Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Malam Minggu


__ADS_3

Malam minggu sudah menjadi ciri khas para anak muda untuk berkencan dengan kekasih. Ataupun hanya sekedar nongkrong bersama teman-teman. Tapi hingga usianya yang kini akan menginjak 23 tahun, Elmira belum pernah merasakannya. Jangankan untuk memiliki kekasih, sekedar jalan bersama teman-teman wanitanya pun tak pernah Elmira lakukan.


Elmira menghela nafasnya, malam ini tepat sekali malam minggu. Dia baru saja pulang dinas siang. Sebenarnya Afifah mengajaknya untuk pergi ke pasar malam, tapi sayangnya Elmira malas meminta ijin pada Ayahnya. Karena dia yakin, sang Ayah tidak pernah mengijinkannya untuk pergi.


Seperti biasa, setiap malam minggu jalanan selalu macet dan hal itu membuat Elmira kesal. Apalagi dia memang tak pernah merasakan malam mingguan.


"Ni orang mau pada kemana sih! Macet banget!" gerutu Elmira.


"Sudah pasti mereka akan malam mingguan," jawab Mirda dengan wajah datarnya.


"Bang Mirda suka malam mingguan?" tanya Elmira menatap Mirda yang sedang menyetir.


"Bukan suka, tapi pernah. Dulu sama kawan-kawan, itupun hanya nongkrong di cafe sampe tengah malam," jawab Mirda. Elmira menghela nafasnya.


"Pengen deh bisa ngerasai kaya oranglain, kencan dimalam minggu. Menikmati malam sama sahabat-sahabat meskipun hanya sekerdar ngobrol," lirih Elmira.


Dia kembali duduk menghadap keluar, demi apapun Elmira ingin hidup normal seperti yang lainnya. Meskipun anak seorang Jenderal, tapi mereka masih bisa bebas untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Asal semuanya dilakukan sewajarnya. Karena tak tega melihat Elmira, Mirda berinisiatif mengajaknya jalan-jalan ke pasar malam.


Kini Mirda sudah memarkirkan mobilnya, dia membuka seatbelt dan mengajak Elmira.


"Ayo turun! Katanya mau malam mingguan," ucap Mirda menatap Elmira.


"Haaa? Seriusan ini, Bang?" tanya Elmira dengan mata berkaca-kaca.


"Cepet turun, kalo enggak aku tinggal!" ucap Mirda lalu keluar dari mobil.


"Tunggu, Bang!" antusias Elmira.


Elmira segera turun dari mobil, dia melihat ramainya orang-orang disana. Ada yang berpasangan, ada yang bersama teman-temannya bahkan ada yang membawa serta keluarganya untuk menikmati suasana pasar malam. Tidak seperti orang kebanyakan, Elmira bersikap seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan.


"Sesederhana inikah keinginanmu, Elmira?" batin Mirda ketika melihat Elmira begitu antusias membeli aromanis.


Karena khawatir, Mirda menggenggam tangan Elmira.


"Jangan jauh-jauh dariku! Ingat kamu adalah tanggung jawabku, nona Elmira." ucap Mirda.


"Iya Bang, Abang mau?" tawar Elmira menyodorkan aromanis ke mulut Mirda.


"Gak, nanti sakit gigi," tolak Mirda lalu membalikkan aromanis itu ke mulut Elmira.


"Enak tau! Makanya sering perawatan gigi, biar gak sakit," ledek Elmira.


Satu persatu jajanan pasar sudah Elmira beli, seperti tak ada puasnya. Elmira meminta Mirda untuk menaiki setiap wahana yang ada dipasar malam. Seperti kora-kora, komedi putar, hingga bianglala. Tanpa sadar mereka saling menggenggam tangan dan menikmati indahnya malam minggu seperti sepasang kekasih. Saat bermain kora-kora, Elmira terus menyembunyikan wajahnya dipelukan Mirda karena takut. Sontak hal itu membuat jantung keduanya berdegup kencang.


"Maaf ya, Bang. Aku takut," lirih Elmira saat mereka baru saja turun dari kora-kora.


"Makanya lain kali kalo takut gak usah naik," sahut Mirda.


"Kan aku cuman pengen nyoba, Bang. Gak bisa tiap malam minggu aku kaya gini kan, maaf ya ngerepotin Abang," lirih Elmira yang semakin menunduk.


Mirda bisa melihat rasa bersalah dalam diri Elmira.


"Udah gak apa-apa, sekarang mau main lagi apa pulang?" tanya Mirda.


"Boleh gak kita naik bianglala dulu?" tanya Elmira dengan mata yang berbinar.


"Ayo kita antri!" ajak Mirda mengulurkan tangannya dan disambut oleh Elmira.


Saat sedang mengantri, Elmira melihat Afifah berada disana bersama seorang laki-laki.


"Bang, itu bukannya Afifah ya?" tanya Elmira menunjuk kearah depan.


"Oh iya, siapa laki-laki yang bersamanya?" tanya Mirda saat melihat Afifah.


"Gak tau, Bang. Kita samperin aja yuk!" ajak Elmira sambil menggandeng tangan Mirda.


"Yaudah tapi jangan lama, kan kita mau naik bianglala. Jangan sampe kita pulang kemaleman, saya bisa digantung Komandan," ucap Mirda sambil tertawa garing dan Elmira mengangguk.


Belum juga Elmira sampai, Afifah dan laki-laki itu sudah berbalik menuju bianglala.


"Bang Rian?" ucap Elmira yang kaget melihat laki-laki yang bersama Afifah.


"Bang Mirda?" ucap Afifah bersamaan dengan ucapan Elmira.


"Hayooooo.. Ketauan pacaran! Kapan kesini, Bang?" tanya Elmira.


"Yeee kamu juga pacaran!" ucap Afifah dan menunjuk gandengan tangan Elmira dengan ujung matanya.


Mirda dan Elmira menjadi salah tingkah, dengan cepat mereka melepaskan tangannya.


"Heleeehh, kucing ketangkep basah ngambil ikan!" ledek Afifah.


"Ssstt! Ayok main dulu lah, nanti baru kita makan bareng! Itung-itung double date!" ucap Rian lalu menarik tangan Mirda untuk mengantri tiket.


"Tunggu disini! Jangan kemana-mana tanpa saya," tegas Mirda pada Elmira dan dia hanya mengangguk patuh.


Afifah dan Elmira menunggu disamping pintu masuk bianglala.

__ADS_1


"Kamu dari kapan pacaran sama Bang Rian?" tanya Elmira pada Afifah.


"Apaan si! Orang gak pacaran, cuman jalan doang," ucap Afifah dengan malu-malu.


"Heleh, aku tuh tau kamu banget Fifaaah! Bukan sehari dua hari kita sahabatan, jadi kamu gak bisa nutupin perasaan kamu dari aku," sahut Elmira membuat Afifah tersipu.


"Kaya kamu nggak aja sama Bang Mirda! Jujuurrr, kamu suka kan sama dia?" goda Afifah.


"Entahlah Fah, aku cuman ngerasa nyaman dan terlindungi aja saat sama Bang Mirda. Ini kali pertama aku pergi keluar malam minggu, bukan tanpa resiko. Tapi Bang Mirda selalu memenuhi semua impianku," ucap Elmira dengan mata yang tertuju pada Mirda.


Mereka tidak melanjutkan pembicaraan itu, karena sekarang Rian dan Mirda sudah menghampiri keduanya dengan tiket ditangan mereka masing-masing.


"Kita dua gondola, kebetulan satu gondola hanya bisa ditempati dua orang. Kamu sama Mirda dan aku sama Afifah," ucap Rian lalu membawa Afifah.


"Mmm, ayo Bang!" ajak Elmira dengan gugup. Mirda menahan tangan Elmira lalu menggenggamnya dengan sangat erat.


"Tunggu, lihat mereka berdesakkan. Tunggu sebentar lagi," ucap Mirda dan Elmira mengangguk.


Elmira dan Mirda kini sudah duduk berhadapan diatas gondola biang lala, ada sedikit rasa takut dalam diri Elmira. Tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada Mirda. Bianglala itu mulai berputar, awalnya perlahan namun semakin kemari semakin cepat.


"Jangan takut, bukalah matamu," ucap Mirda menggenggam erat tangan Elmira.


"Waaahhhh.. Indah banget, Bang!" sahut Elmira saat bianglala mereka berhenti diatas.


"Nikmatilah pemandangan indah ini, Elmira. Nikmatilah hidupmu," ucap Mirda.


"Terimakasih ya, Bang. Ini malam minggu pertama buat aku, kalo Abang gak ngajakin aku kesini. Mungkin sampai kapanpun, aku gak akan bisa menikmati semua ini," ucap Elmira yang membalas genggaman tangan Mirda.


"Anggap saja ini adalah salam perpisahan dariku," batin Mirda.


Sebenarnya siang tadi, Mirda sudah meminta ijin pada Bunda Gisya untuk mengajak Elmira pergi jalan-jalan. Dan berkat Bunda Gisya, sang Komandan mau mengijinkan Elmira untuk pergi bersama Mirda.


Setelah puas bermain dan membeli jajanan dipasar malam, kini mereka berempat sedang menikmati makan malam di warung Lesehan Mas Bewok. Saat Elmira dan Afifah pergi memilih makanan, Rian dan Mirda mengambil gitar dan menyanyikan lagu.


Ku coba merangkai kata cinta


Walaupun ku bukanlah pujangga yang bisa


Tuliskan kata-kata yang indah


Nyatanya tak ada nyali untuk ungkapkan


I wanna love you like the hurricane


I wanna love you like a mountain rain


So wild so pure


So strong and crazy for you


Andai matamu melihat aku


Terungkap semua isi hatiku


Semua milikmu andai kau tau


Andai kau tau


Rahasia cintaku


Berdoa dan beranikan diri


Sebelum semua ini terlambat terjadi


I wanna love you like the hurricane


I wanna love you like a mountain rain


So wild so pure


So strong and crazy for you


Andai matamu melihat aku


Terungkap semua isi hatiku


Semua milikmu andai kau tau


Andai kau tau


Rahasia cintaku


Andai matamu melihat aku


Terungkap semua isi hatiku


Semua milikmu andai kau tau

__ADS_1


Andai kau tau Rahasia cintaku


Semua milikmu andai kau tau


Andai kau tau Rahasiaku


Rahasia aku...


Mirda dan Rian dengan kompak menyanyikan lagu 'Rahasia Hati' dari Nidji. Bukan tanpa sebab, mungkin saja itu juga merupakan ungkapan hati dari keduanya. Jika mereka berdua kompak menyanyikan lagu, maka Elmira dan Afifah pun kompak terbawa perasaan dengan tingkah kedua laki-laki yang tengah bersama mereka.


Setelah menikmati indahnya malam minggu, Elmira dan Mirda kembali kerumah tepat pukul 10 malam. Sepanjang perjalanan Mirda memberikan nasehat-nasehat untuk Elmira.


"Jaga dirimu baik-baik, selalu jaga kesehatanmu. Jangan lupakan makan siang, meskipun kamu sedang banyak pasien. Karena seorang dokter juga manusia," ucap Mirda.


"Iyaa Bang Mirda! Aku paham kok!" jawab Elmira dengan malas.


Kini mereka sudah sampai didepan rumah, Mirda turun untuk berpamitan. Karena dia akan kembali ke Barak. Sebenarnya hari Senin nanti, Mirda akan pergi ke Kongo untuk bertugas. Tapi dia enggan mengatakannya pada Elmira, sebab hatinya terlalu sakit untuk berpamitan pada gadis yang mulai bisa meluluhkan hatinya.


Bunda Gisya dan Fahri sudah menyambut kedatangan Elmira, disusul Afifah dan Rian yang baru juga sampai.


"Gimana? Kakak bahagia sayang?" tanya Bunda Gisya sambil memeluk Elmira.


"Seneng Bunda, makasih ya udah ijinin Kakak," ucap Elmira.


"Sama Ayah gak bilang makasih nih?" ucap Ayah Fahri merajuk.


"Makasih banyak Ayahku sayang," ucap Elmira berpindah memeluk Ayahnya.


"Besok Om Chandra akan kesini, dia akan melamar kamu," ucap Ayah Fahri yang membuat mereka semua tersentak kaget kecuali Bunda Syifa dan Mirda.


Elmira melepaskan pelukannya pada sang Ayah, dia menggeleng tak percaya.


"Maksud Ayah apa? Ada Biang Mira disampingnya! Kenapa harus Kakak?" ucap Elmira yang sangat kecewa. Sedangkan Afifah langsung berhambur memeluk Elmira.


"Kamu harus terima, Elmira. Karena hanya dia yang mampu menjagamu," ucap Ayah Fahri.


"Baik, aku setuju. Anggap saja semua ini balas budiku terhadap kalian semua," ucap Elmira lalu berlari keluar rumah.


Dada Mirda terasa sesak, dia mengejar Elmira. Begitupun dengan Rian dan Afifah. Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, seolah mengerti kepedihan hati mereka.


"Diam! Jangan bergerak!" ucap Mirda saat berhasil menangkap tubuh Elmira.


"Lepaskan aku, Bang! Aku memilih mati saja, daripada harus menyakiti Biang," ucap Elmira ambil memukul dada Mirda, meminta dilepaskan.


"Aku mohon, berhentilah menangis. Hatiku sakit melihatmu menangis, Elmira," lirih Mirda sambil terus mendekap erat tubuh Elmira.


Afifah dan Rian sungguh merasa kasihan terhadap Elmira, Rian segera menghubungi dokter Mira untuk mengabari hal itu. Afifah dan Rian memberikan ruang untuk Elmira meluapka segala rasa kecewanya.


"Aku lelah, aku ingin menata hidupku sendiri, Bang. Apa semua itu salah?" lirih Elmira.


"Jawab aku, Bang! Kenapa kamu hanya diam?!" bentak Elmira sambil memukul kembali dada Mirda.


Sungguh lidah Mirda terasa kelu, terlebih lagi ketika dia mengetahui jika Elmira akan dilamar oleh sang Ayah Gorila kesayangannya.


"Kebaikan seorang Ayah lebih tinggi daripada gunung dan kebaikan seorang Ibu lebih dalam dari laut. Apapun yang kita berikan kepada orangtua, tidaklah cukup untuk menggantikan apa yang telah orangtua berikan pada kita. Kita tidak akan tahu rasa cinta orangtua kita, hingga kita menjadi orangtua. Saya yakin, mereka akan memberikan yang terbaik untukmu," ucap Mirda sambil mengusap lembut kepala Elmira.


Elmira diam tidak menyahut, hingga Mirda melepaskan Elmira dan menatap manik matanya yang sangat indah dan menenangkan.


"Aku menyayangimu, Elmira. Tapi aku hanya diam, terlihat tidak peduli. Padahal dalam hati selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia. Memperhatikanmu diam-diam, mendoakanmu setiap hari dan mencintaimu secara rahasia. Hanya itulah yang bisa aku lakukan, sekarang berbahagialah Elmira. Jangan biarkan airmata kesedihan jatuh dari mata indahmu, jaga dirimu baik-baik. Aku harus pergi," ucap Mirda lalu dia mendekap erat tubuh Elmira.


Mirda mulai melepaskan pelukannya, dia mencium kening Elmira dengan lembut. Lalu dia pergi meninggalkan Elmira ditengah dengan sejuta keterkejutannya. Afifah menghampiri Elmira setelah Mirda memintanya.


"Kenapa kamu meninggalkannya?" tanya Rian menahan Mirda.


"Aku dan dia bagaikan Langit dan Bumi, selamanya tak akan pernah bersatu," lirih Mirda.


"Pengecut! Perjuangkanlah dia!" kesal Rian sambil menarik baju Mirda.


"Aku akan pergi bertugas ke Kongo," ucap Mirda membuat Rian melepaskan tarikannya.


"Apa?!" kaget Rian.


Mirda tidak menjawabnya, dia pergi meninggalkan Rian yang masih sangat terkejut. Elmira mulai menyadari ucapan Mirda, tapi dia tidak menemukan Mirda dimanapun.


"Besok kita akan temui Bang Mirda! Sekarang kita pulang!" tegas Afifah dan Elmira mengangguk pelan tak lama kemudian dia ambruk tak sadarkan diri.


"Bang Riaannnn! Tolong Elmira!" teriak Afifah dan Rian segera mengangkat Elmira.


Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun, kenangan dan perasaannya tinggal terlalu lama. Some people are going to leave, but that’s not the end of your story. That’s the end of their part in your story.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2