Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 104. Perpisahan (ENDING)


__ADS_3

Semua orang menatap Elmira, gadis itu tampak tersenyum bahagia. Sementara mereka yang melihat menampakkan wajah tersedih mereka. Bagaimana tidak, hari ini Fabian akan datang untuk membawa Elmira pergi ke Palembang. Mereka menggunakan Helikopter yang diperuntukkan untuk Tentara. Tentu saja itupun atas ijin dari atasan, dengan alasan demi keamanan Elmira yang saat ini menjadi target sasaran.


Gisya terus memeluk erat Elmira, bahkan dia sampai melupakan bahwa Indira masih membutuhkan ASI. Fahri menggendong Indira, dan menghampiri istrinya itu.


"Bun, baby Dira belum dikasih ASI. Bukannya harus 2 jam sekali kan baby Dira diberi ASI?" ucap Fahri dengan nada yang sedikit kesal.


"Yaa Allah, maafin Bunda ya sayang." ucap Gisya dengen tertunduk karena takut.


Kedua sahabatnya menatap Gisya dan memberikan kode untuk mengambil Dira. Perlahan Gisya menghampiri Fahri dan membawa Dira ke pangkuannya.


"Abang tau kamu sedih akan berpisah dengan Elmira, Abang dan yang lainnya pun sama. Jangan lupakan anak-anakmu yang lain! Mereka masih membutuhkanmu, bahkan jika Febri gak kasih makan Ain dia akan kelaparan karena Bundanya lupa memberi makan." kesal Fahri lalu pergi dari sana meninggalkan Gisya yang menangis tersedu-sedu.


Jafran dan Zaydan segera membawa anak-anak pergi keluar, Elmira memeluk erat Jafran yang menggendongnya. Dia takut melihat Ayahnya yang pergi dengan marah.


"Ayah marah sama Bunda, karena Kakak ya Baba?" tanya Elmira menahan airmata.


"Eittss, don't cry girl! Ayah gak marah sama Bunda, Ayah kaya gitu cuman sedih. Soalnya Ayah harus pisah sama Kakak." ucap Jafran mencoba menjelaskan.


"Tapi Ayah marahin Bunda." lirih Elmira.


"Ayah gak marahin Bunda sayang. Percayakan sama Baba?" tanya Jafran dan Elmira menganggukkan kepalanya.


Fahri pergi ke Taman yang berada didekat Aula, dia melampiaskan seluruh kekesalan, penyesalan dan kesedihannya disana.


"Aku tidak bisa menjadi suami dan Ayah yang baik!!! Bodoh!! Bodoh!!" teriak Fahri sambil menjambak rambutnya frustasi.


"Abang sudah menjadi suami dan Ayah yang baik, hanya saja Abang belum bisa menerima takdir yang Allah beri." ucap Bunda Syifa yang sejak tadi mengikuti menantunya itu.


Perlahan Fahri menoleh, Bunda Syifa menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Abang melampiaskan kekesalan yang Abang pendam sama Caca, Bunda tidak membenarkan sikap Caca tapi Bunda juga tidak membenarkan sikap Abang. Kalian berdua sama-sama berada diposisi yang berat. Bukankah lebih baik kalian pikul bersama-sama?" ucap Bunda Syifa mengelus punggung menantunya itu.


Fahri menangis tersedu-sedu, dia bersujud dihadapan mertuanya itu. Menumpahkan segala keluh kesah dalam dadanya.


"Mereka semua adalah tanggung jawab Abang, Bun. Tapi Abang tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Abang malah melampiaskan ketidakmampuan Abang pada Caca. Padahal jelas-jelas dia tidak boleh banyak menanggung beban, apalagi istri Abang baru melahirkan. Abang merasa jadi manusia yang gak berguna, Bun. Abang gagal menjadi kepala keluarga yang mampu melindungi mereka." ucap Fahri menangis tersedu-sedu.


Bunda Syifa terus mengusap punggung menantunya itu, membiarkan dia mengeluarkan segala keluh kesahnya. Bukankah seorang Abdi Negara juga manusia, yang bisa merasa sedih saat hal buruk menimpa keluarganya.


"Abang sudah melakukan yang terbaik, demi Elmira dan juga demi Caca. Ikhlaskan segalanya, kita ikuti alur yang sudah Allah berikan untuk kehidupan kita. Bukankah skenario yang Allah berikan akan jauh lebih indah? Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk umatnya yang selalu memohon dan meminta." tutur Bunda Syifa.


Sementara itu, Gisya masih menangis tersedu-sedu sambil memberikan ASI pada Dira.


"Maafkan Bunda sayang, Bunda sampe lupa sama Dira." isak Gisya sambil menatap Dira.


"Udah jangan nangis, jangan stres. Nanti ASI kamu berkurang, minum dulu nih susu nya. Biar Dira kenyang minum ASI." ucap Febri memberikan segelas susu.


"Makasih ya, Biw. Makasih juga udah ngurusin Ain." lirih Gisya menatap Febri.


"Udah, udah. Wajar Bang Fahri marah, kamu bahkan lupa belum sarapan pagi saking gak mau lepas dari Elmira. Kita tau Ca, kamu pasti sedih. Ikhlaskan, kita hanya terpisah jarak dan waktu. Kita masih bisa kunjungin dia." tutur Febri menasehati Gisya.


Yuliana menatap sendu kearah kedua sahabatnya itu. Dia juga merasa sedih, karena dia harus kembali ke Singapore malam nanti. Perlahan airmata Yuliana jatuh tak tertahan.


"Andai aku bisa selalu ada disisi kalian, maafin aku ya! Aku juga harus pulang." ucapnya membuat Febri dan Gisya saling menatap lalu berhambur memeluknya.


"Kita pasti akan kumpul lagi kaya gini, suatu hari nanti. Sekarang kita harus mendampingi suami kita, InshaAllah silaturahmi kita gak akan pernah terputus. Jarak dan waktu bukanlah perpisahan yang sesungguhnya, perpisahan yang sesungguhnya hanyalah kematian. Persahabatan kita akan terus berjalan, sampai kapanpun." ucap Gisya.


"InshaAllah, Till Jannah. Aku sama Caca pasti bakalan kangen banget sama kamu, Lil. Sama semua yang ada dalam diri kamu, jaga diri kamu disana." ucap Febri.


"Kalian juga harus jaga diri, terlebih kalo suami kalian sedang bertugas. Selalu komunikasi, jangan pernah putus." pinta Yuliana dan diangguki oleh keduanya.


Fabian sudah tiba di Lapangan, baru saja turun dari Helikopter dia berlari memeluk Abang yang sangat dirindukannya.


"Abaaaangggggg!!" teriak Fabian sambil berhambur memeluk sang Kakak.


"Ih si Bian belok gak tuh? GGN banget!" celetuk Jafran membuat mereka menoleh.


"Apaan Ba, GGN?" tanya Zaydan dengan polosnya.


"Ganteng-Ganteng Nyosor! Kamu gak belok kan Bian?" tanya Jafran pada Fabian.


"Mmm.. Menurut Aa gimana?" tanya Fabian sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Yaa Allah Ummii!! Amit-amit naudzubillah, Baba mah masih doyan apem dan surabi." panik Jafran sambil bersembunyi dibalik tubuh istrinya.


"Hahahahahahahaha....... " mereka semua tertawa terbahak-bahak.


"Si Aa mah! Kalo Bian belok mah gak akan jadi Tentara, tapi jadi tukang kue kayak Teh Caca! Aya-aya wae si A Jafran mah!" ucap Fabian sambil tertawa.


"Heleh, wong kito galo ngomong sunda jadinya lucu! Curiga calonnya orang sunda euy! Benerrr gaaakkk??" sahut Jafran sambil tertawa.


"Bener dong! Iya gak Neng Faridaa??" tanya Fabian pada Farida yang menggendong Dira.


"Gosiiipppp!" tegas Farida dengan wajah yang memerah dan menatap Hagum.


Deg!


Hagum menatap Farida, gadis yang baru kali ini membuatnya jatuh cinta. Dia mengalihkan pandangannya pada ponsel ditangannya. Fabian perlahan mendekati Farida untuk melihat keponakannya yang baru saja lahir.


"Wah cetakan Abang semua ini mah!" ucap Fabian sambil mencoba memegang pipi Dira.


"Om Bian cuci tangan dulu!" kesal Elmira pada Om nya itu.


"Okee okeee! Om gak jadi pegang-pegang Dira nya!" ucap Fabian merajuk.


"Biaaannn! Kamu mah sekalinya ketemu Teteh ngeselin, sama kaya Uqi!" ketus Gisya.


"Hehehe maaf Kakakku tersayang, Elmira udah siap naik helikopter?" tanya Fabian.


"Siap dong, Om! Kan Oma temenin Kakak." ucap Elmira antusias.


Gisya terus memeluk erat Elmira, waktu mereka tidak banyak. Karena saat ini Fabian sedang dalam tugas misi nya menjemput Elmira. Fahri perlahan mendekatkan diri pada putri dan istrinya itu, lalu berhambur memeluknya.


"Sampe kapanpun, Kakak tetap anak Ayah dan Bunda. Kita akan sering mengunjungi Kakak kalo Ayah cuti. Kakak jangan marah sama Ayah." ucap Fahri menangis.


"Kakak gak marah, Ayah. Kakak seneng bisa naik helikopter sama Oma. Ayah jagain Bunda sama adik-adik, ya. Kakak sayang Ayah." ucap Elmira sambil menghapus airmata kedua orangtuanya itu.


"Kakak harus sering telpon Bunda, harus rajin sholat dan ngaji. Jangan lupa do'akan Mama dan Papa Kakak. Inget selalu pesan-pesan Bunda ya, Nak. Bunda sayang banget sama Kakak." ucap Gisya menciumi setiap inci wajah putrinya itu.


"Pasti Kakak akan selalu kangen sama Bunda." lirih Elmira.


Perlahan Elmira menghampiri Baba, Ummi, Papa Idan, Mama, Ambu dan Onty Farida.


"Baba jangan nakal-nakal sama Ummi!" ucap Elmira mengelus pipi Jafran.


"Yaa Allah, Kakak! Baba mah gak pernah nakalin Ummi. Baba sayang banget sama Kakak! Kita pasti bakalan ketemu lagi nanti." ucap Jafran memeluk Elmira.


"Baba jelek kalo nangis! Kayak kuda, ingusan!" ucap Elmira terkekeh.


"Dasar princess KW! Malah ngeledekin!" ucap Jafran masih memeluk Elmira.


Yuliana sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi. Dia mengambil Elmira dari pelukan suaminya itu. Perlahan dia mencium kening Elmira.


"Kakak harus jadi anak yang bisa membanggakan kita semua. Kakak anak kesayangan kita semua." ucap Yuliana menatap manik mata Elmira.


"Yes I know Madam." ucap Elmira mencium pipi Yuliana.


"Yaa Allah anak ini!" ucap Yuliana memeluk Elmira.


Lalu Elmira menghampiri Febri dan Zaydan yang berdiri saling berpelukan. Kemudian mereka mensejajarkan tubuhnya dengan Elmira.


"Papa harus jagain Mama sama Adek-adek. Kalo dedeknya udah keluar, bolehkan Kakak gendong Adek bayi?" tanya Elmira sambil mengusap perut Febri.


"Tentu boleh dong! Ini kan Adeknya Kakak, pasti harus Kakak gendong dan ajak main." ucap Zaydan mengusap lembut kepala Elmira yang terbalut hijab.


"Harus jaga diri, jaga kesehatan. Kalo ada apa-apa jangan lupa bilang Oma atau Om Bian. Sering telpon Mama sama Papa ya sayang!" lirih Febri memeluk Elmira.


"Siap! Laksanakan Komandan!" ucap Elmira.


Mereka masih berderai airmata, terlebih ketika melihat Elmira sedang memarahi sang Om yang tersambung dalam sambungan video call.


"Om Uqi nakal! Gak nganterin Kakak pergi!" kesal Elmira melipat kedua tangannya didada.


"Maaf ya sayang, Om Uqi harus kerja. Kan Dedek-dedek diperut Ambu Ina harus dikasih makan sayang. Om janji nanti bakalan jenguk Kakak kesana." lirih Syauqi.

__ADS_1


"Janji ya Om! Karena Om nakal sama Kakak, Oma nya Kakak culik sama Om Bian! Biar Om Uqi gak ada temen di Badung!" ucap Elmira.


"Boleh deh boleh! Culik aja Oma nya. Kakak harus sehat, dan harus jadi anak yang cerdas ya! Harus jadi kebanggaan kita semua." ucap Syauqi pada Elmira.


"Pasti dong! Kakak sayang Om Uqi." ucap Elmira sambil tersenyum.


Hal itu malah membuat mereka semakin berderai airmata. Husain sejak tadi terus menyembunyikan wajahnya diceruk leher Syaina. Dia masih marah karena sang Kakak akan pergi bersama Oma tanpa mambawanya. Setiap Elmira menghampirinya pasti dia akan menghindar. Akhirnya Elmira harus pergi tanpa memeluk adiknya itu.


"Ayo Kak! Temen Om udah nunggu! Ayo Bunda!" ajak Fabian menuntun Elmira.


"Bunda pamit ya, kalian jangan khawatir. InshaAllah semuanya akan baik-baik saja." ucap Bunda Syifa memeluk Gisya dan Fahri.


"Maafin Abang ya, Bun. Abang harus ngerepotin Bunda, Mama dan Papa." lirih Fahri.


"Iya Bun, kalo situasi udah aman Caca pasti susulin Bunda sama Kakak." lirih Gisya.


"Jangan terlalu dipikirin! Kalian harus saling menguatkan, karena itulah tujuan berumah tangga. Jangan pernah saling menyalahkan, didiklah anak-anak kalian dengan baik." ucap Bunda Syifa.


Mereka bertiga sudah berjalan menuju Helikopter, namun terhenti ketika Husain berlari menghampiri mereka sambil menangis kencang.


"Tata akaaalll!! Ain ngkuuttttt!!" teriak Husain sambil menangis.


Fabian menahan Elmira, dan Fahri menahan Husain. Mereka sama-sama menangis kencang. Fahri membawa Husain dalam dekapannya, meskipun putranya itu terus memberontak ingin turun.


"Yayah akaalll!! Tata akallll!! Oma akaalll!!! Om Yan akaaaalll!!" teriak Husain.


"Maafin Kakak yaa Ain!!" teriak Elmira dalam gendongan Om nya itu.


"Nda!! Tata akaaalllll!" teriak Husain sambil menangis histeris.


Mereka semua menangis saling berpelukkan, Gisya menghampiri putranya itu. Memeluk kedua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Udah Abang, jangan nangis Nak! Nanti Abang muntah." lirih Gisya.


"Ain mau ngkut tata, Mbun." isak Husain.


"Nanti Ain sama Bunda sama Ayah ya, sekarang Kakak dulu sama Oma yang pergi sayang." ucap Gisya mencoba menenangkan Husain.


Helikopter bertuliskan TNI AU sudah perlahan terbang menjauh, mereka terus melambaikan tangan hingga Helikopter sudah tak lagi terlihat. Dengan sangat terpaksa, Yuliana dan Jafran pun harus ikut berpamitan. Wajah ceria anak-anak tak lagi ada, mereka sangat ketakutan dan bersedih setelah melihat sang Kakak pergi.


Fahri dan Zaydan memeluk Jafran bergantian.


"Kalian harus jaga diri saat bertugas, ingat lubang buaya dan para kecebong menanti kepulangan kalian!" ucap Jafran pada keduanya.


"Kamu juga harus berhati-hati saat terbang di awan, jangan lupa menapakkan kakimu di bumi. Karena peranakan tuyul dan tuyul-tuyulmu selalu menanti kepulanganmu dengan selamat." ucap Zaydan.


"Hadeeeehhhh! Makin ogah ane berangkat kalo gini! Udah ah, yukk Mii!" ajak Jafran.


Yuliana memeluk Gisya dan Febri, juga menciumi wajah Cyra dan Husain.


"Kita pasti akan terus bersama-sama, saling memeluk dalam do'a. Aku pamit pulang ya. Jaga diri kalian!" ucap Yuliana dan dianggukki keduanya. Mereka sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tapi ingatlah, perpisahan yang sesungguhnya adalah kematian. Maka jalinlah tali silaturahmi sebaik mungkin, selagi mereka masih berada di langit dan dunia yang sama dengan kita.


THE END


* * * * *


Masih akan ada Extra Part ya buat kehamilan Febri dan Syaina juga kehidupan Yuliana.


Dukung terus Authoorrrr!!


Sampai Jumpa di SEASON 2 πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2