Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Salahin Baba


__ADS_3

Jika kedua pasangan suami istri itu tengah menikmati honeymoon nya, berbeda dengan Alan yang kini sedang menjalani terapi berjalan. Alan mendengus kesal, pasalnya sang Baba membuatnya geli sendiri. Bagaimana tidak, Baba Jafran membawa pompom seperti seorang cheerleaders. Dia bersorak-sorak menyemangati Alan dan hal itu membuat Alan malu, sebab kini mereka menjadi pusat perhatian.


Alan melakukan terapi dirumah sakit, sekalian berkonsultasi dengan dokter. Theresia dengan setia mendampingi Alan, sekalian dia kontrol jantungnya.


"Gimana kata dokter?" tanya Alan ketika Rere menghampirinya.


"Hasilnya bagus, A. Alhamdulillah," Rere menyunggingkan senyumnya menatap Alan yang kini juga menatapnya.


"Ekhem," deheman sang Baba membuat Alan mencebik kesal.


"Ngapain sih, Ba? Batuk? Dikomik aja," ketus Alan.


"Komik mah buat dibaca, kamu suka ngadi-ngadi aja! Udah cepet, itu suster Vera udah nungguin! Baba sama Rere disini semangatin kamu," dengan penuh semangat Baba Jafran menuntun Alan.


"Huft! Kenapa harus suster Vera sih, Ba?" Alan menghela nafas panjangnya.


Bukan tanpa alasan, Alan selalu kesal dengan suster Vera yang terkadang berubah budeg dan lemot dalam waktu bersamaan.


"Cepetan sus! Dimana terapisnya?!" Alan kesal sebab sang terapis masih mengurusi pasien yang lain.


"Sebentar saya belikan dulu! Lagian pak Alan ada-ada aja, mau terapi aja minta kue lapis," gerutu suster Vera yang masih bisa didengar oleh Alan.


"Yaa Allah, sungguh begini amat nasibku! Didampingin suster budeg!" keluh Alan.


"Yaa ampun, Pak! Masa sekarang mau gudeg! Repot banget sih," suster Vera meninggalkan Alan sambil menggerutu, dan hal itu disaksikan oleh Baba Jafran yang kini tengah tertawa terbahak-bahak bersama calon menantunya.


"Babaaaaaaaa......!!!" Alan berteriak kesal menatap tajam sang Ayah.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka, seorang terapis laki-laki masuk dan mulai melakukan terapi berjalan bersama Alan.


"Lho suster yang mendampinginya kemana, Pak?" tanya terapis bernama Naufal itu.


"Nyari gudeg sama kue lapis!" dengan ketus Alan menjawabnya.


"Iya Naufal, suster Vera salah denger omongan anak saya!" Baba Jafran berucap sambil menahan tawanya.


"Ppfftt," Naufal menahan tawanya, sebab dia tau memang suster Vera itu agak kurang mendengar dan lemot.


"Semuanya gara-gara Baba!" geram Alan, dia melanjutkan sesi terapi nya selama satu jam.


Ummi Ulil datang bersamaan dengan suster Vera, dia mengerenyitkan dahinya ketika melihat beberapa bungkusan ditangan suster Vera.


"Sus, bawa apaan itu? Kok banyak banget?" tanya Ummi Ulil.


"Maklum atuh Bu kalo lama, kan tukang jual gudeg jauh tuuhh didepan sana! Mana ngantrinya lama banget lagi," suster Vera berkata dengan kesalnya.


"Yaa Allah, orang ngaler dia ngidul, orang ngulon dia ngetan," ucap Ummi Ulil.


"Astaghfirulloh, tadi anaknya sekarang emaknya! Yaudah nih, Bu! Saya cari dulu nasi ketannya," kesal suster Vera memberikan bungkusan itu pada Ummi Ulil.


"Aduh Gustiiii.... Darah tinggi kumat lila-lila mah!" dengan raut wajah kesal Ummi Ulil masuk kedalam ruang terapi sang anak.


Dengan kasar, Ummi menyimpan bungkusan makanan itu diatas meja.


"Astaghfirulloh! Kalo dateng ucap salam, Mi! Kaya dedemit aja tiba-tiba nongol, kalo Baba atau Rere kaget gimana! Bahaya kalo jantungnya jug-ujug lompat keluar!" Baba Jafran mengusap dadanya yang kaget atas kehadiran sang istri.


"Amit-amit, itu mulut belum pernah disumpel pake sendal jepit ya! Aduh gustiii, beuki darah tinggi Ummi! Saha anu nyuruh suster Vera ikut?!" geram Ummi menatap suaminya.


"Berulah apalagi dia, Mi?" tanya Alan yang tak kuasa menahan tawanya.

__ADS_1


"Ummi ngomong ngulon ngetan, dia pergi beli nasi ketan! Aduh aduh, lambaikan tangan ke kamera Ummi mah!" Ummi berkata sambil mengangkat kedua tangannya.


Mereka tertawa terbahak-bahak, dan hal itu membuat Ummi semakin kesal.


"Udah beres kan terapi nya?! Kita harus kerumah Ayah, katanya ada berita penting dan mengejutkan! Kalian gak mau ketinggalan berita kan tentunya?" ucap Ummi sambil menaik turunkan alisnya.


"Yaa Allah, calon mertua gue pada gini amat ya!" batin Rere menatap kedua calon mertuanya yang absurd.


* * *


Sementara itu, pagi ini terjadi kegaduhan dikediaman Ayah Fahri. Elmira datang pagi-pagi dan menangis terisak. Sontak hal itu mengagetkan semua orang rumah.


"Kak, kakak kenapa?!" Indira panik mendapati sang Kakak yang menangis.


"Bunda dimana, Dek?" bukan Elmira yang bertanya, melainkan Mirda yang kerepotan membawa kedua anaknya.


"Ada didapur, Bang! Sini biar Ibam sama Sweta aku bawa ke kamar," Indira menggendong bayi berusia hampir empat bulan itu dan menuntun lengan Sweta.


Bunda Gisya mendengar suara kegaduhan itu dan menghampirinya.


"MashaAllah Rara! Kamu kenapa sayang?" panik Bunda Gisya melihat putrinya menangis.


"Bang Mirda, Bun! Dia jahat," kesal Elmira menunjuk suaminya.


"Kamu apain Rara sih?!" Bunda Gisya menatap tajam sang menantu.


"Nggak gitu konsepnya, Bun! Dengerin dulu penjelasan Abang," Mirda mendadak gugup saat ditatap seperti itu oleh mertuanya.


"Ada apa ini?" suara bariton Ayah Fahri membuat Elmira berlari berhambur memeluk sang Ayah.


Dengan sorot mata yang mematikan, Ayah Fahri menatap menantunya itu. Mirda menahan ludahnya dengan susah payah.


Setelah menangis dipelukan sang Ayah, Elmira mulai tenang.


"Kenapa aku harus takut, aku kan suaminya," batin Mirda ketika ditatap sang mertua.


"Coba jelaskan apa yang terjadi!" dengan tegas Ayah Fahri berucap.


"Bang Mirda jahat, Ayah! Kasian Ibam masih kecil," lirih Elmira.


"Apa?! Kamu lakuin apa Bang sama anak kamu?" karena kesal Bunda Gisya menjewer telinga sang menantu hingga Mirda memekik kesakitan.


"Aww.. Awww.... Sakit Bunda! Demi Allah, Abang gak pernah nyakitin Ibam! Emang salah kalo sekarang dia bakalan jadi Kakak," ucap Mirda membuat kedua mertuanya memekik kaget dan berjingkrak kegirangan.


"Apa?!! Kita mau punya cucu lagi sayang!" bahagia Bunda Gisya menari-nari bersama sang suami.


"Iya Oma, Opa bakalan punya cucu tiga!" sungguh Elmira melongo melihat tingkah kedua orangtuanya.


Mirda menghela nafasnya lega, tapi itu tak berlangsung lama.


"Tunggu! Berapa usia Ibam sekarang?" Bunda Gisya tiba-tiba saja menjadi lemot.


"Baru juga empat bulan, Bun! Masih kecil," ucap Ayah Fahri tanpa sadar, tapi sesaat kemudian dia melayangkan tinjunya di lengan sang menantu.


"Ibam aja belum lepas ASI! Kamu ini, gak sabaran banget sih itu ular wedul gak negokin gua hiro! Kamu juga Kak, emang itu goa gak kamu kasih pengaman?!" sungut Ayah Fahri memarahi anak dan menantunya itu.


"Haaaaa??" ketiga orang itu melongo mendengar ucapan absurd Ayah Fahri.


Meskipun kesal, tapi mereka juga bersyukur jika Elmira dan Mirda diberi amanah lagi oleh Allah. Mirda terus membujuk Elmira agar tidak marah lagi padanya. Kini mereka sudah berada dalam kamar Elmira.


"Sayang, jangan marah lagi ya! Anak itu rezeki lho," Mirda terus membujuk sang istri.

__ADS_1


"Tau, Bang! Aku tau, tapi kasian Ibam! Belum juga puas menikmati diri, eh malah mau punya adik lagi! Kasian tau," Elmira mulai terisak memeluk sang anak.


"Iya Abang salah, Abang minta maaf ya!" Mirda mengecup dan mendekap tubuh istri dan anaknya itu.


"Kak Ibam, salahin Baba ya! Baba yang bikin Kak Ibam jadi Kakak terlalu dini, semuanya salah Baba!" ketus Elmira berbicara pada bayi berusia empat bulan itu.


"Lho kok, Baba? Salahin si othor rindu noh yang bikin cerita!" kesal Mirda pada othor. 🤪🤣


Bagaimana tidak kesal, marah dan kecewa. Rasa sakit melahirkan saja belum hilang, sekarang Elmira harus mendapati jika dirinya tengah berbadan dua. Sejak dua hari yang lalu, Elmira terus saja mual muntah dipagi hari. Seperti saat dia mengandung Ibam dulu, kemudian Elmira menyadari jika dirinya belum mendapatkan haid nya. Elmira mengambil persepsi sendiri jika dia tengah mengandung lagi, padahal dia belum memeriksanya sama sekali.


Sepulang terapi, Alan dan keluarganya langsung bertandang kerumah Ayah Fahri.


"Buset, pada diem-dieman begini! Musuhan?" celetuk Alan ketika melihat Elmira dan Mirda duduk berjauh-jauhan.


"Kamu belum sembuh aja, itu mulut lancar amat ngomong kaya jalan tol!" ketus Elmira.


"Weyy, weyy... Kaget Aa, kaya lagi dapet aja lu Kak, sensi!" Alan berucap seperti itu hingga membuat Elmira terisak.


"Anak nakal! Udah tau Kakak kamu itu bunting lagi," Bunda Gisya mengurungkan niatnya untuk menjewer telinga Alan.


"Whaatt?! Apaaa?!" teriak keempatnya bersamaan.


"Wahh kamu udah kaya Baba, Papa sama Ayah kamu aja! Abis masa 40 hari langsung tancap gas! Lagian doyan banget sih tu uler masuk kaga dikurungin dulu, kan kasian Ibam masih bayik udah jadi Kakak dari jabang bayik! Baru juga kontrak ASI 2 tahun, udah disabotase! Kaga sama Baba nya, ehhh sama adeknya," Ummi Ulil berucap seperti itu hingga membuat Elmira dan Mirda menunduk malu.


Bukan rahasia lagi, jika para suami mereka memang doyan kue apem apalagi mereka paling semangat kalo judulnya ngadon-ngadon.


"Berapa bulan emang, Kak? Lu mah udah mau tiga aja, gue aja baru otw halal Kak! Si Alana baru bongkar segelan, lah elu udah mabok lagi aja," sungguh siapapun ingin menyumpal mulut Alan.


"Eh iya bener, kapan kamu periksanya?" tanya Bunda Gisya pada Elmira dan dia menggelengkan kepalanya.


"Jadi belom diperiksa?!" Ummi melotot tak percaya.


"Belom, Bun! Orang tadi aja Abang panik, tiba-tiba dapet serangan fajar. Katanya Rara hamil," Mirda berucap mengeluarkan unek-uneknya.


Bunda Gisya memesan testpack melalui aplikasi online, dia meminta Elmira untuk segera memakainya dan memastikan. Elmira keluar kamar mandi dengan perasaan yang lega, ternyata testpack nya bergaris satu. Itu tandanya dia tidak hamil.


"Heuuuh! Hanas we riweuhnya! Dasar keluarga sengklek!" celetuk Alan.


"Abaangggg," panggil Elmira pada sang suami.


"Hemm," Mirda merajuk seperti Sweta.


Semua orang menatap jengah pada kedua sejoli itu.


"Makanya Bang, Kak! Kalo mau nganu-nganu pasca lahiran itu ya dibajuin, goa nya dikasih pengaman biar aman gituloh! Ngadon jalan, hati pun tentram!" celetuk Baba Jafran.


"Semuanya gara-gara Baba! Salahin Baba!" ucap mereka kompak.


"Lho kok aku? Aku siapa? Aku dimana?" Baba Jafran berucap sambil celingak celinguk.


Begitulah drama yang terjadi dikeluarga somplak ini.. Dan kegesrekan itu, ditularkan dan diajarkan oleh Baba Jafran....!


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2