
Bandung pagi ini terasa sangat dingin, semalaman hujan turun dengan derasnya. Febri membuka jendela kamarnya, dia menghirup udara pagi ini sedalam-dalamnya. Rumah ini memiliki banyak kenangan indah, rumah pilihan Andi. Ya, saat ini Febri menempati rumah yang rencananya dulu akan dia tinggali bersama Andi. Dia berencana akan menjual rumah ini, dia bertekad untuk memulai kehidupan barunya. Bukan berarti melupakan, tapi dia sudah menyimpan nama Andi disisi lain dalam hatinya.
Sudah seminggu ini Febri tinggal disana, dan hari ini rencananya dia akan pergi ke Magelang bersama dengan Yuliana dan juga Gisya. Mereka akan berziarah ke makam Andi dan setelah itu ke Jogja untuk menemani Febri yang akan pengajuan pernikahan bersama Zaydan. Febri menatap foto pernikahan siri nya bersama Andi dulu, meskipun tanpa riasan tapi dia masih mengingat dengan jelas ijab kabul yang di ucapkan oleh Andi.
Febri memeluk foto itu dengan sangat erat, dan menangis pilu.
"Maafkan Dinda, Mas. Dinda tidak bermaksud mengkhianatimu, cintamu tetaplah utuh dalam hatiku. Aku sudah mengukir namamu, secara khusus dalam hatiku. Izinkan Mas Zaydan menempati bagian lain dari hatiku. Dinda dan Cyra sangat membutuhkan kehadirannya, Mas. Maafkan aku Mas Andi." Lirih Febri dalam isak tangisnya.
Sejenak Febri tertegun, dia merasakan pelukan hangat dari Andi. Dia mendongakkan kepalanya, dilihatnya wajah yang sangat dia rindukan selama ini. Febri berhambur memeluk erat tubuh Andi, sungguh itu membuat rasa rindunya membuncah.
"Mas, aku merindukanmu. Jangan biarkan aku sendirian." ucap Febri terisak.
"Dindaku tersayang, Mas selalu ada disampingmu. Mas selalu ada dalam hatimu, berbahagialah cintaku. Biarkan Mas menjadi cinta pertamamu, dan biarkan dia menjadi Cinta Terakhirmu. Dia yang akan selalu menggenggam erat tanganmu." ucap Andi sambil menyelipkan anak rambut yang terurai dipipi Febri.
"Mama, Mama, Mamaa." panggil Cyra yang minta dilepaskan dari pelukan Ibunya itu.
Febri tersadar, ternyata yang dia lihat dan dia peluk bukanlah Andi. Melainkan gadis kecil mereka, Febri mengusap lembut pipi putrinya itu.
"Cyra anak Mama, nanti kita ketemu Papa Andi ya Nak." ucap Febri memeluk Cyra.
"Mama angan angis." ucap gadis kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Enggak sayang, Mama gak nangis. Kita mandi yuk! Sebentar lagi Bunda sama Ummi jemput kita." ajak Febri pada Cyra.
Sementara dirumah Gisya, sedang terjadi perdebatan yang membuat kepala Fahri kembali pusing. Perdebatan antara Quera dan Gisya yang selalu terjadi sebelum mereka bepergian.
"Kaka pokoknya mau bawa tas hello kitty, Bunda." Rengek Quera.
"No Kak! Itu udah bagus kuda poni, kamu lucu kalo pake tas itu." Ucap Gisya.
"Tas kuda poni kecil Mbun, Tab punya kakak buat belajar ga masuk." tutur Quera yang tidak mau kalah dari Bundanya.
Fahri sudah mulai merasa kesal, keduanya sama sekali tidak mau mengalah.
"Stoooppp! Kalo masih debat Ayah gak akan ngijinin Bunda sama Kaka pergi! Udah pada diem aja dirumah, pusing nih kepala Ayah!" tegas Fahri.
"Kak, tas hello kitty nya boleh dipakai. Nanti tas kuda poni buat jalan-jalan di Jogja, ya." ucap Gisya pada putrinya itu.
"Iya bener, Bun. Tas kuda poni nanti buat disana aja." Ucap Quera lalu pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Huft, harus aja Ayah marah-marah dulu! Baru deh kalian diem." gerutu Fahri.
Husain yang sedari tadi menutup telinganya, melihat kearah sang Ayah.
"Yah, Abang Ain lapal. Boyeh matan cekalang?" tanya Husain.
"Boleh anak Ayah, yuk kita makan! Biarin aja Bunda sama kakak kamu ribet sendiri." ucap Fahri yang melihat istri dan anaknya itu sedang sibuk memasukkan pakaian.
Hal berbeda terjadi di kediaman Yuliana, kedua bocah kembar itu saat ini sedang duduk santai memakan camilannya. Sementara sang Ibu masih berusaha membangunkan suaminya yang belum juga bangun. Setelah sholat subuh, Jafran memutuskan untuk tidur kembali. Pasalnya dia malas untuk membantu sang istri menyiapkan keperluannya, lebih tepatnya Jafran merajuk karena sang istri akan pergi berlibur tanpanya.
Yuliana terus membangunkan suaminya itu dengan nada yang naik satu oktaf lebih tinggi.
"Babaaaaa! Bangun gak! Kalo gak bangun, Ummii gak kasih....." ucapannya terpotong.
"Stop! Jangan ngancem soal dunia persilatan malam! Nih mata Baba udah melek nih! Sabar kenapa sih, Mi!" kesal Jafran pada ancaman istrinya itu.
"Hih! Selalu aja kartu kojo harus Ummi keluarin kalo darurat begini!" gerutu Yuliana.
"Maiy, uping Maul cakit." ucap Maul alias Alan pada kembarannya itu.
"Ayana! No Maiy, Maiy! uping atu uga cakit." jawab Alana sambil menutup kupingnya.
Jafran mengerenyitkan dahinya ketika melihat kedua anaknya menutup telinga.
"Tepo!" jawab keduanya dengan kompak.
"Dasar anak tuyul? Ditanya bener-bener juga!" gerutu Jafran.
"Situ Baba nya tuyul dong! Udah sana Baa, sebentar lagi kita mesti ke Bandara loh. Nanti telat Ba." Rengek Yuliana pada suaminya itu.
"Iyaa! Sabar kenapa sih, giliran liburan tanpa Baba aja semangatnya minta ampun!" kesal Jafran sambil bersiap-siap.
Saat ini mereka sudah berkumpul di Bandara, Fahri terus menitipkan istrinya yang tengah berbadan dua itu. Sebenarnya dia tak mengijinkan istrinya pergi tanpa dirinya, tapi apalah daya. Ketika istrinya sudah merajuk, Fahri akan berpuasa malam selama seminggu.
"Pokoknya Bunda gak boleh cape, gak boleh telat makan, gak boleh telat minum vitamin, gak boleh makan terlalu pedes, gak boleh..." ucapan Fahri disela oleh Jafran.
"Gak boleh pergi sebenernya!" celetuk Jafran yang membuat Fahri mengangguk.
"Ayah sama Baba kan bisa nyusul kalo libur nanti. Gitu aja kok repot, lagian kita gak lama kok! Cuman dua minggu doang." ucap Yuliana santai.
__ADS_1
Jafran membulatkan matanya ketika mendengar ucapan sang istri.
"Aduh, aduh, aduh! Dua minggu doang katanya, Ri. Dia kagak tau, sehari kagak dapet aja nih kepala udah berasa mau pecah. Dia ngomong dua minggu doang!" kesal Jafran.
"Sabar Ba! Nanti Ummi kasih yang special deh pulangnya!" bisik Yuliana.
"Awas loh! Baba tagih nanti janjinya." bisik Jafran kembali.
"Kalian ini malah bisik-bisik! Itu kita udah harus check in, hayuk!" ajak Febri.
Fahri mencium kening kedua anaknya, setelahnya dia mencium seluruh wajah sang istri.
"Selalu kabarin Ayah, dan juga jaga kesehatan Bunda. Jangan terlalu lelah! Ayah akan terus pantau dari sini." ucap Fahri pada istrinya itu.
"Iya Ayah sayang, maaf ya Bunda tinggal. Ayah juga jaga kesehatan ya, Bunda pasti kangen banget sama Ayah." Rengek Gisya dalam pelukan suaminya.
"Yaudah kalo gitu Bunda gak usah pergi ya." bujuk Fahri sekali lagi.
"Udahan drama nya! Gak ada acara cancel-cancel!" ucap Yuliana sambil menarik Gisya dari pelukan Fahri.
Jafran dan Fahri terus melambaikan tangannya hingga istri dan anak-anak mereka tak terlihat lagi dari pandangan.
"Dadaahhhh anak tuyul Babaaa!!" teriak Jafran.
Mereka menghela nafasnya, sungguh rasanya mereka ingin ikut. Tapi apa daya, mereka masih memiliki kewajiban untuk bertugas.
"Huh! Ditinggal istri sama anak, rumah pasti sepi." Lirih Fahri.
"Iya nih, Yah! Pasti kangen ocehan anak-anak tuyul itu." Lirih Jafran.
Orang-orang yang melihat keduanya terlihat menahan tawanya.
"Ternyata yang gagah juga kalo ditinggal pergi anak sama istri jadi galau. Drama keluarganya sampe di Bandara." bisik salah satu pengunjung.
* * * * *
Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..
Ini hanya imajinasi Author aja ππβ
__ADS_1
Dukung terus Author yaa β€
Salam Rindu, Author β€