Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 78. Penculikan


__ADS_3

Suasana semakin mencekam, jalanan yang ramai semakin ricuh dengan aksi kejar-kejaran antara anggota TNI dan penculik Quera. Penculik itu nekat untuk menerobos kedalam gerbang Tol. Dzikri sudah menghubungi Tim Kepolisian, kebetulan Aditya adalah salah satu anggota tim yang menangani kasus ini. Tak lupa Syauqi, dia sangat terkejut ketika mendengar kakak dan keponakannya menjadi korban penculikan. Dia memaksa untuk bergabung dengan tim Aditya.


"Aku mohon, Bang. Izinkan aku ikut untuk menyelamatkan kakakku." pinta Syauqi.


"Baiklah! Segera bersiap, dan pastikan kamu tidak bertindak gegabah!" tegas Aditya.


"Siap Bang!" jawab Syauqi dengan tegas.


Fahri meminjam sepeda motor milik salah satu guru disana, dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Saat ini dia membawa Husain ke rumah Jafran, beserta dengan Andina dan juga Rian. Yuliana tersentak kaget ketika Fahri datang langsung mendobrak pagar rumah Yuliana.


"Yaa Allah Abaaanggg! Ada apa ini? Kasian Husain ketakutan." kesal Yuliana.


"Aku titipkan Husain disini, nanti akan ada aparat yang menjaga rumah ini! Ingat jangan pernah kalian keluar rumah satu langkahpun!" tegas Fahri yang membuat Yuliana dan anak-anak mereka ketakutan.


Setelah memperingati mereka, Fahri melajukan sepede motornya dengan sangat kencang. Dia mencoba melacak keberadaan istrinya melalui GPS pada ponsel istrinya. Fahri sangat emosi ketika mengetahui jika sasaran penculikan itu adalah keluarganya.


"Siapa yang berani bermain-main denganku." geram Fahri sambil menekan gas motornya.


Sementara dirumah Yuliana, Husain sangat shock. Dia terus memeluk Yuliana dan enggan untuk melepaskannya. Jafran yang baru saja datang merasa keheranan.


"Eh anak tuyul, ngapain nemplok sama Ummi? Dimana Bunda kamu?" tanya Jafran yang membuat Husain menangis dengan sangat kencang.


"Gisya dan Quera diculik orang gak dikenal, saat ini Fahri dan seluruh tim kepolisian sedang mengejar pelaku. Padahal tadi, aku dan Gisya sedang membicarakan Febri. Tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan dimana-mana, dan hanya Gisya juga Quera yang menghilang dari sana." lirih Andina.


"Apaa?!!" teriak Jafran dan Yuliana bersamaan.


Jafran segera mengambil Husain dari pangkuan Yuliana. Sungguh Jafran sangat shock mendengar semua itu. Tak lama kemudian satu truk Anggota TNI sampai dikediaman Yuliana untuk melindungi keluarga Fahri. Sontak hal itu membuat geger satu komplek.


"Jangan sampai Bunda Syifa tau, kalo enggak dia pasti bakalan shock banget. Kamu telpon Umma sekarang, bilang sama Umma jangan ijinkan Bunda lihat berita atau apapun itu." pinta Jafran pada istrinya dan Yuliana segera menelpon Ummanya.


Sementara itu, Zayn yang baru saja mendapat telepon dari Rumah Sakit Jiwa merasa kaget. Ternyata Zahra melarikan diri dengan menyekap dua orang perawat hingga meninggal dunia. Zayn segera menghubungi kepolisian untuk melacak keberadaan adiknya itu. Santi yang baru saja pulang mengantar anaknya Les merasa heran.


"Ada apa Pa? Kenapa Papa panik?" tanya Santi pada Zayn.


"Zahra kabur dari RSJ, bahkan dia membuat dua orang perawat meninggal. Aku mau ke kantor polisi buat laporan." ucap Zayn frustasi.

__ADS_1


"Yaa Allah Zahra, Mama ikut Pa." pinta Santi.


Zayn dan Santi segera menuju ke kantor Polisi, mereka terlihat sangat sibuk mempersiapkan tim seolah ada sesuatu hal yang terjadi. Bahkan mulai banyak wartawan yang meliput berita. Zayn yang penasaran pun bertanya pada salah satu Polisi.


"Ada apa ini Pak? Kenapa ramai sekali?" tanya Zayn.


"Salah satu istri dan anak dari anggota TNI diculik, mereka juga merupakan keluarga dari anggota kami. Makanya kami sedang bersiap untuk mengejar para pelaku." jawabnya.


Deggg!!


Zayn dan Santi saling memandang, mereka berharap orang yang dimaksud bukanlah Gisya. Tapi ternyata dugaan mereka benar.


"Apa yang diculik itu saudara dari Briptu Syauqi Malik?" Tanya Santi.


"Benar Bu, apakah kalian mengenalnya?"


"Yaa Allah Papa, mungkinkah Zahra yang melakukan semuanya?" Lirih Santi.


"Begini Pak, kebetulan adik saya kabur dari RSJ dan dia memiliki dendam pribadi pada saudari Gisya. Bolehkah kami ikut Pak? Kami hanya ingin memastikan bahwa pelakunya bukanlah adik kami." Ucap Zayn.


Akhirnya Zayn dan Santi mengikuti mobil Polisi itu. Fahri sudah berhasil menemukan posisi GPS milik istrinya, dia segera melajukan motornya. Walaupun harus menerobos kedalam jalur Tol. Sementara Dzikri terus mengikuti mobil itu, hingga salah satu mobil penculik itu terguling di jalan tol. Beberapa anggota polisi langsung membekuk para pelaku. Dan dipastikan beberapa orang itu tewas.


"Shiittt!!" umpat Zahra ketika melihat mobil anak buahnya terguling.


"Nona Zahra aku tidak ingin berurusan lebih dari ini, aku hanya akan membunuh anak ini karena dia yang menyebabkan misi kami gagal. Selebihnya aku tidak ingin terlibat!" ucap penculik itu sambil terus menembaki kearah mobil Dzikri.


"Percepat lagi mobilnya! Aku tidak peduli meski kita juga harus mati, yang penting dendamku sudah terbalaskan!! Hahahahahaha." teriak Zahra.


"Kamu memang wanita gilaaaa!" teriak salah satu penculik itu.


Gisya mulai mengerejapkan matanya, dia melihat Zahra sedang menodongkan senjata kearah pengemudi mobil itu. Gisya sangat ketakutan, terlebih orang-orang yang berada didalam mobil memegang senjata. Gisya segera memeluk Quera yang masih tidak sadarkan diri. Dalam hati, Gisya terus berdo'a agar diberikan keselamatan.


Sialnya Zahra, mobil yang mereka tumpangi kehabisan bensin. Zahra turun dari mobil sambil menarik tubuh Gisya. Namun, Gisya terus meronta-ronta.


"Lepaskan Zahra! Apa sebenernya mau kamu?" teriak Gisya meronta-ronta.

__ADS_1


"Yang aku inginkan adalah kematian kamu!" teriak Zahra sambil tertawa.


Para komplotan penculik Quera hanya mengikuti Zahra, karena mereka tidak ingin tertangkap. Zahra mulai menodongkan senjatanya kearah pengendara lain dan membuat mobil itu berhenti mendadak.


Zahra meminta penculik itu mengambil alih mobil dan membawa Gisya bersama Quera. Beruntungnya, Quera terlepas saat mereka panik berlari. Dia terjatuh keatas aspal jalanan. Dzikri melihat Quera mulai bersimbah darah, dia segera membawa Quera kedalam mobilnya. Lalu dia menghubungi tim Kepolisian mengenai titik koordinat posisi penculik tesebut. Gisya menangis meraung melihat putri kecilnya itu.


"Raraaaa!! Raraaaaaa!! Anakku." teriak Gisya yang membuat Zahra menodongkan senjatanya kearah kepala Gisya.


Dengan membabi buta, Zahra terus menampar Gisya dan memukulinya hingga Gisya tidak sadarkan diri kembali. Sementara itu Fahri berhasil mengejar mobil yang membawa Gisya. Fahri terus menembakkan peluru kearah mobil itu. Dan akhirnya satu ban mobil itu pecah. Dan diujung jalan tol sana, tim kepolisian beserta tim TNI sudah mengepung mereka.


Emosi Fahri sudah berada di ubun-ubun, ketika melihat istrinya dalam kondisi yang menyedihkan. Saat Fahri akan menghampiri Gisya, dengan cepat Zahra menembak kearah Fahri hingga kaki kirinya tertembak.


Doorrrrr!! Doooorrrr!!


"Jangan berani mendekat! Atau istrimu ini akan mati!" teriak Zahra.


"Apa maumu Zahra? Salah apa istriku padamu?" geram Fahri.


"Salahnya? Kamu bertanya apa salahnya? Lucu sekali." tutur Zahra sambil tertawa.


"Kamu memang benar-benar perempuan gilaa!!" teriak Fahri sambil berlari kearah Zahra.


Dooorrrr!!!


Zahra menembak kembali kearah Fahri hingga dia tersungkur, satu peluru berhasil menembus tangan Fahri. Darah mulai mengucur dari tangan dan kakinya, namun Fahri tidak memperdulikannya. Yang dia inginkan saat ini adalah memeluk istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


* * * * *


Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..


Ini hanya imajinasi Author aja πŸ˜ŠπŸ™βœŒ


Dukung terus Author yaa ❀


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2