Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Kamu Bau!


__ADS_3

Adzan subuh sudah berkumandang, Elmira dan Mirda sudah melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Seperti biasa, Elmira mulai melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Dimulai dari membuat sarapan pagi, sambil mencuci baju dalam mesin cuci. Sebelum sarapan siap, Mirda sudah berpamitan untuk lari pagi seperti biasanya. Sebab, Mirda akan pergi bertugas ke Papua. Dia harus mempersiapkan fisik yang kuat.


Elmira terus memikirkan tentang kepergian suaminya, rasanya ia tak akan sanggup berjauhan dengan Mirda. Tapi apa daya, itulah konsekuensi menjadi seorang istri abdi negara. Elmira selalu mengingat ucapan sang Bunda.


"Kita itu adalah prioritas kesekian dalam hidupnya, karena yang pertama cintanya hanya untuk negara. Bahkan kita ini hanyalah istri kedua, karena istri pertamanya adalah senjata laras panjang yang tak pernah lepas dari tangannya,"


Tiba-tiba tercium bau gosong, membuat Elmira tersadar dari lamunannya.


"Astaghfirullohaladzim, gosong!" panik Elmira hingga tak sadar mengambil wajan tanpa memakai lap, hingga tangannya memerah karena terbakar.


"Aw! Aw! Panas, panas!" Elmira memekik kesakitan dan mengipas-ngipaskan tangannya.


"Yaa Allah, El! Pantesan aku panggil-panggil kamu gak nyaut! Tangan kamu kenapa?" tanya Sonia yang baru saja masuk kedalam rumah Elmira.


"Iya tadi goreng ayam, eh gosong! Refleks aja ngambil wajan," lirih Elmira.


Sonia mematikan kompor yang sudah berasap itu, lalu mengajak Elmira untuk duduk dimeja makan. Sebelum berbincang, Sonia melihat Sweta takutnya dia terbangun. Ketika sudah dipastikan Sweta masih pulas, Sonia mengajak Elmira berbicara.


Sambil mengobati tangan Elmira, Sonia mulai membuka pembicaraan.


"Kamu masih mikirin kepergian tugas Danki, ya?" tanya Sonia dan Elmira mengangguk.


"Bagaimana kalo aku gak baik-baik aja? Aku takut, takut kehilangan dia Sonia," lirih Elmira tanpa terasa airmatanya jatuh begitu saja.


"El, sebelum menikah dengan Danki, bukankah kamu tau konsekuensinya? Suami kita itu sudah mengabdikan dirinya untuk negara, tugas kita sebagai seorang istri adalah mendukungnya dan mendo'akannya agar kembali dengan selamat. Karena kita adalah salah satu alasan mereka untuk berjuang hidup, El," ucap Sonia menasehati Elmira.


Tangis Elmira semakin menjadi, Sonia membiarkannya. Niatnya ingin mengajak Elmira berbelanja dia urungkan, kemudian dia mengirim pesan pada suaminya. Dia meminta izin menemani Bu Danki nya yang tengah menangis. Tak lama terdengan suara Sweta merengek, Sonia bergegas membawa Sweta keluar. Kini dia yang panik, sebab Ibu dan anak itu menangis bersama.


Mendengar suara tangisan, Betrysda yang hendak pergi ke warung memilih untuk berbelok masuk kedalam rumah Elmira yang pintunya terbuka.


"Aduh mamae, ada apa ini Sonia? Kenapa mereka menangis seperti itu? Jang bilang kau buat mereka menangis," ucap Betrysda membuat Sonia geram.


"Heh! Enak aja, niat aku teh kesini mau ngajak El belanja. Tuh gak taunya tangannya malah luka kaya gitu, ngelamun dia mikirin Danki yang bakalan pergi tugas!" jelas Sonia agar tak dituduh oleh Betrysda.


Betrysda kini mengerti, sebab dia pun merasakan hal yang sama.


"Sudah lah jangan menangis, El. Kau tak sendiri, sa pun sama. Bang Jeki kan pergi dengan kau punya suami," lirih Betrysda sambil mengelus punggung Elmira.


"Ih! Kenapa kalian jadi melow sih? Kan jadi pengen nangis akunya," lirih Sonia hingga akhirnya mereka menangis berpelukan dipagi itu.


Mirda dan Jeki baru saja menyelesaikan olahraga paginya, mereka bergegas pulang sebab harus melakukan apel pagi. Mendengar suara tangisan istrinya, Mirda dan Jeki berhambur masuk kedalam rumah.


"Ya Tuhan! Kenapa menangis sayang'e?" panik Jeki memeluk istrinya.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu nangis?" tanya Mirda dan Elmira memperlihatkan tangannya yang terbalut kain kasa.


"Oh Tuhanku, lembut sekali hati istri beta. Melihat kawannya terluka saja, kau sampai menangis sayang," bangga Jeki mengelus kepala sang istri.


"Lembut gundulmu! Mereka nangis itu karenaa...... Awwww!" teriak Sonia ketika kaki Elmira dan juga Betrysda menginjak kedua kakinya.


Teriakan Sonia membuat Sweta menangis semakin kencang, Mirda mengambil alih Sweta dari pangkuan Sonia.

__ADS_1


"Kenapa kau berteriak nona Sonia? Kami punya kuping ini sakit sekali," ketus Jeki.


"Kau tanyakan sajalah pada istrimu tercinta! Dahlah bye! Aku balik dulu," kesal Sonia lalu pergi meninggalkan rumah Elmira.


"Yasudah, kami pulang dulu ya Bu Danki! Cepat sembuh, lain kali hati-hati, karena meskipun tangan kau yang terluka tapi Mirda punya hati yang sakit," ucap Jeki dan Elmira mengangguk.


Sebenarnya Mirda mengerti, apa yang sedang dipikirkan Elmira itu juga yanv dipikirkan olehnya. Mirda belum siap berjauhan dengan Elmira, tapi mau bagaimana lagi. Tugas negara tak bisa dia tinggalkan, sebab sumpah dirinya mengabdikan diri untuk melindungi negaranya. Perlahan Mirda menghampiri Elmira, dan....


"Hoeeekkk, hooeeekkkk," Elmira  tiba-tiba saja mual ketika Mirda mendekatinya.


"Sayang kamu kenapa?" panik Mirda sambil menggendong Sweta.


"Stop! Jangan deket-deket, Abang bau!" ketus Elmira sambil menutup hidungnya.


"Haaaaa? Abang gak bau sayang! Ini bau minyak wangi juga masih ada kok!" ucap Mirda sambil mengendus ketiaknya sendiri.


Elmira berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah, padahal dia belum makan apapun. Karena panik, Mirda menelepon Jeki dan meminta Betrysda untuk memeriksanya.


"Wah! Kejam sekali kau, kita orang baru saja menginjakan kaki diteras rumah!" kesal Jeki.


"Ini darurat! Istriku muntah-muntah, dia gak mau aku deketin," ucap Mirda membuat Jeki mengerenyitkan dahinya.


"Kenapa bisa? Bukannya kau berdua selalu menempel seperti bayi kembar siam," celetuk Jeki membuat sang istri melotot.


"Diam kalian! Sudah sana tunggu sa diluar saja," kesal Betrysda.


Akhirnya mereka duduk diteras, karena tak ingin dimarahi oleh istri mereka.


"Kau punya istri itu bukannya dokter, kenapa harus meminta beta punya istri untuk periksa? Lagian beta punya istri itu dokter anak, bukan dokter ibu-ibu," celetuk Jeki.


"Benar juga ya! Betapa bodohnya diri ini, Tuhan," ucap Jeki membuat Mirda tertawa.


Sedangkan didalam kamar, Elmira kini tengah merasakan tubuhnya mulai lemas.


"Kau ini ceroboh sekali, hati-hati lain kali! Jang sampai kau jatuh dikamar mandi, untung saja sa cepat datang kemari," ucap Betrysda menceramahi Elmira.


"Duh, perut aku gak enak banget! Kayaknya masuk angin," lesu Elmira memegang perut.


"Kau ini seperti bukan dokter saja! Sa tanya sekarang, kapan terakhir kali itu bulan datang menghampiri kau?" tanya Betrysda membuat Elmira melotot kaget.


"Yaa ampun! Kayaknya itu bulan udah lama deh gak dateng," ucap Elmira dengan suara yang cukup keras membuat Betrysda tersentak kaget.


"Ya Tuhan! Kau buat sa kaget saja!" kesal Betrysda.


"Hehehehe, maaf ya!" ucap Elmira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Elmia bergegas mengambil sebuah testpack dan menggunakannya dikamar mandi.


"Bismillah.. Bismillah... Bismillaahh....." gumam Elmira.


Setelah lima menit, Elmira mulai membuka testpacknya dan........

__ADS_1


"Abaaaaangggggggg........!!!!!" teriak Elmira membuat Mirda dengan refleks berlari kedalam kamar.


"Sayang, ini Abang! Buka pintunya, Elmira!" ucap Mirda sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Elmira menutup hidungnya menggunakan handuk.


"Mandi dulu! Abang bau!" ketus Elmira berjalan keluar, membuat Mirda termenung mencoba memahami yang terjadi.


"Sudah, kau punya badan memang bau! Sweta biar kami bawa saja kerumah, biar kau bisa bicara dengan kau punya istri berdua. Cepatlah, kita mesti apel pagi," ucap Jeki membuat Mirda masuk begitu saja kedalam kamar mandi.


"Sebau itukah?" gumam Mirda lalu mulai membersihkan dirinya.


Mirda keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk, Elmira mendekati suaminya dan mencium aroma tubuh suaminya itu.


"Hmmmm, kalo gini Abang wangi," ucap Elmira sambil memeluk tubuh Mirda.


"Sayang! Jangan bangunin pyton, Abang mesti apel pagi," lirih Mirda.


"Aku suka wangi tubuh Abang," bisik Elmira ditelinga Mirda.


"Tuhkan! Kamu bikin pyton bangun, sekarang gimana coba?" rengek Mirda.


"Ish! Kan bukan aku yang bangunin, Abang!" kesal Elmira lalu meninggalkan Mirda.


Dengan lesu Mirda memakai seragam dinasnya, sambil menghela nafas berat. Mirda menemukan secarik kertas didekat baju seragam dinasnya, perlahan Mirda membukanya. Matanya terbelalak, ketika membaca tulisan didalam sana beserta sebuah testpack.


"Haii, Papa!"


Setelah membaca tulisan itu, Mirda bergegas keluar mencari sang istri yang tengah membuatkan nasi goreng. Sebab masakan yang dibuatnya tadi gosong.


"Terimakasih sayang!" ucap Mirda sambil menciumi seluruh wajah Elmira.


"Sama-sama Abang, aku gak nyangka kita bakalan punya adik buat Sweta," Elmira beruucap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Pulang apel, Abang akan izin. Kita ke dokter kandungan, setelah itu kita kerumah Bunda ya!" ucap Mirda dan Elmira mengangguk.


Mirda dan Elmira sarapan pagi bersama, setelah itu mereka pergi kerumah Betrysda untuk menjemput Sweta. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan, hal itu membuat cantika yang tengah menjemur pakaian mengalihkan pandangannya. Dia geram melihat kemesraan Elmira dan juga Mirda.


"Jaga pandanganmu! Atau matamu akan kubuat buta," ucap Doni dengan penuh amarah.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


MAMPIR KE KARYA OTHOR YANG KEDUA YA ❤❤❤



__ADS_2