Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 21. Kesalahpahaman


__ADS_3

Gisya merasakan sakit didadanya, mungkin seharusnya dia tidak mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Gisya berjalan menuju Taman Komplek, disana sangat sejuk. Gisya menghela nafasnya berkali-kali, mungkin untuk meredakan rasa sakit hatinya.


"Huft! You stupid girl!" gumam Gisya.


"Gisya?" panggil seseorang dari belakang. Gisya berbalik dan terkaget.


"Mas Adit?" tanya Gisya.


"Inget ya, hehehe. Aku kira lupa lagi," jawab Aditya.


"Maaf ya, Mas Adit. Kemaren emang bener-bener gak inget sama sekali."


"Kamu ngapain disini, Ca? tanya Adit.


"Lagi di Acara nikahan temen Mas." jawab Gisya.


"Emm.. Anaknya Bu Lia dan Pak Yuda ya?" tanya Aditya.


"Iya Mas." jawab Gisya singkat.


"Boleh minta nomor hp Gisya?" tanya Aditya.


Gisya belum menjawab pertanyaan Aditya, pikirannya masih melayang memikirkan Fahri. Sementara Fahri yang melihat Gisya duduk bersama seorang laki-laki pun merasakan sakit dihatinya. Fahri mencari Gisya, karena Febri mengatakan jika Gisya pergi ketika dia menghampiri Bunda Syifa. Karena itu, Fahri memutuskan untuk mencari Gisya.


Sementara itu, Aditya merasa Gisya tidak meresponnya. Apalagi Gisya tidak menjawab pertanyaannya.


"Emm.. kalo gitu saya duluan ya, Gisya." pamit Aditya.


"Eh, iya Mas Adit. Silahkan," jawab Gisya karena kaget.


Gisya kembali ke Rumah Yuliana, para muda-mudi sedang berkumpul bersama. Gisya melihat raut wajah Fahri yang sepertinya sedang kesal.


"Teh Caca, dari tadi kita tungguin! Teteh darimana sih?" tanya Syaina.


"Dari Taman," jawab Gisya singkat.


"Sama siapa?!" tanya Fahri.


"Sendirian,"


"Yakin sendirian?" tanya Fahri lagi.


"Yakin," ketus Gisya.


"Jangan boong, tadi Abang liat kamu duduk sama laki-laki." ucap Fahri yang membuat Gisya semakin kesal.


"Tadi Caca itu ke Taman sendirian! Terus ketemu Mas Adit disana, tanyain aja sama Uqi kenapa Mas Adit bisa ada disana!" tutur Gisya yang semakin kesal.


"Loh, Teteh ketemu Iptu Adit?" kaget Syauqi.


"Iya!" ketus Gisya meninggalkan mereka.


Gisya menghampiri Bunda Syifa yang sedang asyik berbincang dengan pengantin baru dan keluarganya.


"Kamu darimana sayang?" tanya Bunda Syifa.


"Ngadem, Bun. Tadi agak pusing, jadi ngadem dulu ngilangin pusing." ucap Gisya beralasan.


"Si Fahri daritadi nyariin kamu tau," ucap Jafran.


"Ngapain nyariin? Gak penting banget!" ketus Gisya.


"Eh, kok gitu Ca? Kamu ada masalah sama Fahri?" tanya Umma Nadia.


"Enggak Umma," jawab Caca.


"Yee kalo gak ada masalah ngapain situ ketus-ketus begitu." tanya Yuliana.


"Suka-suka! Manten dilarang kepo!" kesal Gisya.


"Dih, dih! Udah balik nih ceritanya sifat barbarnya!" ledek Yuliana.

__ADS_1


"Bun, Caca pulang duluan, ya! Capek banget!" ucap Gisya mengalihkan pembicaraan.


"Loh, loh! Kita kan mau makan malem dulu bareng-bareng di Hotel, Ca. Kok malah balik sii!" kesal Yuliana.


"Nanti aja nyusul, sekarang pengen pulang dulu!" kekeh Gisya.


Tanpa mendengarkan permintaan sahabatnya, Gisya keluar dari rumah. Sungguh saat ini mood Gisya sedang kacau. Perasaannya sungguh tak karuan.


"Ca! Mau kemana?" teriak Febri menyusul Gisya yang keluar rumah.


"Pulang!" ucap Gisya singkat.


"Teh Caca, Ina nebeng boleh ya! Ina mau pulang juga." ucap Syaina.


"Minta anter aja sama pacar kamu!" ucap Gisya lalu masuk kedalam mobil.


Syaina merasa heran dengan sikap Gisya padanya. Febri mulai menangkap sesuatu yang tidak beres. Tadinya, Febri kira Gisya itu marah karena belum bisa menerima jika Fahri meminangnya langsung pada Bunda Syifa. Ternyata, Gisya menyangka jika Fahri akan menyatakan cinta pada Syaina. Ingin rasanya Fahri mengejar Gisya, tapi hatinya terlalu sakit melihat Gisya bersama laki-laki.


"Bang Fahri! Kejar Caca sana!" teriak Febri pada Fahri.


"Gak! Ngapain, mungkin dia gak mau sama saya." jawab Fahri sambil melangkah menuju mobilnya.


"Jangan nyesel loh ya, Ri! Ga peka banget sii, dia itu cemburu tau!" celetuk Andi.


"Bener tuh! Kamu orangnya gak peka, Bang!" tambah Febri.


"Gak peka gimana sih? Aku ngelamar dia langsung ke Bunda, tapi dia malah pergi ketemu laki-laki lain! Bagian sebelah mana yang aku gak peka?" kesal Fahri.


"Dia itu cemburu sama Syaina!" geram Febri.


"Haaaahhh?! Kok Ina teh? Apa karna tadi Bang Fahri nolongin Ina? Tapi kan Teh Caca ada disana juga." ucap Syaina yang merasa sedih.


"Tadi kamu duduk dimana pas Fahri mau ngasihin bunga ke Bunda?" tanya Andi.


"Disamping Uwak Ais," jawab Syaina.


"Nah! Caca pasti nyangka kalo Bang Fahri mau ngasihin bunga itu ke kamu! Deket banget kan posisi kamu sama Bunda, cuman kehalangin Uwak Ais. Si Caca mungkin mikirnya gak mungkin Bang Fahri mau ngasih bunga ke Bunda." Tutur Febri menjelaskan.


Syaina mulai terisak, hingga Syauqi datang menghampirinya. Tadi Syauqi menelepon atasannya untuk menanyakan pertemuan dia dengan Gisya. Syauqi hanya tidak ingin niat baik Fahri terhalangi. Karena Syauqi sangat menyetujui hubungan Gisya dengan Fahri.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Syauqi.


Tanpa sadar, Syauqi menarik tubuh Syaina kedalam pelukannya. Syaina terus menangis tersedu-sedu.


"Salah paham lagi ini mah!" ucap Febri.


"Caca salah paham sama Ina, disangkanya si Fahri ngasihin bunga itu buat Ina. Padahal buat ngelamar dia juga ke Bunda. Nah, itu laki satu noh yang lagi sok-sokan mikir. Dia juga cembokur gara-gara liat si Caca sama laki lain." Jelas Andi.


"Loh, tadi Bang Adit mau balik kerumahnya di Blok F5. Dia gak sengaja ngeliat Teh Caca di Taman, terus nyamperin. Tapi malahan katanya di cuekin, makanya dia langsung pamit pergi." ucap Syauqi menerangkan.


Tanpa babibu lagi, Fahri segera masuk kedalam mobilnya dan megejar Gisya. Sungguh, Fahri sangat merutuki kebodohannya sendiri.


"Shitt!" umpat Fahri.


Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Fahri.


"Betah banget ya, Ina. Dipeluk Polisi ganteng!" ledek Febri lalu masuk kedalam rumah bersama Andi.


Syaina yang baru saja menyadari, melepaskan pelukannya. Mereka berdua menjadi salah tingkah. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kedalam.


Syaina membantu Farida dan Rani yang sedang membungkus sisa kue untuk dibagikan pada keluarga.


"Fahri kemana?" tanya Bunda Syifa.


"Nyusul anak Bunda! Lagi ada drama kecemburuan dan kesalahpahaman!" celetuk Syauqi.


"Loh salah paham gimana?"


"Anaknya Bunda itu cemburu sama si Syaina, dia kira bunganya buat Syaina." Jawab Syauqi.


"Heleh si Caca, perkara bilang cinta aja susah banget deh!" ucap sang pengantin baru.

__ADS_1


"Sekarang malah india-indiaan, Bun. Fahri lagi ngejar Caca itu." ucap Febri yang bikin semua orang jadi heboh karena merasa tingkah mereka itu sungguh romantis.


"Kita liat aja nanti di Restoran, si Caca dateng gak sama si Fahri. Tapi kalo beneran gak dateng, Awas aja!" ucap Jafran.


Disisi lain, Fahri terus mencari Gisya. Dia melajukan mobilnya menuju kediaman Gisya. Namun, dia tidak nelihat mobil Gisya berada disana. Fahri sungguh sangat menyesali tingkahnya sendiri.


"Tentara kok kalah sama rasa cemburu" gumam Fahri.


Sementara yang dicari-cari sedang menikmati udara malam disekitaran Gasibu. Dia duduk di Taman, tempat pertemuannya dengan Fahri setelah kecelakaan itu.


"Yaa Allah tenangkan hatiku, dia bukan siapa-siapa dalam hidupku." lirih Gisya.


"Siapa bilang aku bukan siapa-siapa dalam hidup kamu?" ucap seseorang yang sudah berada di belakang Gisya.


Gisya membalikan badannya, sungguh Gisya tidak menyangka jika laki-laki itu sudah berada disini.


"Apa dia mengikutiku?" batin Gisya.


Fahri yang mulai putus asa, berniat untuk pulang ke Rumah Dinasnya. Tapi sudut matanya menangkap sosok seorang gadis yang sedang duduk manis di Taman. Fahri memakirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Gisya. Dia berjalan menghapiri gadis yang duduk membelakanginya.


Gisya berdiri dari duduknya, dia berniat untuk pergi darisana. Tapi Fahri mencegahnya.


"Duduk dulu! Abang mau bicara,"


"Dek, kita pernah mengalami masa sulit yang sama. Pengkhianatan yang sama, rasa sakit yang sama. Abang gak tau sejak kapan perasaan ini mulai ada. Entah saat pertamakali Abang lihat kamu hujan-hujanan di Lampu merah. Entah saat kita pertamakali bertemu di Rumah Makan. Entah saat dimana Abang melihatmu terbaring lemah, Abang gak tau sejak kapan. Tapi yang pasti, perasaan ini bukan cuman untuk sekedar main-main. Bahkan, saat ini Abang ngerasa hati ini udah jadi milik kamu," tutur Fahri yang berdiri dihadapan Gisya.


"Udah Caca bilang! Abang jangan bikin baper anak orang! Selama 2 tahun Caca dekat dengan A Zayn, bahkan kami sudah akan menikah. Tapi Caca gak pernah ngerasa baper sama sikap dia. Tapi ucapan Abang itu bikin Caca baper!" ucap Gisya mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


"Bodo amat Bang Fahri mau mikir apa, yang penting hatiku tenang," batin Gisya.


Fahri berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Gisya yang duduk di kursi Taman.


"Dek, Abang pernah bilang kalo ucapan Abang itu serius! Tadi sudah Abang lamar kamu ke Bunda. Tinggal nunggu orangtua Abang minggu depan yang akan langsung melamar kamu secara resmi. Abang juga sudah pengajuan, surat-surat tinggal Abang ambil di Bunda. Dan mau tidak mau, suka tidak suka kamu akan tetap menjadi istri Abang." ucap Fahri yang membuat Gisya melongo tak percaya. Gisya tak bisa berucap apa-apa, lidahnya sungguh terasa kelu.


"Kenapa diem? Bahagia ya?" goda Fahri.


"Apaan sih Abang! Kok judulnya kaya pemaksaan gitu ya, Bang!" Ucap Gisya sedikit kesal.


"Karena Abang sudah yakin, kamu gak akan nolak." ucap Fahri percaya diri.


"Idihh, kepedean banget Abang!"


Lama mereka terdiam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Maafin Abang ya, Dek. Abang sudah berbicara yang tidak-tidak tadi." sesal Fahri.


"Maafin Caca juga Bang. Sudah berprasangka yang gak baik sama Abang." ucap Gisya.


"Gak usah minta maaf, Abang malahan senang. Tandanya rasa cinta Abang gak bertepuk sebelah tangan." tutur Fahri dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Kok Abang langsung pengajuan? Emangnya Abang udah yakin sama aku?" tanya Gisya.


"Abang belum pernah seyakin ini. Tapi apa kamu siap menikah dengan seorang Abdi Negara seperti Abang? Mungkin nanti Abang akan lebih sering meninggalkan kamu untuk bertugas. Abang takut gak bisa selalu menemani kamu." ucap Fahri.


"Mengalir aja ya, Bang! Gak usah saling genggam terlalu erat, takutnya nanti ada yang patah. Kalo Abang butuh aku, Aku akan selalu ada disamping Abang. Kalo Abang rindu, aku akan selalu ada disini. Dihati Abang. Hiduplah seperti sebelum kamu mengenal aku, Bang. Jangan jadikan keberadaanku sebagai beban dihidup kamu." Tutur Gisya.


"Terimakasih, Dek. Terimakasih sudah menerima, abang tidak akan menjanjikan apapun sama kamu. Tapi Abang akan pastikan, kamu selalu tersenyum selama kita bersama-sama."


Akhirnyaaa!!


Baper Gak?


Baper Gak?


BAPERLAH MASA ENGGAK!! 😁✌


Bagaimana kelanjutan kehidupan Fahri dan Gisya?


Tetep dukung karya Author yaaa!!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2