
Cinta seorang Ayah memang tak terlihat, karena memang Ayah tak pandai menunjukannya. Tapi Ayah selalu punya seribu alasan untuk tetap berjuang dan menepis kesedihannya demi keluarga. Cinta Ibu adalah yang paling menenangkan, ia tak banyak wujud dan meneduhkan seperti oase di padang panjang nan gersang. Walau mustahil menjadi Ibu yang sempurna, namun seorang Ibu pasti berusaha menjadi Ibu terbaik bagi anak-anaknya.
Begitupun Ayah Fahri dan Bunda Gisya, mereka akan melakukan segala hal untuk putra putri kesayangannya. Karena bagi mereka, kebahagiaan anak-anaknya adalah yang paling utama. Siang itu, mereka sedang menikmati kebersamaan berdua setelah pagi tadi menemani cucu mereka dirumah sakit. Siapa sangka siang itu keluarga Athaya datang untuk melamar putri bungsu mereka. "Kedatangan kami kemari untuk melamar Indira, bukan untuk Athaya tapi untuk Dirga," ucap Abi Athaya membuat keduanya terdiam dan saling menatap.
Kemudian mereka menjelaskan kondisi keluarga Dirga saat ini, "Pak Agung Dirgantara tidak bisa hadir, sebab kondisi beliau yang kini sedang menjalani therapy stroke disalah satu klinik tradisional milik pesantren kami. Athaya sudah melepaskan Indira dari ikatan pertunangannya, beliau sendiri yang sudah meminta saya untuk melamarkan putri Agung Dirgantara, yaitu Aini. Dia ingin mengurus dan merawat Aini dalam ikatan yang halal baginya. Untuk itu kedatangan kami kemari mewakili Bapak Agung Dirgantara untuk melamar Indira untuk menjadi istri dari Dirga."
"Maaf kalo Ayah dan Bunda merasa semua ini serba mendadak, tapi semua ini permintaan Aini. Dia mau melakukan pengobatan dan menerima Athaya asal aku dan Syafa terjalin juga dalam ikatan suci pernikahan. Dan Aini sendiri yang meminta, jika Dira harus menyaksikan ijab kabul antara dirinya dan Athaya nanti. Apa Ayah dan Bunda mau menerima saya menjadi menantu dikeluarga ini?" lirih Dirga.
Tanpa berbicara, Ayah Fahri memeluk Dirga dengan erat. "Kamulah kebahagiaan putri kami, dan sengan senang hati kami akan menerima lamaranmu. Terimakasih Dirga, terimakasih," ucap Ayah Fahri. "Lalu kapan rencananya kalian akan melaksanakan ijab kabul?" tanya Bunda Gisya.
"Athaya mau secepatnya bawa Aini ke Malang, Bun. Kita akan menetap disana, Aini akan diobati oleh Abi di Klinik tradisionalnya. Kalo memang ikhtiar kami belum ada kemajuan, maka Athaya akan membawanya ke Singapore. Dan Aini mau, pernikahannya dilaksanakan lusa. Athaya mohon, Bun. Tolong bantu Athaya untuk memenuhi semua syarat dari Aini," pinta Athaya.
Tak disangka, Bunda Gisya dan Ayah Fahri langsung mengangguk menyetujuinya. "Kami akan siapkan semuanya dari sekarang, InshaAllah semua niat baik akan di ridhoi oleh Allah. Maafkan Bunda, Athaya. Kamu laki-laki baik dan soleh, hanya saja memang kamu tidak berjodoh dengan putri Bunda," lirih Bunda Gisya memeluk Athaya.
"Aku gak apa-apa, Bun! Setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Meskipun Athaya tidak berjodoh dengan Dira, tapi Athaya mohon pada Bunda dan Ayah untuk tetap menganggap kalian sebagai orangtua. Seperti kata Bunda, level tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan. Maka Athaya sudah mengikhlaskan Dira untuk kebahagiaanya," mereka sedih dan bahagia secara bersamaan.
Pagi ini rumah Indira sudah ramai, tapi tak seramai pernikahan Elmira. Rumah hanya didekor sederhana dengan nuansa putih, selama dua hari ini Ayah Fahri disibukkan dengan ijin menikah putrinya yang akan dilaksanakan setelah akad nikah. Bahkan Komandan Batalyon Dirga sendiri yang akan menjadi saksi pernikahan putrinya. Ini pertamakalinya bagi Ayah Fahri menjadi wali nikah, sejak tadi dia tak bisa lagi menahan airmatanya. Terlebih ini adalah pernikahan putri bungsunya.
"Bismillahirahmanirahim, Dirga Agung Prayoga saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, yang bernama Indira Myesha Kirania Syafa binti Fahri Putra Pratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas putih sebesar 50 gram bertahtakan berlian 5 carat dibayar TUNAI!" ucap Ayah Fahri dengan nada yang bergetar.
Dirga melafadzkan ijab kabulnya dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Indira Myesha Kirania Syafa binti Fahri Putra Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"
SAH!
__ADS_1
SAH!
SAH!
Suara riuh para tamu undangan yang bersorak 'SAH' membuat jantung Indira semakin berdegup kencang dan tak sanggup menahan airmatanya. Yang dia tau, kini Athaya sudah sah menjadi suaminya. Melihat putrinya berjalan menunduk dan berderai airmata, membuat Ayah Fahri dan Bunda Gisya dihantui perasaan bersalah. Apakah putrinya tidak menginginkan pernikahan itu?
Mereka melihat Indira menghampiri Athaya dan mengulurkan tangannya, seketika mereka bernafas lega. "Sayang, kamu salah orang!" ucapnya. Indira lalu mendongakkan kepalanya, Athaya tersenyum "Bukan aku yang menikahi kamu, Dira!" ucap Athaya lalu menggeser tubuhnya. Gadis itu kini tercengang ketika melihat orang yang paling dia cintailah yang mengucapkan ijab kabul dengan Ayahnya.
Kebahagiaan terpancar dari keluarga itu, mereka menatap haru pada kedua insan manusia yang kini sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan. Acara itu memang hanya dihadiri oleh kerabat dekat mereka saja, dan rencananya setelah selesai pengajuan nikah militer mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan. Indira hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh orangtuanya, kini dia yakin apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya adalah untuk kebaikan dirinya.
Gadis itu berhambur memeluk sang Bunda, "Maafin Adek, Bunda. Adek banyak salah dan dosa sama Bunda, terimakasih banyak sudah membuat Adek bersatu dengan laki-laki yang paling Adek cintai. Adek sayang sama Bunda," lirih Elmira.
"Sayang, Bunda juga sayang sama Adek. Yang harus kamu tau, apapun akan Bunda lakukan untuk kebahagiaan anak-anak Bunda. Karena kalian adalah hidup Bunda, penerang disaat Bunda dalam kegelapan. Kalian adalah segalanya bagi Bunda," isak tangis sudah tak terbendung lagi. Suasana haru kini meliputi kediaman Indira, tangis bahagia yang terdengar.
Bunda Gisya bergantian memeluk Dirga yang kini resmi menjadi menantunya, "Kini anak Bunda sudah bertambah satu, dan Dira sudah menjadi tanggung jawab kamu. Bimbinglah dia dan jagalah dia dengan segenap jiwa ragamu. Bunda percaya, kamu akan membahagiakan anak Bunda," ucap Bunda Gisya.
Sambungan video pun tersambung pada keluarga Dirga dan juga para laki-laki yang kini sedang berada di luar negeri. Elmira harus kembali kerumah sakit, sebab dia sudah terlalu lama meninggalkan Ibam. "Dek, Kakak mau pamit ya. Ibam udah terlalu lama Kakak tinggalin, Kakak turut bahagia dengan pernikahan kamu. Semoga keluarga kalian selalu dalam lindungan Allah," do'a tulus Elmira.
"Aamin, makasih banyak ya Kak. Nanti Dira sama suami pasti nengokin Ibam kesana, Kakak yang kuat ya," ucap Indira memeluk erat sang Kakak.
"Ciee.... Udah punya suami!" goda Elmira. "Ga, Kakak titip Adek ya.Tolong jaga dia baik-baik, dia anaknya mandiri dan gak neko-neko. Dia anak yang kuat, tapi jangan lukai hatinya, ya. Keinginan Oma sudah terwujud, melihat Dira bahagia. Jadi tolong bahagiakan dia selalu ya," pinta Elmira.
Dirga mengangguk, "Aku pasti akan selalu ingat pesan Kakak, aku bakalan ngejagain Indira dengan segenap jiwa dan ragaku. Karena kini dia adalah hartaku yang paling berharga," ucap Dirga membuat pipi Elmira bersemu merah.
__ADS_1
Merasakan kehangatan dalam sebuah keluarga adalah impian Dirga sejak dulu. Kini dia merasa hidupnya terasa sempurna, dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Setelah kepulangan para kerabat, kini mereka sedang berkumpul di taman belakang. "Ga, kalo mau ngadon pake plastik ya!" ucap Ummi Ulil membuat Dirga yang sedang minum tersedak.
"Uhuukkk... Uhukkkkk....." Indira menepuk pelan punggung sang suami. "Yaa ampun, Lil! Kamu mau bikin si Dira jadi janda kembang! Gak kira-kira kalo ngomong," kesal Mama Febri yang kini membuat Indira tersedak. "Uhuuukkk.... Uhuuukkk...."
Bunda Gisya menggelengkan kepalanya, "Kalian itu gak bisa diem ya!" kesal Bunda Gisya. "Maaf ya, Nak. Mama sama Ummi kamu emang otaknya gesrek, jadi kamu harap maklum ya. Mulut mereka emang selalu loss doll gituloh! Tapi memang ada benernya juga, sebelum kamu mendaki gunung dan menjelajahi lembah sebaiknya kalian memakai jas hujan dulu. Biar Dira menyelesaikan pendidikannya dulu gitu loh!"
Astaga!
Wajah kedua pengantin itu sudah bersemu merah, "Bun! Itu diluar kendali kita sebagai orangtua! Ayah gak jadi masalah tuh kalo mereka ngadon tanpa pake plastik. Lagian Ayah juga pengen cepet nimang cucu dari Dira, tentara itu pada perkasa loh!" celetuk Ayah Fahri membuat mereka mendelik kesal.
"Yaa Allah... Ternyata mertuaku juga terkontaminasi kegesrekan ini, kenapa vulgar sekali" batin Dirga.
Mereka berbincang-bincang menceritakan keluarga besar mereka yang berawal dari sebuah persahabatan. Ayah Fahri menepuk bahu menantunya itu, "Keluarga adalah tempat bersandar paling nyaman, tidak peduli seberat apapun beban dalam hidupmu percayalah keluarga selalu ada disampingmu. Sejatinya kita sebagai manusia biasa pernah merasakan kekecewaan dan kegagalan. Jangan pernah ragu dan takut untuk menceritakan semuanya pada keluargamu, karena keluarga bisa menjadi motivator terbaik yang kamu temukan, Nak."
"Keluarga juga tempat belajar paling pertama, menuntun kita dalam mengambil sebuah keputusan. Jika suatu saat ada masalah dalam keluarga kecil kalian yang tidak dapat kalian selesaikan. Maka jangan pernah sungkan untuk bertanya dan bercerita pada keluarga besar ini. Kelak jika Ayah dan Bunda sudah tidak ada didunia ini, maka merekalah tempat kalian kembali. Bunda mohon, jagalah selalu ikatan tali silaturahmi ini," tambah Bunda Gisya.
Dirga mengangguk tanda mengerti, "Keluargaku terlalu sibuk mengejar harta, hingga melupakan keluarga. Padahal tanpa mereka sadari, keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya. Lebih baik hidup sederhana tapi bermakna, daripada hidup mewah tapi mengorbankan cinta keluarga. Terimakasih Ayah dan Bunda sudah memberikanku sebuah keluarga yang utuh. Dari kalianlah aku mengerti arti sebuah keluarga."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤