
Fahri baru saja menyelesaikan tugasnya, saat kembali ke Rumah Dinas dia melihat Ibunya masih berada disana. Sementara Hari sudah kembali ke Palembang bersama Fabian.
"Loh, Abang kira Mama sudah pulang ke Palembang." ucap Fahri.
"Mama masih mau disini, Bang. Kamu sudah hubungi Caca?" tanya Risma.
"Abang kan ga bawa ponsel Ma, ini makanya Abang buru-buru masuk karena udah kangen sama Caca. Mama kenapa murung gitu sih?"
Risma tidak menjawab pertanyaan putranya, dia langsung menangis memeluk Fahri. Risma baru saja mendapatkan telepon dari Rini bahwa jenazah Andi sudah ditemukan.
"Andi sudah meninggal, Bang. Jenazahnya baru saja ditemukan, dia tertimbun longsor susulan waktu membantu evakuasi korban." jelas Mama Risma.
Fahri tersentak, tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Kenangan bersama sahabatnya itu terus berputar dikepalanya. Dimulai dari perkenalan mereka saat pendidikan hingga bertugas. Sungguh, Fahri tidak menyangka jika Andi akan meninggalkannya secepat ini. Karena mendapatkan waktu bebas selama 3 hari, Fahri memutuskan untuk menyusul Febri dan Gisya ke Magelang.
Sementara itu, Febri berusaha menguatkan dirinya. Setelah mendapatkan kabar jika Andi sudah ditemukan, Febri langsung mendatangi tempat kejadian. Saat Polisi membuka salah satu kantung jenazah, Febri melihat wajah Andi. Tanpa mendengar larangan dari Polisi, Febri berhambur memeluk jenazah Andi.
"Mas, kenapa kamu tega ninggalin aku Mas? Dua minggu lagi kita menikah Mas! Kenapa harus seperti ini Mas?!" teriak Febri.
Semua yang ada disana menitikkan airmatanya mendengar ucapan Febri. Polisi menarik paksa Febri dari sana, Febri kembali tidak sadarkan diri. Mama Rini tak kuasa menahan sakit dihatinya, melihat putri kesayangannya terus menangis meraung-raung lalu kembali tidak sadarkan diri.
Bahkan berhari-hari Febri tidak mau makan apapun. Begitupun dengan kedua orangtua Andi. Mereka sangat terpukul dengan kepergian Andi. Kini jenazah Andi sudah disemayamkan di Rumah Dinas yang Andi tempati. Rencananya Jenazah akan dibawa ke Semarang untuk dimakamkan secara Militer. Selama di Rumah Dinas, Febri tidak pernah jauh dari peti Jenazah calon suaminya. Gisya juga sudah mendapat kabar, jika saat ini Fahri sedang berada di Pesawat menuju Magelang.
Rizal meminta Febri untuk beristirahat di kamar Andi. Sebenarnya Febri menolak, tapi Rizal terus memaksanya untuk masuk kedalam kamar Andi. Karena sebenarnya, Rizal ingin memperlihatkan seberapa berartinya Febri dalam hidup Andi.
"Mbak istirahat didalam kamar ini, disana Mbak akan tau seberapa besar Mas Andi mencintaimu." ucap Rizal.
Gisya menemani Febri untuk masuk kedalam kamar Andi. Mereka berdua sama-sama terkejut dan saling pandang dengan mata berkaca-kaca.
Kamar itu memang tidak besar, bahkan terbilang kecil. Tapi Andi menata rapi semuanya, Foto ketika Andi melamar Febri terpajang disana. Bahkan foto-foto Febri tertata rapi pada selembar sterofoam yang tertempel di dinding dengan tulisan 'Motivasi Hidup'. Febri berjalan perlahan menuju meja, dia melihat kalung tanda pengenal atas nama Andi dan cincin couple yang mereka pakai. Tidak lupa 3 lembar surat untuk Febri, Fahri dan kedua orangtuanya. Febri menitikkan airmatanya, sungguh rasanya dia masih tidak percaya jika Andi sudah jauh pergi meninggalkannya.
Febri meminta Gisya meninggalkannya sendirian.
"Ca, boleh tinggalin aku sendiri? Aku pengen berduaan sama Mas Andi untuk yang terakhir kalinya." pinta Febri sambil memeluk erat foto Andi.
"Yaudah, kalo ada apa-apa panggil aku ya. Aku ada didepan pintu." jawab Gisya.
__ADS_1
Setelah Gisya pergi, Febri mengambil baju seragam Loreng bertuliskan nama Andi yang tergantung disamping lemari. Dia membaringkan tubuhnya sambil memeluk erat baju kekasihnya itu. Febri menangis tanpa suara, dunianya terasa sangat hancur. Impian membangun Rumah tangga bersama Andi pupus sudah. Febri sudah hampir 3 tahun mengenal Andi dalam dunia maya, mereka saling terbuka dan saling menjaga hati. Namun, baru saja mereka bertemu tapi takdir mempermainkan mereka.
Fahri baru saja sampai di Rumah Dinas. Dia disambut oleh rekan-rekannya, termasuk Rizal. Saat bertemu Fahri, airmata Rizal yang sejak tadi tertahan akhirnya menetes juga.
"Sudah, jangan menangis. Ikhlaskan kepergiannya. Jika dia tau kamu menangis, dia akan menghukummu." tutur Fahri.
"Saya lebih baik dihukum Bang, daripada harus seperti ini."
"Ini sudah konsekuensi kita sebagai seorang Abdi Negara! Tegarkan hatimu!" pinta Fahri.
Dia masuk kedalam Rumah, dilihatnya peti jenazah Andi yang ditutupi oleh bendera Merah Putih dengan Foto Andi diatasnya. Fahri memberikan penghormatan terakhirnya pada sahabat terbaiknya. Fahri juga menghampiri kedua orangtua Andi dan memeluk mereka.
"Terimakasih, Bapak dan Ibu sudah merawat Andi dengan baik. Saya saksi dari kebahagiaan Andi ketika kalian mengadopsinya. Andi selalu ingin membanggakan Bapak dan Ibu. Sekarang Bapak dan Ibu harus mengikhlaskan kepergian Andi, dia meninggal karena kebaikan." tutur Fahri.
"Kami sangat menyayangi Andi, meskipun mereka bukan anak kandung kami. InshaAllah saat ini kami sudah mengikhlaskan kepergiannya."
Fahri lalu menghampiri Gisya yang sedang menangis didepan pintu kamar Andi. Melihat Fahri disana, Gisya berhambur kedalam pelukan Fahri. Hatinya terasa sakit ketika melihat Febri menangis memeluk baju milik Andi.
"Sudah jangan menangis, biarkan dia melepaskan kerinduannya. Semua ini memang tidak mudah bagi kita semua." Ucap Fahri sambil mengusap kepala Gisya.
"Umur rahasia Allah, Dek. Tidak ada yang tau kapan kematian menghampiri kita. Abang juga sebenarnya takut Dek. Abang takut meninggalkan kamu dan malah menorehkan luka. Abang gak mau liat kamu menangis seperti ini."
"Abang harus janji. Apapun yang terjadi kedepannya, Abang akan terus berjuang untuk hidup. Abang harus ingat, Adek akan selalu menanti kepulangan Abang."
Fahri hanya menganggukkan kepalanya.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju Semarang. Febri, Fahri, Gisya dan kedua orangtua Andi berada dalam mobil jenazah. Febri terus memeluk peti calon suaminya itu, sambil melihat bingkai foto yang ada diatas peti.
"Kamu baik-baik aja kan Biw?" tanya Gisya karena melihat tubuh Febri mulai lemas.
"Terlalu munafik kalo aku bilang aku baik-baik aja." tutur Febri.
"Perpisahan yang paling menyakitkan adalah kematian, Nak. Tapi titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Bapak tau semuanya tidak mudah, tapi bapak mohon kuatlah. Andi akan merasa berat jika kamu seperti ini." ucap pak Burhan.
"InshaAllah aku ikhlas Pak, tapi aku Rindu. Pertemuan dan perpisahan kami memang terlalu singkat. Tapi kenangan dan perasaan cinta yang Mas Andi tinggalkan terlalu lama."
__ADS_1
2 jam perjalanan, membuat Febri terlelap diatas peti jenazah. Febri merasa jika saat ini dia sedang tertidur dalam pelukan Andi. Fahri dan Gisya juga larut dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah melakukan upacara Pemakaman secara Militer, kini Komandan Kodim memberikan ucapan bela sungkawa.
"Kepergian Lettu Andi, membuat kami kehilangan seorang anak bangsa terbaik. Yang selalu memegang teguh prinsip-prinsip perjuangan serta setia kepada NKRI. Kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya disertai do'a yang tulus. Semoga almarhum diterima disisi Allah, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan."
Satu persatu pelayat sudah meninggalkan makam. Tapi Febri masih enggan beranjak dari duduknya. Dia terus mengusap nisan yang bertuliskan 'Letnan Satu Andi Faturachman'. Febri sudah tidak perduli dengan pakaiannya yang kotor. Gisya dan Fahri membiarkan Febri untuk melepaskan kerinduannya disana.
"Dari semua rasa sakit yang pernah aku dapatkan, hanya ini rasa yang paling menyesakkan Mas. Pertemuan singkat yang kita lalui, semuanya masih berputar dalam memori ingatanku. Aku ikhlas akan kepergianmu, tapi aku Rindu kamu Mas. Aku rindu menanti kabar darimu, aku rindu kamu menceritakan kegiatanmu. Apakah pesan terakhir yang kamu sampaikan untukku itu sudah pertanda Mas?"
Gisya terhenyak, dia kembali mengingat ketika mereka mengantarkan Andi ke stasiun.
Dia ingat jika Andi meminta Febri untuk selalu mendo'akannya, dia juga ingat kata-kata terakhir Andi padanya.
"Saya titip Dinda ya, Gisya. Tolong jangan biarkan dia menangis memikirkan aku"
Itulah kata-kata terakhir yang Andi ucapkan pada Gisya.
Gisya dan Fahri meninggalkan Febri sendirian, mereka menunggu disalah satu kios penjual bunga. Karena sudah hampir malam, Febri beranjak dari duduknya.
"Mas, aku pulang dulu ya. Besok aku balik lagi kesini buat nemenin kamu. Jangan khawatir Mas, aku akan selalu mendo'akanmu."
"Sekarang aku mengerti akan keinginanmu saat itu, dan aku tidak menyesali semuanya Mas. Aku bahagia sudah menjadi bagian dari hidupmu."
"One day, akan ada satu hari dimana aku akan menemukanmu. Dimana semua luka isak tangis ini berhenti dengan sendirinya. Nantikan aku disana, Mas. Allah memang tidak mempersatukan kita didunia, tapi suatu saat Allah akan mempersatukan kita diakhirat."
"Yaa Allah, ikhlaskan hatiku untuk menerima apapun yang sudah Engkau rancang dan Engkau berikan untukku. Karena sesungguhnya, apa yang telah Engkau berikan untukku itu sudah pasti yang terbaik."
* * * * *
Episode kalii ini SAD yaa πππ
Author aja nulisnya sampe nangis huhuhu
Dukung terus Author yaa!
Maaf jika ada kesalahan π
__ADS_1
Salam Rindu, Author β€