
Bandara Internasional Soekarno Hatta, disinilah Alana berada. Sebentar lagi dia harus check in, tapi Alan sang kembaran masih tidak melepaskan dekapannya.
"Aa, gue kan cuman mau kuliah bukan mau mati," ledek Alana ketika merasakan tetesan airmata kembarannya itu. Alan mencubit hidung Alana dengan kesal.
"Lu ngeselin ya! Sekali lagi lu ngomong gitu, awas aja!" ucap Alan mencebik kesal.
"Aa jaga diri baik-baik, jangan gila kerja lu! Tar jauh jodoh," ucap Alana terkekeh.
"Harusnya gue yang ngomong gitu! Lu harus jaga diri disana, jangan ngerepotin grandma sama grandpa! Satu lagi, buktiin sama gue hasil kuliah lu yang jauh-jauh ke negri onta!" ucap Alan mengacak rambut kembarannya itu.
"Iyaa! Gue bawain sekaliam ontanya buat dijodohin sama elu!" ucap Alana tertawa.
Kini Alana menghampiri Cyra, sahabatnya yang satu itu masih menunduk sedih.
"Hey! Udah dong jangan nangis terus," ucap Alana memeluk Cyra.
"Maafin aku ya, Alana. Tapi demi Allah, aku gak ada rasa apapun sama si Abang. Dia cuman jagain aku aja, dan satu hal lagi Alana. Dia mencintai kamu," ucap Cyra sesegukan.
"Sssttt.. Udah udah, apaan sih nyambung kesitu! Sekarang mah kita harus melanjutkan semua impian kita, Cyra. Meskipun kamu gak bisa jadi Abdi Negara, kamu masih bisa melakukan hal-hal baik untuk negara ini. Kita pasti bisa!" sahut Alana menyemangati Cyra.
Kedua sahabat itu berpelukan dengan sangat erat, kini Alana menghampiri kedua orangtuanya. Baba Jafran sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi.
"Ck! Baba aku kok jadi cengeng!" ucap Alana sambil berkacak pinggang.
"Kamumah gak sweet! Baba kan sedih oneng!" kesal Jafran sambil memeluk putrinya itu.
"Hehe, anak Baba kan ada tiga, satu nyelip di Turki mah gak apa-apa kali Ba! Mail janji deh bakalan pulang dengan sejuta prestasi buat Baba sama Ummi," janji Alana pada Babanya.
"Yaa Allah si Oneng! Giliran mau pergi ridho banget dipanggil Mail," ucap Baba Jafran yang semakin sedih.
Sedangkan Ummi Yuliana terus tersenyum mengusap rambut putrinya itu. Dia sudah menerima segala keputusan yang dibuat oleh Alana. Karena Ummi yakin, itu adalah yang terbaik baginya. Soal alasan kepergian Alana, biarlah itu menjadi Rahasia Hatinya.
"Teteh harus inget baik-baik semua pesan Ummi, sholatnya jangan lupa. Do'a Ummi selalu menyertai setiap langkah Teteh," ucap Ummi Ulil sambil menyelipkan rambut Alana.
"Makasih, Ummi," ucap Alana berhambur memeluk Umminya.
"Kalo ada yang ganteng, yang berbulu tipis-tipis gitu kasih tau Ummi ya," bisik Ummi.
"Apanya yang berbulu Ummi?" ucap Alana dengan polosnya.
"Ummiiiiiii.....! Anak Ummi itu masih polos! Jangan racunin dia sama ulet-ulet bulu kamu!" kesal Baba Jafran yang tau kemana arah ucapan putrinya itu.
Mereka melepaskan kepergian Alana dengan airmata, tapi Alana menegarkan dirinya. Dia bertekad untuk menggapai semua mimpinya. Alana terus melambaikan tangannya.
"Selamat tinggal Indonesia, semoga saat aku kembali nanti semesta akan memberikan kebahagiaan untukku," ucap Alana dalam hatinya.
Sementara itu, di Medan seorang laki-laki sedang terbaring sakit. Siapa lagi jika bukan Chandra. Setelah mendapat luka tusukkan diperut, kini Chandra mengalami demam. Mira dengan telaten mengurus suaminya itu. Chandra dirawat dirumah pasca operasi, karena Chandra sangat tidak menyukai bau Rumah Sakit.
"Andai saja Bli mampu membuka hati untuk tiang," lirih Mira sambil mengelus tangan Chandra.
Sudah 5 tahun pernikahan mereka, tapi Chandra sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Yang dia lakukan hanya mencium kening dan memeluk Mira. Tapi itu sudah menjadi sebuah kebahagiaan bagi Mira. Mengingat Chandra menikahinya karena hanya untu balas budi. Dulu Mira lah yang menyelamatkan Chandra dari maut, Mira yang berjuang dimeja operasi mengeluarkan 20 peluru yang bersarang ditubuh Chandra.
Keesokan paginya Chandra terbangun, dilihatnya sang istri yang tidur dengan posisi duduk sambil memegang foto pernikahan mereka. Mira yang berusia 39 tahun terlihat masih begitu sangat cantik. Bahkan sama sekali belum pernah dia sentuh.
"Maafkan aku, Mira. Aku masih menjadi manusia yang tak tau diri," lirih Chandra.
Chandra menghampiri sang istri, luka jahitan diperutnya sudah tidak dia pedulikan. Bahkan demam nya pun masih sangat tinggi. Chandra berjalan sedikit terhuyung, dia duduk disamping sang istri. Perlahan tapi pasti, Chandra mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Dia ******* bibir yang dalam pandangannya adalah Elmira.
Mira membuka matanya saat merasakan ada seseorang yang mencium bibirnya. Sedetik kemudian Mira mulai membalas ciuman itu, ciuman yang selalu dia harapkan dari suaminya. Siapa sangka, Chandra malah menggendong Mira menuju ranjang yang mereka tempati. Chandra mulai menciumi setiap inci tubuh istrinya itu, hasratnya semakin memuncak terlebih yang dia lihat itu seperti Elmira bukan Mira istrinya.
Mereka menikmati pagi pertama yang panas itu, ini kali pertama Mira disetubuhi oleh suaminya. Dia sangat bahagia, apalagi ketika Chandra melakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Chandra meluapkan segala hasratnya pada Mira. Hingga akhirnya dia berada dipuncak kenikmatannya.
"Terimakasih, Elmira," ucap Chandra mencium kening Mira.
Degg!
__ADS_1
Hati mira meringis, setelah melakukan itu Chandra terkulai tak sadarkan diri. Karena luka diperutnya kembali terbuka. Mira dengan segera memakai bajunya dan mulai mengobati luka suaminya itu. Meskipun hatinya masih terasa sangat perih, dia tetap mengobati Chandra. Mira merasakan sakit di area sensitifnya, karena memang ini pertama kali baginya.
Selesai mengobati Chandra, Mira menitipkannya pada ajudannya. Dia segera mengemas pakaiannya untuk pergi dari sana. Tidak lupa, Mira juga meninggalkan surat perceraian disana. Kini sudah cukup bagi Mira, dia tak mau terluka terlalu jauh. Meskipun dia sadar, yang dilakukannya salah. Sebab bagi seorang istri abdi negara tidak mudah untuk bercerai. Sama seperti mereka pengajuan dulu.
Mira mendorong kopernya, kini dia sudah mantap untuk memulai hidup barunya sendiri. Yang terjadi pada dia dan Chandra tadi pagi, biarlah menjadi kenangan yang indah bagi dirinya dan selamanya menjadi Rahasia dalam hatinya.
Chandra sudah mulai sadar, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tidak menemukan istrinya disana. Kepala Chandra berdenyut nyeri, kemudian dia ingat jika tadi dia melakukan hal itu bersama istrinya. Chandra mengacak rambutnya frustasi. Sebelum dia keluar kamar, Chandra melihat surat beserta cincin pernikahannya disana.
Perlahan Chandra membuka surat itu, rupanya itu adalah surat pengajuan perceraian. Chandra segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan Mira.
"Dimana Ibu?" tanya Chandra pada salah satu ajudannya.
"Siap! Ibu sudah berangkat 3 jam yang lalu komandan," jawab sang ajudan.
"Berangkat? Berangkat kemana?" tanya Chandra dengan nada marah.
"Siap! Ibu bilang ada seminar diluar kota, ibu membawa sebuah koper," jawabnya lagi.
Chandra segera kembali kedalam kamar, dugaannya benar. Mira kini sudah pergi meninggalkannya, karena tidak ada sehelai pun pakaian Mira disana. Chandra tertunduk lesu, dia sungguh sangat menyesali perbuatannya pada Mira.
"Maafkan aku Mira, aku memang lelaki brengsek!" ucap Chandra mengacak rambutnya frustasi.
Mira memutuskan untuk pergi ke Palembang, tempat dimana dia dulu melaksanakan tugasnya sebagai dokter Internship. Dia sudah menghubungi Rian. Sejak bertemu Elmira di Bandung, Mira sudah mempersiapkan diri untuk pergi dari hidup Chandra. Kebetulan Rian mengatakan jika di Rumah Sakit tempatnya bekerja sedang membutuhkan dokter bedah senior. Dengan senang hati Mira menerima tawaran tersebut, dengan syarat Rian tidak akan memberitahukan semuanya pada Chandra. Rian mengerti, karena semua itu bukanlah ranah pribadinya.
Setiap orang memiliki Rahasia dalam hatinya, termasuk Elmira dan Mirda juga Afifah. Mereka adalah orang-orang yang lebih memilih menyimpan perasaan cintanya dengan rapat dalam hatinya.
Sudah seminggu ini Mirda mengantar jemput Elmira yang sedang mendapat giliran dinas malam. Elmira dan Afifah bergantian mendapatkan dinas malamnya.
"Bang mampir dulu lesehan Mas Bewok ya! Laperrrr," rengek Elmira.
"Sudah ijin komandan?" tanya Mirda menoleh pada Elmira.
"Mau makan pun aku harus ijin Ayah?! Yaudah pulang aja! Gak jadi laper!" kesal Elmira lalu memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
Mirda terkekeh geli melihat Elmira yang merajuk, kini mobil sudah parkir dipinggir jalan.
"Gak!" ucap Elmira yang masih saja merajuk.
"Bener nih? Gak tergoda gitu? Hmmm wangi banget," ucap Mirda sambil membuka jendela mobil mereka.
Kruuukk kruuukkk
Bunyi perut Elmira membuat Mirda mati-matian menahan tawanya.
"Ish! Yaudah ayok! Reseee sih, nyebelin!" kesal Elmira lalu keluar dan membanting pintu mobil. Mirda menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah Elmira.
Elmira sangat antusias makan disana. Selain nasi goreng, ada juga ayam goreng dengan sambal yang nikmat. Ditambah dessert pisang keju dan susu murni ada disana.
"Waahhh.. Sudah lama tidak kemari, Mirda!" ucap Mas Bewok saat melihat Mirda.
"Iya Mas, baru sempat lagi lewat sini. Tuan putri ngerengek minta kemari," ucap Mirda sambil melirik kearah Elmira yang sedang memilih makanan.
"Cantik sekali, calonmu?" bisik Mas Bewok.
"Bukan! Dia anak Pangdam, mana berani aku," ucap mereka sambil tertawa.
Elmira tertegun melihat Mirda yang tertawa, baru kali ini dia melihat Mirda tertawa lepas.
"Bang Mirda mau makan apa?" tanya Elmira menghampiri Mirda.
"Kita tunggu aja disana, nanti juga diantarkan," ucap Mirda menuntun Elmira.
Mereka duduk lesehan, bersama pengunjung lainnya.
"Bang Mirda sering makan disini, ya? Sampe kenal sama ownernya," tanya Elmira.
__ADS_1
"Dulu waktu masih awal-awal tugas sama Komandan, sering makan disini sama kawan-kawan," jawab Mirda dengan wajah dinginnya
"Dasar gunung es, tadi aja sama orang lain ramah banget," gerutu Elmira pelan.
Makanan sudah tersaji, Mirda memelototkan matanya melihat makanan dimeja.
"Kamu yakin bakalan abis?" tanya Mirda tak percaya.
"Yakinlah! Dibilangin laper, dari siang gak kebagian jam istirahat. Banyak banget pasien kecelakaan," ucap Elmira dengan makanan yang penuh dimulutnya.
"Diam! Makan yang tenang," ucap Mirda tegas. Dia khawatir Elmira tersedak.
Disana terdapat live musik anak-anak jalanan, Mas Bewok memaksa Mirda untuk menyanyi disana seperti dulu. Mau tidak mau Mirda mengambil gitar dan mulai memetiknya. Dia menyanyikan sebuah lagu, yang mampu membuat hati Elmira bergetar.
Datanglah bila engkau menangis,
Ceritakan semua yang engkau mau,
Percaya padaku, aku lelakimu..
Mungkin pelukku tak sehangat senja,
Ucapku tak menghapus air mata,
Tapi ku di sini sebagai lelakimu..
Akulah yang tetap memelukmu erat,
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling,
Akulah yang nanti menenangkan badai,
Agar tetap tegar kau berjalan nanti..
Sudah benarkah yang engkau putuskan,
Garis hidup sudah engkau tentukan,
Engkau memilih aku sebagai lelakimu..
Akulah yang tetap memelukmu erat,
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling,
Akulah yang nanti menenangkan badai,
Agar tetap tegar kau berjalan nanti..
Aku Lelakimu...
Elmira memperhatikan Mirda yang sedang menyanyi, sungguh dia akan menerima jika yang mencintainya adalah Mirda bukan Ayahnya. Andai saja Chandra belum memiliki Biang Mira, mungkin Elmira akan menerima cintanya sebagai tanda balas budinya. Selesai menyanyikan lagu, Mirda menghampiri Elmira yang masih larut dalam lamunannya.
"Sudah selesai makannya?" tanya Mirda membuyarkan lamunan Elmira.
"Eh, udah. Bang Mirda bagus ya suaranya," puji Elmira.
"Ayo kita pulang!" ajak Mirda tanpa mengindahkan pujian Elmira. Padahal dalam hatinya, Mirda bersorak gembira mendapat pujian dari Elmira.
Lagi-lagi mereka hanya bisa menyembunyikannya dalam hati, biarlah semuanya menjadi sebuah Rahasia Hati.
* * * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤