
Setelah kemarin menghadap ke Kantor Persit, hari ini Febri akan mengadap Komandan Kompi dan Komandan Batalyon untuk mengurus pengajuan nikah. Dia selalu bertanya kepada Gisya, karena dia takut melakukan kesalahan.
"Ca, apa nanti bakalan ditanya aneh-aneh? Aku takut banget, apalagi dengan status aku yang janda tanpa buku nikah." lirih Febri.
"Ebiw sayang, everythings gona be ok. Yang penting kamu siapkan mental dan yakinkan bahwa kamu siap menjadi istri seorang prajurit. Kamu siap dengan setia untuk menanti kepulangan mereka dalam bertugas, siap dijadikan prioritas nomor kesekian karena bagi prajurit senjata dan negara adalah yang utama. Termasuk kamu harus siap kehilangan, ketika mereka sedang bertugas. Hanya do'a dan kesetiaan yang utama, itu yang selalu Mas Fahri bilang sama aku." ucap Gisya.
Setelah membantu Febri memakai baju Persitnya, dia mengantarkan Febri pada Zaydan yang sedari tadi menunggunya didalam mobil. Zaydan tertegun melihat Febri yang sangat anggun memakai baju Persit.
"Ngedip Mas, ngedip!" ledek Gisya.
"MashaAllah cantik sekali calon Ibu Persitku." ucap Zaydan membuat Febri tersipu.
"Ayo, Mas. Nanti kesiangan." ajak Febri.
Gisya melambaikan tangannya ketika melihat mobil Zaydan dan Febri pergi. Dia menghampiri Yuliana dan Ayu yang sedang heboh mengurus anak-anak yang sedang berenang dikolam karet.
"Anak-anak, jangan terlalu heboh! Kasian itu aunti Ayu kerepotan." ucap Gisya.
"Mbun, beyi olam wat Abang Ain ya!" pinta Husain pada Bundanya.
"Iya Bun biar kita bisa main dihalaman rumah, Kaka juga mau!" ucap Quera.
"Iya sayang, nanti kita minta Ayah buat beliin kolam gini ya." jawab Gisya.
Yuliana tampak kebingungan, pasalnya ulangtahun suaminya itu tinggal beberapa hari lagi. Tapi sampai hari ini, dia belum menemukan ide untuk memberi kejutan. Gisya heran melihat Yuliana yang seperti itu.
"Ada apa sih, Lil? Sok-sokan kaya lagi mikir, emang itu kepala masih ada isinya?" ucap Gisya yang membuat Yuliana kesal.
"Eh mohon maaf nih ibu Chacha Maricha Heyhey! Ini kepala gini-gini juga masih berguna, tapi kali ini dia agak loading nih. Mungkin kurang sinyal wifi." keluh Yuliana.
"Aku kasih hotspot deh! Sok sekarang cerita, ada apa aya naon?" tanya Gisya.
Gisya tersenyum ketika melihat Yuliana mulai menghela nafasnya.
"Aku bingung kasih kejutan buat si Baba! Padahal tiga hari lagi dia ulangtahun, dan aku pengen kasih kejutan yang luar biasa buat si Baba." ucap Yuliana dengan lesu.
"Tunggu, si Baba pulang terbang kapan?" tanya Gisya.
"Lusa sih katanya, sehari sebelum ulangtahunnya dia." jawab Yuliana.
"I have a great idea!" ucap Gisya berteriak mengagetkan Yuliana.
"Semprul! Bikin kaget aja nih bule KW 5!" kesal Yuliana. "Ide apaan? Coba kasih tau."
Gisya membisikkan sesuatu pada Yuliana, yang membuat sahabatnya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"No! Kebayang sih gimana emosinya si Baba kalo kaya gitu." ucap Yuliana.
"Itu kan tujuannya Ulet! Kita kuras dulu emosinya si Baba, tenang aja kita kan punya Squad emak-emak rempong buat mengatur emosi si Baba." ujar Gisya sambil tersenyum jahat.
"Ini bumil satu kalo lagi ketularan gila emang ngeri ya!" celetuk Yuliana.
__ADS_1
"Enak aja ngatain gila! Gimana setuju gaakkk?" tanya Gisya dan Yuliana hanya mengangguk tanda menyetujui.
Sementara itu, suasana tegang terjadi di Kantor Komandan Batalyon. Febri sangat tegang untuk menghadapi pertanyaan yang diajukan oleh sang Danyon. Zaydan terus menenangkan calon istrinya itu. Hingga setiap pertanyaan bisa dijawab oleh Febri dengan baik. Mereka bernafas lega, setelah itu mereka mendapatkan wejangan-wejangan dalam menghadapi kehidupan pernikahan nantinya.
Setelah selesai, Febri dan Zaydan melakukan tradisi prajurit yang sudah pengajuan nikah. Yaitu menaiki becak dan berkeliling Batalyon. Mereka disambut meriah oleh seluruh anggota disana, mereka ikut bahagia ketika sang Komandan Pleton telah menemukan pelabuhan terakhirnya.
"Selamat Danton! Selamat bergabung di kesatuan Bu Danton!" ucap Hagum.
"Terimakasih, Om Hagum." ucap Febri dengan senyuman.
"Jangan senyum-senyum sama dia, yank. Senyum kamu buat Mas aja." ucap Zaydan.
"Heleh, dasar bucin!" kesal Hagum yang membuat Febri tertawa.
"Ternyata benar Mas, aku menjadi Ratu ketika dipertemukan dengan orang yang tepat. Terimakasih ya, Mas." ucap Febri.
"Bukan terimakasih ya mau Mas dengar, tapi aku mencintaimu." bisik Zaydan.
Gisya, Yuliana beserta Ayu kini sedang menikmati suasana Jogja di sore hari. Mereka sedang menikmati pisang goreng di Warung Kopi Klotok. Tempatnya sangat luas, anak-anak sangat antusias untuk berlari-larian disana.
"Kakak Rara! Jangan lari-lari, kakinya nanti sakit lagi." teriak Gisya pada Quera.
"Maaf Mbun, kakak seneng bisa main sama adek-adek. Jangan marah." lirih Quera.
"Sini sayang, duduk sama Bunda disini." pinta Gisya.
Quera menghampiri Bundanya, dia tertunduk lesu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Adek-adek! Ayoo main puzzle sama kakak!" teriak Quera.
"Ayan! Ain! Cyla! Ayok kita ain uzle sama tata." ajak Alana pada teman-temannya.
"Ayo Maiy, mpet lali na Maiy!" ucap Husain.
"Ayana! No Maiy! Ain akal Miiiiii." teriak Alana pada Umminya.
Ayu menepuk jidatnya, dan Yuliana hanya tertawa melihat tingkah anak-anaknya.
"Si Ain seneng banget bikin si Alana kesel, kebayang kalo mereka berjodoh. Udah kayak aku sama si Baba kayaknya!" ucap Yuliana sambil membayangkan.
"Heh! Itu mereka masih bocah, udah ngomongin jodoh aja!" kesal Gisya.
"Yeee kan cuman bayangin doang Ca!" elak Yuliana.
"Cepetan kamu foto sama suami si Ayu! Mau aku kirimin fotonya ke si Baba, aku juga udah kong kalikong sama si Ayah, Umma, Mami sama Uqi!" ucap Gisya.
"Aduh kok aku deg-degan," ucap Yuliana.
Gisya mulai memotret secara candid. Yuliana berpose seolah-olah dia sedang mengasuh anak-anak bersama suami Ayu.
"Teh Ulil agak deketan dong sama suami aku, tapi jangan colek-colek!" ucap Ayu.
__ADS_1
"Heh foto gini aja laki aku bisa ngamuk, apalagi kalo deketan!" kesal Yuliana.
"Ayolah Lil! Ini biar sukses nih kejutan buat si merpati!" ucap Gisya yang sudah lelah.
"Okelah, Oke!" jawab Yuliana.
Zaydan dan Febri yang menyusul merasa heran ketika melihat Yuliana berfoto bersama suami Ayu. Dengan langkah cepat Febri menarik Yuliana dari sana.
"Itu lakik si Ayu, Lil! Ngapain sih kamu foto-foto gitu." kesal Febri.
"Eh ibu Udang! Mohon maaf nih ya, noh liat sonoh! Ini lagi shooting, buat kasih kejutan ke si Baba! Lagian I'm a loyal girl, tuh si Ayu aneh-aneh pake nyuruh deketan fotonya." ucap Yuliama sambil menunjuk kearah Ayu dan Gisya yang tertawa.
"Hehehehehe, maaf Ulet pucukku. Aku salah paham, lagian aneh-aneh aja kejutannya kok malah foto-foto sama laki lain. Apa si Baba gak akan kebakaran jenggot?" tanya Febri.
"Tuh tanya sama si bunaga! Dia yang punya ide." ketus Yuliana.
Setelah mendengar penjelasan Gisya mengenai surprise untuk Jafran, Febri dan Zaydan tertawa. Mereka setuju untuk memberikan kejutan ini untuk sang merpati.
"Setuju aku, Ca. Setuju banget! Iya kan Mas?" tanya Febri pada Zaydan.
"Bener yank, aku setuju sama kayak kamu. Kapan lagi kita bisa kerjain Baba merpati, kali-kali dia yang kita kerjain." ucap Zaydan.
"Puas banget kalian kalo liat suamiku begitu!" kesal Yuliana.
Gisya mulai mengirimkan foto-foto Yuliana pada Fahri. Kebetulan saat ini, Fahri sedang berkumpul dengan Syauqi dan Jafran. Mereka tampak gagah dengan seragam masing-masing. Fahri memakai seragam loreng, Syauqi memakai seragam Polri dan Jafran masih mengenakan seragam Pilotnya. Mereka sedang menikmati kopi di Cafe 'Fandi x Caca Bakery' milik Fahri.
Jafran yang memang penuh percaya diri, terus menebar pesonanya. Hingga beberapa anak-anak muda memperhatikan mereka.
"Karma kamu, Ba. Tebar pesona disini, si Ummi tertaut lakik di Jogja. Nih liat kayak keluarga bahagia banget gak sih mereka." ucap Fahri sambil memperlihatkan foto-foto yang dikirimkan oleh Gisya.
Mata Jafran terbelalak ketika melihat foto istrinya, dia mengambil ponselnya dan mulai menelpon istrinya itu. Tapi sayangnya, ponsel sang istri tidak aktif.
"Makanya jangan sok tebar pesona, istri kesambet orang baru nyaho!" ucap Syauqi.
"Heh Malik! Jangan malah ngomporin ya ente! Telpon si Caca atau si Udang, Ri. Cepetaaaaannn!" kesal Jafran.
"Sabar yee!! Makanya jangan sok kecakepan dah, giliran si Ummi nemu brondong situ marah-marah." ledek Fahri.
"Gak bisa gini nih, pokoknya harus disusul inimah! Umma, Umma pasti marah kalo liat si Ummi begini." ucap Jafran lalu beranjak dari tempat duduknya.
Syauqi dan Fahri tertawa tanpa suara, lalu mengikuti Jafran.
* * * * *
Kira-kira tanggapan Umma kayak gimana yaaaa??
Pantengin terus cerita Author 🥰🤗
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤