Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 48. Panik


__ADS_3

Fahri dan Gilang terus saja bolak balik didepan pintu ruangan bersalin. Saat ini Fatimah sedang diperiksa oleh Dokter Kandungan. Gisya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kedua laki-laki berseragam loreng itu.


"Abang! Udah pada duduk kenapa sih, Caca pusing liat kalian bolak balik." kesal Gisya.


Pintu ruangan terbuka, Gilang diminta untuk masuk menemani sang istri. Saat ini istrinya sudah masuk pembukaan 5. Fahri duduk disamping Gisya, dia genggam erat tangan istrinya itu. Dia membayangkan, bagaimana nanti Gisya saat melahirkan.


"Sayang, kayaknya kita cukup punya 1 jagoan ya." ucap Fahri.


"Loh kenapa emangnya Bang? Katanya Abang pengen punya banyak jagoan, biar ada yang jagain Adek." ucap Gisya yang heran dengan perubahan suaminya.


"Abang liat Bu Danki kesakitan gitu dimobil. Cukup nanti Abang liat kamu kesakitan gitu sekali aja. Abang gak mau menyakiti kamu." lirih Fahri.


Gisya menahan senyumnya, dia menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.


"Denger ya, Abang sayang. Kebahagiaan Adek adalah bisa menjadi ibu dari anak-anak kita nanti. Soal sakitnya melahirkan, itu adalah fitrah setiap perempuan. Setiap perempuan, dari mulai mengandung sampai melahirkan memiliki pahala yang besar. Setiap kesakitan yang dialami menjadi penggugur dosa-dosa, menjadi jihad dijalan Allah. Apalagi ketika melahirkan, setiap rasa sakit dalam setiap urat sarafnya, akan digantikan oleh Allah SWT dengan mengaruniakan 1 pahala haji. Adek mau mengandung dan merawat anak Abang, sebanyak Allah mengamanahkannya pada kita." tutur Gisya.


"Tapi ketika melahrikan itu taruhannya nyawa." lirih Fahri.


"Sama seperti Abang yang berjihad membela Negara, itupun yang Adek lakukan ketika mengandung dan melahirkan. Bukankah kematian saat berjihad itu balasannya adalah Surga? Adek mau sehidup sesurga sama Abang." ucap Gisya.


Gilang baru saja mendapat kabar jika mereka harus kembali ke Batalyon. Mereka mendapatkan perintah untuk bertugas ke Daerah Garut yang saat ini terjadi longsor.


"Ri, kita harus kembali ke Batalyon. Kita ditugaskan untuk ke Garut, disana terjadi bencana longsor." ucap Gilang.


"Siap! Mari kita segera berangkat Danki." ucap Fahri.


"Ca, saya titip Fatimah ya. Saya dan Fahri harus pergi bertugas. Nanti saya akan meminta Lettu Zaydan untuk menjaga kalian disini. Saya mohon dampingi istri saya." pinta Gilang.


"Ijin Danki. Saya akan menjaga Ibu dengan baik." ucap Gisya.


"Terimakasih, saya tunggu di mobil." ucap Gilang pada Fahri.


Fahri memeluk erat Gisya, dia mengerti kekhawatiran istrinya itu. Fahri berlutut didepan Gisya, dia mencium dan mengelus perut istrinya.


"Jagoan Ayah, harus kuat ya. Ayah pergi sebentar, Ayah janji akan kembali dengan selamat. Jangan rewel, jagoan Ayah harus nurut dan harus jagain Bunda." bisik Fahri.


"Iya Ayah, dedek pasti jagain Bunda." ucap Gisya.


"Abang berangkat dulu sayang, do'akan Abang. Jangan terlalu capek, biar nanti Lettu Zaydan yang akan menemani kalian." tutur Fahri mencium kening istrinya.


"Hati-hati, Bang. Adek menanti kepulangan Abang."


Selepas perginya Fahri dan Gilang, dia masuk keruangan Fatimah. Dilihatnya Fatimah sedang meringis kesakitan. Gisya terus menemani Fatimah, dia mengelus punggungnya.


"Mbak, mau Caca temani jalan-jalan? Kata Bunda, kalo dibawa jalan-jalan pembukaannya akan lebih cepat." ajak Gisya.


"Boleh Ca, maaf ya Mbak jadi merepotkan kamu." lirih Fatimah.


"Mbak, Caca sama sekali tidak merasa direpotkan. Mbak harus kuat, kita harus menanti kepulangan prajurit kita yang sedang berjuang. Sekarang Caca temani Mbak untuk berjuang dan berjihad dijalan Allah." ucap Gisya menenangkan.


"Andai aja kedua orangtua kami masih ada, mungkin mereka akan menemani kami. Terimakasih ya Caca." lirih Fatimah.


"Mereka turut bahagia menanti kelahiran anak Mbak. Sudah jangan bersedih, ayo Caca temani Mbak jalan-jalan. Caca udah gak sabar ketemu keponakan!"


Mereka berjalan-jalan sekitar lorong ruangan Fatimah, Gisya terus menemani dan memapah tubuh Fatimah. Suster juga mengikuti mereka dari belakang. Ponsel Gisya berbunyi. Dilihatnya panggilan dari Yuliana, Gisya mengangkat telponnya sambil menggandeng tangan Fatimah.


In Call

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Chacha Maricha Heyhey! Kamu dimana?" tanya Yuliana.


"Walaikumsalam, aku di Rumah Sakit Limijati." jawab Gisya.


"Lagi apa kamu Ca disana? Kita dirumah kamu loh ini."


"Awww! Udah dulu ini mau lahiran!"


"Hallo! Hallo Ca! Gisyaa!"


End Call


Gisya menutup telponnya, karena Fatimah sudah kesakitan dan terlihat air ketuban yang sudah merembes. Mereka segera membawa Fatimah ke Ruangan bersalin. Gisya terus menemani Fatimah.


"Mbak, ayo kita berjuang. InshaAllah Mbak kuat, semuanya akan baik-baik saja." ucap Gisya yang menggenggam erat tangan Fatimah.


"Bismillah, Yaa Allah.." lirih Fatimah.


Gisya mengelap setiap keringat yang keluar dari dahi Fatimah. Gisya terus bersholawat agar Fatimah lebih tenang.


Disisi lain kehebohan sedang terjadi, Yuliana mengabarkan semua orang jika Gisya akan melahirkan di Rumah Sakit Limijati. Yang mereka tau, usia kandungan Gisya masih berusia 2 bulan. Makanya mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Gisya.


"Maliiiikkkkk! Cepetan bawa mobilnya! Kamu mah lagi darurat gini bawa mobil udah kayak keong! kesal Yuliana karena Syauqi membawa mobilnya perlahan-lahan.


"Mohon maaf bumil! Ini di mobil Uqi bawa 2 orang bunting! Mana bisa Uqi bawa mobil kaya si Rosii! Kalo ada apa-apa kan Uqi yang disalahi!" kesal Syauqi.


Niatnya mereka kesana ingin mengajak Gisya dan Fahri untuk makan-makan bersama, tapi mereka malah mendapat kabar jika Gisya dirumah sakit.


Bunda Syifa, Mama Risma dan Umma Nadia sudah berada di Rumah Sakit Limijati. Mereka bertanya pada suster dengan pasien atas nama Gisya. Tapi ternyata tidak ada nama Gisya Kayla Nursalsabila disana. Akhirnya Bunda Syifa memutuskan untuk menelpon putrinya itu. Gisya mengatakan jika dia sedang berada di Ruang Bersalin. Mereka semua segera menuju ke Ruang Bersalin.


Sementara didalam sana, Fatimah masih berjuang untuk melahirkan anak pertamanya. Tidak lama kemudian terdengar suara tangis bayi yang menggelegar di ruangan itu.


"Alhamdulillah Yaa Allah. Selamat ya, Mbak Fatimah." ucap Gisya mengelus Fatimah.


Kini bayi laki-laki itu sedang diberi ASI pertamanya, setelah selesai Fatimah meminta Gisya untuk memutarkan rekaman Adzan dan Iqomah Gilang dari dalam ponselnya.


Karena Fatimah akan dibersihkan, Gisya keluar dari Ruang Bersalin. Gisya terkejut karena orangtua mereka sudah berada disana.


"MashaAllah anak Bunda. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Bunda Syifa.


"Cucu Mama aman kan, Nak?" tanya Mama Risma.


"Alhamdulillah, Caca sama dedek baik-baik aja. Ada apa sih? Kok rame-rame pada kesininya?" tanya Gisya yang keheranan.


"Katanya kamu lahiran! Makanya kita kesini, Mama kan khawatir! Apalagi kan kehamilan kamu baru usia 2 bulan." lirih Mama Risma.


"Yaa Allah, yang lahiran itu Bu Danki, Ma. Mbak Fatimah yang lahiran!" ucap Gisya.


Tak lama kemudian datanglah Syauqi, Syaina dan Yuliana. Umma Nadia langsung menjewer telinga menantu kesayangannya itu.


"Dasar ulet nakal! Bikin orangtua jantungan kamu ya! Orang yang " kesal Umma.


"Aww! Aww! Sakit Umma, Ulil kan cuman ngabarin apa kata si Caca!" elak Yuliana.


"Emang aku ngomong apa?" tanya Gisya polos.


"Idih suka pura-pura lupa! Tadi pas nelpon siapa yang bilang mau lahiran?! Terus maen tutup gitu aja lagi telponnya! Siapa yang gak panik coba!" kesal Yuliana.

__ADS_1


"Dasar Miss heboh! Mana Uqi sepanjang jalan dimarahin gara-gara bawa mobil kayak keong. Padahal kan Uqi mikirin tuh calon keponakan!" kesal Syauqi.


"Yeee! Salahin tuh Kakak ente yang bahlul!" kesal Yuliana.


"Idih! Kamu aja yang panikan orangnya!" kesal Gisya tak mau disalahkan.


Orangtua mereka, sudah pusing mendengarkan perdebatan anak-anak itu.


"Udah dieeeemmm!" teriak Mama Risma. "Mana Ebiw? Kalian tadi berempat kan?"


"Yaa Salam Maliiikkkkkk!! Kamu tinggalin dia?" kesal Yuliana.


"Yaa Robb! Uqi lagi Uqi lagi yang disalahin!"


Saat perdebatan mereka berlangsung, munculah Febri bersama Zaydan. Yuliana langsung berhambur memeluk Febri.


"Ebiiww, kamu kemana aja sih?!" tanya Yuliana.


"Idih kirain lupa punya keong yang mesti ditinggalin." sinis Febri.


"Maafin dong! Kita panik tadi, turun dari mobil langsung cyuuss deh!" lirih Yuliana.


"Iyaa udah cuss langsung aja dikunci tuh mobil! Gak sadar apa aku masih didalem mobil! Untung ada Mas Zaydan yang nolongin!" kesal Febri.


Gisya yang mengetahui jika Zaydan adalah orang yang ditugaskan menjaga mereka, langsung mengucapkan rasa terimakasihnya.


"Makasih ya, Om. Sudah membantu sahabat saya." ucap Gisya.


"Siap! Sama-sama Bu Danton!" ucap Zaydan.


"Tunggu-tunggu, Mas selametin Teh Ebi gimana caranya?" tanya Syauqi.


"Maaf Mas, saya harus pecahin kaca jendela belakang agar bisa membuka pintu. Baru Ibu Febri bisa keluar." Jelas Zaydan.


Syauqi mengusap keningnya yang mulai terasa pening. Bagaimana tidak, mobil kesayangannya itu harus rusak karena ulah kedua sahabat kakaknya.


"Maaf ya, Mas. Saya akan ganti kerugiannya." ucap Zaydan.


"Eh gak usah Om. Biar nanti sahabat saya yang ganti." ucap Gisya melarang.


"Siap! Tapi itu kesalahan saya Bu."


"Itu bukan kesalahan Mas kok! Biar nanti sahabat kami yang ganti. Iya kan Ulil ku sayang?" ucap Febri melirik Yuliana.


"Loh kok!" protes Yuliana terpotong ketika melihat tatapan tajam mereka.


"Iya iya! Nanti saya yang ganti, Mas. Tenang aja! Suami saya sultan kok! Ganti begitu doangan mah, kecil!" sombong Yuliana.


Padahal dalam hati kecilnya dia menggerutu, kesal atas kepanikannya sendiri.


"Gara-gara panik! Awas lu paniiikkkk!"


* * * * *


Maaf yaaa kalo ceritanya bikin bosen ✌


Harap dimaklumi karena ini Karya Pertama Author.

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2