Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 66. Husain Hafidz Gifahri


__ADS_3

Maaf Author telat Up 🙏🙏


Soalnya Author sedang perjalanan trip to Semarang..


Harap maklum yaa 🤗❤


* * * * *


Bayi mungil itu sedang menggeliat di pangkuan Ayahnya, baru saja Gisya selesai memberikan ASI pertamanya. Dia tersenyum penuh binar, melihat sang jagoan yang baru lahir kedunia ini. Bahkan sang ibu mertua belum mendapat gilirannya untuk menggendong bayi tampan itu.


"Abang, giliran dong gendongnya! Bunda juga kan pengen gendong cucu!" kesal Bunda Syifa. Fahri hanya tersenyum tanpa dosa.


"Maaf ya Bunda, sebentar lagii aja." pinta Fahri.


"Itu udah dari 1 jam yang lalu kamu begitu Bang!" ucap Syauqi yang ikut kesal.


Akhirnya Fahri memberikan putranya pada mertuanya, setelah mendapatkan protes berkali-kali. Bunda Syifa begitu antusias menggendong cucu pertamanya.


"Cucu Oma, ganteng banget siih." tutur Bunda Syifa sambil mencium pipi cucunya itu.


"Ganteng dong Oma, liat aja Om nya aja keren gini." ucap Syauqi.


"Huft dimana-mana mirip Ayahnya tau!" celetuk Fahri.


"Udah! Ganteng kaya om sama Ayahnya!" ucap Bunda Syifa menengahi.


Mereka sangat menyambut gembira kelahiran putra Fahri dan Gisya. Begitu juga bagi Febri yang baru saja datang dari Jogjakarta.


"Cacaa maaf yaa aku baru sampe, jadi gak nemenin kamu lahiran." lirih Febri.


"Gak apa-apa Biw, yang penting aku sama baby udah sehat. Gimana urusan kamu disana? Apa semuanya udah selesai?" tanya Gisya.


Febri hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari Gisya.


Karena suasana menjadi canggung, Yuliana berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan.


"Eh, Bang. Baby H itu namanya apaan sih?" tanya Yuliana.


"Boleh Ayah kasih tau sekarang, Bun?" tanya Fahri pada Gisya dan dia mengangguk.


"Namanya Husain Hafidz Gifahri." tutur Fahri dengan penuh rasa bangga.


"MashaAllah namanya bagus banget! Artinya apa Bang?" tanya Febri.


"Artinya anak yang berparas tampan dan cerdas yang dapat menjadi pelindung bagi kami orangtuanya. Gifahri itu, Gisya dan Fahri." ucap Fahri menjelaskan.


Jafran yang mendengarnya hanya melengos, pasalnya nama panggilan putranya selalu di olok-olok oleh istri tercintanya.


"Nama panggilannya siapa?" tanya Yuliana sambil mendelik pada suaminya.


"Panggilannya baby Ain." jawab Gisya.


"Tuh dengerin Ba! Bagus Ain, kamu apaan kasih nama Maul." ledek Yuliana.

__ADS_1


"Bagusan juga Maul! Apaan Ain, nanti adiknya Gin, Kof, Kaf, Lam, gitu?" kesal Jafran.


"Yee gak gitu konsepnya kali!" kesal Fahri sambil melemparkan popok ke wajah Jafran.


"Dih Ayah durjanah! Emang ni muka pantat bayi apa!" ucap Jafran tak kalah kesal.


Begitulah kehidupan persahabatan mereka, selalu kompak dalam segala sesuatu. Saat mereka sedang berbincang-bincang, datanglah Gilang bersama istrinya untuk menengok baby Husain. Zaydan pun ikut hadir disana. Febri sama sekali tidak melirik kearah Zaydan.


"Selamat yaa, Gisya dan Fahri atas kelahiran putra pertama kalian. Semoga jadi anak yang soleh, berbakti kepada kedua orangtua juga Agama, Bangsa dan Negara." ucap Gilang.


"Siap! Terimakasih Danki!" jawab Fahri.


"Biasalah, saya kesini sebagai Abang kalian, bukan sebagai atasan." ucap Gilang.


Mereka kembali berbincang-bincang, sedangkan Febri menyibukkan diri untuk menggendong baby Husain. Zaydan merasa terabaikan, dia hendak menghampiri Febri. Tapi sayangnya, Febri lebih memilih untuk menghindar.


"Bun, Ebiw pulang duluan ya! Kasian Cyra sama Mami Lia." ucap Febri.


"Oh yaudah, hati-hati ya sayang. Sama siapa pulangnya?" tanya Bunda Syifa.


"Biar saya yang antar." ucap Zaydan yang membuat semua orang menoleh.


"Gak usah, saya diantar oleh Uqi. Ayo Qi!" ucap Febri sambil menarik Syauqi.


Mau tidak mau Syauqi harus mengantarkan Febri kerumah Gisya. Sementara Zaydan harus tertunduk lesu karena penolakan Febri. Sementara Febri, dia hanya terdiam sepanjang perjalanan. Syauqi yakin ada sesuatu yang terjadi.


"Teh Ebiw baik-baik aja kan?" tanya Syauqi membuyarkan lamunan Febri.


"Eh, baik-baik aja kok Qiw! Emang kenapa?" tanya Febri berbalik.


"Teteh cuman cape abis perjalanan Jogja-Bandung." ucap Febri.


Tak ada lagi pembicaraan mereka hingga sampai dirumah Gisya.


Sedangkan dirumah sakit, mereka mencoba mencari tahu yang sebenarnya terjadi.


"Idan ada apa sebenernya?" tanya Fahri.


"Sebenarnya kami pergi ke Magelang bukan untuk menikah." lirih Zaydan.


"Ya, kami tahu itu. Masalahnya kenapa kamu disini? Bukankah kamu menikahi Ana? Lalu kenapa kamu disini sekarang?" kesal Yuliana.


"Maaf saya tidak bisa menikahi Ana. Saya mencintai Febri, yang saya rasakan pada Ana itu hanyalah rasa kagum saja." ucap Zaydan.


Jafran dan Fahri merasa geram terhadap sikap Zaydan. Ingin rasanya mereka menghajarnya, tapi Gisya  dan Yuliana terus mencoba menenangkan mereka.


"Kamu itu prajurit, harus menjunjung tinggi rasa kesetiaanmu. Baik itu pada Negara dan pasanganmu. Jangan jadi pria pengecut yang serakah, menginginkan keduanya. Pikirkanlah baik-baik, siapa yang sebenarnya kamu cintai! Atau jangan-jangan keduanya hanya kamu kasihani!" ucap Yuliana.


"Maafkan saya, sudah mengecewakan kalian." lirih Zaydan.


Akhirnya Zaydan memutuskan untuk kembali ke Batalyon bersama Gilang dan Fatimah.


Bunda Syifa dan Umma Nadia pulang diantarkan oleh Fahri, sedangkan Jafran dan Yuliana menemani Gisya dirumah sakit.

__ADS_1


"Ca, aku jadi ngerasa bersalah sama si Ebiw!" lirih Yuliana.


"Udahlah Lil, aku yakin Ebiw akan baik-baik saja. Semuanya udah takdir dari Allah, kita kan cuman pengen yang terbaik buat dia." ucap Gisya mencoba menenangkan Yuliana.


"Iyaa Mi, kamu udah jadi sahabat terbaik buat dia sayang." ucap Jafran memeluk istrinya.


Saat semua orang sudah kembali, kini hanya ada Gisya beserta Fahri dan baby Ain.


"Ayah sudah makan? Bunda lihat dari siang, Ayah belum makan." ucap Gisya.


"Sudah sayang, tadi Ayah sempetin makan pas abis nganterin Bunda." jawab Fahri.


"Dedek udah bobok, Yah. Jangan digangguin, mending Ayah juga istirahat. Kan dari tadi siang Ayah udah capek." tutur Gisya.


"Buat kalian, Ayah gak akan capek Bun. Semuanya akan Ayah lakuin buat kalian, malah harusnya sekarang Bunda istirahat. Nanti dua jam lagi kan dedek harus minum ASI. Jadi Bunda harus istirahat yang cukup." ucap Fahri.


Akhirnya  Gisya menurut pada suaminya, dia memejamkan matanya. Memang tubuhnya masih terasa nyeri dan lelah setelah melahirkan. Tapi itu menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Apalagi setelah melihat putranya yang terlahir dengan sehat dan sempurna.


Pukul dua pagi, baby Ain menangis. Fahri dengan sigap menggendong putranya itu karena tidak ingin istrinya terbangun.


"Sstttt.. Anak sholeh, jangan nangis yaa. Nanti Bunda bangun." bisik Fahri sambil menggendong putranya itu.


Fahri menggendongnya, hingga dia terlelap bersama bayi mungil dipangkuannya.


Gisya terbangun karena haus, dia tersenyum ketika melihat suaminya tertidur sambil menggendong putranya.


Dengan perlahan, Gisya turun dari ranjangnya. Jahitan dijalan lahirnya masih sangat terasa sakit. Gisya mengambil alih putranya itu, namun Fahri terbangun.


"Yaa Allah Bunda, kenapa bangun gak bilang-bilang Ayah!" ucap Fahri yang kaget.


"Bunda gak apa-apa, Yah!" ucap Gisya. "Ayah bobok lagi, biar dedek mau Bunda kasih ASI pasti dia haus." Fahri memberikan putranya pada Gisya. Dia lalu membawakan Gisya segelas air putih.


"Sebelum kasih ASI minum dulu Bunda." pinta Fahri.


"Terimakasih Ayah sayang." ucap Gisya sambil tersenyum.


Fahri menatap putranya yang sedang diberi ASI dari sumbernya langsung.


"Pelan-pelan Dek, Ayah gak kebagian nantinya." ucap Fahri sambil memegang pipi putranya. Gisya hanya tertawa geli melihat kelakuan suaminya.


"Bagian Ayah nanti setelah Adek dua tahu." ucap Gisya.


"Lamaa banget Bun!" rengek Fahri yang membuat Gisya tertawa.


Begitulah kehidupan Gisya, dia sangat bahagia atas kehadiran putra pertamanya.


* * * * *


Sukak gak ceritanya?


Maaf ya ngebosenin!


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2