
Demi READER SETIA, othor UP satu bab lagi hari ini...
Jangan bullyng please๐ฅบ๐
Ini hanya imajinasi Othor saja, maaf kalo gak sesuai yang kalian mau ๐๐ฅบ
* * * * *
Cyra mulai tenang dalam pelukan Husain, sejak kecil mereka memang selalu bersama-sama. Hingga Cyra tak sungkan untuk meluapkan segala emosinya pada Husain.
"Alana? Mana Alana?" tanya Cyra menatap Husain.
"Aku disini, Cyra," ucap Alana membuat mereka tersentak kaget.
Husain menatap Alana, tapi dia hanya menatap Cyra.
Deg!
Alana menghampiri mereka dengan senyuman diwajahnya, seolah tak terjadi apapun semalam. Perlahan Cyra melepaskan pelukan Husain, dia menggenggam tangan Alana dengan sangat erat. Cyra menundukkan kepalanya, tak berani menatap Alana.
"Maafin aku, Alana. Aku salah," lirih Cyra.
"Hey gadisku! Stop! Don't cry, everything's gona be ok. Dah ah malesin kalo liat lu nangis gitu," ucap Alana mengelus rambut Cyra.
"Makasih udah nolongin aku, gak tau deh kalo ga ada kamu gimana," ucap Cyra.
"Ssstt, we are best friend! Ga perlu berterimakasih, udah jadi suatu kewajiban buat aku jagain kamu," ucap Alana membuat hati Husain sedikit meringis.
Kondisi Cyra sudah baik-baik saja, Alana berpamitan untuk pulang. Sedangkan Alan sudah pergi sejak tadi karena ada meeting.
"Aku balik duluan ya, Cyra. Besok aku jemput kamu, kita pulang," ucap Alana.
"Balik sama siapa, Dek? Alan tadi ada meeting, jadi dia udah pergi," sahut Elmira.
"Naik taksi aja Kak, gampang itu mah." ucap Alana enteng.
"Biar Abang yang anter, Kak." ucap Husain membuat Alana terkaget.
"Gak usah, yaudah aku balik duluan ya! Assalamu'alaikum," tutur Alana lalu berjalan keluar dari sana tanpa menghiraukan siapapun.
Alana juga berpamitan pada Febri dan Zaydan yang berada di lobby. Sedangkan Husain, dia mengejar Alana untuk meminta maaf.
"Alana, kamu dianter sama Om Bagja aja ya!" ucap Zaydan pada Alana.
"Gak usah Pa, nanti aku naik taksi aja. Yaudah aku pamit ya, Pa, Ma." ucap Alana sambil mencium tangan Febri dan Zaydan. Dia berjalan tergesa-gesa karena melihat Husain yang berjalan mengejarnya.
Husain terus mengejar Alana yang semakin menjauh. Alana melambaikan tangannya ketika melihat taksi lewat, sayangnya taksi itu sama sekali tak berhenti. Alana mendengus kesal, dia kembali berjalan dan Husain menarik tangannya.
"Lepassss!" teriak Alana ketika tangannya ditarik oleh Husain.
"Biar Abang anter pulang," tegas Husain menatap Alana tajam.
"Kasian Cyra kalo kamu tinggal," ucap Alana menatap Husain dengan tatapan kecewa.
Suasana tiba-tiba menjadi canggung, Alana akan melanjutkan langkahnya. Tapi Husain dengan cepat menggendongnya seperti karung beras. Dia berjalan menuju parkiran, Mirda tersentak kaget melihat anak sang Komandan yang menggendong seorang gadis. Husain mendudukkan Alana dikursi depan.
__ADS_1
"Om Mirda, aku pinjam mobil sebentar! Urusan Ayah biar aku yang urus!" ucap Husain.
"Jangan lama-lama, saya gak mau dimarahin Komandan!" tegas Mirda.
"Om ikut aja! Biar aku duduk dibelakang," ujar Alana akan beranjak namun dengan cepat Husain memasangkan sabuk pengaman yang membuat jantung Alana berdegup kencang.
"Abang butuh bicara berdua sama kamu!" tegas Husain.
Mirda turun dari mobilnya, dia memutuskan untuk menunggu di pujasera yang berada disekitar Rumah Sakit. Elmira yang melihat Mirda, mengerenyitkan dahinya.
"Om Mirda ngapain disini?" tanya Elmira membuat Mirda yang sedang meminum kopi tersedak karena kaget. Elmira menepuk punggung Mirda dengan lembut.
"Hati-hati minumnya, Bang Mirda." ucap Elmira.
Deg!
Tiba-tiba saja jantung Mirda berdegup kencang, kali pertama dia merasakan hal itu ketika berdekatan dengan seorang gadis.
"Panggil saja Om seperti biasa, gak enak kalo didenger Bapak," ucap Mirda dingin.
"Hmm! Kalo gak ada Ayah panggil Abang aja, berasa ngomong sama Om-om kalo panggil gitu. Lagian Bang Mirda belum tua-tua banget kan?" tanya Elmira sambil mendudukkan dirinya disamping Mirda. "Katanya nunggu di mobil? Kok disini?" tanya Elmira.
"Mobilnya dibawa Husain, mengantarkan Alana," jawabnya tanpa menatap Elmira.
"Giliran Husain aja dibolehin pergi sendiri, giliran aku aja susah!" lirih Elmira.
Mirda merasa kasihan dengan Elmira, perlahan dia menolehkan pandangannya. Dilihatnya Elmira tertunduk lesu, dengan airmata yang mulai menetes. Mirda mengeluarkan sapu tangan yang selalu ada dalam sakunya.
"Hapus airmatamu, malu dilihat orang," ucap Mirda datar.
Sementara disisi lain, Husain membawa Alana ke Taman yang tidak jauh dari sana.
"Maaf, Abang sudah berburuk sangka padamu," ucap Husain pada Alana.
"Gak apa-apa, udah biasa!" jawab Alana tersenyum sinis.
"Kamu bener-bener suka sama Abang?" tanya Husain membuat Alana terhenyak.
"Enggak, liat kamu sama Cyra bahagia udah cukup buat aku," ucap Alana dengan tatapan kosong, melihat kearah taman bunga yang ada dihadapannya.
"Bohong! Sekarang jujur apa kamu beneran suka sama Abang?" tanya Husain kembali dan membalikkan wajah Alana agar menghadapnya.
Alana menatap wajah Husain dengan tatapan sendu, sudah sejak kecil Alana menyukai Husain. Dan itu hanya dalam diam, tanpa Husain tau.
"Kalo aku bilang iya, apa kamu akan terima?" lirih Alana. Perlahan tangan Husain yang berada dibahu Alana merosot turun.
"Cukup hanya aku dan Allah yang tau perasaanku, orang lain tak perlu mengetahuinya. Tapi maaf, cukup sampai disini aku menjaga Cyra untukmu. Sekarang kamu sendirilah yang harus menjaganya," ucap Alana lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Husain.
Tanpa disangka, Husain menarik Alana hingga tanpa sengaja bibir mereka bertemu. Hanya menempel, tapi hal itu mampu membuat jantung keduanya berdegup kencang. Alana memejamkan matanya, begitupun juga Husain. Perlahan airmata Alana menetes, Husain menyadarinya dan melepaskan bibirnya dari bibir Alana.
"Tolong jaga Cyra dengan baik, I'm happy for you," ucap Alana mengecup singkat bibir Husain dan berlari sekencang-kencangnya.
Husain berdiri mematung ditempatnya, dia memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Setelah sadar, Husain mencoba mengejar Alana. Sayangnya dia sudah pergi menggunakan taksi. Akhirnya Husain memutuskan untuk kembali kerumah sakit. Elmira yang melihat kedatangan Husain merasa heran.
"Kamu udah anterin Alana, Bang?" tanya Elmira dan Husain menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus dimana Alana?! Kamu gak berantem lagi sama dia kan?" kesal Elmira.
"Aku gak tau, Kak. Kita pulang, aku mau pamit dulu sama Cyra." ucap Husain lesu.
Elmira ingin sekali meluapkan kekesalannya pada sang adik, tapi dia ditahan oleh Mirda.
"Biarkan saja, dia sedang bersedih." ucap Mirda sambil menahan tangan Elmira.
"Maksudnya? Bang Mirda tau sesuatu?" selidik Elmira menatap Mirda.
"Insting saja, terlihat jelas kesedihan diraut wajahnya," jawab Mirda lalu meninggalkan Elmira disana.
"Dasar laki-laki! Maen tinggal-tinggal aja bisanya!" kesal Elmira.
Husain masih setia berdiri didepan ruangan Cyra, dia menatap Cyra dari jauh.
"Maaf Cyra, aku tak mengerti dengan isi hatiku. Aku bahkan sudah menyakiti hati Alana, aku sudah membuat persahabatan ini hancur," ucap Husain dalam hati.
Dia mengurungkan niatnya untuk menemui Cyra, dan langsung berpamitan pada Mama Febri dan Papa Zaydan.
Sepanjang jalan, Husain menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Begitu juga dengan Elmira, dia hanya menatap jalan. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga tanpa sadar, Elmira tertidur dengan sangat lelap.
"Om Mirda, tolong bawa Kakak kekamarnya ya! Aku mau langsung ganti baju, kita balik lagi ke Rumah Sakit. Aku mau gantian jagain Ayah!" ucap Husain.
Mau tidak mau, Mirda akhirnya menggendong Elmira menuju kamarnya. Jantungnya terdus berdegup kencang sejak dia menggendong gadis itu. Dia takut Elmira mendengar degupan jantungnya. Benar saja, Elmira membuka matanya. Sejenak mata mereka saling memandang, seperti yang lainnya Mirda seakan terhipnotis oleh mata indah milik Elmira.
"Jangan pandangan terus Om, Kak! nanti jatuh cinta!" ucap Indira mengagetkan keduanya.
Bruk!
"Aww! Sakit!" ringis Elmira.
Mirda menjatuhkan tubuh Elmira disofa begitu saja, dia terlihat salah tingkah setelah mendengar ucapan Indira. Lalu pergi begitu saja dengan wajah dinginnya, dia tidak ingin terlihat gugup didepan kedua gadis itu.
"Dasar singa kutub! Sakit tau! Aku sumpahin kepeleset kamu!" teriak Elmira.
"Hahahahaha mana ada singa kutub, Kak!" ledek Indira.
"Kamu juga! Dasar anak nakal! Sinii kamu Dek!" teriak Elmira mengejar Indira.
Kedua adik kakak itu saling mengejar, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kamu benar, Ayah. Matanya sangat indah, tapi aku tidak akan mungkin jatuh cinta pada wanita yang sangat kau cintai," batin Mirda ketika melihat Elmira.
* * * * *
Jeng... Jeng... Jenggggggg......!!!
Ayooo tebak-tebak buah manggisss ๐๐โ
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite ๐ฅฐ๐๐ฅฐ
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author โค
__ADS_1