ketemu!" kesal Gisya.
"Heleh, ngeselin juga pada rindu kan! Duo bumil emang emosian!" celetuk Syauqi.
"Haaaaahhhhhh?" ucap Gisya dan Fahri bersamaan.
"Ina blendung? Waawwww itu bisa ular pedut hebat juga ya, Bun!" ledek Fahri.
"Sorry ya, king Cobra! Makanya kita kesini, itu bumil ngidam." ucap Syauqi lesu.
"Inaa, selamat ya sayang! Sing sehat, lungsur langsar sampa nanti lahiran. Asiikk anak Teteh jadi ada temennya." ucap Gisya antusias.
"Ngidam apa emangnya Ina?" tanya Fahri.
"Mmmm.. Itu, emmmm..." ucap Syaina ragu-ragu.
"Apaan? Kok am em am em doang? Abang jadi gak enak hati!" ucap Fahri.
Fahri membulatkan matanya ketika mendengar keinginan Syaina.
"Jadi Abang harus ngumpulin semua anggota Abang yang botak gitu? Yaa Allah, emang di Bandung gak ada Tentara yang botak?" ucap Fahri lesu.
"Gak tau lah! Orang Ina maunya liat Tentara Jogja yang botak!" kesal Syauqi.
"Gimana nanti lah! bang jemput dulu Kakak di sekolah, Bun!" ucap Fahri menghindar.
"Iya Bang, Iya Yah!" ucap Bunda Syifa dan Gisya berbarengan.
"Yaa Allah! Kalian ganti nama panggilan kalo lagi ada Bunda!" kesal Bunda Syifa.
Syauqi memaksa untuk ikut Fahri menjemput keponakannya itu, dia juga sudah mulai pusing dengan permintaan istrinya yang terkadang tidak masuk akal. Saat sampai disekolah, dia melihat Quera sedang menangis dipelukan gurunya. Fahri segera menghampiri putrinya itu.
"Ada apa dengan anak saya, Bu?" tanya Fahri pada guru putrinya itu.
"Begini Pak, tadi ada beberapa orang memakai baju hitam-hitam. Mereka memaksa Quera untuk ikut masuk kedalam mobil. Untung saja security dengan sigap membawa Quera, tadi dia kaget hingga menangis." ucap Guru Quera.
Fahri mengepalkan tangannya, begitupun juga dengan Syauqi. Mereka akan melaporkan kejadian itu ke Polisi. Kini bukti CCTV sudah berada ditangan mereka.
"Kakak gak apa-apa kan, sayang?" tanya Fahri memeluk putrinya.
"Takut Yah! Om Uqi mau jagain Kakak kan?" tanya Quera dengan polos.
"Jangan takut Kak! Selama disini, Om Uqi bakalan jagain Kakak." ucap Syauqi.
Akhirnya mereka pulang, Fahri menggendong Quera hingga dia terlelap tidur. Mereka takut sesuatu terjadi pada Quera. Terlebih dia pernah mengalami penculikan.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤