
Kesabaran bukan hanya kemampuan untuk menunggu, melainkan bagaimana kita bersikap saat menunggu. Setiap musibah mengandung permata yang berharga, tapi hanya orang-orang bersabarlah yang berhak mendapatkannya.
Dibalik semua musibah yang menimpa dirinya, Alan bersyukur sebab dia telah memetik hasil dari buah kesabarannya.
Selama seminggu, putri kecilnya itu dirawat di Rumah Sakit. Dengan telaten, Cyra mengurus Alesia dengan baik. Alan bahkan sangat berdecak kagum, sebab hanya Cyra yang dapat membuat Alesia tenang.
"Makasih ya, Ibun! Udah mau jagain Alesia dengan baik," ucap Alan ketika keduanya tengah makan bersama di kantin.
Cyra tersenyum, "Alesia itu bagai malaikat dalam hidup aku, seperti Theresia. Aku akan merawat dan membesarkannya dengan baik, sebab aku gak akan pernah bisa merasakan menjadi seorang perempuan yang sempurna."
"Jangan ngomong kaya gitu! Aby gak suka, bagi Aby kehadiran Ibun di hidup kami lebih sempurna dari segalanya!"
Kini keduanya telah mengganti nama panggilan, bukan berarti ingin melupakan Theresia. Hanya saja bagi Alan, kini hidup harus berjalan maju. Theresia tetaplah Mimi dari putrinya, sedangkan Cyra adalah Ibun, yang akan menemani dan merawat Alesia hingga dewasa nanti.
"By..." panggil Cyra dengan suara sepelan mungkin.
Alan menoleh, "Kenapa, hm? Ada yang mau Ibun katakan sama Aby?" tanya Alan.
Cyra menganggukkan kepalanya, "Benarkah Aby mencintaiku sejak dulu? Kenapa gak bilang, seperti Alana dan Husain dulu?"
Mendengar ucapan calon istri sekaligus sahabatnya itu, Alan menghembuskan nafas beratnya. "Aku terlalu pengecut, aku takut merusak ikatan persahabatan dan persaudaraan kita. Maaf, maafkan aku... Aku gak mau kehilangan kamu, lagii....."
Cyra mengelus pipi Alan, hingga Alan mendongakkan kepalanya. "Aku tak ingin berandai-andai, tapi yang harus Aby tau. Aku pun mencintai kamu sejak dulu, aku mencintaimu Aidan Alan!"
Alan mengerjapkan matanya, matanya mulai berkaca-kaca. Dia bangun dari duduknya dan mendekap tubuh calon istrinya itu. "Yaa Allah.. Inilah takdir cinta kita, sayang! Meskipun sebelum ini, kita memiliki cinta kita yang lain. Aku menyimpan nama mu, jauh didasar lubuk hatiku. Kini aku akan membuatnya lebih dalam lagi, cintaku padamu tak akan pernah berkurang, apalagi kembali terbagi.. Akan ku kali lipatkan cintaku untukmu."
Pelukan itu sangat erat, hingga....
Buk!
Sebuah tas menghantam tubuh Alan, hingga sang empu meringis kesakitan. "Aduh! Apaan sih, maen gebak gebuk....."
Ucapan Alan menggantung ketika melihat sang Ummi yang tengah melotot tajam kearahnya. Dengan susah payah Alan menelan ludahnya. Wajah Ummi nya kini bagai singa yang siap menerkam mangsa nya.
"Mampus lu, bangunin singa yang baru melek. Hajaaaarrrr, Mi!" seru Baba Jafran mengompori istrinya.
Bukan menimpali, tapi Ummi Ulil malah menatap Baba Jafran dengan kesal. "Baba gak usah ngomporin! Semuanya gara-gara Baba, heran deh! Punya anak laki otak gesrek nya gak ketulungan, kaga ada sabarnya sama sekali! Anak orang maen krekeb aja! Halalin dulu, Mauuuuullll!!"
Astaga! Suara Ummi Ulil yang menggelegar membuat Alan dan Baba Jafran menutup telinganya. Sedangkan Cyra hanya menunduk dengan pipi yang memerah.
"Ayok Ibun nya Ale! Kita pergi dari para buaya rawa ini, sebentar lagi pasti Mama kamu itu ngomel-ngomel! Soalnya Ummi abis lembur dulu sama Baba, tapi tenang aja pabrik Ummi udah kadaluarsa jadi aman!" bisik Ummi Ulil.
"Haaaaaa??" Cyra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ucapan absurd calon mertuanya itu membuat pikirannya traveling.
Ceklek
Ummi Ulil membuka pintu dengan hati-hati agar cucu nya tidak terbangun, tapi rupanya dia salah. Sebab ruangan itu kini di penuhi oleh keluarga nya yang kini menatapnya dengan tatapan kecurigaan.
"Janji jam 10 sekarang jam 1, jarak rumah kesini 3 jam! Bisa gitu ya?" sindir Mama Febri.
"Mima, ibam au unya dede ayik! Mama taya dede Ale," ucap bocah kecil itu.
__ADS_1
Ummi Ulil bagai mendapatkan angin segar, "Masya Allah cucu Mima udah sehat, udah besar! Abang Ibam harus jagain Bubu sama Kak Sweta kalo Baba lagi tugas ya!"
Bocah kecil itu mengangguk, "Ibam adi Abang?" tanya nya dengan polos.
"Iya, Ibam jadi Abang. Buat dedek Ale, buat dedek kembar juga buat adek-adek Abang yang lain! Jadi Abang itu kapten mereka!"
Seketika bocah itu bersorak bahagia, "Yeaaayyy Abang adi tapten, taya Baba! Tata Weta, Abang adi Tapten!"
Sweta hanya tersenyum senang, "Iya Abang Ibam jadi kapten, bakalan jagain Kaka Sweta sama adik-adik Abang yang lain."
Kebahagiaan tak bisa di ukur hanya dengan materi, tapi dukungan keluarga disaat terpuruk itu merupakan kebahagiaan terbesar.
* * *
Sebulan berlalu, riuh suara gelak tawa dan tangisan menggema di sebuah ball room hotel. Bagaimana tidak, mereka menertawakan pengantin pria yang tengah adu panco bersama calon mertua nya yang sebentar lagi akan menjadi Ayah mertua nya.
"Kalahin Papa, kalo mau ijab kabul secepatnya!" tantang sang calon mertua.
Pengantin pria itu tersenyum menyeringai, "Siapa takut! Kalo pinggang encok atau tangan keram gak usah ngeluh ya, Pa!"
Ya! Mereka adalah Alan dan Papa Zaydan. Pagi ini keduanya akan melaksanakan akad nikah sekaligus resepsi pernikahan mereka. Rasa bahagia tak bisa tertahan lagi, Alan menyanggupi sang calon mertua. Sebab dia sudah tak sabar untuk menyandang statusnya sebagai suami Cyra.
Ketika mereka tengah saling mengadu kekuatan, Mama Febri membisikkan sesuatu yang membuat Papa Zaydan kalang kabut. "Kalo menantuku kalah, pabrik ditutup!"
Secara otomatis, Papa Zaydan mengalah. Kini keduanya kembali dalam mode serius, wali hakim kini sudah berjabat tangan dengan Alan. Wajah Alan tiba-tiba saja memucat dan gugup, meskipun bukan pertama kalinya tapi tetap saja dia gugup.
"Jangan bikin malu! Lu bukan bujangan, tapi duda bekasan!" ketus Baba Jafran pada putranya.
Alan mencebik kesal, "Diem deh, Ba! Bikin oranh snewen aja!" kesal Alan.
"Saudara Aidan Alan Putra Maulana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ferandiza Chayra Shanum Faturachman binti Andi Faturachman almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu juta seratus sepulih ribu seratus sebelas rupiah dibayar Tunai!!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Ferandiza Chayra Shanum Faturachman binti Andi Faturachman dengan mas kawin tersebut, TUNAIIIII!!"
Dengan satu tarikan nafas Alan berhasil melafalkan ijab jabul tersebut, refleks dia melakukan tos bersama Papa Zaydan yang kembali membuat suasana riuh dengan tawa kembali.
"Pa! Alan resmi jadi suami Cyra!" teriaknya dengan heboh.
Ummi Ulil menyeka air mata nya dan memeluk sahabatnya seketika. "Yaa Allah, aku gak nyangka besanan lagi sama sahabatku ini! Allah.. Allah.. Allah.. Semoga Allah melindungi pernikahan anak-anak kita, Biw! Membawa keberkahan dalam hidup mereka!"
"Aaminn allahumma aamiinn... Titip putriku ya, Lil! Terimakasih udah mau terima segala kekurangan putriku," lirih Mama Febri.
"Dia juga putriku! Jangan lupakan itu," kedua wanita paruh baya itu kembali tertawa bersama-sama diatas pelaminan.
Elmira dan Mirda menatap haru kedua pasangan pengantin baru itu, Cyra baru saja tiba dengan diapit oleh Alana dan juga Indira. "Alhamdulillah ya, Bang! Pada akhirnya cinta mereka berlabuh di Pulau milik keduanya. Aku bahagia, sangat bahagiaa!"
"Iya sayang, Abang juga bahagia. Pada akhirnya, cinta mereka bersatu dalam ikatan suci. Oma dan Papa Andi juga Theresia pasti bahagia di Surga sana," ucap Mirda hingga tak terasa bulir air mata jatuh di pipinya.
"Astaga! Curiga dedek perempuan, soalnya Abang sekarang melankolis, suka melodrama!"
Elmira meninggalkan sang suami, dia semakin yakin bayi yang tengan di kandung nya ini perempuan. Sebab suaminya itu meminta memakai baju couple berwarna pink, hingga mereka menjadi bahan candaan keluarga mereka.
__ADS_1
Cyra dan Alan sudah menandatangani surat nikah mereka, walaupun disana tertera status mereka sebelumnya 'Duda' dan 'Janda'. Cyra mencium tangan Alan yang kini sudah sah menjadi suaminya, sedangkan Alan melafalkan do'a pada ubun-ubun istrinya, hal yang baru saja dia hafalkan dan belajar pada Mirda.
Bukan hanya kening yang Alan cium, tapi dia juga mengecup bibir sang istri sekilas. Hingga membuat semua yang ada disana semakin bersorak sorai bahagia.
"Dasar soang! Nyosor aja teroooosssss!!" Baba Jafran mencebik kesal melihat kelakuan putranya itu.
"Jangan heran! Kan turunan situ!" celetuk Alan.
Acara berlangsung dengan lancar, Thoriq datang dengan wajah sumringah sambil menggandeng tangan istrinya yang tengah hamil tua. "Selamat atas pernikahan kalian, do'a terbaik selalu kami panjatkan untuk kalian. Tolong jaga dan rawat Alesia dengan baik, kami kesini sekalian berpamitan! Insya Allah, kami akan tinggal di Aceh. Tapi kami juga mohon, jangan putuskan tali silaturahmi ini!"
Alan memeluk erat tubuh mantan kakak ipar sekaligus mantan suami sang istri. "Mas Thoriq jangan khawatir, kami akan menjaga dan merawat Ale dengan baik. Juga kami tak akan pernah memutuskan tali silaturahmi!"
Kini Thoriq beralih menatap Cyra yang tengah berpelukan dengan istrinya, "Berbahagialah, Mas! Aku pun bahagia!"
Ikhlas.. Itulah yang membawa mereka menuju kebahagiaan yang sempurna.
Alan dan Cyra kini sudah berada di kamar mereka, setelah resepsi dan makan malam bersama mereka memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Keduanya baru saja selesai melaksanakan sholat sunah, suasana kini terasa canggung. Hening...
Keduanya tak ada yang bersuara, lidah mereka terasa kelu.
"By"
"Bun"
Astaga! Sungguh Alan muak dengan kecanggungan ini. Dia beranjak dan melepaskan mukena yang kini melekat di tubuh istrinya. Alan tak bisa berkedip, Cyra menggunakan lingerie berwarna merah menyala. Hal itu membuat dirinya tak bisa lagi menahan semua hasrat yang menggebu.
"Baju dinas nya bangunin uler cobra yang lagi bobo cantik sayang!" bisik Alan menatap Cyra dengan pandangan berkabut.
Dengan gerakan cepat, Alan mencium bibir istrinya itu. Cinta yang terpendam membuat keduanya semakin meluapkan rasa itu. Suara keduanya yang tengah merajut kasih menggema, Alan melakukan aksinya dengan penuh kelembutan hingga membuat Cyra semakin terbuai.
"By...!" Cyra menjambak rambut suaminya itu, ketika keduanya mencapai puncak kenikmatan. (Hayoloh malam jum'at traveling π€£βπ)
Alan mencium seluruh wajah istrinya itu, "Terimakasih Chayra ku! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu, By!" keduanya berpelukan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Sekali lagi, Alan mencium kening sang istri. "Istirahatlah, sebentar lagi uler cobra mau jalan-jalan ke goa buat ronde kedua, ketiga dan seterusnya!" bisik Alan.
"Eh......!"
Emang dasar ya si Alan!
* * * * *
Maaf yaa othor masih sibuk banget, belom bisa jawab komentar kalian satu-satu..
Nanti saat luang, othor akan usahakan buat balas komen kalian β€β€π₯°
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€