Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 33. Melepaskan


__ADS_3

Sudah 2 hari ini Gisya tidak bisa menghubungi Fahri, ketika mendatangi Rumah Dinasnya pun Gisya tidak menemukan Fahri disana. Gisya benar-benar menyesal, dia tidak ingin kehilangan Fahri. Kini dia sungguh menyesali ucapannya sendiri. Kebetulan hari ini Gisya mendapatkan pesanan kue dari Fatimah, istri dari Komandan Kompi kesatuan Fahri. Hari ini Fatimah akan mengadakan Acara Syukuran Tujuh Bulan kehamilannya. Rencananya Gisya akan mengantarkannnya sendiri. Dia berharap akan bertemu dengan Fahri.


Gisya sudah sampai di Rumah Dinas Komandan Kompi. Gisya dibantu oleh Syaina membawakan semua pesanannya. Namun, langkah Gisya terhenti ketika melihat Fahri baru saja turun bersama Febri. Dia melihat Fahri memapah Febri untuk masuk kedalam rumahnya. Hatinya begitu terasa pedih, ingin rasanya Gisya menghampiri mereka dan meminta penjelasan. Tapi hatinya tidak mampu, tidak terasa airmata menetes dipipinya. Syaina yang melihat Gisya terdiam, mulai bertanya.


"Teh, kue nya udah dikasihin. Kita mau langsung pulang apa gimana?" tanya Syaina.


Tanpa menjawab pertanyaan Syaina, Gisya berlari ke arah mobilnya. Dia meninggalkan Syaina disana. Sebenarnya Syaina sudah melihat Fahri dan Febri, tapi Syaina pikir itu wajar. Karena dia melihat Bunda Syifa dan orangtua Febri disana. Gisya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia memarkirkan mobilnya di Mesjid Istiqomah. Gisya mengambil air wudhu, dia ingin menenangkan dirinya. Dari mulai sholat Ashar hingga Sholat Isya, dia berada disana.


Salah satu pengunjung, yang sejak tadi melihat Gisya terus berdo'a dan berdzikir mulai mendekati Gisya dan mengajak Gisya bicara.


"Fase yang paling menyakitkan adalah ketika kita berdo'a pada Tuhan bukan untuk menyatukan, tapi melepaskan." Gisya menoleh, dia terkaget dengan ucapan itu.


"Benar bukan yang saya katakan? Saya pernah mengalaminya, saya berdo'a dan berdizikir selama 24 jam disini. Ketika saya mementingkan kebahagiaan orang lain, tanpa saya sadari saya malah menyakiti diri saya sendiri. Dan kini hanya penyesalan yang saya dapatkan." tutur Gadis itu.


"Benar Teh, saya menyesal sudah mengabaikan perasaan saya sendiri. Kini saya juga harus melepaskan orang yang saya cintai, saya menyesal tidak memikirkan perasaannya. Dan saat ini saya harus ikhlas melepaskan." Lirih Gisya.


"Senyuman adalah bahasa terbaik untuk menyembunyikan kesedihan, maka tersenyumlah sebanyak kamu menyembunyikan kesedihan. Sejauh apapun kita melangkah, garis finishnya tetaplah kematian. Dunia ini bukan rumah, juga bukan kampung halaman. Bangkitlah, raih kebahagiaanmu. Jangan lupa terus gantungkan dirimu pada Allah, karena Allah adalah sebaik-baik penolong." tuturnya.


Gisya benar-benar merasa sakit yang teramat, dia sungguh sangat menyesal. Fahri adalah satu-satunya laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya. Kini dia harus melepaskan Fahri untuk sahabatnya sendiri, begitu pikir Gisya.


Sementara saat ini Bunda Syifa dan Syaina sedang resah, mereka menunggu Gisya di toko sejak dari tadi siang. Tapi sampai sekarang, Gisya tidak menampakkan dirinya.


"Ina gimana ini? Kemana Caca? Bunda khawatir." Lirih Bunda.


"Gak tau Bun, tadi aja Ina ditinggal sendiri dirumah Bu Fatimah. Coba ibu telpon Uqi, bukannya dari tadi Uqi udah nyariin Teh Caca?"


"Iya bener, Ina. Sekarang coba kamu telpon Uqi, tanyain dia lagi dimana." pinta Bunda.


"Loh kok Ina? Kenapa gak Bunda aja yang telpon?"


"Pulsa Bunda habis, udah cepetan telpon!" gemas Bunda Syifa.

__ADS_1


Sudah 3x menelpon, tapi Syauqi tidak mengangkat telponnya. Sampai akhirnya mereka melihat Gisya datang dengan mata yang sembab. Gisya tersenyum kearah sang Bunda.


"Kamu darimana aja Ca? Bunda khawatir, kamu kenapa? Kamu ada masalah? Coba bilang sama Bunda." tutur Bunda Syifa.


"Caca baik-baik aja Bun." jawab Gisya singkat. Bunda terdiam.


"Ina tolong tutup toko ya, Teteh mau tidur disini. Besok pagi ada pesenan kue dari bu Ayunda. Ina tolong temenin Teteh disini ya." pinta Gisya.


"Iya Teh, Ina temenin disini." jawab Syaina.


Gisya melihat Bundanya terdiam, dia memegang tangan Bundanya.


"Bunda pulang aja, Caca baik-baik aja." ucap Gisya menenangkan Bundanya.


"Iya Bunda pulang. Ca Bunda lupa kasih tau, Febri udah pulang dari... "


Ucapan Bunda Syifa menggantung, karena Gisya memotong pembicaraannya.


Sementara ditempat lain Fahri dan Syauqi sedang berdebat. Beberapa hari ini, Fahri dilarang oleh Syauqi untuk menghubungi Gisya. Bahkan ponsel milik Fahri dibawa oleh Syauqi. Fahri sungguh kesal dengan Syauqi. Rasanya dia sudah merindukan Gisya. Saat ini Syauqi dan Fahri sedang berada di Rumah Dinas milik Fahri.


"Uqi, Abang udah gak bisa kaya gini! Abang udah rindu Caca, Abang gak tega liat dia dateng kesini dengan mata ya sembab! Ini udah terlalu jauh." kesal Fahri.


"Ish! Sabar kenapa Bang! Kita bikin Teh Caca menyesal dulu, kali-kali dia harus dikasih pelajaran biar dia bisa memikirkan dirinya sendiri." tutur Syauqi.


"Tetep aja Abang gak bisa! Frustasi Abang ini Syauqi Maliiikkkk."


Syauqi tidak memperdulikan rengekan Fahri. Dia hanya ingin Gisya bisa menyadari kesalahannya. Sebenarnya dia juga tidak tega, tapi mau bagaimanapun ini harus dia lakukan demi kakaknya. Fahri tidak bisa tidur malam itu, dia terus memikirkan Gisya. Dia terluka jika Gisya menangis, tapi dia harus kuat karena saat ini pun yang dilakukannya semata-mata hanya untuk Gisya.


Seminggu berlalu, Gisya benar-benar menyibukkan dirinya dengan membuat kue. Febri datang ke toko untuk yang pertama kalinya. Dia memeluk erat Gisya untuk melepaskan rasa rindunya. Namun Gisya hanya tersenyum dan mengusap punggung Febri.


"Makasih ya, Ca. Makasih banyak untuk semua yang udah kamu lakuin buat aku. Kamu memang sahabat terbaik, aku bahagia punya sahabat kaya kamu Ca. Mas Andi juga pasti sangat berterimakasih sama kamu." tutur Febri.

__ADS_1


Hati Gisya benar-benar sakit, dia tidak bisa mengatakan apapun. Lidahnya terasa sangat kelu. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Febri dengan rasa ceria kembali membantu Gisya untuk menjaga Toko, karena saat ini Syaina sedang kuliah. Hatinya bertambah sakit ketika Fahri datang kesana tanpa menyapanya. Dia hanya berjalan kearah Febri. Karena sudah tidak tahan, Gisya berlari keluar Toko. Febri yang khawatir menyuruh Fahri untuk mengejarnya. Fahri segera berlari untuk mengejar Gisya.


Fahri menarik tangan Gisya untuk menghentikannya.


"Lepas!" teriak Gisya. Tapi Fahri tidak menghiraukannya.


"Aku bilang lepas Fahri! Lepaskan aku!" lirih Gisya.


Fahri melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan Gisya.


"Baiklah Gisya, aku akan Melepaskanmu." ucap Fahri yang terus memandang mata Gisya.


Sesaat mereka saling menatap, tersirat rasa kerinduan dan rasa sakit dimata keduanya.


"Perempuan kalau bukan ilmu dan agama yang menjadi pegangannya, dia akan dibuat gila oleh perasaannya. Dan laki-laki, kalau bukan ilmu dan agama yanh menjadi pegangannya maka dia akan dibuat gila oleh nafsunya." ucap Fahri.


"Apa setelah aku melepaskanmu, kamu merasa jauh lebih lega? Kamu jauh lebih tenang? Baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu Gisya."


Fahri pergi meninggalkan Gisya yang termenung disana. Dia berjalan sambil menggerutu.


"Awas kamu Syauqi Malik! Aku benar-benar tersiksa!" geram Fahri.


* * * * *


Gimana nih Reader? Udah saling melepaskan aja nih.


Jangan lupa dukung karya Author ya 🤗


Vote, Like dan tambahkan cerita ke Favorite kalian ❤


Dukung Author terus yaa!

__ADS_1


Salam  Rindu, Author❤


__ADS_2