Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Perpisahan


__ADS_3

WARNING !


CERITA INI MENGANDUNG BAWANG!


😭😭😭😭😭


* * *


Pesawat kini sudah mendarat di Bandara Husain Sastra Negara, Bandung. Tanpa memperdulikan apapun, Theresia berlari sekencang-kencangnya. Setelah melihat taksi yang kosong, dia segera masuk dan menangis sejadi-jadinya disana.


"Ke Rumah Sakit Santosa, Pak!" titah Theresia pada sang sopir.


"Baik, Neng!" jawab sang sopir.


Rasa penyesalan menghantui perasaan Theresia, bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya ingin Alan tau, jika dia cemburu dan tidak ingin kehilangan Alan. Sesampainya di Rumah Sakit, dia berlari ke ruangan ICU. Dimana Alan kini berada, dia berlari tanpa memperdulikan makian orang-orang yang tak sengaja ia tabrak. Bahkan Theresia tidak menghiraukan dadanya yang mulai terasa sakit.


Sesampainya disana, Theresia melihat sang Kakak tengah terduduk lesu didepan pintu ruangan. Sedangkan kedua orangtua Alan serta Alana tengah menangis histeris.


"Um-ummi," lirih Theresia membuat mereka semua menoleh, Alana bangkit dari duduknya dan menghampiri Theresia.


Plaakk!!


Satu tamparan mendarat dipipi Theresia, airmata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Semuanya gara-gara kamu, Re! Kurang apa Alan membuktikan cintanya buat kamu?! Gara-gara kamu dia harus buta, hati dan ginjalnya rusak bahkan kemungkinan besar dia lumpuh!! Puas kamu, Re! Puass!!" histeris Alana.


"Sayang, udah sayang! Kamu harus tenang sayang," Husain memeluk sang istri untuk menenangkannya.


"Ap-apa?! Eng-enggak, semuanya gak mungkin!" Theresia memundurkan langkahnya.


"Ummi kecewa sama kamu, Re! Ummi kecewa!" ucap Ummi Ulil yang ikut menangis histeris.


Theresia menghampiri Cyra, tapi sayangnya calon Kakak iparnya pun menghindar.


"Aku batalin pernikahan kita, Mas," ucap Cyra membuat Thoriq dan Theresia mendelik.


"Sayang, maafin Rere. Ini semua jalan Allah, kita gak tau bakalan kejadian kaya gini! Aku mohon, Cyra. Aku sayang kamu," lirih Thoriq bersujud dikaki Cyra.


"Semuanya salah Rere, Teh! Jangan libatkan Kak Thoriq," lirih Theresia terisak.


"Entahlah, Mas. Melihat Alan seperti ini hatiku lebih sakit, kami tumbuh dan besar bersama-sama. Aku tau Alan itu orang yang seperti apa, jika memang dia berniat mengkhianatimu untuk apa dia melakukan segalanya demi keselamatan kamu, Re. Bahkan dia kehilangan sahabat baiknya, hanya demi menyelamatkan kamu," ucap Cyra membuat Theresia menjatuhkan tubuhnya.


Tubuhnya terasa lemas tak bertulang, memori tentang sosok Alan yang kocak, gesrek dan ceria berputar dalam kepalanya. Menyesal, itulah yang Theresia rasakan saat ini. Dadanya mulai terasa sakit, kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai menghitam.


Bruk


Theresia jatuh tak sadarkan diri, Thoriq segera membawa adiknya ke IGD.


"Re, bangun!! Kakak mohon, bangunlah, Re! Kamu harus kuat, hanya kamu yang Kakak punya sekarang," panik Thoriq yang menggendong Theresia.


Meskipun sedang dalam kondisi marah, Cyra tetap mengikuti Thoriq ke IGD. Dokter sudah memeriksa kondisi Theresia, dan ternyata dia mengalami penurunan fungsi jantung. Sebab Theresia sangat kelelahan, bagaimana tidak dia terus berlari tanpa memperdulikan dadanya yang terasa sakit. Hal itu membuat Theresia harus masuk juga kedalam ruang ICU. Thoriq merasa sangat hancur sehancur-hancurnya, dia menangis tersedu-sedu.


Melihat Theresia yang dipindahkan keruangan ICU bersama Alan, membuat hati Ummi sedikit mengiba. Bagaimanapun, Theresia adalah cinta pertama bagi Alan.


"Yaa Allah, kenapa semuanya jadi seperti ini, Baba!" histeris Ummi Ulil.


"Semuanya kehendak Allah, Mi," lirih Baba Jafran.


"Maafkan aku, Re! Yaa Allah, kenapa semuanya jadi begini," isak Alana dalam pelukan suaminya itu.


"Sudah sayang, kita do'akan mereka berdua baik-baik aja, ya!" ucap Husain.


* * *


Kondisi Alan dan Theresia sama-sama dalam kondisi kritis, secara kebetulan ranjang mereka bersebelahan. Suara monitor detak jantung Theresia semakin melemah, perlahan Theresia membuka matanya.


"A-aa A-alan," lirih Theresia menahan sesak dalam dadanya.

__ADS_1


"Nona Rere, anda sudah sadar! Tolong respon kami," pinta suster dan Theresia menganggukan kepalanya.


"Saya akan panggilkan dokter!" ucap suster namun tangannga ditahan oleh Theresia.


"Te-teh Cy-cyra, Te-teh A-al-lana," Theresia berucap dengan terbata-bata.


Suster mengerti, dia segera keluar untuk meminta keluarga pasien menemuinya.


"Keluarga Theresia," panggil suster.


"Saya, suster! Saya Kakaknya," Thoriq segera menghampiri suster.


"Pasien menyebut nama Cyra dan Alana," ucap suster.


"Saya Cyra sus, dan ini Alana," ucap Cyra dan Alana menghampiri suster.


"Baik, ikuti saya dan tolong pakai baju yang sudah disediakan," titah suster.


Alana dan Cyra masuk kedalam ruang ICU, hati keduanya merasa teriris saat melewati ranjang Alan yang tubuhnya dipenuhi oleh perban. Jangan lupa banyak sekali alat ditubuhnya. Cyra dan Alana bisa melihat jika kondisi Theresia pun sama lemahnya.


"Re, maafin Teteh, ya! Teteh gak maksud buat nyakitin kamu," lirih Alana mengelus kepala Theresia dengan lembutnya.


"Maafin Teteh juga, Re! Teteh bersalah sama kamu," isak Cyra menggenggam erat tangan  Theresia yang mulai terasa dingin.


Theresia tersenyum, dia menghapus airmata yang mengalir dimata sang calon kakak ipar.


"Ak-aku gak apa-apa, Teh. To-tolong ja-jangan batalkan pe-pernikahan Teteh, a-aku mo-mohon Teh. To-tolong ja-jaga Ka-kak Tho-riq ba-ik-baik," ucap Theresia terbata-bata.


"Teteh gak akan batalin, Re! Asal kamu janji kamu harus sembuh," lirih Cyra.


"A-aku ma-u li-liat ka-kalian me-menikah ma-lam i-ni, wa-waktu ak-ku ud-ah ga-gak banyak," ucap Theresia membuat Cyra menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan bilang gitu, Re! Teteh mohon," Cyra mulai menangis sesegukkan.


Dia beranjak menatap Alana yang kini pun menangis tersedu-sedu.


"Kita semua akan masuk kesini, kamu harus sembuh, Re! Kasian Alan," isak Alana.


Melihat kondisi pasien, suster mengizinkan keluarga Theresia dan Alan masuk kedalam. Ummi Ulil dan Baba Jafran sangat terluka melihat keduanya terbaring lemah tak berdaya.


"Um-umi, ma-maafin Re-re," Theresia mengucapkan itu sambil menahan sakit dadanya.


"Ummi sama Baba udah maafin kamu, Nak. Sekarang kalian berdua harus sehat, Ummi sama Baba mau liat kalian menikah," lirih Ummi Ulil mengelus kepala Theresia.


"Bi-bil-angin sam-a A-aa Al-lan, ak-aku sa-sayang ba-banget sa-ma di-dia," ucap Theresia.


"Alan pasti bisa denger kamu sayang, dia ada disebelah kamu, Nak. Dia juga sayang banget sama Rere," lirih Ummi Ulil.


Thoriq sudah tidak kuasa lagi menahan airmatanya, dia menangis tersedu-sedu dipelukan Cyra. Kini kondisi Theresia sangat lemah, Thoriq menghampiri sang adik dan mengecup pucuk kepalanya.


"Ma-maafin Re-re ya Kak, to-tol-ong bbe-berikan ma-ta i-ni d-dan or-rgan y-ang di-bu-tuhkan A-aa A-lan. Bi-biar-kan ka-mi ber-sa-tu de-deng-an ca-cara ini," pinta Theresia.


"Kamu ngomong apa sih, Dek! Kamu harus sehat, kamu sama Alan bakalan bersatu. Kalian bakalan nikah, tolong jangan tinggalin Kakak, Dek!" isak Thoriq.


Kondisi Theresia semakin melemah, mereka memutuskan untuk mengikuti keinginan Theresia. Thoriq dan Cyra akan menikah, sesuai keinginan Theresia. Mama Febri dan Papa Zaydan yang mendengar itu segera datang ke Bandung. Padahal baru saja tiga hari yang lalu mereka kembali ke Jogjakarta.


Malam ini diruangan ICU, Thoriq dan Cyra akan mengucapkan ijab kabul yang disaksikan oleh Theresia. Kini Thoriq sudah berhadapan dengan penghulu, Baba Jafran dan Ayah Fahri menjadi saksinya.Mereka semua menangis dan tak menyangka semuanya akan seperti ini.


"Ananda Thoriq saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ferandiza Chayra Shanum Faturachman binti Andi Faturachman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tunai!" ucap sang penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ferandiza Chayra Shanum Faturachman binti Andi Faturachman dengan mas kawin tersebut, tunai!" ucap Thoriq sambil menitikan airmatanya.


"SAH"


Setelah terucap kata 'SAH', kondisi Theresia semakin menurun. Thoriq dan Cyra segera menghampiri Theresia.


"Ak-aku ba-baha-gia, Ka-kak. Ikh-laskan ak-aku, Pa-pa me-nung-guku," lirih Theresia.

__ADS_1


"Gak, Re! Jangan tinggalin Kakak, Re!" histeris Thoriq hingga Papa Zaydan harus menariknya darisana. Baba Jafran menuntun Theresia dengan membacakan lafadz lailahaillallah.


"Baba sayang kamu, Re! Ikutin Baba, Nak," lirih Baba Jafran


"Lailahailallah," bisik Baba Jafran ditelinga Theresia.


"La-illa-ha-ila-allah,"


Tiiiiiitttttttttt......


Suara monitor sudah berbunyi, Theresia sudah pergi meninggalkan dunia ini dengan penyesalan dalam hatinya.


"Innalillahi wa inna illahi rojiun," ucap mereka lalu menangis histeris dan saling berpelukan.


Siapa sangka, monitor Alan pun berbunyi membuat mereka semakin menangis histeris. Dokter dan para suster meminta seluruh keluarga untuk keluar dari sana. Cyra sudah tak sadarkan diri, begitupun Ummi Ulil dan Alana. Semuanya terasa menyakitkan bagi mereka.


* * *


Sementara di alam lain, Alan melihat Theresia dan Lula yang melambaikan tangan padanya.


"Pulanglah, Aa! Tempatmu bukan disini," titah Theresia.


"Kalian mau kemana?" teriak Alan sebab jarak mereka jauh.


"Kami tunggu Aa disini, kami akan menjadi bidadarimu," ucap Theresia.


"Re! Tunggu, jangan pergi!" Alan berlari mengejar Theresia.


Alan mencekal tangan kekasihnya itu, sedangkan Theresia hanya tersenyum.


"Kak Lula sudah mengorbankan hidupnya untukku karena mencintaimu, kini biarkan aku membuktikan besarnya cintaku sama kamu, A! Aa harus hidup bahagia, Aa harus kembali sekarang. Lihatlah, Ummi dan Baba membutuhkan Aa!" ucap Theresia lalu berjalan pergi.


"Enggak, Re! Aa mau ikut kamu," teriak Alan.


"Aku akan tetap ada dihati Aa, sampai kapanpun!" ucap Theresia.


Perlahan Theresia pergi, pergi dengan wajah cantiknya. Tak lupa gaun putih dan hijab yang digunakan Theresia.


"Walaupun raga telah terpisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap akan tersimpan secara abadi di relung hati. Pulanglah, Nak! Mereka menunggumu," ucap seseorang yang memakai pakaian TNI AD.


"Papa Andi," kaget Alan.


"Pulanglah! Keluargamu membutuhkanmu, terlebih putriku. Jagalah dia," ucapnya sambil mendorong tubuh Alan kedalam cahaya.


Alan mulai mengerjapkan matanya, dia bisa melihat suster dan dokter yang tengah sibuk dengan seluruh alatnya. Dokter segera membawa Alan dan juga Theresia kedalam ruang operasi. Sebab kondisi Alan sangat kritis, beruntung rumah sakit ini adalah rumah sakit Internasional yang memiliki peralatan yang cukup lengkap.


Sudah kurang lebih 10 jam, operasi didalam ruangan itu dilakukan. Semuanya kini terdiam, dengan tatapan kosongnya. Tidak ada satupun yang bersuara, karena mereka sungguh sangat shock dengan semua ini. Thoriq hanya diam, dia sungguh benar-benar merasa sendiri. Cyra memeluk tubuh Thoriq, yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Mas, aku masih disini untukmu," lirih Cyra.


"Entah apa yang harus aku rasakan Cyra, bahagia dan sedih disaat bersamaan itu sangat menyakitkan," ucap Thoriq dengan tatapan kosongnya.


Papa Zaydan menghampiri putri dan menantunya itu, untuk menguatkan keduanya.


"Jangan bersedih, semua akan berkumpul kembali di akhir zaman nanti. Harus yakin bahwa Allah SWT akan mempertemukan kita dengan saudara yang lain setelah tiba waktunya. Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Rere juga akan bersedih, jika kalian terus seperti ini," ucap Papa Zaydan.


"Kebanyakan orang bermimpi melihat malaikat, tapi Kakak adalah orang yang paling beruntung karena telah menghabiskan banyak waktu dengan seorang malaikat hingga kepergianmu, Rere. Kakak sangat merindukanmu, permata hatiku," lirih Thoriq.


Setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. Hari ini dunia adalah nyata, akhirat hanya cerita. Tapi setelah mati, dunia hanya cerita, akhirat jadi nyata.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2