
Roda kehidupan terus beputar, Gisya dan Yuliana sama-sama sedang menikmati masa pertumbuhan anak-anak mereka. Saat ini Quera sudah mulai bersekolah di Taman Kanak-kanak. Gadis cadel itu, kini sudah berbicara dengan fasih. Quera tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan sopan, bahkan gadis itu sudah memakai hijab setelah di asuh oleh Gisya dan Fahri. Terkadang kedua wanita kesayangan Fahri ini selalu membuat kepalanya berdenyut. Pasalnya mereka selalu beradu argumen, baik itu tentang warna pakaian atau menu sarapan pagi.
Seperti pagi ini, Fahri dan putranya hanya melongo ketika kedua perempuan berbeda usia itu sedang memperdebatkan baju yang akan dipakai pada Acara sekolah Quera besok.
"Pokoknya kakak mau pake baju yang pink, Bun. Kan lucu kalo seragam kita warnanya pink. Ayah sama Adek setuju kan sama kakak?" tanya Quera pada Fahri dan Husain.
Fahri dan Husain mengangguk setuju, karena mereka tidak ingin terkena omelan.
"Kakak sama Ayah emang mau jadi pinky boy?" tanya Gisya pada Fahri dan Husain.
Kedua laki-laki itu menggeleng, sontak Ibu dan Anak itu kembali berdebat.
Fahri sudah memijat kepalanya yang mulai terasa pening mendengar ocehan keduanya.
"Yah, Adek pucing. Pelgi aja yuk!" Bisik Husain lalu berlari ke halaman.
"Stoooopppp!" tegas Fahri membuat Gisya dan Quera terdiam menunduk.
"Biar adil gini aja, Bunda sama Kakak pake baju warna pink. Ayah sama Husain pake baju warna biru. Adil kan?!" tanya Fahri pada keduanya.
"Setujuuuu!" kompak Gisya dan Quera, lalu mereka kembali akur seperti biasanya.
"Huft! Kenapa gak dari tadi aku usul gitu?" gumam Fahri lalu menyusul putranya.
Berhubung hari ini Minggu, mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah Omanya. Ternyata disana sudah ada Nadia beserta keluarga Yuliana.
"Maiill, Mauull." teriak Husain pada kedua sahabatnya itu.
"Atu Ayana butan Mail!" kesal Alana.
"Hehe maaf ya Ayana, Ain gak cengaja." ucap Husain cengengesan.
"Hey Boy! Kamu gak kangen sama Baba?" tanya Jafran pada Husain.
"Tangen dong! Mana menan wat Ain?" ucap Husain dengan polosnya.
"Hih, kamu mah kangen Baba kalo ada maunya!" kesal Jafran sambil mencubit gemas pipi gembul Husain.
Quera dengan semangat memberitahu pada sang Oma, kalo besok dia akan tampil di Acara pentas di Sekolahnya.
"Oma, besok kakak mau tampil di sekolah. Kakak mau nyanyi lagu Anak Kambing Saya sama Bunda." antusias Quera.
"Hahahahaha, lagu Bunda kamu dong itu Kak! Chacha Maricha Heyhey!" ledek Jafran.
"Ish Baba nakal!" kesal Quera karena Jafran menggodanya.
"Tuhkan diledekin! Udah Bunda bilang, kita nyanyi lagu Anak Gembala aja." ucap Gisya.
"Hmmm mulaaiiiiii." gumam Fahri sambil memijat kepalanya.
"Bunda Vs Queraaaa dimulaaaiiii." ucap Yuliana.
"Ummiii!!" teriak Gisya dan Quera bersama-sama.
__ADS_1
"Jadi lagu apa yang bakalan kalian nyanyiin besok?" tanya Yuliana memastikan.
"Santri Kecil!" jawab mereka dengan kompak membuat Yuliana menepuk jidatnya.
"Dasar aneh! Ngapain tadi debat kalo akhirnya nyanyi lagu yang lain!" kesal Yuliana.
"Begitulah mereka, sampe sakit ini kepala kalo mereka udah debat." keluh Fahri.
Mereka berkumpul bersama dan bercanda tawa riang gembira. Setiap kali para cucunya berkumpul, Bunda Syifa selalu membuat aneka masakan dan cemilan untuk cucunya. Gisya dan Yuliana memandang foto mereka beberapa tahun lalu, sudah 3 tahun Febri pergi tanpa kabar berita. Bahkan sebentar lagi Syauqi dan Syaina akan menikah. Mereka ingin berkumpul seperti dulu lagi.
Bunda Syifa menghampiri keduanya, dia mengelus punggung kedua putrinya itu.
"Anak Bunda yang satu itu memang bandel, tapi Bunda yakin dia akan kembali suatu saat nanti. Bahkan dia tidak mengetahui jika Mamanya sakit keras memikirkan keberadaannya. Kita do'akan agar anak nakal itu cepat pulang." Ucap Bunda Syifa memeluk keduanya.
"Kami merindukanmu Biw, Cyra pasti udah gede sekarang." lirih Gisya.
"Dia pasti udah mulai cerewet kaya ibunya." ucap Yuliana sambil tertawa, namun airmata mengalir dari pipinya.
* * * * *
Sementara di Sleman, Jogjakarta. Febri dan Cyra sudah membangun hidup mereka berdua. Kini Febri membuka sebuah toko yang diberi nama 'Toko Diza' yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas Jogjakarta. Mulai dari makanan hingga pakaian dan juga asesoris. Bahkan dia sudah mempunyai 5 orang pegawai. Febri benar-benar hidup dengan baik disana, meskipun terkadang dia merindukan seluruh keluarganya. Febri selalu melihat postingan Gisya dan Yuliana di sosial media mereka. Airmata tiba-tiba menetes dipipinya.
"Aku merindukan kalian semua." lirih Febri sambil mengusap foto kedua sahabatnya.
Cyra tumbuh menjadi anak yang cantik dan ceria. Ketika Febri sibuk bekerja, dia diam dan bermain bersama para karyawan ibunya.
"Anti Ayu, cyla mau beyi es klim." pinta Cyra pada Ayu asisten Ibunya.
"Hayuk! Sebentar aunty ambil dulu uang ya!" ucap Ayu pada Cyra.
"Iya sayang, jangan nakal ya Cyra!" teriak Febri dari dalam ruangannya.
Ayu menggendong Cyra menuju ke supermarket yang tidak begitu jauh dari tokonya. Saat mereka sampai disana, begitu banyak mobil Truk TNI terparkir tak jauh disana. Mungkin para TNI yang baru pulang bertugas, pikir Ayu. Tanpa pikir panjang dia masuk menuntun Cyra kedalam supermarket. Didalam sangat ramai oleh pengunjung, termasuk para turis lokal dan luar. Setelah berada didepan tempat es krim, mata Cyra berbinar. Dia langsung mengambil banyak sekali es krim.
Ayu melotot melihat gadis kecil itu memasukkan hampir 10 jenis es krim yang berbeda.
"Cyra sayang, jangan banyak-banyak beli es krimnya. Nanti aunty dimarahin Mama Cyra loh! Boleh ambil dua aja ya sayang." bujuk Ayu.
"No! Cyla mau es klim banak-banak!" rengek Cyra lalu menangis.
Ayu terus mencoba membujuk Cyra agar tidak menangis lagi.
"Udah, udah jangan nangis. Cyra boleh ambil semua es krim nya tapi udahan ya nangisnya." ucap Ayu, karena dia menjadi pusat perhatian orang-orang disana.
Gadis kecil itu belum juga berhenti menangis, meskipun Ayu sudah memasukkan sepuluh es krim kedalam keranjang belanjaan mereka. Tiba-tiba ada seorang Tentara menghampiri mereka, dia mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
"Sstt.. Anak cantik jangan nangis lagi ya! Om belikan semua es krim yang Adek mau." ucap Tentara itu dan Cyra mulai berhenti menangis. Cyra menatap mata Tentara itu.
"Om mau beyiin banak es klim?" tanya Cyra sambil sesegukkan.
"Iyaa Om beliin banyak es krim buat Adek, tapi bukan untuk dimakan sendiri ya. Tapi dibagikan sama temen-temen Adek ya." ucap Tentara itu sambil mengusap kepala Cyra.
Akhirnya Cyra bersorak kegirangan, membuat Ayu menghela nafas lega. Dengan ceria, dia membagikan es krim itu pada sebagian anak-anak jalanan yang berada dilampu merah.
__ADS_1
"Maafkan keponakan saya ya, Pak. Terimakasih sudah membelikan es krim yang banyak ini untuk keponakan saya. Sekali lagi terimakasih ya, Pak.... " ucapan Ayu tertahan.
"Zaydan, nama saya Zaydan." ucap Tentara itu.
Yapp!! Zaydan dipindahkan ke Jogjakarta dan menyandang jabatan Komandan Pleton disana. Akankan Zaydan disegerakan bertemu dengan Febri?
"Sekali lagi terimakasih ya, Pak Zaydan. Kalo gitu kami pamit pulang dulu ya, Cyra bilang apa sama Om?" tutur Ayu pada Cyra.
"Telimakacih Om, es klim nya enyaak banet! Cyla happy!" ucap gadis kecil itu sambil memeluk dan mencium pipi Zaydan.
"Dadaaaaaahhh Om." teriak Cyra kegirangan.
Deggg!!
Entah kenapa jantung Zaydan tiba-tiba berdegup kencang ketika dipeluk dan dicium oleh gadis kecil itu. Dia jadi teringat Cyra, bayi mungil yang sangat dia rindukan. Belum sempat Zaydan menanyakan nama gadis kecil itu, dia sudah pergi bersama Ayu.
Dengan wajah sumringah, Cyra masuk kedalam Toko ibunya sambil memberikan satu cup es krim. Febri tersenyum bahagia melihat keceriaan putrinya itu.
"Mama berharap kamu akan selalu bahagia, Nak." lirih Febri.
"Daddy Bayuuuuuuu!!" teriak Cyra ketika melihat seorang pria berseragam polisi itu.
"Haii anak Daddy! Kangennn gaak? Kangeenn gaaakk??" tanya Bayu.
"Angen dong! Maca enda!" jawab Cyra sambil mencium pipi Bayu.
Febri hanya tersenyum menatap keduanya. Bayu adalah seorang Polisi, dulu mereka bertemu di Kantor Polisi. Ketika mobil Febri tidak sengaja menabrak sebuah kios saat akan membawa Cyra ke Rumah Sakit. Sejak saat itu Bayu sering mengunjungi Cyra dan Febri. Meskipun hubungan mereka selama ini tidak dalam status yang jelas.
Sudah hampir satu tahun Bayu sering berkunjung kesana. Tak jarang dia mengajak Febri dan Cyra jalan-jalan. Namun hubungan kedekatan mereka tidak disukai oleh kedua orangtua Bayu. Hingga Febri memutuskan untuk menjaga jarak dengan Bayu.
"Kamu apa kabar?" tanya Bayu pada Febri.
"Aku baik, Mas. Bagaimana tugasmu? Sudah selesai?" tanya Febri.
"Sudah, makanya aku menyempatkan diri kesini. Bagaimana kalo besok kita jalan, Mas masih dalam masa cuti." ajak Bayu.
"Mmm, besok aku gak bisa kemana-mana Mas. Mau ada kunjungan suplier besok, lagi pula Cyra juga mau Ayu ajak main sama suaminya." tolak Febri dengan halus.
"Mas tau kamu sedang menghindar. Tolong, sekali ini aja Mas minta kamu untuk terima ajakan Mas." ucap Bayu dengan tegas.
Cyra menatap ibunya, meskipun masih kecil dia bisa mengingat ketika orangtua Bayu datang untuk melabrak ibunya.
"Daddy, Cyla becok mau itut anti Ayu. Maaf ya Daddy." lirih Cyra di gendongan Bayu.
"Yaudah gak apa-apa, lain kali Cyra main sama Daddy ya." pinta Bayu dan Cyra mengangguk.
* * * * *
Gimanaaa sukaa gak ceritanya reader?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author❤